TABELARD

TABELARD
2. Masa Kecil Imut


__ADS_3

Dua: Masa Kecil Imut


Cerpen bagian ini mungkin membuat kalian teringat akan masa kecil😍


Aku sendiri juga kangen sama masa kecil🤩 Kalian jugaa?


Kasih tau momen mengesankan kalian waktu kecil, bolehh?🥰


Aku sih, bisa tidur tanpa beban, yak😓☝️


...---...


Namaku Santi. Umurku tahun ini enam tahun. Udah gede 'kan? Badanku yang menjawab itu. Tapi gembul, tau. Pipi yang selalu menjadi sasaran empuk jika orang-orang di sekitarku merasa gemas denganku. Ku akui, bahwa aku ini menggemaskan.


Buktinya, aku mempunyai banyak teman hingga di dunia lain pun. Habisnya aku itu populer. Seru juga bermain bersama mereka. Rasanya tiga puluh menit berasa lima menit.


Seperti sekarang. Ayahku memelukku dengan sangat erat ketika aku balik dari taman bermain. Aku cuma pergi sekitar lima sampai sepuluh menit. Tapi wajah Ayah tampak sangat khawatir. Bahkan dia tidak henti-hentinya untuk mencium pipi dan dahiku.


Tapi tak apa. Pipiku ini tidak akan habis, kok. Aku 'kan punya banyak cadangan kegembulan. Contohnya perut. Hehe, perutku kalau sudah penuh bawaannya membesar terus. Habisnya kekenyangan, karena Ayah yang selalu memberikan makanan porsi dewasa kepadaku. Tak apa kok. Itu tanda Ayah yang tak sabar dengan masa besarku.


"Kamu kemana aja? Ayah mencarimu kemana-mana hampir sejam. Jangan bermain jauh-jauh lagi, ya." Begitulah kata Ayah tadi. Aku sih, mengangguk saja.


Bermain jauh kemana? Aku hanya bermain di perosotan tempat aku dan Ayah berdiri sekarang. Itu—Jaraknya hanya sekitar lima meter, mungkin? Kemana-mana? Ayah ini semakin hari pintar berbohong. Apa dia kira aku bodoh dan tidak mengerti? Mentang-mentang aku masih bocil begini? Gak, ya. Aku itu udah dewasa.


Tadi saja aku bermain bersama temanku sambil membahas skripsi kuliahan. Temanku itu jenius banget, tau. Aku yang kecil-kecil begini sudah diajarin tentang cara menulis karya tulis ilmiah sembari main perosotan. Aku iri, sih. Tapi tak apa. Temanku juga kelihatan tidak keberatan menjelaskan tentang karya tulis ilmiah itu.  Aku juga mengerti apa yang dijelaskannya.


"Bentar banget loh, aku mainnya, Yah. Untung 10 menit, belum sejam. Aku lapar karena ngeliat Ayah makan jagung bakar tadi sendirian," ucapku menjelaskan.


Aku tidak bohong, loh, ya. Aku lihat waktu main, Ayah lagi sibuk makan jagung bakar cepet-cepetan. Seolah bagian itu aku makan nanti. Tapi aku anak baik, tau. Aku tau Ayahku kelaparan.


Aku lihat balasan dari Ayah cengengesan gak jelas. Tak apa, toh. Ayah kelihatannya susah sekali untuk bicara jujur. Aku ini bisa melihat mimik wajah orang, walau orang itu sudah berusaha menyembunyikannya.


"Ayah beliin jagung bakar. Tapi ingat, jangan main jauh-jauh lagi, mengerti?" Ayah menaik turunkan alisnya.


"Heum." Aku mengangguk lucu, "tos dulu sama Ayah."

__ADS_1


Aku diam menatap kepalan tangan Ayah. Alih-alih membalas, aku malah menubruk badan Ayah untuk kupeluk. Huhu, aku terlihat sangat kecil.


"Eh?!" Ayah mengangkat badanku yang lucu ini.


"Wraww!!" Aku tertawa geli mendengar suara Ayah yang dibuat lucu. Aku anaknya menghargai banget.


"Rawrr!" balasku benar-benar imut.


Hehe, aku 'kan emang jago bikin Ayah ketawa.


...----...


Kesel banget kalau main sama dua bocil ini. Ya, bocil yang aku maksud itu Angle dan Argas. Mereka ini badannya aja yang gede, tapi pemikirannya kecil. Masa mereka bilang aku ini buaya? Mana waktu aku deketin mereka, mereka teriak-teriak gak jelas sambil lari-larian.


Rasanya aku pengen nangis aja disini sampe orang tuanya Argas memarahi anaknya yang gembrot ini. Maaf ya Argas, tapi kamu emang gembrot mirip aku. Tapi bedanya aku lebih lucu dan imut.


"Aku makan kalian lama-lama!" sungutku kesal. Eh mereka malah tambah takut. Ngeselin.


"Takut! Aku dikejar buaya!" teriak Angle sampe gendang telingaku rasanya mau pecah.


