
Wiji tiba di sekolah sekitar sepuluh menit sebelum bel tanda masuk dibunyikan. Ia tersenyum ketika mendapati guru-gurunya berdiri untuk menyambut para siswa di dekat pintu gerbang. Tidak biasanya Wiji berangkat sesiang ini. Ia kemudian turun dan menuntun sepedanya kemudian menyalami satu per satu guru. Untung saja dia tidak sampai terlambat dan untungnya lagi, dia sudah melaksanakan piketnya kemarin siang.
Wiji bergerak menuju ke tempat parkir. Ia sedikit kesal, sepedanya nanti pasti tidak terparkir di tempat biasanya. Dugaan itu benar terjadi, sudah banyak sepeda ketika Wiji tiba di sana. Terdapat juga beberapa siswa yang masih mengobrol di tempat itu.
Perhatian Wiji tertuju pada sepeda onthel milik Ardi. Yah, dia kalah pagi dengan laki-laki itu. Wiji sempat tersenyum mengingat kejadian sepulang sekolah kemarin. Akan tetapi, ia tidak berharap ada kali kedua untuk hal itu. Amit-amit, cukup kemarin saja.
"Eh, kamu sekelas sama Ardi kan?"
Wiji menatap dua orang siswi yang tengah datang kepadanya. Wiji tahu, mereka adalah kakak kelasnya. Wiji pun sering melihat dua perempuan itu masuk ke kelasnya.
"Iya. Kenapa, Mbak?"
"Ini, titip ke Ardi, ya."
Sebungkus cokelat batang berukuran cukup besar dengan kertas lipatan yang ditali menggunakan pita merah jambu. Romantis sekali, Wiji bahkan belum pernah mendapatkan hadiah seperti ini.
"Harus dikasih ke Ardi pokoknya," ucap perempuan yang satunya.
"Eh, dari Mbak siapa?" tanya Wiji dengan polosnya.
"Haduh, kamu nggak kenal kita? Padahal kita terkenal, lho. Banyak yang naksir sama kita di sekolah ini. Aku sering mewakili kelasku fashion show saat class meeting. Kalau dia biasanya nyanyi."
Wiji menggerutu dalam hati. Cukup sebutkan nama saja, tidak perlu menyombongkan diri. Yah, perempuan seperti ini memang cocok berjodoh dengan lelaki songong seperti Ardi.
"Nggak tahu juga nama kita?"
Wiji menggeleng, rupanya tadi hanya clue, ia disuruh menebak? To the point saja apa susahnya?
"Saya nggak asing sama wajah kalian. Tapi kalau nama, memang saya nggak tahu," jelas Wiji.
"Aku Putri," ucap si pemberi cokelat.
"kalau ini Ghina," lanjutnya mengenalkan temannya.
"Ini dari kalian berdua, atau Mbak Putri saja?" tanya Wiji lagi.
"Siapa namamu, pagi-pagi bikin darah tinggi," celetuk yang bernama Ghina.
"Aku tanya, lho, Mbak. Biar jelas gitu. Daripada nanti waktu Ardi tanya terus aku jawab kalau aku yang ngasih. Emangnya terima?"
"Ya nggaklah!"
Wiji membuang napas berat. Sepagi ini telinganya susah payah senam karena mendengar bentakan dua orang aneh itu. Ya, ini semua gara-gara Ardi.
"Sabar, Mbak. Masih pagi ini."
"Dari aku. Putri!" ucapnya begitu diperjelas.
"Udah, ah, keburu masuk nanti. Yuk, cabut, Ghin."
__ADS_1
Wiji menggelengkan kepalanya seraya berdecak pelan. Tidak habis pikir dengan dua orang tadi. Tiada ucapan terima kasih, bahkan minta tolong saja tidak. Apakah dia merasa begitu hebat dengan tingkatan kelasnya yang lebih tinggi daripada Wiji. Atau merasa paling cantik hingga bebas melakukan apa yang mereka mau.
***
Wiji mengucapkan salam seraya memasuki kelas yang pada bagian atas pintunya tertera plakat bertuliskan VIII A. Kali ini kelas sudah sangat ramai. Di bangku depan paling selatan sedang bergerombol Ardi beserta beberapa lainnya termasuk Salma dan Asri. Entah apa yang mereka bahas sepertinya seru sekali. Mereka sesekali tertawa, bernyanyi dengan iringan pukulan meja. Wiji kemudian menghampiri orang-orang itu, lebih tepatnya menghampiri Ardi.
"Di, ini buat kamu." Wiji memberikan cokelat dari kakak kelasnya tadi.
"Cie ...."
Kelas mendadak riuh. Banyak yang salah paham saat ini. Wiji menepuk dahinya, saking tidak mood-nya untuk memberikan pada Ardi, sampai ada yang kurang tepat.
"Eh, jangan salah sangka. Ini bukan dari aku. Dari Mbak Putri kakak kelas," jelas Wiji kepada Ardi. Jangan sampai lelaki itu sepemikiran dengan teman-teman lainnya.
"Oh, kirain kamu dari kamu, Ji," celetuk Asri yang kemudian terdengar tawa dari beberapa orang di sampingnya.
