Surat Untuk Mama

Surat Untuk Mama
Chapter 4: Lamaran menyakitkan


__ADS_3


BAB 4


Di rumah, Milian melamun sepanjang siang. Pekerjaannya berantakan dan berakhir mendapat amukan dari ibunya. Milian hanya diam dengan mata berkaca-kaca.


Sekali saja, ia ingin sang ibu bertanya tentang keadaannya. Namun, bagaikan mengharap hujan di terik matahari. Milian seperti anak tiri di rumah itu, padahal ia jelas-jelas lahir dari rahim yang sama dengan ketiga adiknya.


"Kak Mili pasti sudah punya pacar, tuh, Ma. Soalnya dari siang ngelamun terus," ujar Taufan, mengadukan sang kakak kepada ibunya.


"Siapa yang mengizinkan kamu pacaran? Mama tidak suka kalau kamu berkeliaran di luar. Kamu lihat si Endah! Dia hamil tanpa suami. Bikin malu. Awas kalau kamu berani mencoreng muka mama!" 


Ayudia tidak pernah bertanya kebenaran dari ucapan Taufan. Apa pun yang dikatakan anak itu, Ayudi akan menelannya. mentah-mentah. Mili selalu terpojok, bahkan tidak diberi kesempatan berbicara.


"Baik, Ma. Mili akan mengingat pesan, Mama," jawabnya dengan suara bergetar. 


Mili sangat ingin berteriak di depan ibunya, memberitahu wanita itu bahwa ia sedang sekarat. Namun, semua itu hanya ada dalam angannya semata. Ia tidak berani melawan ibunya, karena hanya dialah yang dimiliki Mili dan adik-adiknya.


Keesokan paginya, mereka dikejutkan dengan kedatangan sebuah mobil mewah. Di kampung mereka, tidak ada yang memiliki mobil sebagus itu. Bahkan, mobil kepala desa pun harganya tidak ada separuh dari harga mobil itu.


Seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun sedang berdiri di samping mobil. Sementara sopirnya sedang mengetuk pintu rumah Ayudia. Pemilik rumah sudah melihat mereka dari kaca jendela, tapi mereka ketakutan.


"Mili! Apa kamu berutang pada seseorang?" Ayudia menarik tangan Milian dan menunjuk seorang pria yang memakai kemeja putih dengan lengan digulung sampai batas sikut. "Lihat! Dia tidak mungkin datang mencari seseorang seperti kita."


"Mili tidak pernah meminjam uang pada siapa pun, Ma," jawab Milian dengan tegas.


Ia diam saja jika dimarahi oleh ibunya, tapi dituduh berhutang pada orang yang sedang berdiri di luar, ia tidak mau diam saja. Bagaimana jika ia dibebankan atas utang orang lain yang menggunakan namanya? Dia tidak akan sanggup membayar. 


Apalagi, di usianya sekarang, ia hanya bisa melakukan pekerjaan rumah tangga saja. Milian tidak memiliki kesempatan untuk pergi bekerja seperti teman-temannya. Jika ia pergi bekerja, maka rumah tidak ada yang mengurus.


"Keluar sana! Bilang pada mereka kalau kamu memang tidak merasa berutang," ujar Ayudia sambil mendorong Milian ke ruang depan. Sementara ia dan ketiga anaknya berdiri di kamar Desi, melihat Milian keluar menghampiri tamu yang tidak diundang.

__ADS_1


Ceklek!


"Selamat pagi, Mbak. Benar, ini, rumah ibu Ayudia?" tanya sopir yang memakai seragam serba biru dongker.


"Benar. Kalau boleh tahu, Bapak, siapa, ya?"


"Saya Wagiman. Saya datang bersama tuan muda Verrel Baratayudha. Beliau ingin bertemu dengan ibu Ayudia sekeluarga," jawabnya.


Milian melirik ke arah Verrel yang tampak serius menatap layar ponselnya. Sesekali, ia mengedarkan pandangan. Desa itu sangat jauh dari kota, sampai-sampai, Verrel kelelahan dalam perjalanan. 


"Ada urusan apa, ya, Pak? Kami tidak merasa berutang pada siapa pun," kata Milian.


"Tenang saja, Mbak. Kami hanya ingin berbincang-bincang saja. Kami bukan penagih hutang," kata sopir yang tampak tersenyum tipis.


