
Dinding-dinding telah terlapisi dengan kain merah mewah yang dipadukan dengan sentuhan emas yang menghiasi ornamen-ornamen indah. Cahaya temaram dari lentera menggelapkan sudut-sudut ruangan, menciptakan aura misterius.
Changyi duduk di sebuah bangku kayu yang panjang tanpa bisa merasa tenang. Memainkan jari-jemarinya, ia tidak habis pikir bagaimana ia bisa masuk kedalam perangkap sang antagonis.
"Maaf, sedikit berantakan putri. Anggap saja sebagai rumah sendiri," ucap Junhui, menyediakan secangkir teh untuk Changyi.
"B, Benar. Terimakasih" Senyuman kaku Changyi tidak pernah hilang dari wajahnya. Padahal, ia mencoba kabur dari pemuda di depannya. Ia sungguh-sungguh tidak ingin bertemu dengannya sama sekali dan ia sudah menolak berinteraksi dengannya.
Tapi entah mengapa, ia malah terseret dan dipaksa pergi ke rumahnya. Itu benar dia sekarang tidak lagi berada di dunia siluman. Tapi itu bukan berarti ia ingin berada di rumah antagonisnya juga.
"Uh.. Sepertinya saya tidak seharusnya berada disini. Sang kaisar pasti akan marah apabila-"
"Jangan cemas. Sang kaisar tidak akan marah apabila saya yang membawa Anda pergi," Sela Junhui, tidak membiarkan Changyi mencari alasan.
"Sejujurnya, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan"
Alis Changyi berkedut sekali, tahu apa yang ingin Junhui tanyakan. Daripada bertanya, lebih tepatnya ia akan menginterogasinya. Itulah mengapa ia membawa Changyi ke dunia manusia agar tidak dipantau oleh sang ibu suri, telinga dan penjaga langit kekaisaran Lei.
Membawa Changyi ke dunia manusia tentu saja memperbolehkannya bergerak jauh lebih leluasa.
"Saya tidak yakin saya dapat membantu Anda. Apa Anda membutuhkan sesuatu dari saya?" Tanya Changyi, selalu berada dalam posisi siap siaga.
Sebuah tawa kecil yang ambigu keluar lepas dari bibir Junhui. Melirik Qing Jiaohua yang kebingungan melihatnya, ia menganggukkan kepalanya, menyetujui perkataan Qing Jiaohua sebelumnya.
__ADS_1
"Putri, tampaknya Anda telah berubah," ujar Junhui, menampilkan seringai yang mengintimidasi.
"Mengapa Anda berubah? Saya dengar Anda ingin membatalkan pernikahannya juga. Apa ada alasan dibalik itu?"
Changyi berusaha memikirkan sebuah jawaban yang netral. Ia tidak bisa memberikan jawaban yang membuatnya semakin dicurigai. Terjepit dalam tekanan dan tuntutan Junhui, ia menjawab dengan satu-satunya kalimat yang muncul di benaknya:
"Wang Junhui.. Saya telah jatuh cinta dengan orang lain"
"... Apa?" Junhui melebarkan matanya, terkejut mendengar kata-kata Changyi.
Tidak, lebih tepatnya, ini adalah kata-kata yang diucapkannya Bai Xue dalam monolog terakhirnya sebelum ia dibunuh.
Changyi mengingat bagaimana ia menulis bagian ini semasa ujian kenaikan kelas sambil menangis. Sebagai seorang lelaki jomblo, menuliskan kalimat klise tersebut terasa menyesakkan di dada, apalagi mengucapkan.
Di dengar sekali lagi, alasan ini terdengar luar biasa konyol dan bodoh. Pikir Changyi yang sedang menangis dalam hati.
"Putri, bukankah Anda sedikit egois membatalkan pernikahannya hanya karena perasaan Anda?"
Changyi menatap Junhui dengan penuh pertimbangan sebelum menjawab, mencoba menjelaskan dirinya dengan hati-hati.
"Saya tidak akan membatalkan pernikahannya. Saya tahu betapa pentingnya ini bagi kekaisaran Lei dan dunia manusia. Namun, saya menyadari bahwa perasaan saya tidak sepenuhnya tepat untuk peran ini.
Oleh karena itu, saya hanya akan meminta seseorang yang lebih sesuai dan mampu menggantikan posisi saya."
__ADS_1
Junhui mengerutkan keningnya, tidak senang mendengar penjelasan itu. Tatapannya masih mencerminkan ketidaksetujuan. Sebelum ia bisa mengatakan apapun, Changyi langsung menambahkan pukulan terakhir yang membuat Junhui terbungkam.
"Lagian, ini hanya sekedar masalah politik untuk membangun jembatan 2 dunia. Yang penting adalah menjalankan tugas dengan baik dan menjaga hubungan baik dengan kerajaan lain," ucap Changyi dengan nada yang agak sinis.
"Anda bisa menikahi siapapun selama orang itu adalah putri kekaisaran Lei. Apakah hati dan perasaan saya harus menjadi pengorbanan semata?"
"Tergantung," jawab Junhui sembari menopang, memperhatikan Changyi dengan seksama. Ia tidak terlihat terkejut akan jawaban tajam Changyi.
Pernikahan ini adalah sekadar alat politik. Itu tidak salah. Ia tidak menyangkal kebenaran di balik pernyataan Changyi. Tidak ada keputusan yang benar-benar sempurna dalam situasi seperti ini.
Namun, tidak sedikitpun ia merasakan simpati terhadap jawaban Changyi. Raut wajahnya masih mencerminkan ketidaksetujuan.
"Putri, sama seperti Anda, saya juga memiliki perasaan. Saya tidak serendah itu untuk menikahi siapapun yang tersedia"
Terlihat samar-samar perasaan tersinggung di parasnya.
Changyi merasakan getaran kecil, menyadari sang antagonis memiliki harga diri yang lebih tinggi dari yang ia perkirakan. Junhui ternyata juga memiliki perasaan yang tidak dapat diabaikan.
"Anda tidak mencintai saya. Terlebih lagi, saya merasa sikap kita saling bertabrakan," ujar Changyi, berusaha memenangkan argumen yang ia mulai.
Junhui menahan kata-katanya sesaat. Memiringkan kepalanya, ia bertanya dengan suara yang rendah.
"—— Bagaimana kau tahu aku tidak mencintaimu?"
__ADS_1