
Wiji pulang paling akhir siang itu sebab ia masih melaksanakan piket menyapu kelas. Sebenarnya masih besok jadwalnya, tetapi ia terbiasa melakukannya seperti ini. Sekadar berjaga-jaga, siapa tahu ia datang terlambat esok hari. Selain itu ada alasan lain, dia malu jika bertemu Ardi di tempat parkir.
Pukul dua siang Wiji baru bisa melaksanakan piketnya. Ya, hal itu disebabkan ia harus menunggu kondisi kelas menjadi sepi. Sengaja Wiji menaikkan bangku ke atas meja untuk mempermudah dalam pembersihan. Lantai, meja, jendela, bahkan langit-langit kelas tidak luput untuk dibersihkan. Wiji butuh waktu lebih dari seperempat jam untuk menuntaskannya. Ketika kondisi kelas sudah bersih dan rapi, Wiji mengambil tasnya. Ia berjalan keluar dengan perlahan kemudian menutup pintu. Diambilnya sepatu yang berada di rak. Sesaat kemudian ia duduk sembarang di lantai teras dan mengenakan sepatunya.
Wiji berdiri setelah sepatunya terpakai sempurna. Ditatapnya lapangan yang tampak lengang, kelas-kelas lain juga sudah dalam kondisi pintu tertutup, sepi sekali. Akan tetapi, sepertinya masih ada guru yang belum pulang, terlihat dari beberapa sepeda motor yang berada di parkiran guru.
Selanjutnya Wiji berjalan menuju tempat parkir sepeda. Ia kira saat ini sudah benar-benar sepi, ternyata masih ada sepeda lain di tempat itu. Wiji berjalan mendekati sepeda Phoenix merahnya yang berada di paling pojok barat. Ia harus memindahkan sepeda yang lain agar sepedanya bisa keluar. Wiji sedikit mengeluh. Kondisi seperti ini sering dialaminya. Maklum, ia terbiasa berangkat pagi. Mau tidak mau sepedanya akan selalu berada di paling depan.
Jarak sekolah ke rumahnya cukup jauh. Mungkin selama perjalanan nanti akan terasa melelahkan sekaligus membosankan, biasanya ada teman bercerita ketika mengayuh sepeda.
"Baru pulang, Ji?"
Wiji tersentak hingga mengakibatkan sepeda yang dipegangnya terjatuh hingga merembet ke sepeda yang lain. Ini adalah hari sialnya. Wiji menatap ke sumber suara. Di sana seorang lelaki sedang tertawa tanpa merasa berdosa.
"Bisa hati-hati nggak, Ji?"
"Ardi!"
Kehadiran laki-laki itu sungguh memberikan kejutan pada Wiji. Tempat parkir memang berada di belakang laboratorium IPA dan perpustakaan sekaligus berdampingan dengan kantin. Mungkin tadi Ardi sedang mengambil jajan yang ia titipkan di kantin. Terlepas dari semua sifat menyebalkan Ardi, Wiji menyukai satu hal dari Ardi. Lelaki itu tidak pernah malu membawakan kue dagangan ibunya ke sekolah. Setiap berangkat sekolah terlihat ia membawa sebuah keranjang yang diikat di boncengan sepedanya.
"Rajin amat udah piket," ucap Ardi dengan senyum khasnya yang membuat dada Wiji bergemuruh.
"Apa, sih. Bukannya bantuin malah nyiyir aja," lirih Wiji.
"Oh, butuh bantuan? Bilang, dong, Ji."
Ucapan Ardi itu terkesan meledek. Harusnya Ardi peka ketika melihat orang lain kesusahan. Wiji tidak menjawabnya, ia ingin berusaha sendiri. Buru-buru ia mendirikan sepeda-sepeda itu, berharap tidak ada kerusakan parah yang ditimbulkan.
"Yang itu sepedamu?"
Wiji hanya mengangguk. Ardi kemudian meletakkan keranjang kuenya di bangku panjang yang tersedia di tempat itu. Ia membantu Wiji memindahkan sepeda, sigap juga rupanya.
"Nih, tenang aja. Nggak ada yang rusak, kok. Kalaupun ada yang rusak, aku yang tanggung jawab," jelas Ardi seraya mengarahkan sepeda Wiji ke tempat keluar.
__ADS_1
"Makasih, Di," ucap Wiji pelan. Ya, ada sedikit harapan ketika Ardi mengucapkan itu. Hampir saja ia galau memikirkan nasib tabungannya jika harus mengganti kerusakan.
