Surat Untuk Mama

Surat Untuk Mama
Chapter 2: Bekerja dalam keadaan sakit


__ADS_3


BAB 2


"Mili! Bangun! Mama mau pergi bekerja," ucap Ayudia.


Milian beranjak turun dari tempat tidur kayu yang keras tanpa dialasi kasur sama sekali. Wajah pucatnya tidak membuat Ayudia merasa kasihan. Sekedar bertanya keadaan putri sulungnya pun tidak.


"Bolehkah Mili istirahat hari ini, Ma?”


“Istirahat kamu bilang? Lalu, mama harus diam di rumah, begitu! Siapa yang mau memberi kita makan? Kamu pikir, semua makanan dan kebutuhan lainnya di rumah ini dihasilkan oleh siapa? Mama! Jika mama tidak pergi bekerja, kamu dan adik-adikmu tidak akan bisa makan dengan kenyang.”


Ayudia mencak-mencak mendengar Milian ingin beristirahat. Mengungkit masalah makanan yang selama ini dimakan oleh gadis itu. Padahal, Milian tidak pernah bisa makan kenyang, meskipun ibunya terus pergi bekerja.


Jika sudah mendengar ibunya marah, Milian pun hanya bisa meminta maaf. Rumah mereka yang terletak di ujung desa, membuat mereka jauh dari tetangga. Rumah itu berjauhan dengan rumah lainnya.


“Cuci semua baju, mumpung hari cerah. Ingat! Buatkan bubur untuk Desi. Dia masih sakit dan tidak boleh makan sesuatu yang keras,” pesan Ayudia sebelum berangkat kerja.


“Baik, Ma.”


Milian mencari kain batik panjang. Ia mengikat perutnya untuk menahan sakit. Nyatanya, hal itu membuat ia sulit bergerak. 


Gadis itu pun melepasnya kembali. “Hah …. Aku pasti bisa. Aku anak yang kuat, Pa. Papa tenang saja di surga, karena Milian akan menjaga adik-adik dengan baik.”


Taufan pergi ke sekolah bersama Bayu. Tentu saja, mereka pergi setelah dimandikan dan dipakaikan baju oleh kakaknya. Terkadang, Milian sangat sedih melihat mereka menggendong tas sekolah dan pergi dengan seragam merah putih.


Bayu baru kelas satu sekolah dasar, sedangkan Taufan sudah masuk kelas empat. Milian seharusnya lulus sekolah dasar tahun ini, jika ia terus bersekolah. Sayangnya, ia berhenti di bangku kelas dua sekolah dasar.


“Dek …. Makan, yuk!”


Milian membawakan semangkuk bubur untuk Desi. Gadis kecil berusia tiga tahun itu menolak. Ia membujuk Desi dengan halus di tengah terpaan rasa sakit yang menyiksa.

__ADS_1


“Adek harus makan. Nanti tidak sembuh sakitnya,” bujuk Milian.


“Mau jajan! Dedek mau jajan. Dedek gak mau makan bubur. Gak enak, Kak,” rengek Desi.


“Mama tidak menitip uang sama kakak. Dedek makan saja dulu, ya. Nanti sore kalau mama pulang, baru jajan.”


Desi pun setuju. Ia disuapi oleh kakaknya. Gadis kecil itu tidak terlalu merepotkan seperti dua adik laki-lakinya. 


Desi mengidap penyakit alergi matahari sejak lahir. Jika terkena sinar matahari, wajah dan tubuhnya akan memerah. Rasa terbakar yang parah membuatnya menangis kesakitan. Kulit tubuh Desi tidak boleh terkena sinar matahari sedikitpun, karena itu gorden kamarnya tidak pernah terbuka.


Bayangkan betapa sulitnya menjaga gadis kecil berusia tiga tahun yang sedang aktif-aktifnya bermain, tapi tidak boleh keluar dari rumah. Namun, Milian dituntut untuk melakukannya. Saat ia mencuci baju, Desi keluar dari rumah secara diam-diam.


“Ah! Sakit! Kakak …. Hiks …. Sakit!”


Milian meninggalkan pekerjaannya dan berlari keluar. “Adek!” pekik gadis itu. Ia bergegas membawa adiknya ke dokter di klinik kecil di ujung desa.


“Mili! Kenapa dengan Desi?” tanya pak RT yang kebetulan berpapasan dengan Milian.


