Survive In The Game World

Survive In The Game World
penolong


__ADS_3

Sebuah tamparan kasar mendarat di wajah mulus Ahra. Satu serangan itu saja cukup membuat mereka berlari terbirit-birit ke luar gerbang sekolah.


“ Hei, lihat! Itu Sera! “


“ Kau benar! Itu Sera! “


“ Hmph, sekali saja menyentuh Sari, Sera akan datang dengan auman menakutkan miliknya.” Bisik orang sekitar meriuhkan suasana. Sari terpojok lemas. Lega datang menghampiri. Semua ekspektasi buruknya luntur satu persatu. Disusul dengan pertolongan Sera.


“ Sari, berdirilah.”


“ Terima kasih, Sera. Sekarang aku baik-baik saja. Kembalilah ke kelas.”


“ Kalimat ‘baik-baik saja’ kau itu menyakitkan bagiku, kau tahu?


Sudah berapa kali kau diganggu oleh bedebah-bedebah itu? Kau tahu, ini bukan pertama kalinya, bukan juga kali pertama aku datang padamu. Karena itu, tolong tegakkan punggungmu dan layangkan saja pukulanmu pada pengecut-pengecut seperti mereka! “


“ Sera, aku benar benar baik saat ini.”


“ Berhenti mengucapkan kalimat itu! Aku benci mendengarnya.”


“ Baiklah.”


***


“ Ahra, kau baik-baik saja?”

__ADS_1


“ Dasar Sari sialan! Dia beruntung memliki Sera didekatnya. Tapi, mengapa selama ini, aku baru melhat Sera?”


“ Aku bahkan hampir tidak pernah melihatnya.”


“ Kata orang, dia tidak pernah masuk kelas.”


“ Ha? Kau bercanda?”


“ Itu benar. Orang sering menyebutnya sebagai orang jenius se-angkatan kita. Bahkan, karena terlalu sering tidak masuk kelas, tidak satu guru pun yang mengenalinya.”


“ Mengapa?”


“ Aku juga tidak tahu.”


Hentakan alas kaki begitu menggema di dalam gedung olahraga. Ahra tidak menyangka bahwa keputusannya untuk lari ke gedung olahraga adalah pilihan yang salah. Padahal, temannya sudah mengingatkan untuk lari ke gerbang sekolah dan langsung menuju rumah masing-masing. Namun, tiba-tiba berbelok ke gedung olahraga.


Sapaan membosankan seorang siswa mengejutkan mereka.


“ Oi, sedang apa disana?” Pertanyaan itu ternyata keluar dari mulut Farhan. Wakil ketua kelas mereka.


“ Hah? Siapa?”


“ Kalian benar-benar. Ini aku, Farhan.”


“ Oh. Aduuh! Kamu membuat kami terkejut. Apa yang kamu lakukan disini?”

__ADS_1


“ Kalian seharusnya jawab dulu pertanyaanku. Eh? Ahra, kau menangis?”


“ Tidak penting dengan pertanyaanmu. Kami ke kelas dulu.”


“ Aneh, ada apa dengan mereka?”


***


“ Sera! Kau membolos lagi?” Ayah Sera geram ketika menerima laporan dari pengawalnya untuk Sera.


“ Sekolah itu membosankan Papa. Aku muak melihat mereka menyiksa muridnya demi uang.”


“ SERA!”


“ Papa, aku tak sanggup melihat Sari terus seperti itu. Semua yang dilakukannya demi sekolah. Sungguh menggelikan membiarkan mereka yang sangat menikmati jerih payah Sari. Papa tidak pernah tahu, betapa kerasnya Sari belajar hanya sekedar menyenangkan hati gurunya. Dan mereka tidak pernah sedikitpun menoreh kebaikan pada Sari. Sengaja memanfaatkan Sari untuk meraih gelar-gelar sampah itu, untuk menaikkan oposisi nama baik sekolah. Papa tahu, semakin baik kualitas sekolah, semakin banyak dana yang disalurkan. Semua itu, hanya Sari seorang yang benar-benar berjuang. Semua itu hasil jerih payah Sari. Papa pikir, setelah bertahu-tahun bersekolah, masa depanku akan lebih baik dari apa yang ku dapat sekarang?”


“ CUKUP SERA!!”


“ Lihatlah, Papa bahkan tak pernah,”


“ Kembali ke kamarmu, Sera.” Kali ini suara Ayah dari dua bersaudara itu lebih memelas. Seolah-olah, hal itu menampik keras ulung hatinya oleh pahitnya kehidupan.


“ Holy shit! “ Umpatan Sera mendengung-dengung di lubang telinya Ayahnya. Lelaki paruh baya itu baru sadar, semua yang dilakukannya, sangat membekas di hati putri kecilnya itu.


Mungkin terdengar mustahil, tapi, Sera adalah kakak terbaik di dunia. Setiap waktunya hanya diberikan kepada Sari. Sera tahu bagaimana menyenangkan Sari, menghiburnya, merawatnya, melindunginya, semua yang dilakukan Sari, tak pernah sekalipun hilang dalam radar kehidupan Sera.

__ADS_1


__ADS_2