Surat Untuk Mama

Surat Untuk Mama
Chapter 6: Semangat baru, harapan baru


__ADS_3


BAB 6


Ayudia mondar-mandir di depan rumah. Matanya terus melihat ke kiri dan kanan, mencari sosok gadis yang pergi sejak tadi pagi setelah bertengkar dengannya. Perutnya sudah keroncongan, tapi tidak ada yang memasak untuknya.


"Ma! Taufan lapar," ketus Taufan sambil mengusap perut. Para cacing parasit sudah berdemo sejak siang, meminta jatah makanan dari tubuh remaja itu.


"Mama juga lapar, tapi siapa yang mau masak? Kamu?" Ayudia naik darah. Ia sudah lama tidak berkutat dengan peralatan dapur. Bahkan, ia sudah tidak pernah menyentuh pekerjaan di rumahnya.


"Ya, Mama, lah! Taufan bisa pingsan kalau nunggu kak Mili pulang," protes remaja itu.


"Enak saja! Mama capek," tolak Ayudia sambil melangkah pergi dengan kesal.


Tidak berapa lama, gadis itu tiba di depan gerbang bambu yang sudah lapuk. Ia menarik napas dalam-dalam. Berdiri memandangi rumahnya beberapa saat, seolah ia tidak akan pernah melihat rumah itu lagi.


*Tadi pagi, di jembatan.


Grep!


"Hentikan, Mili!"


"Lepaskan saya, Dokter. Saya tidak sanggup lagi. Kehadiran saya tidak diharapkan oleh siapa pun. Saya tidak mau hidup seperti ini," ucap Milian sembari menangis terisak kencang.


Saras ikut menangis, lalu memeluk gadis yang sedang didekap oleh sang suami. Ia sudah lama mendengar cerita hidup Milian dari beberapa pasien yang rumahnya sedikit dekat dengan rumah Ayudia. Saat kecil, orang-orang tidak tahu seperti apa keadaan di dalam rumah itu.

__ADS_1


Namun, setelah gadis itu beranjak remaja, teman-temannya yang bercerita kepada ibu mereka. Tidak tahu atas dasar apa, Ayudia memperlakukan Milian bak anak tiri? Mereka sangat penasaran, tapi gadis itu selalu menjawab baik-baik saja ketika ibu-ibu sekitar bertanya padanya.


"Kamu tidak boleh kalah, Mili. Kehidupanmu memang pahit, tapi kamu juga tidak akan bahagia jika kamu mengakhiri hidupmu sendiri. Bertahanlah, Sayang," bujuk Saras dengan penuh kasih sayang.


"Kenapa? Kenapa …?" Milian memeluk erat Dokter Saras.


Kehangatan itu seharusnya ia dapatkan dari sang ibu, tapi ia tidak pernah mendapatkannya. Terkadang, Milian menggumam lirih dalam hati. Kenapa ia harus terlahir dari rahim Ayudia? Kenapa tidak dari rahim orang lain?


Bujukan dokter itu berhasil membuat Milian mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hidup. Mereka membawa Mili ke rumah sakit dan mengajaknya ke rumah sepulangnya dari sana.


"Lihat, kan? Hasil tes itu tidak sepenuhnya benar. Baru stadium dua dan jika kamu menjaga kesehatan dengan baik, kamu bisa disembuhkan dengan beberapa obat-obatan dan kemoterapi. Kami akan menanggung biaya pengobatan dengan kartu kesehatan milik keluarga." Saras ingin memasukkan gadis itu ke dalam daftar kartu keluarganya.


Milian menolak, karena itu artinya ia harus keluar dari daftar keluarga Ayudia. Ia tidak mau membuat ibunya memberikan masalah kepada Dokter Saras dan suami. Gadis itu sangat senang memiliki orang yang menyayanginya dengan tulus seperti mereka berdua.


"Terima kasih, Dokter. Mili akan menjaga kesehatan dengan baik, tapi … Mili tidak bisa menerima niat tulus Anda. Mili minta maaf," ujar gadis itu sambil menyeka sisa air mata yang masih membasahi pipinya.


