Sweet Enemy

Sweet Enemy
Tugas dari Pak Ari


__ADS_3

Para siswa kelas VIII A kini sudah berkumpul di lapangan. Mereka kemudian melakukan pemanasan setelah berbaris menjadi empat saf. Delapan orang laki-laki berada di saf depan. Sementara tiga saf belakang diisi oleh para siswi.


Pemanasan sebelum olahraga sangat berguna, salah satunya dapat mengurangi risiko mengalami cedera. Wiji sempat memperhatikan, beberapa teman lelakinya tampak serius ketika pemanasan. Namun, ada juga yang sekadar bermain-main, Ardi contohnya.


Padahal Wiji sudah berusaha agar terpisah dari Ardi, sayangnya tadi hanya tersisa satu tempat di belakang Ardi. Ya, Wiji kalah cepat jika melawan teman-temannya, kalau saja tadi dia tidak terlalu lama ketika ganti seragam. Akhir-akhir ini Ardi memang sering menyita perhatian Wiji. Muak? tentu saja, Wiji merasakan hal itu. Akan tetapi, wajah manis Ardi terkadang mampu membuatnya lupa jika sangat membenci sesosok lelaki yang hobi nyinyir itu.


Wiji menahan tawanya ketika Ardi kehilangan keseimbangan saat mengangkat kaki kanannya. Lelaki itu tampak bergoyang ke kanan dan kiri. Wiji menutup mulut dengan tangan kanannya, jangan sampai tawanya pecah saat ini. Sial! Ardi malah menoleh ke belakang dan sempat beradu tatap dengan Wiji.


"Lha, ternyata di belakangku tadi si Wiji," ucap Ardi pada Arman, seseorang yang berada di sampingnya.


"Kalau aja tadi ada tempat lain, aku nggak sudi di belakangmu, Di," celetuk Wiji dengan sinis.


"Nggak usah berkilah, Ji. Aku tahu kamu itu sebenarnya fans berat aku," ucap Ardi begitu percaya diri.


"Amit-amit, nge-fans dari mana coba?"


"Kamu suka diam-diam memperhatikan aku, kan?"


Wiji membulatkan matanya sempurna. Ucapan Ardi tadi membuat telinganya terasa geli. Jadi selama ini Ardi memperhatikannya? Wah, ada yang perlu diluruskan. Wiji tidak memiliki rasa kagum kepada Ardi. Toh, kalaupun ia melihat ke arah Ardi, itu sebuah ketidaksengajaan. Wiji menatap Ida yang berada di sampingnya dengan ekspresi mengiba, ia butuh bantuan temannya.


"Udahlah, kalian kenapa suka ribut mulu." Ida berusaha melerai dua orang tersebut agar tidak terjadi kegaduhan.


"Tapi si Ardi ini PD-nya nggak ketulungan, sumpah! Ih, bikin kesel!" tandas Wiji seraya mengepalkan tangannya.


"Di, sekarang Wiji kelihatan suka ngegas. Ini pasti gara-gara kamu," lirih Devan tapi tetap dapat didengar oleh Wiji.


"Selama ini kita itu salah menduga. Dia itu nggak sependiam kelihatannya." Percuma Ardi berbisik, Wiji dapat mendengarnya dengan jelas.


"Heh, maksud kalian apa? Menggunjing seseorang tepat di depannya." Wiji mendorong Ardi karena merasa geram sehingga lelaki itu hampir jatuh.


"Lho, bukannya yang bagus itu kayak gini. Bilang di depan orangnya langsung. Daripada di depannya bagus tapi di belakang busuk?"


"Tapi menurutku, kamu itu di belakang atau di depanku sama-sama busuk."


Devan beberapa kali mendekatkan ibu jari ke arah mulutnya. Wiji dan Ardi sudah cukup membuat kegaduhan. Ia hanya khawatir jika Pak Ari menyadari dan tiba-tiba memberikan hukuman.


"Udah, Ji, udah!" ucap Ida.

__ADS_1


"Iya, nih. Udah, Di," imbuh Devan.


"Tapi dia emang bikin kesel!"


"Kamu, tuh!"


"Empat orang itu kenapa heboh sendiri? Dari tadi didiemin tambah ngelunjak. Maju! Pimpin pemanasan!"


Gawat! Ternyata Pak Ari memerhatikan sedari tadi. Wiji tidak mau jika harus berada di depan, dia tidak pernah bisa bersungguh-sungguh saat melakukan pemanasan. Mungkin hanya dia yang tidak menyukai mata pelajaran ini.


"Ayo!" ucap Pak Ari sekali lagi dengan nada sedikit lebih tinggi.


