
Aku menelan ludah beberapa kali. Ada banyak alur kehidupan yang muncul dipikiranku. Perkiraanku tidak salah, kan? Alur kehidupan disini pasti berbeda.
Aku mengusap wajah kasar, lalu tersadar bahwa aku menggendong tas. Ah, pantas saja cowok Mesum itu bertanya perihal belajar.
Satu hal yang muncul. Pasti di Dunia ini aku adalah anak teladan. Yah, itu memang fakta di dunia manapun.
Aku cek rambut milik San—diriku yang ternyata sangat pendek. Ada apa ini? Apa disini aku mengalami tekanan hingga stress?
Bagaimana dengan Nenek? Dengan cepat aku berlari ke rumah Argas.
Bruk!
Sial! Ada apa ini? Diriku yang cantik nan imut ini tercebur ke got. Air limbah perumahan siapa, nih?!
Perasaan gak ada pembatas jalan di Dunia sebelumnya. Berteriak juga rasanya sia-sia. Dengan berat hati aku bangun dan menepuk rok. Waduh, baru sadar aku disini sangat seksi. Ini belajar atau..?
Gak, ya. Aku disini tuh anak baik-baik. Ayo, hidup lagi. Liat perbedaan dengan dunia sebelumnya. Lalu jalani. Ralat, ini aku kemana lagi ya setelah Santi yang asli muncul?
Mati gitu? Apa ketemu cowok Mesum itu? Gak, deh. Mending aku milih mati daripada ngejalanin hidup tanpa arah yang pasti.
Aku duduk di tepi jalan sambil mengamati keadaan kehidupan disini. Ini memang desa, tapi tidak sesepi ini. Perasaan di depan rumah Argas ada rumah, tapi disini terlihat penuh sama pohon.
Salah satu perbedaan yang diketahui ini adalah pemukiman Desa. Tapi kenapa ada lampu mewah? Tau tiang yang isi lampu keren itu? Yang biasanya ada di kota? Itu dia! Kece banget Desa disini ternyata.
Aku cukup tau diri hidup menumpang disini. Aku langsung melepas beban dipundak. Seberapa teladannya diriku di dunia ini sampe bawa ilmu sebanyak ini? Udah setara sama koper aja.
Aku ketok pintu rumah Nenek yang setiap sudut rumahnya sama sekali tidak ada perubahan apapun. "Nek..," panggil aku gak sabaran.
Bukannya gimana, ya. Aku mau mandi cepet! Udah gak tahan lagi sama bau ini. Kayak habis mandi sama kebo aja.
Gak butuh waktu lama, Nenek muncul dari dalam rumah dengan wajah keriput. Gak gitu. Emang wajar karena faktor usia, tapi masalahnya keriputnya Nenek jauh lebih tua daripada sebelumnya. Ini.., tahun berapa?
"Gek Santi?" GEK?! "Kenapa jadi jelek begini? Tadi habis ngapain, Gek?" Kenapa namaku jadi feminin banget.
Bodo amat, "Nek..., aku kecebur di got. Mau mandi dulu, nanti Santi ceritain." Aku kehilangan akal sehat sebentar.
"EH?! Pacar kamu dimana?" Deg. Tubuhku menegang mendengar suara Ayah dari si Brengsek.
Di Dunia ini aku juga harus bertemu dengan orang jahat ini? Bohong jika aku gak takut. Buktinya aku menggigit bibir.
"Jatoh ke got." Nenek menjawab, "serius? Terus Argas dimana? Kok bisa-bisanya lalai menjaga menantu cantik seperti ini?"
Ucapan Paman membuatku kaget bukan main. Maksudnya? Bisa di replied lagi gak? Argas? Pacar?
Amit-amit! Nyeleneh banget ini fakta! "Mana anak nakal itu? Mau diberi pelajaran rupanya." Suara nenek memang menenangkan, tapi sifatnya disini kelihatan berbeda.
Nenek keliatan lebih galak dan tegas.
"Permisi." Suara seseorang menganggu lagi.
Bukan. Dia itu— "Mau nyari bebek ilang, Nek." Cowok Mesum!
__ADS_1
Sontak semua pada ketawa. Emang lucu? Aku menggembungkan pipi sebal.
"Neh, dicari sama abang Brama," kata Ayah dari si Brengsek.
Tunggu. Namanya Brama?! "Dia salah rumah, Om. Padahal tadi dah pulang, eh pergi lagi." Cowok mesum bernama Brama itu ngejelasin.
"Yoh, gak apa-apa. Sering-sering mandi disini, ya. Anggap saja rumah sendiri." Arah Nenek bicara maksudnya gimana?
"Kangen berat sama Argas, ya?" Paman bicara, "om kira Argas pulang les sama kamu."
"Hah?" Aku kedap kedip gak ngerti.
"Gak, maksudnya?" Adek gimana? Jangan bilang aku disini saudaraan sama si Mesum?!