"Mili janji. Demi Dokter yang selalu baik terhadap Mili," ucapnya sebelum pergi meninggalkan klinik sekaligus rumah dinas Dokter Saras.*


"Huh …. Pada akhirnya, aku tetap kembali." Milian mendesah berat. Seolah ada batu besar yang mengimpit dadanya, membuatnya terasa sesak saat menarik napas.


Bisa ditebak apa yang terjadi setelah ia kembali? Ya, benar. Ayudia memarahinya, menghukumnya dengan hukuman klasik yang tidak pernah berubah sejak Mili masih kecil. Meskipun semua makanan itu dimasak oleh Milian, tapi ia sendiri tidak bisa mencicipi masakannya.


"Malam ini, kamu tidak boleh makan!"


"Ya, Ma," jawabnya dengan lesu.

__ADS_1


Ia masuk ke kamar dan berbaring telentang di tengah tempat tidur usang. Di kamar lain, tempat tidur dan kasurnya sangat nyaman. Hanya kamar Milian saja yang tidak layak disebut kamar. Lebih cocok jika disebut gudang.


'Dokter Saras hanya ingin menghiburku saja. Jelas-jelas, aku dengar bahwa hidupku mungkin tidak akan lama lagi. Bagaimana jika aku pergi dari mereka nanti? Apakah mereka akan menangis untukku?'


Gadis itu mengubah posisi tidurnya menjadi miring ke kanan. Dari jendela kamar yang kecil itu, ia dapat melihat cahaya rembulan yang samar-samar. Semakin lama, awan hitam semakin menutupi cahaya bulan, dan hujan pun turun dengan derasnya.


Tengah malam, diantara dengkuran para penghuni kamar lain, Milian memilih beberapa pakaian yang masih layak dipakai. Ia memasukan pakaian itu ke sebuah tas lusuh bekas sekolah adik-adiknya. Semua barang yang sudah tidak terpakai, pasti disimpan ke kamar Milian oleh Ayudia.


Tengah malam, di tengah hujan rintik-rintik, Milian memutuskan untuk pergi dari rumah. Berbekal uang yang diberikan Dokter Saras padanya, ia berjalan meninggalkan desa yang penuh dengan kenangan menyakitkan.


Milian ingin menikmati sisa hidupnya dengan kebahagiaan. Ia ingin bebas menikmati hidup sebelum ajal menjemputnya nanti. Secarik kertas bertuliskan alamat rumah seseorang menjadi petunjuk arah baginya.


Ia menaiki kendaraan umum yang bisa membawanya ke alamat tersebut. Namun, Milian tidak tahu bahwa jaraknya sangat jauh. Mobil bus itu harus menyebrangi lautan dan berpindah ke seberang dari pulau Jawa.


Gadis itu tidak pernah berpergian jauh, sehingga ia mabuk perjalanan laut dan darat. Wajahnya pucat, perutnya terasa sakit. Untungnya, ia membawa obat pereda nyeri dari rumah sakit. Setelah meminumnya, ia merasa lebih baik.


Masalah lain datang menghampiri gadis itu. Bus yang dinaikinya itu tidak bisa mencapai sampai alamat tujuan Milian. Ia harus mengganti kendaraan umum saat turun dari pelabuhan.


'Uangku sudah habis. Aku harus bagaimana? Kalau mau naik mobil lagi, aku harus bayar.'


Milian bertanya pada orang yang ada di dekat warung sembako. Karena jaraknya hanya dua jam perjalanan dengan bus, Milian pun memutuskan untuk berjalan kaki ke alamat yang hendak ditujunya. Jika dua jam perjalanan dengan bus, mungkin ia bisa menempuhnya empat atau lima jam dengan berjalan kaki.


Namun, karena kondisi kesehatan yang buruk, ia bahkan belum mencapai setengah perjalanan setelah menghabiskan waktu lima jam berjalan kaki. Sesekali, ia berhenti di sebuah pom bensin. Milian beristirahat sejenak, lalu melanjutkan perjalanan kembali.


Sejak pagi hari sampai jam sepuluh malam, ia baru tiba di depan sebuah rumah dengan gerbang yang menjulang tinggi. Ia mencocokkan alamat di kertas dengan alamat rumah di depannya. Setelah yakin bahwa itu rumah yang dicarinya, ia pun menekan bel.

__ADS_1


Ting! Tong!


*Bersambung*


__ADS_2