"Oh. Saya panggilkan mama sebentar."


Milian tidak memersilakan kedua tamu untuk masuk tanpa seizin Ayudia. Ia memberitahukan hal itu kepada Ayudia. Awalnya, mereka ketakutan karena mengira kedua laki-laki itu adalah penagih utang. Namun, mereka akhirnya memersilakan kedua tamu untuk masuk setelah tahu kebenarannya.


Milian datang membawakan teh, lalu berjalan hendak kembali ke dapur.


"Sebaiknya Anda tetap di sini, Nona," kata Verrel. "Saya tidak suka mengulang ucapan. Jadi, akan lebih baik kalau Anda juga ikut mendengarkan."


"Hah? Oh, iya." Milian berdiri di samping ibunya.


Suasana tegang menyelimuti ruangan itu. Walaupun kedua tamu mereka bukanlah penagih utang, tapi mereka tetap ketakutan. Hanya saja, rasa takut mereka tidak sebesar tadi.


"Jadi, kalian ini siapa? Ada urusan apa dengan keluargaku?" tanya Ayudia, membuka percakapan.


"Tujuh tahun lalu, ayah kalian menyelamatkan mendiang ayahku. Dia menuliskan surat wasiat yang isinya, saya harus menjamin keluarga kalian setiap bulan sebanyak lima juta. Dan …."


Verrel melirik tajam ke arah Milian. Gadis itu tampak lusuh di balik balutan baju lama. Setelah mengamati Milian sejenak, ia pun melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Ayah saya juga berpesan bahwa, saya harus menikahi putri keluarga ini."


"Apa?! I-ini bukan mimpi, kan? Kalian akan menjamin keluargaku?" Ayudia tampak bahagia mendengar ucapan Verrel. 


Lima juta sudah lebih dari cukup bagi Ayudia. Gajinya sebulan tidak lebih dari dua juta dan itu sudah cukup untuk membiayai kehidupan keluarga kecilnya sehari-hari. Jika memang ia bisa mendapat lima juta setiap bulan, maka ia tidak perlu bersusah payah pergi bekerja lagi.


"Benar, Bu. Tapi soal pernikahan …. Saya minta maaf. Saya harap Anda memberikan waktu selama satu tahun agar saya dan putri Anda bertunangan dulu selama setahun."


"Tidak masalah. Setahun atau dua tahun, tidak apa-apa. Mau lima tahun pun tidak masalah," jawab Ayudia dengan sumringah.


Ia tidak bertanya terlebih dulu kepada Milian. Yang ada di pikiran Ayudia hanyalah uang yang akan didapatnya tanpa harus bekerja. Ia sudah lelah bekerja dibawah tekanan sang atasan yang selalu marah padanya.


"Mama tidak bertanya pada Mili dulu," celetuk Milian.


"Memangnya kamu mau menolak? Mau cari laki-laki seperti apa? Dia ini kaya dan tampan." Ayudia blak-blakan di depan Wagiman dan Verrel.


"Permisi, Nona~"


"Milian, Tuan muda. Nama putri saya, Milian," potong Ayudia. Ia lupa memperkenalkan nama Milian kepada Verrel.


"Nona Milian. Jangan bersikap seolah kamu sangat dirugikan. Di sini, sayalah yang merasa rugi. Saya harus menjalankan wasiat ayah saya, tidak lebih. Saya tidak mengenal Anda sebelumnya, apa Anda pikir saya tertarik?"


Pertanyaan itu sangat menusuk hati Milian. Ia memang gadis lusuh yang tinggal di sebuah rumah kayu yang sudah tua. Namun, ia tidak sejelek itu hingga harus menerima penghinaan dari laki-laki yang baru ditemuinya.


"Ini cincin pertunangan dan sejumlah kecil uang sebagai mahar lamaran."


Verrel mengeluarkan kotak beludru berwarna merah dan sejumlah uang yang disimpan di dalam amplop coklat. Cincin itu terbuat dari emas putih, serta batu permata berwarna pink. Ayudia segera mengambil cincin itu dan memasangkan di jari manis Milian.


Milian mematung. Ia harus menikah dengan laki-laki yang terpaksa melamarnya. Bisa dibayangkan, kehidupan yang menantinya seperti apa? Lebih baik dari Ayudia atau lebih buruk dari Ayudia yang selalu menyalahkan segala hal pada Milian?


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2