Sebelum aku melangkah ke arah kamar mandi, suara seseorang menganggu lagi. Tapi, ini beneran menganggu.
"Ish, sial!" Semua arah pandangan melihat sumber suara kodok.
Mata Argas yang besar dan bulat membesar lagi melihat kearahku. "Ayang!" teriaknya gak logis.
"Ayang, kamu gapapa?" Argas berlari memelukku.
Ish! Najis. Aku langsung mendorong tubuh si Brengsek itu. Gak tau buku kayak mayat?! Eh, kebo. Apa tidak jijik cowok Gemuk ini?
"Kamu beneran gapapa?" Aku tersentak ngeliat raut khawatir si Gembrot.
Emang ada apa? Cuma perkara kecebur got, kok.
Tapi lihatlah dengan jelas. Semuanya memandang tanpa berkedip. Terutama pelototan si Mesum—Brama. Astaga, kayaknya aku agak bodoh.
"Ka—Kamu mau mandi disini?" Neh kan, jadi salah paham begini.
Emang pada dasarnya Mesum, binar-binar diwajah Gembrot membuatku mual.
"Boleh.., tentu saja boleh, sayang. Tapi...," Argas menatap Brama, "kakak kamu bakalan makan aku," lanjutnya.
Sementara orang yang dituju hanya memandang datar. "Kamu beneran udah ijin?" Biasain aja, kali. Sampe memelas begitu.
"Pulang." Suara berat Brama menegangkan suasana.
Nenek berdehem keras. Dia berjalan mendekati aku dengan tongkat. Pelan-pelan, tapi pasti langkah Nenek sampe didepan wajahku. Aku tersenyum tipis dengan rasa rindu besar yang menubruk.
"Nenek..," Aku memanggil, hilang ingatan tentang bau busuk.
Dalam sedetik tatapan Nenek berubah menjadi tatapan kasihan. "Nak.., kamu masih muda. Belum waktunya berbuat seperti ini." Nenek berucap lembut.
"Berbuat?" beoku gak konek.
Aku ngeliat sekitar, lalu langsung berpura-pura tidak mengerti. Bukannya mengerti, tapi sebaiknya tidak mengerti. Lagipula rumahku.
Eh? Apa bukan, ya?
__ADS_1
"Nek, maaf. Santi sedang tidak enak badan," ujar Brama menyela.
Saat itu juga lenganku dipegang oleh Argas. Menatap wajahnya yang begitu ketakutan, membuatku terheran. Kenapa natapnya dalem banget? Kurang ajar banget masa gara-gara aku kotor.
"Kamu kemana tadi habis selamat?" Argas bertanya diluar perkiraan, "kamu beneran gak ada luka?"
Perlu diperjelas lagi? Masalahku hanya bau. Bau taik.
Namun, penjelasan Argas membuatku kaget bukan main. "Tadi saat berangkat les, Santi hampir ketabrak kereta." Aku melebarkan mata.
Argas tersenyum kepadaku, "Kamu hebat, sayang."
Tangan Nenek bergetar, "Kenapa bisa terjadi, nak? Mari kita buat syukuran. Tuhan menyayangi kamu, sayang."
Aku gak bisa konsentrasi. Jadi aku adalah Santi disini? Lalu bagaimana dengan jiwa Santi yang asli?
"Sepertinya mataku agak rusak. Masa aku lihat kamu menghilang waktu kereta menabrakmu," ujar si Gembrot lagi membuatku menelan ludah kasar.
Dia tidak sepintar itu untuk menyadari yang terjadi, kan?
"Omong kosong. Santi sudah disini." Brama bersuara dingin.
Aku menatap si Mesum damai. Sepertinya harus berterima kasih kali ini.
"Tuhan selalu memperhatikanmu," kata ayah si Gembrot.
Aku tersenyum kaku, "benarkah?"
"Kalau begitu, dia akan pulang untuk membersihkan diri," cakap Brama menghentikan pembicaraan.
Aku menoleh cepat kearahnya. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadanya. Pokoknya habis ini akan aku tanyakan kepada cowok Mesum ini. Aku curiga dia tau tentang ini.
"Hm..., " Aku mencoba merangkai kata untuk mengakhiri adegan aneh ini.
"Ayo." Tanpa basa basi lagi, si Mesum menarik tanganku keluar dari rumahku. Eh, maksudnya rumah Argas.
Memberontak juga bukan rencanaku. Pilihanku sekarang adalah mencari jiwa Santi yang asli.
Lagipula tidak bagus menumpang dibadan orang lain. Yah, meskipun kebenarannya juga tubuh ini memang milikku.
Hah, sudahlah. Akan kucari nanti.
---
HAII
GIMANA CHAPTER INI?💘
Jujur aku agak sedih nulis. Makin kesini makin aneh sama sudut pandang gak baku begini🥲
Menurut kalian gimana? 😍
__ADS_1
18Juli2023