Sweet Enemy

Sweet Enemy
Membenci Sosok yang Bernama Ardi


__ADS_3

"Asri, ada PR matematika, ya? Gawat, nih. Mana belum ngerjain!"


Wiji yang sedang duduk di bangkunya merasa terusik dengan kehebohan Salma yang baru masuk kelas bersama Asri. Jelas saja, baru pukul enam pagi, suasana sekolah masih sangat sepi, tidak ada siapa pun selain tiga siswi itu. Pun suara Salma cukup menggema. Wiji juga sudah tahu ujungnya, dirinya pasti akan menjadi sasaran.


"Aku sudah ngerjain, sih, Ma. Tapi masih agak ragu." Asri meletakkan tasnya di atas meja.


Asri dan Salma yang memang teman sebangku akhirnya duduk di kursi masing-masing. Jarak meja Wiji dengan kedua temannya itu cukup jauh, tetapi Wiji mendengar kepanikan kedua temannya itu. Mereka takut mendapatkan sanksi dari Ibu Diah.


"Sebentar, aku kasih lihat."


Asri kemudian mengambil buku tulis dari tasnya. Dia menyisir lembar demi lembar menggunakan tangan kanan. Risma turut mengambil buku tulis serta pulpennya, ia melihat Asri dengan antusias.


"Tapi udah semua?" tanya Salma begitu Asri menemukan halaman yang dikehendaki.


"Belum. Baru nomor dua sama lima. Itu juga belum tentu benar jawabannya," ucap Asri begitu pesimis.


Wiji menutup sekilas buku di tangannya, ia mengamati dua teman sekelasnya itu. Keduanya kemudian menunjukkan senyum penuh arti, mereka seolah memberikan kode kepada Wiji. Gadis berkulit cokelat cenderung gelap itu hanya tersenyum, dia paham, tapi dia ingin menjadi orang acuh tak acuh untuk saat ini. Dirinya begitu sering dimanfaatkan. Sedari kelas tujuh sampai sekarang kelas delapan masih saja begitu. Teman-temannya hanya datang ketika butuh, begitu tidak butuh, mereka akan menjadi begitu asing.


Wiji kembali berpura-pura sibuk dengan bukunya. Dia mengorek isi tas dan tak tahu apa yang hendak ia cari. Biarkan saja, ia malas jika Asri atau Salma tiba-tiba memasang wajah sedih untuk mendapatkan simpatinya. Semua terkesan dramatis, Salma mulai mendekati bangku Wiji.


"Wiji, sudah ngerjain PR matematika?" tanya Salma pelan.


"Ji ...." Asri turut mendekati Wiji.


"Eh, ada apa?"


"Mmm, kamu sudah ngerjain tugas dari Bu Diah?" tanya Salma lagi.


Wiji hanya mengangguk, dugaannya pasti benar terjadi. Sebentar lagi mungkin dia akan diperlakukan dengan baik, tapi itu hanya modus. Wiji tahu itu.


"Wiji itu anak rajin, pinter matematika, Ma. Masa belum ngerjain. Eh, boleh lihat, Ji?" tanya Asri.

__ADS_1


Sekesal apapun Wiji, jika seseorang meminta bantuannya, terlebih dengan cara mengiba, dia tidak akan tega. Susah baginya untuk berkata tidak. Dan, itulah yang terjadi saat ini.


"Beneran boleh?" tanya Salma.


"Iya. Sebentar."


Wiji mengambil buku tulis matematiknya di dalam tas. Dia tersenyum ketika menyodorkan benda berbentuk persegi panjang berwarna cokelat itu.


"Terima kasih, Ji." Asri sangat bahagia ketika mendapatkan buku tulis Wiji, begitu juga Salma.


Kedua gadis itu kembali ke bangkunya. Membuka buku Wiji dan menaruhnya tepat di tengah-tengah meja. Dengan kecepatan tinggi, mereka menyalin jawaban Wiji begitu saja. Sebenarnya Wiji merasa sedikit keberatan jika temannya mencontek begitu saja.


"Mau ke mana, Ji?" tanya Salma ketika Wiji berjalan hingga di ambang pintu.


"Iya, Ji. Sebentar lagi masuk, lho," timpal Asri.


"Hehehe, cuma mau ke toilet, kok," jawab Wiji.


