Surat Untuk Mama

Surat Untuk Mama
Chapter 5: Putus asa


__ADS_3


BAB 5


Setelah Verrel dan sopirnya pergi, Ayudia segera memboyong kedua putranya pergi ke pasar besar di kota. Milian sangat ingin pergi bersama mereka, tapi itu tidak akan pernah bisa. Seperti biasanya, ia harus diam di rumah, dan menjaga Desi.


"Desi mau ikut, Ma!" Gadis kecil itu berteriak-teriak histeris. 


Bagi mereka yang selalu hidup dalam kesusahan, pergi ke pasar pun merupakan sesuatu yang luar biasa. Sama dengan Milian yang sangat penasaran seperti apa pasar besar di kota. Namun, Ayudia membujuk bahwa ia akan membawakan oleh-oleh dari kota.


"Jangan pergi kemana-mana! Awas, kalau sampai adikmu kenapa-kenapa!"


Ayudia masih sempat mengancam sebelum pergi. Mereka bertiga berjalan kaki menuju jalan utama desa. Dari sana, mereka perlu menaiki angkot selama satu jam, barulah tiba di pasar kota.


***


Teman-teman Milian datang berkunjung saat mendengar ibu dan kedua adik laki-laki Mili tidak ada di rumah. Desi menatap Milian dengan penuh rasa cemburu. Melihat Milian tertawa dan bercanda dengan temannya, Desi ingin sekali menangis.


Sejak kecil, dia tidak memiliki teman. Ia merasa dunia tidak adil padanya. Desi hanya bisa diam di rumah, tidak dapat menikmati indahnya mentari pagi.


Sesekali, ia keluar ke teras saat malam menjelang. Namun, desa kecil itu sangat rawan dengan kejahatan. Hidup susah dan banyak warga yang kelaparan, membuat orang-orang dengan pikiran sempit pun melakukan kejahatan.


Terkadang, Desi ingin berjalan-jalan melihat lingkungan desa yang ia tinggali. Ayudia jelas melarangnya, karena malam hari di desa itu sangat berbahaya. Akhirnya, Desi hanya bisa memandang bulan dari teras rumahnya.


"Apa?!" Salah satu teman Milian memekik.


Desi yang sedang melamun pun segera tersadar. Ia menempelkan telinga di pintu. Mendengarkan apa yang mereka bicarakan dengan rasa penasaran yang besar.


"Jadi, kamu sudah bertunangan?"


"Yah, kalau kamu menikah, kita bakal kesepian, dong," timpal teman lainnya.

__ADS_1


"Kalian juga pasti akan menikah cepat atau lambat. Kenapa harus sedih?" tanya Milian.


"Itu berbeda, Mili. Kami akan menikah dengan orang yang kami kenal, orang yang kami cintai. Tapi, kamu …." Gadis bertubuh tambun dengan tinggi badan kurang dari 160 Cm itu bernama Ucu. Dia yang sangat emosi ketika Milian bercerita.


"Ya, Mili. Lagian, dia itu ibu kandung atau ibu tiri, sih? Aneh, deh," timpal teman yang lain. Dia memiliki tubuh semampai, semeter tak sampai. Itu kata-kata khas yang Ucu lontarkan setiap kali mereka bercanda. Namanya Nuri. Seperti namanya, dia gadis yang cantik, bahkan menjadi kembang desa.


Meskipun diejek pendek, nyatanya Nuri adalah gadis tertinggi diantara mereka. Karena kata-kata itu mengandung makna sebaliknya. Ucu dan Milian sangat iri dengan Nuri. Dia cantik, meski tidak kaya, tapi orang tuanya termasuk orang yang berada. Selain itu, dia tidak pemilih dalam berteman, sekalipun dengan orang miskin seperti Milian.


"Tentu saja dia ibu kandungku. Kalian ini …. Ah, sebaiknya kalian pulang. Ibuku akan segera pulang," ucap Milian, mengusir mereka secara halus.


Milian tidak mau mendapat masalah jika sampai ibunya tiba sebelum temannya pulang. Mereka tidak marah saat Mili mengusir, karena mereka tahu keadaan gadis itu. Merekalah yang paling baik kepada Milian, disaat keluarganya tidak pernah menganggap dirinya ada.


