
"Ardi, Wiji, sudah, ya. Kalian boleh kembali ke kelas. Sebentar lagi sudah waktunya istirahat soalnya. Terima kasih, ya," ucap Pak Ari sembari mematikan mesin pemotong rumput.
"Tapi ini nanggung banget, Pak," oceh Ardi yang masih bermain dengan sabit di tangannya.
Wiji celingukan melihat kondisi lapang. Di sana menunjukkan tanda-tanda istirahat sudah dimulai, terlihat dari beberapa siswa yang mulai lalu lalang. Wiji sedikit geram mendengar ucapan Ardi, enak saja mau terus-menerus di tempat ini. Wiji juga ingin istirahat, sekadar jajan gorengan dan es teh di kantin Bu Sri.
"Sudah, besok saya lanjutkan sendiri." Pak Ari langsung menyita alat yang digunakan Ardi memotong rumput itu, seketika teman sekelas Wiji itu tampak bengong.
"Sudah, segera kembali ke kelas atau kantin. Waktunya istirahat ini!" ujar Pak Ari seolah mengusir.
"Ya sudah, Pak. Kami kembali ke kelas dulu," pamit Ardi.
Wiji mencoba berdiri dari duduknya. Tidak sadar, hampir setengah jam ia duduk untuk menanam bunga. Kakinya kesemutan saat ini.
"Eh, Ardi!" Wiji memanggil Ardi pelan.
"Kenapa?"
"Jangan pergi dulu. Temenin aku, kakiku kesemutan," jelas Wiji.
"Ha? Beneran? Coba dilurusin," pinta Ardi yang tampak panik.
"Eh, ada apa?" tanya Pak Ari yang juga ikutan panik.
"Nggak, kok, Pak. Ini cuma kesemutan. Sebentar lagi pasti juga hilang," jawab Wiji berusaha agar semuanya tidak panik.
Ardi tampak khawatir sebab melihat Wiji meringis merasakan kesemutan di kakinya. Lelaki itu sempat meminta izin untuk memijat kaki Wiji. Dalam hati Wiji ingin sekali tertawa, ternyata Ardi imut juga ketika panik seperti ini. Wiji terkadang kesal dengan dirinya sendiri. Dia paling susah kalau harus duduk dalam waktu yang lama, apalagi dengan posisi jongkok. Siap-siap saja, kesemutan akan menghampirinya.
"Santai aja kali, Di. Ini nggak keseleo, cuma kesemutan."
"Mau dipijit?" tawar Ardi sekali lagi.
"Nggak usah."
"Dia cuma kesemutan, Di. Cukup digerakin pelan-pelan aja. Nanti hilang sendiri," ucap Pak Ari yang menganggap kecemasan Ardi sebagai sesuatu yang lucu.
"Tuh, dengar kata Pak Ari!"
"Iya iya."
__ADS_1
"Bapak ke kantor dulu, ya," pamit Pak Ari sembari membereskan beberapa peralatan kebersihan tadi.
"Iya, Pak," jawab Wiji dan Ardi kompak.
Para siswa berhamburan keluar kelas saat bel tanda istirahat berbunyi. Kondisi lapangan berangsur ramai, beberapa siswa bermain sepak bola di sana. Tidak sedikit pula yang berlalu lalang melewati lapangan itu untuk sekadar pergi ke kantin atau perpustakaan.
"Eh, Di, kalau mau duluan nggak papa. Tapi, masak kamu tega ninggalin aku sendirian di sini," ucap Wiji mempersilahkan Ardi untuk kembali ke kelas tapi seolah tidak mau ditinggalkan.
"Aku masih mau nemenin kamu, sih. Tapi aku juga pengen kembali ke kelas. PR-ku belum kukerjakan. Habis ini waktunya Bu Rahmi, kan?" tanya Ardi yang tampak bimbang antara kembali ke kelas atau menunggu Wiji.
"Oh, iya. Ya udah, nanti lihat punyaku aja," tutur Wiji yang tidak tega karena melihat wajah Ardi yang sepertinya tidak tenang.
"Beneran?"
"Iya. Kali ini aja tapi," tegas Wiji.
Hampir lima menit Wiji dan Ardi di tempat itu. Perlahan kesemutan yang dirasa Wiji menghilang. Ia mencoba berdiri dengan bertumpu pada bahu kiri Ardi.
"Eh, hati-hati."
