
Ming Yae menunggu selama setengah jam dan Yue Bing tidak kunjung turun ke bawah untuk makan. Karena sudah tidak sabar lagi, dia naik ke lantai atas untuk memanggilnya sekali lagi.
"Lama banget sih." Gerutu Ming Yae saat menaiki tangga.
Melangkah ke depan pintu kamar Yue Bing, Ming Yae mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada suara atau gerakan yang ada di dalam kamar. Ming Yae mencoba lagi, dan itu tetap sama.
Ming Yae memegang gagang pintu, memutarnya, dan ternyata itu tidak di kunci, "Kak Ren... Kubuka ya." Ucapnya sambil membuka pintu perlahan.
Saat pintu terbuka, yang dilihat Ming Yae hanya kamar kosong tidak ada tanda Yue Bing sama sekali. Menoleh ke semua arah, Ming Yae memanggil Yue Bing, "Kak Ren..." Dengan melangkah masuk ke kamar.
"Apa dia sedang di kamar mandi ya?" Pikirnya dengan melihat ke arah pintu kecil di ujung kamar.
Ming Yae perlahan berjalan ke pintu kecil itu dan mengetuknya sambil memanggil Yue Bing, "Kak Ren... Apa kakak di didalam?"
Karena tidak ada sahutan, Ming Yae membukanya dan ternyata itu kosong. Menutup kembali pintu kamar mandi, dia berjalan menuju tempat tidur dan duduk di tepi.
"Kak Ren dimana ya?"
Saat Ming Yae bergumam seperti itu, dia melihat ke arah sebuah jendela yang terbuka. Bangun dari duduknya, dia berjalan menuju jendela itu dan melihat ke luar.
Pemandangan yang dilihatnya cukup tidak menyenangkan. Bangunan yang rusak, retak, bahkan ada yang roboh. Pohon yang tumbuh tidak sewajarnya. Dan langit yang harusnya cerah, sedikit mendung akibat Starfall yang terus keluar dari portal.
Ironis melihatnya, Ming Yae tersenyum pahit dan berkata, "Cukup indah jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda."
Menghela napas, Ming Yae menatap ke bawah. Dia terkejut melihat retakan pada lantai yang terbentuk sebuah kaki.
"Apa ini?" Ucapnya dengan menyentuh retakan itu.
Dia berbalik dan retakan itu makin terlihat sangat jelas. Awalnya dia tidak melihat retakan ini karena fokus mencari Yue Bing. Tapi saat ini, dia heran dan bingung dengan apa yang dilihatnya.
Saat fokus melihat retakan itu, Ming Yae dikejutkan dengan tepukan di pundak oleh seseorang yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Tanpa pikir panjang, Ming Yae menendang memutar secara horizontal.
*Duak* tendangan itu diblokir menggunakan tangan, tapi orang yang ditendang terdorong sampai menabrak ke dinding.
Ming Yae lalu memutar tubuhnya untuk menendang orang itu dengan kaki satunya, tapi dia malah terjatuh saat terpeleset sebuah benda yang diikat menggunakan kain.
"Aduh." Merintih kesakitan, Ming Yae memegang kepalanya yang terbentur.
"Hei. Apa kau ingin membunuhku?" Yue Bing yang memegang kakinya, memprotes Ming Yae yang menyerangnya secara tiba-tiba.
"Kak Ren..." Mata Ming Yae melebar melihat orang yang dia tendang tadi adalah Yue Bing.
"Iya, benar ini aku. Hampir saja aku mati terjatuh dari sini." Keluhnya dengan melihat ke bawah ada sebuah pagar besi yang mengelilingi penginapan.
__ADS_1
Saat ditendang Ming Yae jarak antara jendela dengannya cukup dekat. Jika Yue Bing terdorong sedikit, besar kemungkinan dia akan terjatuh. Tapi untung saja, tangan kirinya dengan sigap menempelkannya ke dinding.
Bangun dari lantai, Ming Yae membersihkan bagian belakang pakaiannya dan berkata, "Kak Ren darimana saja? Aku sudah menunggu kakak lebih dari setengah jam loh?"
Menenangkan jantungnya yang hampir melompat, Yue Bing menjawab, "Aku ada urusan sebentar di luar."
"Urusan apa-"
Ming Yae berhenti melanjutkan bicaranya saat seorang gadis kecil menyelinap keluar dari belakang Yue Bing dan memeluknya.
Terkejut dengan apa yang dilihatnya, Ming Yae menarik kesimpulan, "Si-siapa gadis kecil ini? A-apa ini anakmu?"
