TABELARD

TABELARD
1. MALAM MENJADI BAGIANNYA


__ADS_3

Berulang kali gadis berkacamata itu mengusap mata akibat kelelahan bermain game di komputer. Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, namun tampaknya bukan suatu masalah besar bagi gadis itu.


Terhitung sudah dirinya diam di depan komputer selama empat jam tanpa henti. Ketika otak memberikan sinyal kepada perut, gadis berkacamata itu mencubit perutnya membalas. Entah untuk keberapa kalinya sinyal itu berbunyi, ia sama sekali tidak menghiraukannya.


Kemenangan adalah tujuan utamanya. Tentu, kekalahan sumber ketakutannya. Tidak masalah jika setelah ini dirinya muntah-muntah, mual, merasa nyeri tumpul pada perut, dan mungkin mulas dengan sensasi terbakar di dada ia rasakan kembali. Semua bisa ia atasi, tapi tidak dengan perlombaan game ini.


Ketika titik kemenangan di depan mata, satu alasan yang membuat gadis itu gagal merenggut kemenangan tersebut. Yaitu sebuah suara cakaran dari arah jendela mengagetkannya.


Menelan ludah, gadis bermata biru itu membenahi kacamatanya, lalu bertanya. "Siapa disana?"


Sunyi. Hening, tidak ada jawaban. Bahkan ketika angka sepuluh berhasil terucap olehnya, hanya suara jarum jam yang menghiasi ruangan itu.


Sekedar informasi, ini hari pertama dirinya tinggal disini. Ini kosan, bukan apartemen. Memang tidak mengejutkan lagi, ketika ia bertanya kepada satpam siapa saja yang tinggal disini, jawabannya yaitu hanya ada tiga orang penghuni di kosan ini.


Dua orang tersebut tinggal di area lantai satu, sementara dirinya tinggal di lantai dua. Butuh persiapan mental dan keberanian besar untuk memutuskan tinggal di Kosan sepi seperti ini. Jika saja bukan karena masalah uang, ia pasti akan memilih mencari tempat tinggal yang nyaman dan lebih ramai penghuninya.


Kenalin, namanya Santi. Anak manja yang tahun ini resmi menjadi mahasiswa jurusan Sastra Inggris di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Santi terpaksa harus hidup mandiri tanpa perlindungan orang tua.


Yah, bulan lalu Ayahnya pergi meninggalkannya ke alam surga. Lalu sang Ibu sendiri telah lama meninggalkannya. Entah kenapa sang Ibu hanya mengundang suaminya saja, padahal anaknya juga ada. Di keadaan seperti ini, Santi mau tidak mau harus menerima kenyataan pahit ini.


Memukul keyboard komputer sebagai pelampiasan atas kekalahan, Santi yakin suara yang ia dengar itu hanya khayalannya saja. Mungkin ini akibat dirinya masih terbawa suasana sedih.


Santi kemudian mengirim pesan kepada salah satu temannya. Ia meminta tolong kepada temannya agar membelikan makanan dan membawanya langsung kesini. Santi tau dirinya salah, tapi ia tidak akan bisa tidur jika perutnya belum terisi.


Pukul jam dua malam, terpantau Santi masih asik bermain game. Terhitung sudah sekitar keempat kalinya suara cakaran itu kembali terdengar.


Krrkk


Santi berusaha menulikan pendengarannya. Namun tubuhnya tidak berhasil. Seolah ada magnet yang menyeretnya melihat keluar jendela, memastikan agar tau apa yang telah terjadi.


Suara gemercik pasir dari atap, suara kaki berlari menggangunya. Santi memejamkan mata sejenak. Ia harus meyakinkan matanya agar bisa diandalkan. Karena kekurangan ini, butuh waktu beberapa detik untuk melihat objek dengan jelas di malam hari. Sedangkan dirinya ingin dalam sedetik harus sudah melihatnya dengan jelas.