Ardi mencoba menuntun Wiji untuk berdiri tegak. Akhirnya gadis itu bisa berdiri tegak namun masih tampak kaku untuk melangkah.
Oh, tidak! Sudah pasti Wiji menolaknya. Selain terkesan berlebihan, ia tidak mau menjadi bahan gosip satu sekolahan hanya gara-gara kesemutan. Gila saja, banyak sekali orang di lapangan.
"Santai aja. Aku bisa jalan, nih." Wiji mencoba berjalan beberapa langkah meski berhati-hati.
"Yakin?"
"Udahlah, Di. Keburu waktu istirahat habis!"
Keduanya lalu berjalan beriringan melewati tepi lapangan. Tidak ada pembicaraan, Wiji bingung juga karena tidak memiliki topik untuk dibahas. Di sisi lain Ardi tampak asyik memperhatikan beberapa siswa yang sedang bermain sepak bola.
"Kamu duluan aja, aku mau ke kamar mandi." Ardi berhenti di dekat perpustakaan, ia meminta Wiji untuk meninggalkannya.
"Oh, ok!"
Setengah berlari Wiji menuju kelasnya. Ia menjadi perhatian beberapa siswa karena masih saja memakai seragam olahraga di jam istirahat. Bahkan Wiji mengabaikan Ida yang tampak melambaikan tangan ke arahnya karena tergesa-gesa ingin masuk kelas.
"Tadi aku ke kelas duluan. Aku kira kamu sudah ganti baju," ucap Ida menemui Wiji yang tengah mengambil seragam gantinya.
__ADS_1
"Iya nggak papa. Tadi aku bantuin Pak Ari di dekat gerbang," jelas Wiji.
"sama si Ardi," lanjutnya dengan volume lebih kecil.
"Pantesan kalian tadi nggak kelihatan. Nanti aku mau cerita, ya, Ji." Wajah Ida tampak begitu berbinar, mungkin dia baru saja merasa bahagia. Wiji mengangguk setuju kemudian izin untuk mengganti pakaian di kamar mandi.
***
Waktu istirahat masih tersisa sekitar lima belas menit lagi. Wiji dan Ida kini duduk di kursi mereka sembari menikmati cireng bumbu balado Bu Sri. Untung saja Ida memiliki kepekaan yang tinggi terhadap sahabatnya itu. Tanpa Wiji minta pun dia mau membelikan jajan untuk Wiji. Ya, karena sama-sama masih belum bisa menghasilkan uang sendiri, maka mengganti uang Ida adalah suatu kewajiban bagi Wiji.
"Kamu mau cerita apa?" tanya Wiji penasaran. Sahabatnya itu sedari pagi memang sepertinya sangat ingin untuk berbagi cerita.
"Aku malu," lirih Ida.
"Kenapa malu?"
"Bentar, deh. Aku cerita nanti aja. Kamu nggak buru-buru pulang kan nanti?" Wiji menggeleng cepat, waktunya cukup longgar setelah pulang sekolah nanti.
"Ini buat kamu, Ji."
Ardi tiba-tiba datang menyerahkan kantong berisi sesuatu yang lumayan berisi di atas meja Wiji. Wiji dan Ida bahkan sempat tersentak karena Ardi datang tanpa permisi.
"Apa ini?"
"Titipan dari Pak Ari. Aku juga dikasih, kok." Ardi menunjukkan kantong kresek lain yang berada di tangan kirinya.
"Oh, terima kasih, Di," ucap Wiji.
Wiji hendak kembali melanjutkan ceritanya bersama Ida. Akan tetapi, ia merasa risih karena Ardi masih saja berada di dekatnya.
"Kenapa masih di sini? Belum ganti baju juga!" seloroh Wiji kepada Ardi yang masih mematung di dekatnya.
"Lupa sama janji?" sindir Ardi.
"Oh, iya. Kenapa bisa lupa, ya." Wiji kemudian mengeluarkan buku LKS mata pelajaran IPS. Hanya tersisa beberapa menit, Ardi harus segera menyelesaikan PR dari Bu Rahmi.
"Maaf, ya. Cepat, nanti keburu masuk!" Wiji mengusir Ardi agar segera kembali ke bangkunya.
Untung saja kelas tidak begitu ramai sebab kebanyakan siswa masih asyik bergurau di luar kelas. Bisa-bisa terjadi kesalahpahaman lagi setelah pemberian cokelat tadi pagi. Jangan sampai semua menduga Wiji benar-benar menyukai Ardi.
__ADS_1