Satu jam kemudian, ibu dan kedua adiknya tiba dari kota dengan menenteng banyak tas belanja. Ayudia membawa dua tas ke dalam kamar Desi, lalu menutup pintu. Dua adik laki-lakinya masuk membawa masing-masing dua tas belanja. 


'Hah …. Apa yang aku harapkan? Tentu saja mama tidak akan pernah membelikan apa-apa untukku.'


Milian masuk ke kamarnya dan mengunci diri. Uang mahar itu habis dalam sekali belanja. Ayudia hanya menyisakan sedikit untuk kebutuhan sehari-hari. 


"Hm, ini tidak buruk."


Ia menyimpan rok itu di dalam lemari. Keesokan paginya, ketika ia hendak memakai rok itu, roknya hilang. Ia membongkar seluruh isi lemari, tapi rok itu tidak ada.


"Ma! Mama!" Milian menghampiri ibunya dengan tergesa-gesa.


"Apa, sih? Kamu pikir, mama tuli, ya!" hardik Ayudia.


"Maaf, Ma. Bukan begitu maksudnya. Mili mau bertanya. Apa, Mama, melihat rok payung milik Mili?"


"Rok payung warna putih hijau?"


"Iya, benar, Ma. Mama melihatnya?"

__ADS_1


"Sudah mama jual ke tukang baju loak," jawabnya dengan santai.


"Apa? Kenapa dijual? Itu Mili jahit untuk dipakai sendiri," protes Milian. Ia menjahit rok itu untuk menghibur hatinya yang terluka. Sudah tidak dibelikan baju baru, rok hasil karya sendiri pun dijual oleh ibunya. 


Milian berlari keluar dengan perasaan sedih dan kecewa. Kehidupannya semakin lama semakin tertekan. Ia tidak sanggup lagi menahan segala kemalangan dan nasib buruknya.


Milian berdiri di atas jembatan. Di bawah jembatan kayu itu terdapat aliran sungai dangkal yang dipenuhi batu-batu besar. Jika ia melompat ke bawah sana, tubuhnya dijamin hancur.


"Hiks …. Hiks …."


Bahu gadis itu turun naik seiring tangis terisak pilu. Hatinya dipenuhi kebencian. Salahkah ia jika membenci mereka?


Ia membenci Taufan yang selalu mengadukan hal yang tidak dilakukannya. Ia benci kepada Desi, karena ia harus merawatnya sejak kecil. Ia membenci Bayu yang selalu mengejek dan memperlakukan dirinya seperti pembantu.


"Aku benci mereka!" Teriakan Milian menggema hingga ke bawah jembatan.


Di bawah jembatan, Saras dan suaminya sedang berjalan-jalan, dan mengambil beberapa foto. Mendengar teriakan seseorang dari atas jembatan, mereka menengadah. Mereka terbelalak melihat Milian sedang menangis di atas jembatan.


"Milian! Cepat naik, Mas! Hentikan dia!" 


Saras sangat panik melihat gadis itu berdiri dengan wajah ditutupi kedua tangan. Menangis terisak dengan suara memilukan. Rasa putus asa terdengar dari setiap teriakannya. 


Dokter Saras mengejar suaminya yang sudah berlari menaiki tebing sungai yang dipasangi batu-batu kecil. Jalan setapak menanjak itu sangat licin, sehingga Saras hanya bisa melangkah dengan hati-hati. Berbeda dengan suaminya yang cukup lihai menapaki jalanan itu.


Milian melangkah maju perlahan-lahan. Ia berniat mengakhiri hidupnya. Toh, ia juga sudah penyakitan. Pikiran itu bergelayut di benak Milian. Tidak ada bedanya jika ia mati lebih awal, bukan? 


Setiap hari, ia menahan rasa sakit di perutnya. Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia merasa percuma sekalipun ia memberitahu ibunya. Saat kecil, ibunya bahkan tidak peduli ketika ia demam.


"Milian! Tunggu! Hah …. Hah …." Suami dokter Saras membungkuk, terengah-engah setelah berlari menaiki tebing sungai. Ia mencoba menghentikan gadis itu, tapi tatapan mata Milian sudah kosong. 


Gadis itu hanya tersenyum hambar. Ia tetap melangkah maju perlahan-lahan. Jujur, ia sangat takut. Bagaimana jika ia tidak mati setelah melompat dari jembatan itu? Hidupnya tidak akan berakhir dan ia akan semakin menderita.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2