“Desi kambuh lagi, Pak RT.”


“Ya,” jawab Milian dengan singkat.


Tubuh Desi ditutupi selimut tebal, digendong di punggung Milian yang sedang sakit. Pak RT mengambil alih menggendong Desi dan membawanya ke klinik. Di desa mereka, klinik itu satu-satunya yang bisa mereka kunjungi saat sakit. Untuk fasilitas kesehatan gratis seperti rumah sakit umum dan puskesmas, letaknya terlalu jauh.


Mereka harus naik angkutan umum jika ingin pergi ke sana. Beruntung pemilik klinik adalah orang yang baik. Dia menggratiskan biaya pengobatan untuk keluarga Milian.


Milian terkadang merasa malu, karena hanya dia yang datang ke sana tanpa membawa uang sama sekali. Dokter Saraswati, berperawakan tinggi, cantik, dan memiliki suami yang berprofesi sama dengannya. Mereka tidak bisa memiliki anak karena Dokter Saras mengalami menorrhagia parah, sehingga dia harus melakukan histerektomi.


“Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja?” tanya Saras kepada pak RT.


“Saat ini, sangat sulit untuk memperoleh pengobatan gratis, Bu Dokter. Prosesnya dipersulit dan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Itu sudah ketentuan rumah sakit. Sementara, Ibu, tahu seperti apa kondisi keluarga Desi,” jawab pak RT.

__ADS_1


Dokter Saras hanya bisa menghela napas. Ia tahu, proses pengajuan jaminan kesehatan gratis semakin dipersulit karena oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Mereka memakan uang pengobatan yang seharusnya menjadi hak para masyarakat miskin seperti Ayudia.   


“Saya hanya bisa mengoleskan salep luka bakar, meskipun ini sebenarnya bukan luka bakar.”


Milian duduk dengan gemetar. Selain takut dimarahi ibunya, juga karena ia sedang tidak sehat. Saraswati meliriknya saat mengoleskan obat di tubuh Desi. Selesai mengoleskan obat, ia menghampiri gadis itu.


Puk ….


Ia menyentuh kening Milian. Matanya membelalak saat mengetahui gadis itu sedang demam. Pak RT yang tidak tahu pun cukup terkejut.


“Demammu tinggi sekali, Sayang,” ucap Saras.


“Saya tidak apa-apa, Dokter. Anda tidak perlu khawatir,” kata Milian sambil tersenyum tipis. Ia terlalu malu jika sampai dokter itu mengobatinya juga. Dua orang pasien gratis datang bersamaan, itu pasti merugikan bagi dokter Saras, pikir Milian.


“Tidak. Kamu tidak baik-baik saja. Cepat berbaring! Biarkan ibu periksa kamu,” perintah Saras.


“Tidak perlu, Dokter. Saya harus segera membawa adik saya pulang sebelum ibu pulang kerja,” tolak Milian.


Meskipun dokter itu terus memaksa, tapi Milian bersikukuh menolak perawatan dari dokter Saras. Ia menggendong adiknya dan pulang diantar oleh pak RT. Di dalam perjalanan, Milian hampir terjatuh.


“Biar bapak yang gendong adikmu,” ujar pak RT.


“Tidak apa-apa, Pak. Biar Mili saja. Lagipula, sebentar lagi juga sampai di rumah,” kata Milian dengan napas yang terengah-engah.


Kepalanya terasa berputar karena terpapar sinar matahari. Namun, ia berusaha untuk tetap kuat. Sesampainya di rumah, ia langsung membawa Desi masuk, dan menutup pintu.


“Hah ….” Laki-laki berusia empat puluh tahun itu menghela napas berat.


‘Gadis sekecil itu, tapi sikapnya sangat dewasa. Dia selalu berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri. Bahkan, dia menolak menerima pengobatan karena malu kepada dokter.’


Pak RT berbalik pergi. Ia tidak bisa melakukan apa-apa di sana. Meskipun sudah menawarkan bantuan berkali-kali, tapi Milian selalu menolak, dan mengatakan mereka baik-baik saja. 

__ADS_1


Masalah besar datang ketika ibunya pulang bekerja. Ia sangat marah mendengar Desi keluar dari rumah. Apalagi saat mendengar gadis kecil itu merintih kesakitan, Ayudia pun melampiaskan kemarahannya kepada Milian.


*BERSAMBUNG*


__ADS_2