
"Kamu serius?" tanya seorang wanita yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Wanita itu menatap lekat pria di dekatnya guna mencari kepastian dengan apa yang baru saja keluar dari pria yang sedang dia tatap. "Kamu lagi nggak bercandan kan?"
Pria yang lagi ditatap wanita itu malah mendengus. "Apa aku kelihatan sedang berbohong?" setelah mengatakan hal itu, si pria memalingkan kepalanya, kembali menatap ke arah kaca.
Wanita itu lantas tersenyum senang dan dia kembali menormalkan posisi duduknya. "Ya baguslah, jadi saat tidur nanti aku ada temannya," wanita itu berkata dengan antusias. Namun beberapa detik kemudian wanita itu terlihat teringat sesuatu. Seketika dia kembali mencondongkan tubuhnya ke arah si pria. "Apa tubuh kamu memiliki bau asem keringat?"
Pria bernama Rico langsung menoleh dan membalas tatapan wanita itu. Namun dia tidak mengeluarkan suaranya sama sekali. Malah kembali menatap pemandangan luar lewat kaca yang sama. Sikap Rico tentu saja membuat wanita itu merasa gemas. "Orang ditanya kok pelit banget untuk ngeluarin suara."
Diam diam, Rico tersenyum tipis dibalik masker yang dia pakai. Dia sendiri juga sebenarnya gemas dengan wanita di sebelahnya. Apa lagi jika di baca dari pemikirannya, wanita itu seperti wanita yang polos. Namun yang membuat Rico heran, wanita itu kenapa mau tinggal bersama orang asing? Bahkan wanita itu nampak bersemangat. Apa mungkin di negara ini, kehidupannya sebebas itu?
Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, sampailah Rico di tempat tujuannya, sebuah kota besar yang memang sangat modern. Wanita itu juga tidak jauh jauh dari keberadaan Rico. Sebelum turun, keduanya tadi sempat berbincang kalau mereka sepakat akan selalu bersama kemanapun mereka pergi.
"Kita mau langsung ke tempatku atau kemana dulu?" tanya si wanita setelah keluar dari area stasiun.
__ADS_1
"Ke tempat kamu aja," jawab Rico singkat, dan si wanita pun langsung setuju. Mereka langsung memanggil taksi untuk mengantar mereka ke tempat tujuan. Sepanjang perjalanan, Rico terlihat takjub dengan pemandangan kota besar itu. Kotanya wangi dan penuh warna. Udaranya juga terlihat bersih meski berbagai gedung tinggi bertebaran dimana mana.
"Sepertinya, kamu baru ya, pergi ke kota besar?" tanya wanita yang saat ini duduk di seblelah Rico. "Aku perhatikan, kamu kayak takjub gitu melihat segalanya dari tadi."
"Ya, anggap aja seperti itu," jawab Rico tanpa menoleh ke lawan bicaranya.
"Pantes, tiba tiba kamu mau tinggal bersamaku. Kamu bukan seorang penjahat kan?" mendapat tuduhan seperti itu, tentu saja langsung membuat Rico menoleh.
"Sembarangan kamu. Apa aku sepeerti tampang penjahat?" sungut Rico.
Rico seketika tertegun. Apa yang dikatakan wanita itu memang benar, banyak orang yang berpura pura baik dalam dunia ini. Bahkan Rico sampai terdampar di negara yang tidak dia kenal, juga karena perbuatan manusia yang berpura pura baik, dan Rico akan memberi pelajaran pada orang orang seperti itu.
Sementara di kampung Perawan, saat ini keadaannya terlihat sedang menegang. Akibat informasi yang dia dapat dari mulut seorang wanita, perdebatan saat ini sedang terjadi antara dua kepala kampung yang sudah bermusuhan sejak lama.
__ADS_1
"Astaga! Anda masih tidak percaya kalau Rico tidak ada di sini?" Tuan Momogi terlihat begitu heran dengan tamunya itu. Dia bahkan terperangah karena tamunya yang bernama Tuan Jolly datang bersama beberapa orang yang jumlahnya cukup banyak.
"Anda pikir saya percaya dengan kebohongan anda?" balas Tuan Jolly, tak kalah sinisnya. "Banyak saksi yang melihat kalau Rico ada di rumah anda."
Tuan Momogi sontak menyeringai. "Silakan, geledah saja rumah saya. Cari sampai ke lubang tikus manapun."
Tuan Jolly langsung memerintahkan orang orang yang ikut bersamanya untuk mencari keberadaan Rico. Bahkan bukan hanya rumah kepala kampung saja. Para anak buah Tuan Jolly juga mencari ke tempat lain yang dicurigai sebagai tempat persembunyian Rico.
Tuan Momogi sontak saja menyeringai saat melihat anak buah Tuan Jolly tidak menemukan yang mereka cari. "Sudah aku bilang, Rico tidak ada di sini."
Dengan tangan terkepal, tuan jolly benar benar menahan amarahnya. Tatapannya tajam menatap pria yang saat ini sedang tersenyum meremehkannya. "Katakan sekali lagi, dimana anda menyembunyikan Rico!" bentaknya.
"Hahaha ..." Tuan Momogi malah terhabak, lalu dia kembali menyeringai. "Dia sudah berangkat ke kota besar."
__ADS_1
Deg!
...@@@@@...