
TENG-TENG-TENG..
Bel pulang sekolah bergema lantang. Terdengar sebuah suara lembut yang memanggilnya. Membuka matanya, tatapannya bertemu dengan seorang laki-laki muda yang memandangnya dari jarak yang luar biasa dekat.
"Changyi, apa kau sudah baika-"
"GYAAAAAA!!!"
PLAKK!!!
Bai Xue menepis wajah pemuda di depannya secara refleks. Menemukan dirinya di sebuah tempat yang terlihat asing, ia berlari ke pojok ruangan, berusaha terbang keluar melalui jendela.
Akan tetapi, tubuhnya langsung berhenti di tempat menyadari sesuatu yang aneh.
Apa ini? Semua kekuatan dalam tubuhku menghilang?!
Bai Xue membolak-balikkan tangannya yang jauh berbeda sekarang. Ia meraba wajahnya dengan ngeri sebelum pada akhirnya menyadari ia tubuh ini bukanlah miliknya.
Lagian, tidak mungkin ia masih hidup setelah dibunuh oleh suaminya sendiri. Ia sudah mati. Terbangun di tubuh ini membuatnya sangat kebingungan. Ditambah, ia yakin ini bukanlah dunia yang ia kenal melainkan sebuah dunia lain yang berbeda 180°.
Apa aku diberikan kesempatan untuk hidup sekali lagi?
"U, Ugh.. Sakit tahu! Mengapa kau memukulku Changyi?"
Bai Xue membalikkan badannya, memandang remaja yang memperbaiki kacamatanya yang miring. Tampaknya, dia adalah kenalan sang pemilik tubuh.
__ADS_1
Changyi. Itulah nama pemilik tubuh ini yang sebenarnya. Baru pertama kali dalam hidupnya ia mendengar nama tersebut. Mematung di tempat, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"M, Maaf.. Saya bukan Changyi," ucap Bai Xue pelan-pelan. "Nama saya Bai Xue dari kekaisaran Lei"
Remaja itu memiringkan kepalanya, mempertanyakan kewarasan orang yang baru saja menamparnya. "Kau adalah Bai Xue?" Tanyanya, setengah mengejek.
Siapa orang waras yang akan percaya apabila seseorang mengakui dirinya sebagai seorang karakter fiksi sampai-sampai pipinya pun ditampar?
Itu terlalu konyol untuk menjadi nyata!
"Jangan bercanda. Ibu bisa marah lagi kalau kau bertingkah seperti ini"
"Saya serius! Saya tidak mengenal Anda sama sekali" Bai Xue mempertahankan argumennya dan bersikeras menjelaskan bahwa ia bukanlah sang pemilik tubuh. Akan tetapi, hal itu tidak membuat sang remaja goyah sedikit pun.
"Kau sudah selesai?" Tanya sang remaja, menyilangkan tangannya. Bai Xue terbungkam sunyi. Ucapannya berubah menjadi hampa di telinga sang remaja.
Bai Xue tertahan sejenak, melihat sikap sang remaja yang dingin. Sebuah helaan nafas panjang keluar, menyadari ia tidak mempunyai pilihan lain.
"Tunggu, saya akan ikut bersama Anda"
...***************...
Sebuah rasa takjub menyambar Bai Xue saat ia menginjakkan kaki di rumah Changyi dan sang remaja. Perabotan aneh yang terpajang dan aroma masakan unik yang menggodanya tersebar di seisi rumah.
—— Dan tidak jauh dari pintu masuk, Bai Xue bisa menemukan sosok wanita paruh baya yang dengan sangarnya menegang sandal di tangan kanannya.
__ADS_1
"Changhai, Changyi.. kalian sudah pulang ya?" Tanya wanita tersebut dengan nada diayunkan. Siapapun yang mendengarnya pasti langsung merinding ngeri. Bahkan insting Bai Xue sendiri membuatnya mundur selangkah, merasakan aura mematikan yang terpancar.
"Lebih baik kalian tidak memberikan ibu penjelasan yang bertele-tele"
"Ma, Changyi lagi nggak enak badan. Jadi kami pergi ke apotek dulu untuk membeli obat tadi," jelas Changhai, terpaksa mengucapkan kebohongan spontan demi menghindari bahaya yang lebih buruk dari kematian.
Tatapannya lalu berpindah menuju Bai Xue sebelum menepuk pundaknya dan berkata: "Benar kan, Changyi?"
Bai Xue melirik sang remaja, tidak menangkap maksudnya. Ia mematung kebingungan beberapa saat, membuat wajah Changhai terbakar sebelah dari tatapan tajam ibunya.
"Changyi, kau mual ya?" Tanya Changhai, memecahkan keheningan. "Kau nggak apa kan?" Ia menyikut Bai Xue sambil mengangguk agresif, memohonnya secara tersirat agar Bai Xue ikut menganggukkan kepalanya.
Namun, Bai Xue malah mengerutkan keningnya dan menepis tangan Changhai akibat rasa geli yang tubuhnya rasakan.
"Saya tidak tahu apa yang Anda inginkan tapi jika itu tentang apa yang terjadi sebelumnya, maka iya, saya memang tidak berada dalam kondisi yang tidak baik"
Suasananya diantara mereka berubah canggung mendadak. Changhai tidak mengekspektasi reaksi itu dari adiknya sendiri. Mengapa ia melakukan itu?
Changhai menggigit bibirnya dan langsung menganati raut wajah ibunya yang terlihat statis dari awal. Tidak berani mengambil resiko lebih jauh untuk melanjutkan pembicaraan, Changhai tanpa pikir panjang langsung menarik Bai Xue kabur dari sana.
"Ma, kayaknya Changyi agak miring hari ini! Aku temanin dia ke kamar ya?!"
TAK!
Terburu-buru masuk ke kamarnya, ibunya berbalik memandang pintu kamar anaknya yang terkunci erat. Ia hanya bisa menggaruk kepalanya kebingungan tidak tahu apa yang harus ia katakan melihat kelakuan anak-anaknya.
__ADS_1
"Dasar.. Bocah-bocah itu mau kapan tumbuh dewasanya?"
Sepertinya ini bukanlah shenanigans terakhir anak-anaknya.