***


Salah satu alasan Wiji menyukai sekolahnya saat ini adalah letaknya yang berdekatan dengan sawah dan pegunungan. Seperti pagi ini, Wiji melihat pemandangan Gunung Lawu yang tampak jelas di musim kemarau. Antara sekolah dan sawah, dibatasi oleh pagar yang terbuat dari bambu. Dengan itu, tampak begitu jelas pemandangan kesukaan Wiji. Wiji kembali melakukan niat awalnya ingin ke toilet. Sebenarnya dia hanya ingin bercermin di sana.


Wiji kembali setelah sekitar lima menit di toilet. Terdengar kelasnya sedikit gaduh, mungkin sudah datang temannya yang lain. Jam di pergelangan kirinya sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, seperempat jam lagi bel tanda masuk akan berbunyi.


Pantas saja ramai, ternyata si biang kegaduhan sudah datang. Ketika Wiji mengucapkan salam, ia sempat beradu tatap dengan teman lelaki yang ia benci itu. Wiji sedikit melirik ke arahnya, rupanya dia juga baru mengerjakan tugas.


Namanya adalah Ardi, salah satu dari delapan populasi anak laki-laki di kelas Wiji. Dia mempunyai postur tubuh yang cukup tinggi dan wajah lumayan tampan. Dia juga mempunyai lesung pipi yang akan tampak ketika tersenyum. Menurut kabar yang Wiji dengar, Ardi sering menjadi incaran para kakak kelas. Ya, setampan apapun Ardi, Wiji tidak pernah menyukainya.


Tentu saja rasa benci Wiji kepada Ardi memiliki alasan. Ardi suka sekali menyindir dan menertawakan kesalahan orang lain, termasuk Wiji. Entah mengapa Wiji sering sekali mendapatkan itu, seolah Ardi memiliki dendam dengannya.


Wiji menyipitkan mata, ia melihat buku yang isinya disalin oleh Ardi. Tidak! jangan-jangan itu bukunya yang dipinjam Asri dan Salma tadi. Mungkin saja itu, Salma dan Asri satu lingkar pertemanan dengan Ardi, bisa jadi dengan mudahnya mereka meminjamkan buku Wiji kepada Ardi. Dasar! Wiji mendekati tiga orang yang tengah duduk mengitari meja dengan sesekali bersenda gurau itu.

__ADS_1


"Ada apa, Ji?" tanya Ida, teman sebangku Wiji.


"Nggak papa. PR matematika udah selesai?"


"Udah."


"Bagus, deh. Kamu lihat Salma atau Asri ngembaliin bukuku nggak? Tadi sebelum aku ke kamar mandi, mereka pinjam."


"Nggak tahu, Ji. Aku baru datang soalnya.


"Oh, oke deh."


Wiji menghampiri meja Ardi. Lelaki itu masih sibuk dengan pulpen dan bukunya. Dia terlalu asyik menyalin sehingga tidak sadar dengan kehadiran Wiji.


"Lho, kok diambil?" Ardi terkejut ketika buku itu di tangan Wiji.


"Asri, bukunya aku ambil, ya!" Wiji menggoyangkan buku yang ia bawa.


"Eh, iya, makasih, ya. Aku tadi nyontoh semua hehehe. Bukuku mau kamu pinjam?" tanya Asri.


"Bukumu?" Wiji balik bertanya.


"Iya, yang kamu bawa itu bukunya Asri. Sampulnya sama, hehehe," ucap Salma memperjelas.


Wiji panik! Dia menatap buku di genggamannya. Sial! kenapa sampulnya harus mirip, hanya saja ada identitas Asri di sana. Sekilas Wiji menangkap ekspresi menjengkelkan dari Ardi. Dia menahan tawa sebab Wiji terlalu gegabah menarik buku di hadapannya.


"Terus bukuku?" Wiji meletakkan buku Asri dengan kasar.


"Aku taruh di loker mejamu, terima kasih, ya."


Sangat menyebalkan, Wiji enggan menjawab ucapan terima kasih itu. Ia sudah terlanjur malu, belum lagi melihat wajah Ardi. Rasanya sangat kesal dan malu, seketika ia ingin lenyap dari muka bumi. Begitu Wiji menjauh dari tiga orang itu, terdengar tawa Ardi yang meledak. Seperti puas sekali.

__ADS_1


__ADS_2