Sweet Enemy

Sweet Enemy
Curhat


__ADS_3

"Ji, makasih!"


Hanya berselang beberapa menit buku Wiji yang dipinjam Ardi sudah kembali. Bahkan Wiji heran secepat itu Ardi menyalin jawaban.


"Kok cepet?"


"Sebenarnya udah ngerjain di rumah. Cuma masih ragu beberapa nomor. Tadi aku cuma nyamain jawaban aja," jelas Ardi dengan santainya.


"Tumben kamu ngasih contek ke dia," ujar Ida heran.


"Iya, aku baik untuk hari ini." Wiji tertawa.


"Eh, ya udah sana! Ngapain masih di sini?" Wiji mengusir Ardi, keberadaan lelaki itu cukup mengganggu. Bukannya segera pergi, Ardi justru masih bergeming di dekat Wiji.


"Ardi, dari mana aja? Kok baru kelihatan?" tanya Daren yang baru memasuki kelas.


"Dari kamar mandi," jawab Ardi.


"Oh, kirain yang dibilang Asri bener," tuding Daren seolah menyelidik.


"Emang Asri bilang apa?"


"Hai semuanya, ada kabar gembira!" tegas Asri yang baru datang.


"Nah, ini dia si Asri. Kamu tanya sendiri aja," dalih Daren.


"Kamu bilang apa ke Daren?" tanya Ardi.


Asri langsung menatap bingung Daren, dia tidak ingat apa yang tadi mereka bicarakan. Terlihat Daren memberi isyarat dengan gerakan bola matanya yang menunjuk ke Wiji. Asri seketika yang seketika paham langsung membulatkan mulutnya.


"Iya, bentar. Aku mau ngasih pengumuman," ucap Asri kepada Ardi.


"Jadi gini, Bu Rahmi berhalangan hadir. Tugas yang kemarin dilanjutkan lagi sampai bagian tiga. Nanti dikumpulkan di ruangan beliau," jelas Asri menyampaikan pengumuman.


"Kamu tadi bilang apa ke Daren?" tanya Ardi begitu Asri selesai memberikan pengumuman.


"Aku cuma bilang kalau aku tadi lihat kamu sama Wiji di dekat gerbang. Entah apa yang kalian lakuin aku nggak tahu. Aku cuma bilang itu aja," papar Asri.


"Oh, iya emang. Tadi Wiji sakit kakinya. Emang kenapa?"


"Oh, kirain emang sengaja berdua gitu," ucap Salma yang berada di belakang Asri.


"Nggaklah, ngapain juga sengaja berduaan sama Wiji."


Merasa namanya terpanggil, Wiji langsung menoleh ke arah Ardi. Lelaki itu menjulurkan lidah meledek Wiji.


"Ha?" Wiji merasa jijik saja.


"Nggak papa, kok."


"Tapi aku tadi lihat kalian pegangan tangan gitu. Eh, maksud aku kayak kamu memapah Wiji gitu. So sweet," ucap Asri Demak memperjelas. Dasar kompor!


"Benar begitu?" bisik Ida pada Wiji. Wiji hanya mengendikkan bahu.


"Nggak, nggak. Salah lihat orang kali. Iya, waktu itu aku ada di situ, tapi nggak nolongin Wiji," elak Ardi.


Wiji hanya tersenyum, dia malas untuk membahas sesuatu yang tidak penting. Teman sekelasnya itu memang menyebalkan, dia sudah berbohong. Aneh, terkadang ia terlihat sangat baik tapi terkadang menjengkelkan pula.

__ADS_1


"Udahlah, mau ke kantin aja!"


Tanpa rasa takut Ardi keluar kelas. Bahkan Daren juga mengikuti langkahnya. Ya begitulah, bahkan dua siswa itu tidak mempedulikan kalau saat ini sudah bukan waktunya istirahat lagi.


***


"Jangan pulang dulu, ya! Kita ada sesi curhat." Ida menutup mulutnya ia tampak malu-malu sembari memasukan peralatan tulisnya ke dalam tas.


"Iya. Mau curhat apa, sih, sebenarnya?"


"Bentar! Biar kelasnya sepi dulu," bisik Ida.


Sembari menunggu kelas sepi, Wiji mengeluarkan makanan yang dibawakan Ardi tadi. Dia juga ikut memakan kripik dan roti milik Wiji.


"Kenapa belum sepi juga, ya?"


Hampir seperempat jam Wiji dan Ida menunggu kelas sepi. Akan tetapi, masih saja ada beberapa orang di sana. Padahal, biasanya kelas langsung sepi begitu bel pulang dibunyikan. Berangsur-angsur kelas menjadi sepi dan hanya tinggal Wiji, Ida, dan Ardi.


"Kenapa Ardi belum pulang?" bisik Ida.


