
Elisa bergerak cepat mencari bahan yang diperlukan untuk membuat cemilan ala debm. Diet ini pantang memakan segala olahan dari tepung baik itu yang berasal dari biji gandum, singkong,atau sejenisnya yang mengandung karbohidrat tinggi. Jika saja tidak ada tutorial pembuatan cemilan dari Amy bisa dipastikan Elisa bakal kebingungan setengah mati.
"Tante, dimana Tante nyimpan bubuk agar-agar yang kemarin kita beli?"
Bu Anita mengingatnya sejenak, "laci ketiga sebelah kanan kamu, sayang!"
Elisa mengacungkan dua ibu jarinya lalu dengan cepat meraih dua bungkus agar-agar rasa coklat, dua buah keju slice, gula jagung, santan instan dan telur. Elisa begitu cekatan mencampurkan semua bahan dan mengocok cepat menggunakan balon whisk.
Adonan brownies yang dibuat Elisa mulai tercium aroma coklat legit dan manis, Elisa membaginya dalam 2 bagian. Bagian pertama langsung dimasukkan dalam pinggang tahan panas dan dipanggang pada suhu 150 derajat selama lima menit. Elisa menata dua lembar keju slices setelah adonan pertama keluar dari oven lalu menutupnya kembali dengan adonan kedua untuk dipanggang lagi menggunakan api atas.
TRIIING!!
Brownies ala menu debm pun siap disajikan pada Bu Mela. Aroma coklatnya yang khas menggugah selera bukan hanya Bu Mela, tapi juga ibu-ibu lain di ruang sebelah.
"Ini dia, ready! Brownies low carbo less sugar!"
Air liur Bu Mela menetes, ia memotong kecil brownies coklat di piring saji. "Astaga, Diana! Ini enak banget! Rasanya tetep kayak brownies biarpun pake tepung agar2 doang!"
"Masa sih Mel, tadi kayaknya cuma busa aja, emang bertekstur? Kan nggak pake tepung?" Bu Anita ikut memotong satu bagian kecil dan matanya membulat sempurna saat merasakan brownies buatan Elisa lumer di mulutnya.
"Ini … luar biasa! El, eh Diana buatin bunda dua loyang lagi! Disimpan kulkas tambah enak ini!" Bu Anita nyaris saja memanggil nama asli Elisa.
"Tepungnya diganti tepung agar-agar, seratnya bagus, dietnya dapet, kalori sedikit cuma 20 kkal dibandingkan sama terigu yang bisa mencapai 400 kkal so, aman buat Debm." terang Elisa dengan senyuman puas.
[Misi berhasil, anda mendapatkan uang sejumlah 25 juta rupiah disertai penambahan poin untuk pastry!]
Elisa tersenyum saat mendengar Amy berkata berhasil! Ia semakin melebarkan senyumnya saat beberapa ibu yang mencicipi brownies dietnya diminati bahkan sampai mendapat orderan. Elisa pun disibukkan dengan mencatat jumlah orderan cemilan diet buatannya.
Suasana dapur menjadi ramai dan acara bergosipnya para ibu setengah baya itu pun pindah haluan di depan kompor. Elisa sesekali menjawab dan ikut mengobrol bersama mereka hingga tak terasa waktu semakin malam dan acara reuni pun berakhir.
Elisa, Raka, Bu Anita dibantu dua orang asisten rumah tangga membereskan sisa-sisa kehebohan para ibu.
"Yang tersisa dari sebuah pesta adalah kekacauan!" ujar Elisa lirih sambil menyeka keringatnya.
__ADS_1
Ia belum beristirahat setelah seharian mengikuti kursus memasak masih ditambah melayani para ibu putih abu tadi dengan sabar dan sekarang membereskan rumah yang kotor. Elisa tak pernah melakukannya, biasanya ia langsung tidur dan menyerahkan segala urusan pada asisten rumah tangganya.
"Aku butuh tukang pijat!" gerutunya lagi ketika mendaratkan bokong di sofa setelah lelah menggulung karpet dan menyapu. Raka terkekeh melihat Elisa yang memejamkan matanya.
"Sebentar lagi B datang bawa beberapa dokumen penting. Dia juga mau laporan tentang Alex dan siapa tuh mantan kamu yang nggak beres itu?"
"Vino," jawab Elisa malas.
"Nah itu, B juga mau bahas rencana pengadaan beverage perusahaan kamu. Kita bisa …,"
Raka terhenti saat menoleh pada Elisa, gadis itu mendengkur halus menandakan telah terlelap tidur. Raka tersenyum memperhatikan wajah ayu Elisa yang terlihat natural.