"Harus berempat, Pak?" tanya Ardi.


"Kamu saja kalau begitu. Cepat!" Ardi tergelagap sebentar sebab terkejut. Akan tetapi, sesaat ia memenuhi perintah Pak Ari.


Aman! Sekarang Wiji merasa tenang. Ida mencubit lengan kiri Wiji. Hampir saja dia menjadi korban dari perbuatan Wiji dan Ardi.


Ardi memberikan hitungan dengan tegas saat pemanasan. Sangat berbeda dengan kondisi awal tadi. Wiji masih tidak habis pikir. Ada-ada saja siswi dari kelas lain bahkan kakak atau adik kelas yang diam-diam mengamati Ardi dari depan kelas. Apa keistimewaan Ardi yang sebenarnya?


"Terima kasih, Ardi. Silahkan kembali ke tempat!"


"Minggu kemarin kalian sudah selesai penilaian, sekarang kalian bebas. Silahkan bermain voli atau olahraga lainnya. Peralatan lainnya bisa diambil di gudang," ucap Pak Ari begitu lantang dari depan.


Pak Ari kemudian menutup sesi pemanasan dan mempersilahkan para siswa membagi tim untuk voli. Wiji memutar bola matanya, ini akan sangat membosankan. Beberapa siswa tampak berdebat, mencari kekurangan pemain yang diambil dari beberapa siswi. Wiji menarik Ida ke sisi lapangan dekat perpustakaan. Wiji tahu, ia dan temannya itu tidak akan dipilih sebagai pemain voli.


"Mau ngapain kita ke sini?" tanya Ida begitu duduk di teras yang berada di depan perpustakaan.


"Nggak tahu," jawab Ida.


"Eh, bentar, ya. Aku pengen ikut itu." Ida menunjuk beberapa temannya yang baru keluar dari kantor dengan membawa raket.


"Lho, aku sendirian, dong!"


Ida tak mendengar ucapan Wiji. Gadis itu sudah berlari menuju lapangan. Ya, sahabat Wiji yang satu ini memang sangat menggandrungi olahraga bulutangkis.


"Nduk, kamu kenapa nggak ikut voli?"

__ADS_1


Wiji sempat tersentak, ia yang sibuk dalam lamunannya tidak menyadari kehadiran Pak Ari.


"Nggak papa, Pak," jawab Wiji begitu canggung.


"Bisa bantuin saya?"


"Bantuin apa, Pak?"


"Ayo ikut saya!"


Wiji sedikit curiga, Pak Ari biasanya meminta tolong untuk hal yang tidak biasa. Dulu Wiji dan Ida pernah dimintai tolong untuk membungkus kado untuk istrinya. Wiji hanya mengekor Pak Ari, hingga berhenti di dekat gerbang. Beberapa peralatan kebersihan dan bibit bunga tersedia di tempat tersebut.


"Eh, kok ada Ardi. Sendiri lagi, kelihatan banget kalau jomlo," celetuk Wiji ketika melihat Ardi yang sibuk menyapu bekas potongan rumput.


"Iya, dari tadi dia bantuin. Kasihan dia,.makanya saya carikan dia teman."


"Terus tugas saya apa, Pak?"


"Nggak lihat banyak pekerjaan? Tuh, bunganya ditanam!" tandas Ardi begitu sinis.


"Santai aja kali!"


"Sudah, jangan berteman!" tunggu-tunggu, Wiji menyadari kejanggalan pada kalimat yang diucapkan Pak Ari.


"Lha, gak boleh berteman, Pak?" tanya Ardi.


"Eh, sadar juga ternyata," ucap Pak Ari.


"Kita emang nggak pernah berteman, kok, Pak," sergah Wiji.


"Eh, siapa juga yang mau berteman sama kamu," balas Ardi.


"Aduh, malah berdebat. Kalian bisaa bantuin saya nggak, sih? Kalau nggak bisa saya kerjakan sendiri saja."


"Bisa, Pak, bisa!" ucap Ardi dan Wiji kompak.


"Nah, bagus. Wiji bantu tanam bunga aja, biar Ardi yang motong rumput."

__ADS_1


Entah mengapa Wiji lama-lama merasakan bahagia ketika berdebat dengan Ardi. Ia hampir tidak fokus menanam bunga hanya karena terlalu asyik memikirkan perdebatan tadi, ia senyum-senyum sendiri. Sesekali ia menoleh, melihat Ardi yang juga sibuk dengan sabit di tangannya. Ah, Wiji hampir berhalusinasi, mungkin ini gambaran sepasang suami istri ketika membersihkan halaman rumahnya.


__ADS_2