"Berhenti bercanda. Bagaimana aku bisa punya anak jika aku belum pernah melakukan 'itu' dengan siapa pun!" Bantahnya dengan sedikit nada kesal.
Menatap kosong ke depan, Ming Yae seperti berpikir sesuatu. Yue Bing melambaikan tangannya di depan wajahnya dan tidak ada reaksi.
"Halo. Hei, Ming Yae, sadarlah!" Ucapnya dengan memegang pundaknya dan menggoyangkan tubuhnya.
"Ah? Maaf aku melamun. Jadi, siapa gadis kecil ini?" Saat sadar dia langsung bertanya pada Yue Bing.
Mendengar pertanyaan Ming Yae, Yue Bing mengalihkan pandangannya dan membawa gadis kecil itu untuk duduk di atas tempat tidur.
****
30 menit sebelumnya...
Pria itu menjawab dengan memohon, "A-aku tidak tahu. Aku cuma di suruh oleh seseorang untuk menangkapnya saja."
"Katakan siapa orang itu?" Tanya Yue Bing sekali lagi dengan perlahan mencabut pedang yang menancap di dada pria itu.
Sebelumnya, Yue Bing menusuk pria itu di bagian dadanya, tapi itu hanya akan menghambat pergerakannya tidak membunuhnya. Karena jantungnya masih utuh dan bilah pedang itu berada tepat disamping jantungnya.
"Na-namanya, Sung Kitae."
Saat pria itu menyebutkan nama marga Sung, pedang yang awalnya tidak bermaksud mengenai jantungnya, kini membelah tubuhnya menjadi dua.
[Perilaku Villain terdeteksi.]
[Mendapatkan +20 poin Villain.]
Darah yang menetes dari pedang hitamnya, masih cukup segar. Yue Bing sekarang punya satu dendam tambahan yang akan dia perhitungkan suatu hari nanti.
Terbawa oleh emosi, tanpa sengaja Yue Bing memancarkan niat membunuh yang ekstrim dan membuat banyak burung jatuh ke tanah dan mati.
__ADS_1
[Mendapatkan +1 poin Villain.]
[Mendapatkan +1 poin Villain.]
[Mendapatkan +1 poin Villain.]
[Mendapatkan +1 poin Villain.]
[...]
"Kakak..."
Suara gadis kecil itu menyadarkan Yue Bing, dia bergegas kembali untuk mengkonfirmasi tentang apa yang di pikirkan saat melihat wajah gadis itu dan namanya yang dia sebutkan.
Saat kembali, Yue Bing melihat gadis kecil itu masih menutup matanya. Penampilannya sangat mirip dengan seseorang yang sangat dia kenal di masa lalu.
Tanpa sadar Yue Bing bergumam, "Te...res...sa..."
Dengan mengingat kehangatan senyuman yang ditunjukkan padanya, dia turun dari atas gedung dan mendekati gadis kecil itu. Mengusap kepalanya, Yue Bing berkata, "Sudah baik-baik saja, gadis manis."
Gadis kecil itu membuka matanya, terlihat mata biru yang seindah langit sangat dia kenali sedang menatap Yue Bing.
"Kakak, mana orang jahat itu?" Tanya gadis kecil itu sambil memperhatikan sekelilingnya.
Dengan senyum tipis, Yue Bing menjawab, "Kakak sudah pukul orang jahat itu, agar dia kapok dan tidak mencoba menculikmu lagi."
"Wah, benarkah? Kakak kuat banget." Dengan senyum ceria dan wajah yang dipenuhi kegembiraan, membuat hati Yue Bing merasa tenang.
Saking senangnya, gadis kecil itu memeluk Yue Bing. Tapi saat berikutnya, dia berkata, "Baju kakak kotor."
Yue Bing hampir lupa untuk membersihkan bekas darah yang menempel di bajunya akibat cipratan dari darah milik orang itu saat dia membunuhnya.
"O-Oh ini... Tadi ada orang yang sedang mengecat dinding dan jadinya kecipratan, deh." Balas Yue Bing membuat alasan.
Setelah itu, Yue bing berganti bertanya balik, "Nama kakak Ren. Namamu siapa?" Sambil mengusap lagi kepala gadis kecil itu.
"Namaku Minetra, Jin Minetra." Jawabnya dengan tersenyum lebar.
Mata Yue Bing melebar setelah gadis itu mengatakan namanya. Nama yang pernah dia sebutkan saat dia, Teressa, dan Jin Haetus sedang pesta setelah kemenangan.
(Dasar pak tua itu, sudah kubilang waktu itu aku cuma bercanda.) Bergumam dalam hati, Yue Bing menatap gadis kecil itu dengan lembut.
...
__ADS_1
*Bersambung.....
*Note : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.