"Nggak. Beli buat sendiri aja mikir-mikir, masa mau ngasih Ardi," sergah Wiji.
"Tapi pernah dapat cokelat dari orang yang suka sama kamu nggak, Ji?" tanya Ardi seolah mengejek Wiji.
"Apa maksudnya kayak gitu? Udah, ah. Nggak penting banget!" celetuk Wiji, seketika terdengar tawa dari geng Ardi. Wiji tidak peduli.
Wiji menyisir pandangan ke arah bangku barisan ketiga paling utara, ke arah mejanya. Wiji melambaikan tangan kepada Ida, teman sebangkunya yang ternyata sedari tadi memerhatikan dirinya. Gadis itu kemudian beranjak menghampiri Ida.
"Tumben baru datang," ucap Ida ketika Wiji menaruh tasnya di atas meja.
"Iya, tadi sepedaku bannya bocor. Untung nggak telat." Wiji menjatuhkan pantat ke atas bangkunya.
"Nggak, cuma titipan kakak kelas waktu di parkiran tadi." Ida hanya menjawab dengan kata 'oh' yang membuat mulutnya berbentuk bulat.
"Ji, tuh, tuh." Ida memberi isyarat dengan menunjuk sisi kanan Wiji.
"Apa?"
"Astaghfirullah!" Wiji tersentak, ada Ardi yang sudah berdiri di dekatnya.
"Apa lagi?"
"Mau tanya. Pernah dapat cokelat dari orang yang suka sama kamu nggak?"
Aneh, pertanyaan itu malah membuat Wiji merasa jijik kepada Ardi. Wiji sangat membenci senyum Ardi saat ini meskipun terlihat begitu manis dan tampak lesung pipinya.
"Udah, ah. Aku malas! Kamu suka ngeledek!"
Wiji berdiri dengan berkacak pinggang di hadapan Ardi. Ia baru sadar, ia merasa menjadi seorang kurcaci ketika berada di dekat Ardi.
"Wow, bisa ngegas juga ternyata si Wiji," celetuk Daren, teman sebangku Ardi. Gara-gara ucapan itu, Wiji menjadi diperhatikan teman-temannya.
"Lucu banget kalau marah-marah gini. Iya, kan?" Wiji menepis kasar tangan Ardi yang menunjuk ke arah wajahnya. Sungguh, ia merasa sangat dongkol.
__ADS_1
"Udah, pergi sana. Ganggu aja!"
Wiji mendorong bahu Ardi agar menjauh, lelaki itu lagi-lagi tersenyum. Dia berjalan pelan menuruti perintah Wiji. Wiji menyadari Ida yang diam-diam tertawa.
"Ih, kamu kenapa ketawa?" protes Wiji.
"Nggak papa. Kamu kenapa kayak benci banget sama Ardi?"
"Udah, ah. Jangan dibahas lagi."
Bel tanda masuk akhirnya berbunyi. Secara serempak para siswa berdoa untuk memulai pelajaran di kelas masing-masing. Setelah itu dilanjutkan mengaji bersama hingga pukul tujuh tepat. Bel tanda masuk pelajaran pertama pun berbunyi.
Di jam pertama, di awali dengan pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan oleh Ibu Fatma. Bahasa Indonesia menjadi salah satu mata pelajaran yang disukai Wiji.
Pertemuan sebelumnya sudah dijelaskan tentang puisi dan unsur pembentuknya. Hari ini, siswa diminta untuk membuat puisi dengan tema bebas. Ibu Fatma meminta agar tugas itu dikumpulkan di akhir pelajaran.
Wiji dengan senang hati mengerjakan tugas itu. Meskipun kurang mahir dalam membuatnya, Wiji berusaha untuk tetap mengerjakannya sebaik mungkin.
...Petani dan Segala Kisahnya...
Sang surya tampak belum begitu sempurna
Langit yang masih jingga indah di ufuk utara
Sepagi itu petani mulai mempersiapkan peralatannya
Penuh harap agar sawah dan ladangnya tetap terawat
Cangkul bertengger di pundak yang penuh semangat itu
Tak pernah gentar meski hujan atau panas menerpa tubuh
Hama-hama yang menyerang padi dan palawija
Semua wajib diberantas dengan tuntas
Bulir-bulir kehidupan yang masih belum merunduk pohonnya
Ia masih menjadi harapan para petani
para penyangga tatanan Indonesian
Bel pergantian jam akhirnya berbunyi. Bu Fatma mengakhiri kelas dan memberikan kesempatan bagi siswa yang belum mengumpulkan agar menyelesaikan tugasnya hingga waktu pulang nanti. Bu Fatma mengucap salam kemudian meninggalkan kelas.
Pelajaran selanjutnya siswa kelas VIII A adalah olahraga. Kemudian mereka bersiap untuk berganti seragam. Olahraga adalah pelajaran yang paling banyak diminati. Para siswa bersemangat untuk segera mengganti baju dan pergi ke lapangan.
"Ayo ganti baju dulu," ucap Wiji kepada Ida.
"Ji ...." Ida terlihat bahagia sekali.
__ADS_1
"Ih, kenapa? Kok senyum-senyum sendiri? Bahagia banget! Ayo cerita!"