Super Chef System

Super Chef System
Harapan baru


__ADS_3

Elisa menghabiskan banyak waktu di kursus memasak hari ini. Menu tradisional yang ia berikan sebagai tema nyatanya membuang banyak waktu. Berkali kali ia melirik jam yang melingkar manis di tangannya.


Masih berapa lama lagi aku harus bertahan disini? Banyak hal yang harus aku pelajari untuk pertemuan besok.


Elisa menggerutu dalam hati, tapi begitu melihat beberapa peserta sudah meletakkan piring saji di depan chef Wawan, Elisa lega. Tak perlu menunggu lama, chef Wawan mengevaluasi hasil kreasi masing-masing peserta kursus termasuk milik Elisa yang dibuat ala kadarnya.


Chef Wawan sempat berbisik padanya jika menu kreasinya kurang istimewa dan terlalu biasa tapi Elisa bergeming. Ia hanya mengulas senyum tipis, sambil menggerutu dalam hati.


Udah untung bisa jadi!


Pikiran Elisa tak lagi tertuju pada les tambahan yang akan diberikan setelah sesi ini berakhir. Ia harus segera sampai di rumah. Usai kelas memasak, chef Wawan sudah membombardirnya dengan aneka kemampuan memotong. Elisa mengikuti les privat itu dengan malas malasan, berkali kali Elisa terpaksa mengulang arahan dari chef Wawan.


"Diana, mau kita lanjut atau nggak? Kamu nggak konsen begini apa ada sesuatu?" Chef Wawan bertanya setelah memperhatikan keengganan Elisa mengikuti instruksi nya.


"Ehm, kita udahan aja gimana chef?" jawabnya penuh harap.


Chef Wawan menatapnya tajam, ia tak suka dengan cara Elisa yang dianggap membuang buang waktu. "Tidak sebelum kamu bisa membedakan cara potong Jullienne dan allumette!"


"Apa? Ini nggak adil! Mana bisa aku memahaminya dalam waktu singkat!" protes Elisa kesal.


"Seorang chef, tukang masak, atau koki harus bisa menguasai teknik ini setidaknya ini bisa menambah skill memasak meski aku tahu kalau kau, sangat ingin belajar pastry." Chef Wawan menyahut protes Elisa.


Elisa berdecak kesal membuat chef Wawan tersenyum puas. Ia memang berencana menahan Elisa selama mungkin. Hatinya bergetar setiap melihat wajah cantik Elisa. Sejak hari pertama kursus dimulai Chef Wawan jatuh hati pada Elisa. Kepolosan dan sikap acuhnya membuat chef Wawan penasaran.


"Semakin cepat kamu tunjukkan, semakin cepat juga praktek ini selesai kan?"


Dengan wajah ditekuk Elisa menuruti perintah sang chef. Mengambil satu buah wortel segar lalu memotong sesuai perkataan chef Wawan. 


"Potongan Jullienne atau korek api dibuat tipis memanjang ukurannya sekitar 3 cm x 1 mm x 1 mm, ingat potongan jenis ini biasa digunakan untuk salad atau membuat bakwan sayur!"


Elisa melirik tajam pada chef Wawan dan kembali menggerutu. "Pake diukur segala? Kurang kerjaan bener!"


Mau tidak mau Elisa harus mengerjakannya dengan rapi dan teliti, setelah wortel berhasil dipotong ala Jullienne sekarang berganti lobak dan timun jepang.


"Good, potongannya rapi! Next allumette!"


Elisa yang kesal mengacungkan pisau di belakang punggung chef Wawan saat chef tampan itu berbalik. "Untung ganteng!"

__ADS_1


"Kamu bilang apa?!" Chef Wawan memutar tubuhnya cepat dan mendapati ujung mata pisau mengarah kepadanya. "Mau apa kamu tadi?"


Elisa tergagap, "eh nggak!"


"Allumette?!" titah sang chef mode garang.


"I-iya!"


Elisa mengambil kentang dalam wadah yang sudah disediakan, chef Wawan berbaik hati dengan mengupas tiga buah kentang besar untuknya.


"Allumette biasa digunakan untuk French fries, potongannya lebih besar dari jullienne, tidak terlalu tipis dan juga tidak terlalu panjang! Perhatikan ketebalannya!"


Elisa mengikuti petunjuk Chef Wawan, tapi karena hilang fokus karena kesal tangan Elisa justru menjadi sasaran. 


"Aargh!" Elisa meringis kesakitan, lukanya cukup dalam sehingga darah yang menetes cukup banyak.


"Astaga, kenapa bisa begini?" Chef Wawan panik, menyingkirkan bahan makanan yang terkena tetesan darah.


"Seorang ahli masak harus menjaga higienis makanan, kalau sampai terjadi seperti ini sebaiknya segera buang makanan yang terkontaminasi, ganti dengan baru!"


