
KRIING!
Bel tanda istirahat telah berdering. Sera menebak, fenomena luar biasa akan terjadi pagi ini.
“ Sari, mau ke gudang olahraga? “ Tanya Ahra.
“ Iya, aku mau mengembalikan bola-bola ini ke tempatnya. “
“ Kami boleh ikut? “
“ Tentu saja. “
Jarak gedung olahraga tidak terlalu jauh. Mereka berempat berjalan bersamaan sambil menolong Sari membawa bola-bola berat yang dipelukanya. Sera dan Farhan melihat mereka dari kejauhan.
“ Dasar Ahra, dia hanya merundung orang-orang lemah. Sera, ayo bantu Sari! “
Farhan ingin menyusul Sari dan Ahra ke gedung olahraga, tapi Sera menahannya.
“ Lemah? Kalau kau tidak mengenal Sari, lebih baik kau diam. “
“ Ouh, okay. Oh ya, di game setelah survival itu, aku melihat Ahra. “
“ Sudah kuduga. Wajar saja gadis itu punya tanda juga. “
“ Tanda? Maksudmu, tanda yang sama dengan yang kita punya? Darimana kau tahu itu? Bagaimana aku tidak melihatnya waktu itu? “
“ Kita? Hanya kau. “
“ Hah? Tandamu sudah hilang, Sera? Bagaimana bisa? “
__ADS_1
“ Tidak, aku masih memilikinya. Aku hanya tidak suka dengan kata ‘kita’ keluar dari mulutmu.”
" Cih."
"Oh ya kau bertemu Ahra. bisa kau ceritakan."
"Hm, tumben tumbennya kau tertarik dengan cerita perjalanan hidupku setelah kau membunuhku."
"Ceritakan! (geram Sera) "
"Ok, ok. Jadi setelah kau mengalahkan ku. Aku kembali terdampar di survival. Ya ini merupakan survival baru dengan peraturan yang berbeda. Disanalah aku bertemu Ahra. Dan kau tahu mereka semua disana sangat payah. "
"Ya kau benar dan itu termasuk kau."
"Hei, kau... ."
"Kau mau kemana? "
“ Membututi mereka. “
***
BLAM! BLAM!
Ahra dan teman-temannya melempari Sari dengan bola yang mereka bawa. Mengulanginya berkali-kali sampai mereka puas.
“ Sari, kau selalu seperti itu. Tapi baik juga, setidaknya aku punya hiburan pribadi di sekolah ini, hahahaha. “
Gelak tawa mereka menggema ke seisi ruangan. Sari tersenyum kecut.
__ADS_1
“ Kupikir kau sama, Ahra.”
PLAK!
Tamparan keras mendarat di wajah Ahra.
“ Kau! Apa yang kau lakukan?! “
Semua teman Ahra tergolek lemas di lantai ruangan.
“ Sari!! Kau! “
“ Masih ingin melawan? Kau tahu, Ahra? Sejak awal aku sudah menahan diriku agar tidak marah dan emosional, masih berusaha sabar menghadapi manusia gagal sepertimu, sayangnya, kau memecahnya, membuatku melampiaskan semuanya. Seharusnya, kau bersyukur kau baik-baik saja Ahra, karena, hanya temanmu yang akan menginap di ICU malam ini. “
“ A..ap..apa? Te..teman-teman, kalian baik..baik saja, kan? Katakan sesuatu!! “
Ahra meraung sejadi-jadinya, menangisi temannya yang hilang kesadaran oleh Sari.
Singkat cerita, mereka semua menyadari peran masing-masing. Ahra menerima kesalahannya, bersumpah akan menjadi lebih baik nantinya.
Teristimewa untuk Sera, mungkin selama ini ia benci sekolah, benci guru-guru yang mengajarkan beberapa hal padanya.
Namun, suatu hari, ia sadar, yang salah bukan mereka, melaikan dirinya sendiri. Seandainya ia membandingkan sekolahnya dengan sekolah yang lebih baik, tentu ia berpikir, bersekolah disana pasti jauh lebih menyenangkan daripada menempuh pendidikan di sekolah busuk ini.
Nyatanya, ia akan merasakan hal yang sama berulang kali, karena mengulangi kesalahan yang serupa. Karena penolakan itu berasal dari dirinya sendiri.
Jika semisalnya kau menerimanya dengan tulus, mungkin saja hidupmu jauh lebih berharga.
Karena sejatinya, setiap orang meginginkan kebahagian, bukan kepura-puraan.
__ADS_1