"Sama-sama. Kamu ke arah utara, kan?"
"Iya."
"Barengan aja kenapa, sih? Searah juga," ucap Ardi. Dia kemudian mengambil sepeda onthelnya.
Wiji menggerutu dalam hati. Niatnya pulang akhir agar tidak bertemu dengan musuhnya itu, ternyata malah pulang barengan.
"Udah, yok!"
Wiji berusaha menyabarkan dirinya, setelah beberapa menit menyia-nyiakan waktu demi menunggu Ardi, ternyata Ardi malah melaju lebih dulu menuju gerbang. Masa bodoh, Wiji tidak peduli. Kalaupun Ardi meninggalkannya, ia tahu jalan pulang.
***
"Biasanya pulang sendiri?"
Setelah sibuk dalam diam masing-masing, akhirnya Ardi membuka pembicaraan. Perjalanan kedua remaja itu masih jauh, mereka harus melewati jalan panjang yang kanan kirinya berupa persawahan.
Wiji awalnya merasa senang sebab Ardi tidak jadi meninggalkannya. Lelaki itu meminta Wiji agar melaju lebih dahulu di depannya. Namun, Wiji mulai merasa sebal, Ardi yang semula di belakangnya kini bersejajar di sampingnya. Jujur, sedikit saja Wiji tidak berani melirik lelaki itu saat ini.
"Kalau bisa jangan sendiri. Kamu nggak takut kalau tiba-tiba ada yang ngikutin kamu, kan di sini jarang ada orang lewat."
"Nggak usah nakut-nakutin, Di!"
"Siapa yang nakut-nakutin, ini fakta. Dulu ada begal di sini," ucap Ardi.
"Dulu, kan? Sekarang?"
"Dibilangin juga. Kirain kamu itu pendiam, nggak cerewet. Ternyata sama aja! Malah lebih ramai dari kaleng rombengan."
Dari awal memang Wiji menduga Ardi beda dengan lelaki lain. Jelas beda, Ardi suka to the point ketika berbicara. Tidak peduli itu menyakitkan perasaan orang lain atau tidak.
__ADS_1
"Bisa diam nggak, Di? Nyesel pulang bareng kamu."
"Nyesel? Harusnya bangga bisa pulang sama aku. Soalnya banyak cewek yang pengen bisa bareng aku."
"Oh, ya? Wah, keren, dong!"
"Ji, aku tahu alasan nggak ada yang naksir kamu. Selain masih kayak anak kecil, kamu nggak suka dengar saran dari orang lain," ucap Ardi lagi.
"Ha, saran? Yang aku dengar tadi bagian mananya yang berupa saran?" celetuk Wiji penuh penegasan.
"Ya emang sekilas terdengar kayak omongan biasa, tapi secara tersirat itu mengandung saran," sergah Ardi membela dirinya.
"Bodo amat! Nggak peduli ada yang naksir atau nggak. Lagian masih SMP juga, nggak perlu mikir cinta-cintaan."
"Bilang aja nggak laku!"
"Darah tinggi aku pulang sama kamu. Bawaannya pengen nampol kamu terus!"
"Santai saja kali. Tapi kamu seru juga ternyata, kirain kaku kayak kanebo kering."
"Ilham Ardiansyah, dengar baik-baik. Aku diam itu ke orang yang nggak akrab sama aku. Kamu lihat kan kalau aku lagi sama Ida? Aku sering tertawa lepas," jelas Wiji.
"Iya, aku sering lihat."
"Diam-diam perhatian ternyata." Wiji tertawa, tapi dia berusaha untuk tidak ke-GR-an.
"Tapi suara kamu kayak Mak Lampir kalau ketawa." Ardi terkekeh.
"Sabarkan hamba, Ya Allah."
Ardi tertawa untuk kesekian kalinya. Sesaat kemudian keduanya diam, tidak ada pembicaraan. Seorang pengendara motor dari arah belakang membunyikan klaksonnya. Ardi menyalip Wiji hingga ia berada di posisi depan.
"Monggo, Pak!"
__ADS_1
Ardi mengangguk begitu pengendara motor mendahuluinya. Ternyata Ardi tahu sopan santun juga. Pengendara motor itu tersenyum dan membalas dengan anggukan. Wiji ikut merasa senang. Kalau melihat seperti itu adem juga.