
Dalam "Syair Surgawi Pangeran Zhijue", sebuah novel tragedi dengan popularitas tidak masuk akal, para pembaca belum pernah menemukan karakter yang lebih menyedihkan daripada sang protagonisnya sendiri.
Zhijue, seorang pangeran yang menyelamatkan kerajaannya dari serangan raja iblis. Akan tetapi, akhir yang ia temui malah berbanding terbalik dengan kebaikan yang ia dapatkan. Dikucilkan dan dibenci rakyatnya sendiri, ia kemudian dirajam batu hingga mati di akhir cerita.
Tidak berkualitas! Author tidak becus! Mengapa kau membunuhnya?!
Yah.. ini bukan pertama kalinya sang protagonis berakhir seperti ini. Hampir di setiap cerita yang di tulis author ini berakhir dengan tragis.
Bahkan para pembaca yang sudah lama menjadi fansnya menjulukinya sebagai 'Raja Tragedi' mengenal gaya penulisannya yang brutal.
Tidak terlepas dari protagonisnya, karakter lainnya pun menemui ending yang sama. Drama yang menegangkan dan konflik mendebarkan yang selalu di paku sang novelis kepada pembaca selalu membuat karya-karyanya laris manis berkat keunikannya.
"Oi, bisa-bisanya kau baru masuk jam segini?!"
Changyi—— Novelis muda yang memiliki selera ekstrim sekaligus murid langganan hukuman guru MTK di SMA nya.
"Lihat kantong matamu!! Sudah berapa kali bapak bilang jangan bergadang main game lagi!!"
Changyi menundukkan kepalanya, menunggu omelan pak Dudi selesai. Alisnya berkedut jengkel mendengar kalimat sinis yang dilontarkan keluar.
Siapa orang gila yang akan bermain game ditengah deadline kerja!!
Menahan kalimat itu di tenggorokannya, ia hanya bisa menghela nafas panjang seperti biasa. Tidak ada yang tahu tentang identitasnya sebagai novelis terkenal di dunia maya dan ia pun tidak berniat memberitahukannya kepada dunia. Setidaknya, tidak sampai ia lulus kuliah.
"Apa kau mengerti?!! Pergi dari sini!!"
Changyi mengangguk pelan. Seusai di omeli, rutinitas sehari-harinya dimulai dengan menjalani hukuman dijemur bagai ikan teri di lapangan. Sampai saat bel istirahat berbunyi, barulah ia diperbolehkan masuk kelas.
Duduk di bangkunya, Changyi bisa mendengar suara rusuh dari belakang kursinya. Ia menyenderkan badannya ke belakang, berusaha mendengar perbincangan teman-teman sekelasnya lebih jelas sembari memasang sebuah earphone tak bersuara di telinga kirinya agar tidak mencolok.
"Apa kau sudah baca chapter terbarunya?"
__ADS_1
"Authornya kejam sekali- Bisa-bisanya ia membunuh Zhijue ku!!"
"Wajar dong! Dia kan 'Raja Tragedi'. Apa yang kau harapkan?"
Changyi menyipitkan matanya. Ia diam-diam menyimpan feedback pembacanya dengan hati-hati dalam buku catatan yang setia menemaninya. Tangannya bergerak cepat, sudah terbiasa melakukannya selama bertahun-tahun.
"Tapi diantara semua karakter yang ada, aku paling kasihan pada putri Bai Xue"
"Bai Xue?" Pulpen yang mencorat-coret kertas berhenti seketika. Menggumamkan nama yang menangkap perhatiannya. Ia menopang dagunya kebingungan, tidak mengingat detail dari karakter tersebut.
Bai Xue—— Putri kekaisaran Lei yang dikhianati oleh sang antagonis. Dia adalah sosok siluman kupu-kupu perak yang berperan membantu protagonis di awal chapter dan akhirnya jatuh cinta padanya. Sebuah karakter sampingan yang Changyi buat untuk plot.
"Sayang sekali cintanya berakhir tragis. Setidaknya, dia berada di surga bersamanya sekarang"
"Jujur, itu bukan ending yang bagus. Authornya terlalu egois membunuhnya awal"
"Aku harap author kena karmanya sendiri"
Apa yang salah membunuhnya awal? Apa keberadaannya dalam cerita begitu penting?
Ia tidak mengerti. Padahal, ia tidak berniat sama sekali membuat karakter itu menjadai fokus utama atau berkesan kuat. Ia sendiri hampir melupakannya apabila ia tidak diingatkan kembali tadi.
Menggaruk kepalanya, Changyi melepaskan earphonenya, menyelesaikan catatannya untuk hari ini. Ia memaklumi perbedaan persepsi dan ikatan emosional pembacanya yang unik meskipun ia tidak bisa memahaminya dengan baik.
"HOAMM..." Changyi mengedipkan matanya yang kabur beberapa kali. Tubuhnya terasa berat akibat kurang tidur selama berhari-hari. Membaringkan kepalanya di atas meja, ia memejamkan matanya sejenak.
"Syukurlah.. Novel ini akhirnya selesai juga"
...****************...
Ugh.. sakit sekali..
__ADS_1
Menyakitkan... Kepalaku sakit!
Sebuah rasa pedih yang luar biasa membangun Changyi dari tidurnya yang lelap. Kepalanya berdenyut kencang, serasa sehabis ditikam ribuan pisau.
Memaksakan matanya terbuka, firasat buruknya menancap dalam sewaktu melihat langit-langit kamar yang didekorasi dengan mewah. Ia menemukan dirinya sedang terbaring diatas kasur mengenakan pakaian sutra yang lembut.
Melirik ke kirinya, seorang wanita muda duduk disampingnya dan melihatnya dengan khawatir. "Anda sudah bangun," ujarnya dengan halus.
Changyi mengangkat badannya naik, mencoba mencerna situasi yang sedang terjadi. Jelas sekali, ia hanya tertidur sebentar di kelas. Bagaimana bisa ia berakhir di sebuah kamar aneh sekarang?
"Nona muda, apa tubuh anda baik-baik saja?"
.. Nona?
Changyi tertegun, mendengar sebuah kalimat nan janggal. Ada yang salah disini. Mengapa tempat ini terasa sangat familiar?
Tangannya meraba tubuhnya dengan panik, mengecek kondisinya. Mata, tangan, kaki.. ia masih memiliki semua itu. Tidak ada bagian yang nyeri maupun luka. Namun..
PAT..
Changyi meraba sesuatu yang terasa empuk di dadanya. Bergidik sekali dari keanehan tersebut, ia perlahan-lahan menundukkan kepalanya.
Apa ini?! Dadaku membesar!! Sejak kapan ukuran badanku berubah?!!!
Changyi tidak ingin mengakuinya. Namun, kalimat selanjutnya wanita tersebut menegaskan keraguannya.
"Nona muda Bai Xue, apa anda bisa mendengar pelayan ini dengan jelas?"
Pupil mata Changyi membulat sempurna. Pandangannya terjatuh pada cermin yang terletak di seberang ruangan.
Rambut hitam gelam dan mata abu yang mempesona. Tubuhnya bergetar, menghadapi kenyataan terpaksa di hadapannya.
__ADS_1
Mengapa aku masuk ke tubuh ini?!!