"Cantik,"
"Siapa? Elisa?" Ibunda Raka mendengar gumaman putranya, ia mendekat dan tersenyum menatap Elisa yang tertidur pulas.
"Kasian anak ini, hidupnya berat banget. Tapi bunda salut, dia berusaha menyesuaikan diri. Melawan egonya sendiri untuk mencapai tujuan. Padahal dulu dia anak orang kaya, berlimpah harta, tapi sekarang dia mau menyesuaikan dirinya. Ya sebenarnya masih tetap kaya sih, cuma dia mau aja hidup bareng sama kita begini dan nggak banyak ngeluh. Itu sesuatu banget!"
Raka kembali tersenyum, "iya, itu sebabnya Raka mau bantuin dia."
Raka tertawa kecil, "ya salah satunya, siapa yang nggak suka dekat sama cewek cakep sih Bun? Lagian Raka itu masih normal, masih bisa bedain mana yang cantik mana yang jelek!"
"Ooh begitu? Kirain Raka jatuh hati sama Elisa?" Bu Anita kembali meledek.
"Bunda, apaan sih!"
Keduanya kembali tergelak ringan agar Elisa tidak terbangun. Terdengar deru mesin mobil berhenti di halaman. Raka melongok keluar jendela. B datang bersama Rafi tentu saja dengan setumpuk file dalam map.
"Sori kemalaman, kita meeting sampai lupa jam." kata Banyu saat duduk usai menyapa Bu Anita.
"Nggak apa, rumah juga baru sepi nih. Ada acara tadi." Raka menjawab santai menuangkan teh hangat untuk kedua tamunya.
"Mas, kopi aja ada? Pusing kepala saya, butuh kafein!" Rafi menyela sambil memijat kepala.
__ADS_1
"Ada, bikin sendiri gih! Capek gue abis beberes!"
Tanpa banyak berkata lagi, Rafi pergi ke dapur membuat sendiri kopinya plus mencari cemilan.
"Dia tidur dari tadi?" B bertanya memperhatikan Elisa yang masih lelap.
"Barusan! Kecapean kayaknya, agenda hari ini padet banget dia. Apalagi tuh pesanan kue diet bejibun!" jawab Raka menunjuk pada kertas putih diatas meja.
"Orderan kue?" Banyu mengambil kertas yang dimaksud Raka, mengernyit sejenak lalu tersenyum.
"Hebat juga dia sekarang, benar-benar bukan Elisa yang aku kenal dulu!"
"Ohya, jadi yang sekarang lebih baik?" tanya Raka penasaran.
"Ya lebih manusiawi sebagai wanita!" Keduanya pun terkekeh geli.
"Sialan kamu, B! Udah bosen hidup?" Elisa menjawab dengan mata tertutup.
"Eh, sudah bangun rupanya?" Banyu menghentikan tawanya.
"Sudahlah, ngapain lama-lama! Cukup bentaran ilang udah ngantuknya!" Elisa membuka mata, lalu duduk di sebelah Raka.
"Gimana, ada kabar tentang kematian Nico?" Elisa seperti baterai yang baru di charge energinya, dengan cepat ia membuka satu demi satu map yang dibawa Banyu.
"Belum ada kabar dari pak Dodi, penyelidikan mungkin masih berlangsung. Dari pak Abdullah sendiri, dia kasih ini buat kamu tanda tangani. Semuanya lancar dan rekening kamu sudah terbuka. Tentu saja pihak bank bakal melindungi privasimu."
Elisa diam memperhatikan setiap detail yang diberikan Banyu. Sesekali ia menghitung jumlah yang tertera lalu tersenyum.
"Ini pengajuan perusahaan kamu atas nama Diana. Lusa ada lelang saham, aku sudah mengaturnya sedemikian rupa agar kau dan Raka lolos uji kelayakan."
"Bagus, kerja yang baik B! Apa Alex tahu acara ini." Tanya Elisa.
"Tentu saja, dia bahkan akan menghadiri uji kelayakan terakhir pada hari yang sama. Kamu sama Raka tinggal datang sebagai CEO nya dan biarkan tangan ajaibku bekerja!" jawab B dengan senyuman misterius.
__ADS_1
Elisa dan Banyu saling menatap, tantangan baru bagi Elisa. Berhadapan langsung dengan musuh besarnya.
Siapa takut, waktunya uji nyali!