Ingin rasanya ia mengucapkan mantra atau doa-doa yang membuatnya tenang dan selamat. Tapi apa buat, Santi hanya hapal doa makan saja. Jangan heran, dia anak super manja dan manja. Santi meremas gorden jendela sambil menyebut nama kedua orang tuanya.


Pemikiran logika menarik perhatiannya. Darimana asal suara pasir di atapnya, jika dirinya saja tinggal di lantai dua. Secara logika, pasir apa dan siapa yang bekerja di malam hari seperti ini.


Santi tidak menduga bahwa dirinya akan mendapat pengalaman seperti ini di hari pertama tinggal. Hawa dingin menusuk lehernya. Tubuhnya meremang. Satu persatu karma menghampiri dan menyiksanya.

__ADS_1


Santi merasa dadanya panas, juga perutnya mulas. Ia baru ingat, seharian ini dirinya belum ada makan nasi sedikitpun. Ia hanya memakan pisang. Meringkuk di atas ranjang, berguling-guling seraya meringis kecil. Santi mengeluarkan air mata.


Menghilangkan rasa takut yang entah kemana hilangnya, Santi meraba-raba meja di sebelahnya, berusaha mencari minyak kayu kuning. Tubuhnya tiba-tiba menjadi kedinginan, Santi melepas kacamata, lalu memejamkan mata.


Sementara disisi itu, suara kaki berlari, cakaran tangan, juga suara pasir berjatuhan di atas atap tidak ada henti-hentinya. Seolah menyuruh Santi agar segera memeriksanya. Seolah itu adalah kejutan yang harus Santi ketahui.


Ting!


Oh, Santi ingat dirinya telah melakukan sesuatu. Rupanya pesanan makanannya telah datang. Dengan perut kosong, pikiran kacau, Santi turun dari ranjang.


Berjalan tertarih sambil meremas perut, Santi menempelkan tangannya pada dinding, berusaha mencari kontak saklar lampu. Ia telah melupakan sesuatu.


Dapat, Santi kemudian menghidupkan lampu kamar mandi. Senyum tipis tercetak di bibirnya. Tangannya bergerak untuk membuka pintu, lalu tersenyum senang.


"Atas nama Santi cantik? Iya, benar, kamar nomor 16 lantai 2. Pesanan makanan dari Angle bukan?" sosor Santi bertanya tanpa melihat dengan jelas siapa pengirimnya.


Selama beberapa detik menunggu, tidak ada sahutan dari sang Pengirim paket. Sekilas Santi melihat Pengirim tersebut menganggukkan kepalanya. Tanpa berbasa basi lagi, Santi langsung mengambil kotak makanan tersebut.


Sebelum menutup pintu, Santi berucap, "Makasih kang Pengirim! Walau malam, semoga rejekinya lancar, cita-citanya bisa terwujud! Ai lop uu!"


Sepanjang Santi berjalan, terdengar suara langkah kaki keras di dalam ruangan. Santi pikir itu suara ketukan kakinya, namun setelah ia menyadari bahwa dirinya tidak memakai alas seperti sandal, tubuh Santi seketika menegang.


Suara langkah kaki itu percis seperti suara yang sebelumnya ia dengar. Tapi kali ini, suaranya lebih pelan. Seperti kaki yang beralas sebuah sepatu bergigi dan langkahnya besar.


Santi mengepalkan tangan. "Siapa?!" teriaknya bergaung.


Berusaha untuk selalu berpikir positif itu menyiksa Santi. Masalahnya ini nyata. Santi tau matanya bermasalah, tapi tidak dengan telinganya.


Dengan terbirit-birit Santi masuk ke dalam kamar, dan tidak lupa untuk mengunci pintunya. Dengan cepat Santi langsung menghubungi temannya yang bernama Angle itu.


Berulang kali ditolak, akhirnya Angle tersambung. "Halo, kenapa?" Suara Angle dari seberang sana.