Aku yang lucu begini hanya bisa duduk manis menunggu mereka turun dari pohon jambu. Biarin aja mereka gak berani turun. Nanti juga mereka capek sendiri nganggep aku Buaya.


Udah sore, mereka malah asik bercerita di atas sana. Aku mau naik ikut juga. Pengen cerita bersama. Tapi apalah daya, ketika aku menaiki pohonnya, mereka malah berniat terjun dari atas. Ah, mumpung aku anaknya lucu, ya, aku kasian sama mereka. Lebih baik aku mengalah disini sampai mereka capek sendiri.


Tapi lama-lama aku bosen. Aku anaknya paling gak suka kalau digigit nyamuk. Bawaannya pengen langsung nuangin minyak wangi ke seluruh tubuh. Aku belum mandi, loh. Tapi para nyamuk ini udah deketin aku. Aku loncat-loncat berusaha menghindari gigitan nyamuk.


Waktu aku sibuk sendiri sama nyamuk, eh, ada badan besar duduk di sebelahku. Ini Argas, bukan? Tapi Argas 'kan gembrot kecil. Ini, tuh besar banget. Dia duduk aja gede.


Ku beranikan diriku untuk mengangkat wajah dan menatap mahkluk besar itu. Eh, ternyata dia lagi asik ngerokok. Gak ada asap, sih. Tapi si Gembrot besar itu malah menatapku seksama.


Eh?! Aduh, kok ganteng banget, ya. Beda banget sama Argas yang badannya gede, tapi wajahnya di bawah standar. Ini tuh—aduh! Tampan banget! Tiba-tiba aja tuh, tersirat rasa ingin memiliki gitu, loh.


Si Gembrot gede itu malah terus-menerus menatapku. Aku kan, jadi salting. Huhu, pasti wajahku merah kayak tomat, nih. Aku bicara aja kali, ya? Biar ada topik.


"Om, jangan ngerokok! Aku gak suka sama baunya!" Eh tapi kalau boleh jujur, bau rokok ini, tuh candu. Aku yang imut ini rasanya pengen duduk di pangkuan si Gembrot ini.

__ADS_1


Eit, dah. Sok jual mahal lagi si Gembrot. Aku, 'kan jadi ketawa. Aku ngetawain dia sampe guling-guling di rumput. Eh, btw rumput ini empuk, cui. 


Waktu aku melek, eh, ternyata aku duduk di atas kuburan. Wah?! Kok iso?!


Aku melihat kanan kiri, seolah mencari pohon jambu tempat Argas dan Angle. Tapi, disini sepi. Rasanya ada banyak nyamuk tadi. Tapi sekarang malah banyak kuburan. Wait! Aku teriak ketakutan.


Ini adalah waktu sore menjelang malam. Walau masih kecil, aku tau bahwa situsasi waktu ini sangatlah berbahaya. Aku tadi kan lagi asik ketawa, tuh. Kok—Ngomong-ngomong om Gembrot itu kemana ya? Yang tadi aku bilang lagi ngerokok itu? Yang bau rokoknya wangi itu?!


Hiks! Aku menangis. "IBU, AYAH! Kalian dimana?! Santi disini, hiks!" Aku pengen lari, tapi bingung. Disini penuh dengan kuburan.


Aku makin takut. Tubuh aku bergetar hebat. Rasanya sudah untuk menelan ludah karena tangisku terbata-bata.


Aku nangis lagi sambil berjalan menelusuri kuburan menyeramkan ini, ketika aku melihat om Gembrot tadi, aku spontan teriak.


"OM! Aku tersesat!"


Eh?! Aku tambah memaksakan mataku untuk melek. Kok aku udah di punggung Ayah?! Aku langsung memastikan wajah Ayah dengan memajukan wajahku.


"Ayah?!" pelukku tak percaya, "jangan main sampai malam lagi. Ayah nyari kamu kemana-mana."


Hah? Aku melihat ke samping lagi. Rupanya Angle dan Argas tengah tidur di gendongan orang tua mereka. Aku menatap sekitar yang gelap. Aku kebingungan.


"Ini dimana, Yah?" tanyaku.


"Di kebun pak Jambu." Oh?! Aku mengingat lagi. Itu kan tempat awal aku bermain dengan Angle dan Argas sebelum tersesat di Kuburan.


"Terus kuburannya?" sosor aku bertanya lagi. Aku kepo, dan masih kebawa perasaan takut.


Ayah menoleh, "Kuburan apa? Tidur lagi. Bentar lagi sampe rumah. Habis ini jangan main di kebun pak Jambu."


Aku cemberut. Bukannya mendapat jawaban, tapi akhirnya malah dilarang untuk main disana lagi. Ah Ayah! Gak tau apa aku ketemu sama om Tampan?


Ngomong-ngomong Om Gembrot tampan itu dimana, ya sekarang? Aku pengen memberikan hadiah tanda terima kasih.


...----...

__ADS_1


Om Gembrot tampan itu siapa kira-kira?🤔


__ADS_2