
BAB 1
"Mili, kamu sekarang sudah besar. Kamu harus bisa mandiri dan menjadi kakak yang baik untuk adik-adikmu," ucap Ayudia.
"Ya, Ma." Milian tersenyum lebar sambil menatap bayi mungil di samping ibunya.
Bayi berusia satu tahun itu adalah adik ketiganya. Dua adiknya yang lain sudah berusia delapan dan empat tahun. Ayah mereka seorang pelaut dan jarang berada di rumah.
Milian memiliki dua adik laki-laki dan satu adik perempuan. Gadis itu belum genap berusia sepuluh tahun, tapi sudah diajarkan untuk mandiri. Bukan hanya mengurus dirinya sendiri, tapi juga mengambil tanggung jawab lainnya.
Ibunya bekerja sebagai buruh pemecah batu dan harus meninggalkan ketiga adik Milian yang masih kecil-kecil. Gadis kecil itu tidak bersekolah, karena tidak akan ada yang menjaga adiknya jika ia pergi ke sekolah. Namun, ia bersyukur, karena pernah mencicipi bangku sekolah meski hanya dua tahun.
*Dua tahun kemudian.
Sang ayah dikabarkan meninggal saat berlayar bersama rombongan nelayan lain. Jasadnya tidak ditemukan. Entah dimakan ikan besar atau tenggelam ke dasar samudera yang sangat dalam.
"Mili! Cepat bawakan air hangat!" Ayudia berteriak memanggil putri sulungnya.
"Ya, Ma!" Gadis itu sudah berusia dua belas tahun sekarang. Sikap Ayudia berubah terhadap Milian, padahal gadis itu lahir dari rahimnya.
Ayudia lebih memperhatikan ketiga anaknya dan terkesan pilih kasih kepada Milian. Gadis itu mengingat nasehat ayahnya sebelum pergi berlayar. (Jadilah anak dan kakak yang baik. Kamu yang paling besar diantara adik-adikmu. Jaga mereka, patuhi perintah ibumu, dan jangan pernah mengeluh.)
Brak!
"Apa-apaan kamu ini? Mau membuat kulit adikmu melepuh, hah? Ini terlalu panas, Mili. Ganti dengan yang lebih hangat!"
"Baik, Ma."
Milian pergi dengan terburu-buru. Ia terjatuh di dapur dan tersiram air dari wadah plastik yang dibawanya. Kulit tangan dan kakinya memerah.
Sakit, panas, dan perih. Namun, Milian tidak berani menangis. Ia tidak boleh mengeluh. Kata-kata ayahnya menjadi pedoman kehidupan Milian, meski ia merasakan dengan jelas, sang ibu tidak peduli padanya.
__ADS_1
"Ini airnya, Ma," ucap Milian setelah mengisi kembali wadah plastik itu dengan air yang lebih hangat.
"Mandikan Taufan dan Bayu!"
"Baik, Ma."
Taufan berusia sepuluh tahun dan Bayu berusia enam tahun. Ia tidak masalah memandikan Bayu, tapi Taufan sudah besar. Di saat Milian seusia Taufan, ia sudah mandi sendiri dan melakukan semuanya sendiri.
Bukan hanya mandi dan memakai baju, Milian juga memasak, mengasuh, mengurus rumah. Setiap kali ibunya datang dari tempat kerja, ia membawakan roti. Namun, hanya Milian saja yang tidak diberi.
"Taufan mandi sendiri, ya. Taufan, kan, sudah besar," ujar Milian.
Adiknya langsung menangis kencang. Ayudia yang sedang mengompres kening Desi pun bergegas lari ke kamar mandi yang terletak di belakang rumah kayu sederhana. Jika sudah begitu, habislah Milian dipukuli oleh ibunya.
"Kamu tidak bisa menjaga adik-adikmu dengan baik, hah! Apa yang terjadi dengan Taufan?"
Kedua mata Ayudia seakan hendak melompat keluar. Tatapan kebencian itu membuat sekujur tubuh Milian seakan terpaku ke tanah yang dipijaknya. Ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk membela diri.
Taufan yang baru berusia sepuluh tahun itu tersenyum menyeringai. Ia tidak ingin mandi sendiri karena malas. Adik laki-lakinya itu menganggap Milian sebagai pembantu.