Santi menggigil hebat. Tubuhnya bergerak untuk bersembunyi dibawah ranjang. Setelah membenarkan kacamata, Santi mengeluarkan suara bergetar.


"Ma-Makanan yang lo bawa kenapa baunya busuk? Tolongin gue, Angle," pinta Santi seraya menangis.


Jeda beberapa detik. Sepertinya Angle kebingungan. "Kenapa lo? Makanan apa maksud lo? Sadar dulu, baru nelpon gue."

__ADS_1


Angle adalah satu-satunya teman yang menemaninya sejak kecil. Seperti namanya, selain nama, wajah dan perilaku Angle juga seperti malaikat. Orangnya gaul banget. Angle selalu membantunya kapanpun ia butuhkan.


"Tadi yang di chat. Angle, tolong kesini di Kosan gue sebentar." Terdengar helaan napas panjang dari Angle.


"San, gue tidur dari Maghrib. Jangan ngadi-ngadi. Jarak kita 10km lebih, cuy. Emang ada apaan dah?"


Spontan Santi berteriak ketika ia mendengar suara orang berteriak di luar jendela sambil berlari.


"Woi, lo kenapa?! Gue otw sekarang!"


Santi keluar dari persembunyian, dan membuka jendela kamar. Jika saja ada orang yang mengalami hal sama seperti dirinya, maka ia harus menyelamatkannya.


Setelah melihat siapa yang berteriak, tubuh Santi mematung. Ingin tidak percaya siapa yang telah dilihatnya, namun kini dirinya telah memakai kacamata.


"AKHHHH!!"


Santi merasa tubuhnya melayang. Seseorang telah mencakar perutnya. Rasa sakit yang ia dapatkan sebelumnya, kini berkali-kali lipat siksaannya. Terasa seperti seseorang menjepit hidungnya, dan menyiraminya dengan pasir.


...---...


Sosok ceria, selalu tenang, baik dan juga manja itu telah menyusul kedua orang tuanya ke alam Surga. Keesokan paginya, kamar enam belas digemparkan oleh sebuah mayat yang kepalanya terjepit di jendela.


Angle—Teman satu-satunya Santi sejak tadi pagi menangis dan tidak henti-hentinya berteriak histeris. Angle menyalahkan dirinya atas kematian temannya, Santi.


Salah satu penghuni Kos mengatakan pada media bahwa almarhum Santi terus berteriak di jam tiga sampai lima pagi. Mayatnya ditemukan dalam keadaan berlumuran darah di bagian leher. Semenjak kematian Santi, semua penghuni pergi meninggalkan tempat itu. Ini karena mereka ketakutan akibat selalu mendengar suara jeritan dari arah Kosan almarhum Santi.


Sejak ditemukannya kejadian menggemparkan itu, awak media tidak ada hentinya untuk menyelidiki kasus penyebab atas kematian Santi. Diduga ada seseorang yang berusaha membunuh Santi sehingga kejadian itu terjadi.


Namun, menurut pengakuan Angle, Santi adalah orang yang sangat baik. Dia tidak pernah ikut campur urusan orang lain, karena Santi orangnya suka menyendiri. Kemudian ada dugaan yang masuk akal muncul. Yaitu karena Santi sering menyiksa lambungnya.


Semenjak kematian sang Ayah, Santi tidak pernah keluar kamar dan hanya memesan makanan melalui online. Ketika ia memutuskan untuk tinggal di Kos, itu dikarenakan tidak ada pilihan lain selain menghemat biaya ongkos kuliah.


Sering sekali terdengar suara deru napas besar di ruangan itu. Dua tahun kemudian pemilik Kos tidak tahan, akhirnya memutuskan untuk menutup dan menghancurkan gedung tersebut.


Pada cermin kamar enam belas, Santi selalu rutin berkaca seraya tersenyum manis. Dia tidak sabar untuk mengikuti semester berikutnya.


...---...

__ADS_1


__ADS_2