Surat Untuk Mama

Surat Untuk Mama
Chapter 3: Indahnya masa remaja pun hancur


__ADS_3


BAB 3


Tujuh tahun berlalu. Milian berusia sembilan belas tahun. Ia sudah tidak lagi memandikan Taufan, karena laki-laki itu sudah berusia tujuh belas tahun sekarang. 


Namun, tugas Milian semakin berat. Desi, adik perempuannya sudah memasuki usia sepuluh tahun. Dia harus bersekolah, sedangkan kondisi tubuh Desi berbeda dengan anak-anak lain.


"Mama pergi bekerja dulu. Jangan lupa! Sebelum Bayu dan Taufan pulang sekolah, kamu harus sudah memasak," pesan Ayudia.


Wanita itu semakin tua dan tenaganya sudah tidak kuat untuk memecah batu. Ia beralih pekerjaan. Ayudia bekerja sebagai buruh cuci di rumah seorang pejabat desa.


"Ya, Ma." 


Seperti biasanya, Milian hanya mampu mengatakan 'ya' sambil tersenyum. Siapa yang tahu luka dan tangisan di dalam hatinya? Tidak ada, bahkan ibunya sekalipun.


Milian memakaikan baju tebal dan dilapisi jaket ber-hoodie di bagian paling luar. Ia memanggil becak langganannya dan memastikan di bagian samping becak itu sudah ditutup kain hitam. Beruntung, bapak pemilik becak sangat baik dan tidak pernah mengeluh.


"Sudah siap, Mili. Pokoknya beres," ujar pemilik becak yang dipanggil Mang Muslih oleh Milian.


"Terima kasih, Mang. Saya bawa Desi dulu," ucap Milian.


Ia masuk ke kamar Desi dan menggendong gadis kecil yang sekarang telah duduk di bangku kelas empat sekolah dasar. Muslih memayungi mereka saat keluar dari rumah sampai mereka duduk manis di dalam becak. Kereta tanpa kuda itu pun bergerak maju, melintasi jalanan desa yang masih berlubang di sana-sini.


Saat adik-adiknya libur sekolah di akhir pekan, Milian sering mengendap-endap pergi keluar untuk bertemu dengan teman sebayanya. Ayudia juga libur, sehingga bisa menemani dan menjaga Desi di rumah. Namun, semua tugas rumah tetaplah menjadi tanggung jawab Milian.


Ketika pulang setelah sejenak bercanda ria dengan temannya, ia pun harus menerima amukan Ayudia. Keadaan rumah sangat berantakan saat Milian meninggalkannya sebentar. Itu semua karena ulah Bayu yang suka mengotori lantai dengan sepatu futsal dan Taufan yang selalu memberantakan makanan ringan di ruang tamu.


"Kebiasaan sekali kamu! Cepat bersihkan rumah! Kamu tidak tahu kalau mama sangat capek bekerja di luar sana selama seminggu. Mama ingin istirahat setidaknya seminggu sekali."


"Ya, Ma. Mili minta maaf," ucapnya. Lagi, lagi, Milian harus meminta maaf meski ia tidak bersalah.

__ADS_1


Sebelum pergi, ia sudah membereskan semua pekerjaan rumah. Padahal hanya ditinggal satu jam, tapi rumah sudah seperti kapal pecah. Milian segera membersihkan rumah, lalu memasak untuk makan siang.


"Desi tidak mau makan sejak pagi. Suapi sana!" Ayudia, Bayu, dan Taufan makan siang bertiga, sedangkan Milian harus menyuapi Desi di kamarnya.


"Desi …. Makan, yuk," ucap Milian.


Wajah Desi sangat murung. Gadis kecil itu selalu berada di rumah karena kondisi penyakit langka yang dideritanya. Setiap kali ia mendengar Milian pergi keluar, ia merasa iri.


"Kakak menyelinap keluar lagi, ya?"


"Ya. Kakak hanya pergi sebentar untuk bertemu teman," jawab Milian.


"Kakak enak, bisa main di luar," ucapnya dengan wajah merengut sedih.


Di dalam rumah itu, mungkin hanya Desi yang dekat dengannya. Meskipun, gadis kecil itu terkadang membuat masalah untuknya. Namun, Milian terus berusaha sabar.


"Makanya, Desi makan yang banyak biar bisa main di luar juga," bujuk Milian dengan lembut.


Plak!