"Mungkin masih mau ke kantin untuk mengambil dagangan ibunya," jawab Wiji.


"Ji, nggak pulang sekarang?" Ardi berdiri dan mulai menggendong tasnya.


"Nanti! Masih ada urusan."


"Kirain mau sekarang."


"Kenapa emangnya?"


"Kali aja mau bareng aku lagi," ucap Ardi begitu percaya diri.


"Oke. Duluan Ji, Da!"


Waktu yang ditunggu akhirnya tiba. Wiji juga tidak sabar ingin mengetahui cerita Ida.


"Jadi, aku sekarang lagi dekat sama Arul," lirih Ida.


"Arul?" tanya Wiji sembari menunjuk bangku depannya, bangku milik Arul.


Ida tersenyum malu-malu, ia mengangguk menjawab pertanyaan Wiji. Oh, rupanya sahabat Wiji itu sedang kasmaran.


"Sejak kapan?" tanya Wiji.


"Sejak seminggu yang lalu. Arul SMS aku nanya tugas awalnya. Eh, malah SMS-an terus. Dia lucu banget, kadang gombalin aku."


Spontan Wiji mengucapkan kata 'ha?' karena tidak bisa mempercayainya. Arul adalah lelaki paling pendiam di kelas ini, dan ternyata dia bisa menggombal?


"Tapi bukannya kamu juga dekat sama Rio?"


Senyum getir itu tampak disunggingkan Ida. Rio adalah seseorang yang Ida kejar-kejar selama ini. Sayangnya, Rio tidak begitu mempedulikan semua perhatian Ida untuknya. Lelaki itu justru dekat dengan perempuan lain.


"Terus sekarang kamu gimana? Kamu suka sama Arul nggak?"


Ida menggeleng lemah. Tunggu, tunggu! Wiji bahkan bingung dengan pembahasan kali ini.


"Maksudnya gimana, Da?"

__ADS_1


"Aku belum suka sama Arul."


"Tapi dia udah nembak kamu?" Ida mengangguk seraya tersenyum.


"Terus dia bilang apa?" tanya Wiji begitu antusias.


"Dia bilang kalau dia nggak mau nyerah. Dia akan terus ngejar aku."


"Dia tahu kalau kamu suka Rio?"


"Iya, dia tahu. Aku bingung, Ji. Akhir-akhir ini juga tumben Rio selalu membalas pesanku. Biasanya juga jarang banget. Kenapa harus datangnya bersamaan, ya?"


"Si Rio udah putus sama pacarnya?"


"Udah. Udah lama, kok!"


Wiji memikirkan sesuatu. Ia tahu, Rio bukanlah sosok yang baik untuk Ida. Bahkan Rio terkenal dan banyak dikagumi perempuan lain. Kalau Wiji jadi Ida, mungkin ia akan memilih mundur duluan.


"Kalau saranku, sih, mending sama Arul," ujar Wiji pelan.


"Kenapa?"


"Orang yang tulus mencintai kamu itu lebih baik daripada orang yang kamu suka. Ketika dia menginginkan kamu berarti dia siap menerima segala kekuranganmu juga?"


Ida mengangguk setuju dengan ucapan Wiji. Dia kini bimbang, Rio atau Arul.


"Tapi terserah kamu, deh, Da. Kamu kan yang lebih paham cinta-cintaan," sindir Wiji disertai candaan.


"Eh, apaan, sih!"


"Bener, kan?"


"Jadi malu aku, Ji."


Tidak terasa hampir satu jam Wiji dan Ida bercerita. Keduanya berencana pulang jam dua nanti.


"Kamu lagi dekat sama siapa, Ji?" tanya Ida mengalihkan pembicaraan.


"Nggak ada."


"Ardi?"


"Ha? Nggaklah. Kemarin itu cuma kebetulan pulang bareng. Dan tadi itu aku nggak tahu waktu bantuin Pak Ari. Mana aku kesemutan, jadinya aku suruh dia temenin aku," jelas Wiji.


"Lho, pulang bareng? Kapan?"


Aduh, kenapa Wiji malah memberitahu Ida. Padahal ia berharap kejadian bersama Ardi hanya cukup menjadi rahasianya sendiri.


"Hehehe ... iya. Waktu itu pas aku piket."


"Kok bisa?"


"Iya karena nggak sengaja. Kebetulan kita kan searah, entah dia waktu itu kenapa pulang akhir."


"Sengaja biar bareng kamu mungkin."


"Nggaklah."

__ADS_1


"Atau ... mungkin dia suka sama kamu, Ji?"


Oh, tidak! Tidak mungkin. Wiji bahkan tidak menginginkan hal itu terjadi. Semoga saja jodohnya nanti bukan Ardi.


__ADS_2