Anak berusia dua belas tahun, diperlakukan seperti pelayan di rumahnya sendiri. Ibu dan adik kandungnya sendiri tidak menganggapnya. Milian bahkan tidak boleh menangis dan mengeluh dalam keadaan seperti itu.
"Sudah selesai. Kakak akan mengambil baju, kamu jalan sendiri ke dalam," ucap Milian.
"Gendong aku ke kamar!"
"Tapi~"
Taufan mengancam akan berteriak memanggil ibunya jika Milian tidak bersedia menggendong adiknya ke kamar. Milian tidak mendapat jatah makan siang tadi, lalu ia mengerjakan tugas yang seharusnya dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga. Ia sering mendapat hukuman pengurangan jatah makan. Tubuhnya kurus kering, wajah dekil, dan rambut yang tidak terawat.
"Jangan panggil mama! Kakak akan gendong kamu ke kamar."
Milian berjongkok. Saat Taufan yang bertubuh gemuk itu naik ke punggungnya, rasanya tulang-tulang di punggungnya seakan patah, meski itu hanya perasaan. Berat badan Milian dan Taufan berbeda jauh.
__ADS_1
Taufan memiliki berat badan 35 kilogram, sedangkan Milian hanya dua puluh kilogram di usianya yang sudah menginjak dua belas tahun. Ia menggendong Taufan dengan susah payah. Sementara sang adik tertawa lebar melihat kakaknya kelelahan.
Gadis kecil itu memakaikan baju dan celana. Selesai mendandani Taufan, Milian masih harus mendandani Bayu. Ketiga adiknya memiliki penampilan yang bersih. Itu karena ada Milian yang selalu mengurus mereka, sehingga ia tidak memiliki waktu untuk merawat dirinya sendiri.
Selesai didandani oleh Milian, Taufan dan Bayu pergi ke ruang makan. Ayudia menemani mereka makan malam. Milian hanya mampu menelan saliva sambil mengusap perutnya yang berbunyi.
'Apa aku salah kalau meminta sedikit makanan saja kepada mama? Tidak! Nanti mama marah dan aku akan dipukuli lagi.'
Milian memilih masuk ke kamarnya. Saat ia menjadi anak satu-satunya, ia mendapatkan semua perhatian dari kedua orang tuanya. Ayudia mulai berubah saat ia melahirkan anak laki-laki.
Bagi Ayudia, anak laki-laki lebih berguna. Anak laki-laki akan bekerja dan menghasilkan uang, sedangkan anak perempuan hanya menjadi beban. Milian tidak merasa ucapan ibunya salah, karena memang di kampung mereka rata-rata seperti itu.
Meskipun perempuan dianggap tidak dapat menghasilkan uang, tapi mereka tetap memperlakukan putri mereka dengan baik. Tidak seperti Ayudia yang seolah memperbudak putri sulungnya. Milian pikir, itu karena dia adalah perempuan.
Namun, saat Desi lahir, sikap Ayudia dalam memperlakukan adik perempuan Milian berbeda. Desi sangat dimanja dan semua keinginannya selalu dikabulkan. Setiap ia mendapatkan upah, dia selalu membeli baju baru untuk Desi dan kedua adik laki-laki Milian.
Sendirian berbaring di kamar kecil dan pengap. Milian mencoba memejamkan matanya, berharap rasa lapar itu hilang saat ia tertidur. Namun, ia merasakan sakit yang luar biasa.
Tok! Tok! Tok!
"Ma," panggil Milian. Ia meringis di depan kamar ibunya di tengah malam.
"Ada apa? Kamu tidak tahu kalau mama sangat lelah menjaga Desi yang sakit! Kenapa kamu mengganggu istirahat mama, hah?! Benar-benar …."
Ayudia bahkan tidak melihat ke arah Milian yang wajahnya pucat pasi seperti mayat. Melihat kemarahan ibunya, gadis kecil itu kembali ke kamar sambil menahan sakit. Menangis terisak pelan di dalam kamarnya.
"Aku kesakitan, Ma," lirih gadis itu.
"Hiks …. Hiks …."
Gadis berusia dua belas tahun, merintih, menahan rasa sakit di kamar yang gelap dan sempit. Rumah itu memiliki tiga kamar. Satu kamar dipakai oleh ibunya, satu kamar oleh Bayu dan Taufan, sedangkan kamar paling depan diisi oleh Desi seorang diri. Ayudia menolak keras saat Milian minta tidur sekamar dengan Desi.
*Bersambung*
__ADS_1