Desi menepis tangan Milian, hingga piring di tangannya terjatuh. Suara piring pecah itu tentu saja menarik perhatian Ayudia. Milian hanya menunduk dan memejamkan mata saat wanita itu memarahi serta memukulnya.


'Sampai kapan aku harus bertahan, Pa? Mama masih saja memukulku atas kesalahan yang tidak kulakukan. Taufan dan Bayu sangat bahagia menertawakan Mili saat ibu memukuli Mili.'


Gadis itu hanya bisa meneteskan air mata di dalam kamarnya. Kamar yang masih tidak berubah setelah belasan tahun berlalu. Hanya ada satu hal yang berubah di sana, pintu.


Awalnya, kamar Mili tidak memiliki pintu dan hanya ditutupi gorden lusuh. Ia sudah dewasa, karena itu ia tidak bisa tertidur nyenyak jika kamarnya tidak diberi pintu. Itu permintaan pertama dan terakhirnya kepada sang ibu, meminta pintu untuk kamarnya.


Tengah malam, pekerjaan Milian baru selesai. Ia melewatkan jam makan malam dan tidak ada selera makan karena perutnya sakit. Akhir-akhir ini, rasa sakitnya semakin kuat.


"Haruskah aku pergi ke klinik?" Milian menggumam. Ia tidak akan berpikir untuk berobat, jika rasa sakitnya masih bisa ditahan. 

__ADS_1


Keesokan paginya setelah mengantar Desi ke sekolah, Milian meninggalkan adiknya di sekolah sebentar untuk pergi berobat. Dokter desa itu masih sama dengan beberapa tahun yang lalu. Suami dokter itu juga sangat baik.


"Mili! Kamu sakit?" Dokter Saraswati sangat terkejut melihat wajah pucat Milian.


"Ayo, masuk," ujar suami dokter Saras.


Mereka menemukan kejanggalan dari penyakit yang diderita Milian. Untuk memastikan, ia meminta gadis itu untuk melakukan beberapa tes di rumah sakit. Gadis itu tentu saja menolak.


Jika ia harus ke rumah sakit, itu artinya harus mengeluarkan uang banyak, serta membutuhkan waktu yang bisa sampai seharian. Ia tidak bisa melakukan itu. Akhirnya, dokter Saras menyerah untuk membujuknya.


"Ada satu tes yang bisa dijalani oleh Mili, Sayang. Cek darah saja. Aku yang akan membawa sampel darahnya ke rumah sakit," usul suami dokter Saras.


Saraswati pun mengambil suntikan khusus untuk mengambil darah. Siang itu juga, laki-laki itu membawanya ke rumah sakit. Sementara Milian harus kembali ke sekolah untuk menjemput Desi.


***


Dua hari kemudian, pak Muslih memberitahu Milian untuk menemui dokter. Saat Desi sedang belajar di kelasnya, Milian bergegas pergi ke klinik. Sepanjang jalan, ia berdoa semoga hasilnya baik.


Namun, kenyataan tidak seindah harapan. Dokter Saras menyampaikan berita yang meruntuhkan dunia Milian. Ia masih sangat muda, tapi harus menerima kenyataan pahit.


Air mata Milian menetes di kedua sudut matanya.


"Ini baru dugaan, kok, Sayang. Semoga saja ini hanya kesalahan saja," ucap Dokter Saras. Ia mencoba menghibur gadis itu.


"Benar. Hasil tes darah ini bisa saja tertukar dengan orang lain. Bagaimana kalau kita melakukan CT scan?" 


"Saya tidak punya uang sebanyak itu untuk pergi ke rumah sakit, Dok."


Dokter Saras dan suaminya bersedia menanggung semua biaya pengobatan. Namun, niat baiknya ditolak dengan halus. Bagaimana mungkin Milian menerima begitu banyak bantuan dari mereka, sedangkan Milian tidak mampu memberikan apa pun kepada mereka.


Gadis itu kembali ke sekolah dengan hati hancur. Kanker lambung stadium akhir. Meskipun belum dipastikan seratus persen kebenarannya, tapi Milian sangat sedih mendengarnya.

__ADS_1


Menurut dokter Saras, jika Milian melakukan pemeriksaan menyeluruh, ia baru bisa memastikan kebenarannya. Milian menolak bukan semata-mata karena tidak ingin merepotkan, tapi ia sangat takut. Bagaimana jika ia memang mengidap penyakit itu?


*Bersambung*


__ADS_2