Chef Wawan bergegas mengambil kotak P3K, membasuh luka Elisa dibawah air mengalir lalu membasuh ulang dengan cairan pembersih luka. Lelaki itu memperhatikan luka kecil ditangan Elisa, memberinya obat sebelum ditutup dengan band aid.


Chef Wawan membereskan sisa sayuran yang belum terpotong. Elisa tak enak hati, ia pun membantu tanpa diminta.


"Maaf, tapi ada hal yang harus aku kerjakan. Mungkin setelah semua selesai, kita bisa mulai lagi private nya?" Kali ini Elisa sedikit melunak meski raut wajahnya masih terlihat masam.


"Ide bagus." Chef Wawan menjawab tanpa menoleh membuat Elisa akhirnya mengalah untuk diam dan berdiri disamping sang chef.


"Baiklah, aku akui kalau aku salah dan menyia nyiakan waktumu. Aku akan menebus kesalahanku dengan ... makan malam?" Elisa kembali bicara menawarkan hal yang sebenarnya ingin dilakukan chef Wawan 


Chef muda itu berbalik, meletakkan lap meja lalu menjawab. "Makan malam? Tentu, tapi aku yang tentukan dimana tempatnya."


"Oke, sepakat?" Elisa kembali melihat jam di tangannya, "maaf tapi aku harus pergi sekarang!"


Tanpa menunggu jawaban dari chef Wawan, Elisa bergegas pergi. Raka sudah menunggu di depan saat Elisa keluar setengah berlari.


"Hei, kenapa tergesa-gesa? Bukannya jam kursus selesai masih lama?" Raka bertanya saat Elisa baru saja mendaratkan bokongnya di kursi penumpang.

__ADS_1


"Jangan banyak tanya! Aku harus mempersiapkan diri sebelum pertemuan dengan Alex besok!" Elisa menjawab sambil mengetik pesan singkat untuk Banyu.


"Oke, masuk akal! Jadi kemana kita?" 


"Kafe terdekat, B sudah menunggu di tempat biasa!" jawab Elisa memasang seat belt.


Raka tak banyak bertanya lagi dan langsung meluncur ke tempat yang dimaksud. Sebuah kafe tak jauh dari tempat kursus Elisa. Rekomendasi Rafi yang nyaman dipakai untuk melakukan meeting rahasia.


Sesampainya disana Banyu dan Rafi sudah menunggu. Rafi sibuk dengan sesuatu dan Banyu memeriksa setumpuk laporan.


"Apa kantor kalian pindah kesini?" sapa Elisa begitu duduk di kursi kosong.


"Kantor kita sementara, mbak!" Rafi menjawab tanpa melihat ke arah Elisa.


"Serius bener, Fi lagi ngapain sih?" Elisa penasaran, ia melongok sejenak lalu mengernyit.


"Tunggu! Ini kan …,"


"Perayaan ulang tahun perusahaan ke tiga puluh empat tahun! Kau lupa?" Banyu menukas cepat.


"Aku melupakannya, terlalu banyak hal yang menyita memori ku sampai aku melupakan hal sepenting ini." sahut Elisa datar.


Banyu tersenyum masam, "Kau harus menghadirinya besok, El! Semua musuhmu ada disana! Pastikan kita memberi mereka kejutan!"


Elisa menatap Banyu, "sudah waktunya kita bergerak?"


Banyu mengangguk, "Kau juga harus bersiap Raka! Ibumu masuk dalam daftar peserta lelang besok!"


Raka terdiam sesaat, lalu menoleh ke arah Elisa. "Maaf aku lupa kasih tahu kamu, bunda memiliki hak atas saham perusahaanmu. Dia menyimpannya diam-diam dan baru kali ini, bunda berniat untuk memakainya. Hak istimewa yang diberikan kakekmu langsung saat ayahku meninggal."


Elisa menarik nafas dalam-dalam,  "jadi besok kita akan menjadi saingan?"


"Nggak, bunda berniat menggabungkan saham miliknya denganmu. Yang terpenting ia mendapatkan haknya terlebih dahulu." jawab Raka menegaskan komitmen Bu Anita untuk membantu Elisa.


"Tenanglah El, semua akan berjalan lancar besok tinggal kau menyiapkan diri dan jadilah berbeda dengan Elisa yang dulu! Dapatkan perhatian para petinggi dan yang terpenting kau harus hadir dalam acara besar perusahaan besok!" Banyu menenangkan Elisa.


Telepon Elisa berdering, AKP Dodi memberinya kabar mengejutkan. Elisa terdiam mendengarkan penjelasan AKP Dodi. 

__ADS_1


"Ada apa, El?" 


"Mereka menemukan bukti kuat pembunuhan Nico! Dan semua mengarah pada Alex. Satu rekaman cctv terlewat oleh anak buahnya dan rekaman itu memperlihatkan jelas wajah Alex berada di lokasi saat pembuangan jasad Nico!"


__ADS_2