
Halooo!! Aku kembali lagi setelah melakukan banyak kegiatan💘
Kalian beneran asik sama sudut pandang seperti ini, gak? Soalnya takut ngebosenin
Sebelum lanjut, absen kalian kelas berapa??
---
Sejauh apapun aku berusaha bunuh diri, itu gak bakalan bisa. Seharian aku mengurung diri di rumah sendiri, aku sama sekali gak ada nyentuh makanan, dan cuma sempet minum air putih segelas. Itupun waktu aku lari dari rumah neraka itu.
Benar. Pada akhirnya aku tinggal di tempat asalku. "Ayah, bisa pulang sekarang?"
Hening cukup lama, sebelum suara penolakan terdengar, "Maaf, sayang. Uang kamu masih ada? Bulan depan akan ayah usahakan, ya?"
"Ayah...," Kumohon, satu kali ini aku benar-benar kehilangan gairah hidup. Aku tidak ingin lagi melanjutkan hidup.
Aku dititik terendah yang membingungkan.
"Sudah malam. Besok ayah kirim kue kesukaan kamu. Ayah masih rekap persiapan lamaran dengan ibu baru kamu, oke? Jangan manja, udah gede."
Aku tidak peduli. Mungkin lebih baik lagi jika ayah mendengar tangisanku. Nyatanya ayah benar melakukannya. Dia mengakhiri sambungan, kemudian aku meraung kesakitan.
Luka ini membekas luar dan dalam. Aku tidak mengerti dan sulit mencerna, sejak kapan mala petaka ini menghantam hidupku. Ini merubah hidupku sepenuhnya.
Aku benar-benar tidak ada pikiran untuk melebih-lebihkan keadaan. Inilah kenyataannya. Sebanyak apapun aku berpikir, tujuannya sama.
Bagaimana caraku melanjutkan hidup besok? Bagaimana cara membuat keadilan? Bagaimana cara membuat uang? Bagaimana cara bersosialisasi? Bagaimana cara hidup berkeluarga?
Semuanya menghantam otakku yang sekecil tai kebo ini. Jangan bilang kalau aku imut. Kalian munafik. Penampilanku seperti anak jalanan yang belum mandi selama tiga hari.
Bau? Sungguhkah kamu membayangkan? Aku saja merasa badanku wangi dan baik-baik saja.
Makanya, kurasa aku sudah gila. Ahahha. Ditengah malam, rupanya trauma menghampiriku. Aku merasakan seseorang memeluk dan menciumku. Gilanya lagi, aku tidak menolak.
Biarlah kesesangraan ini berlanjut. Tapi anehnya, pelukan ini sangatlah nyaman. Lebih nyaman saat nenek memelukku. Mataku terasa sangat berat sekali. Aku merasakan sesosok lelaki memelukku.
Bukan pede. Tapi caranya mengelus kepalaku sudah menjawab. Tangannya besar dan kasar.
----
Aku berdiri didepan pantulan kaca hanya untuk memastikan bahwa ini adalah kenyataan. Tidak-tidak. Masa iya, cuma gara-gara halusinasi dipeluk cowok bisa semangat hidup kembali?
__ADS_1
Impossible apa ini? Aku garuk lagi nih kepala. Wait! Ingat, ya! Aku tiduran di kasur selama tiga hari tanpa beranjak dan sekarang masih sehat! Gak?! Minimal maag, lah!
Tunggu! Aku rasa ada yang aneh dengan rambut ini. Masa iya, masih lembut harum begini? Gak ada apek sedikitpun, woi!
Dan parahnya lagi, sudah ada seragam sekolah di depan lemari! Kebiasaan yang gak pernah aku lakukan!
Terakhir, sebuah paket ayam dan kue datang ke pekarangan rumahku! Gak ada yang mesen, woi!
Aku bersimpuh melihat sabun mandi di kamar mandi. Sejujurnya aku sangat takut mengecek keperawanan. Mungkin, fakta itu gak bisa aku hindari.
Aku kira semua bisa berubah. Salah. Aku benar-benar sudah tidak perawan. Dan nyeri itu bisa terasa saat aku mandi tadi pagi.
Takut keracunan, atau lebih tepatnya takut jadi ayam, aku cuma makan sepotong dari sepuluh potong ayam yang ada. Gini-gini aku juga masih punya logika.
Ah, mungkin aja ayah yang bawain, kan? Ayah juga manusia kaku yang gengsian. Mungkin tadi pagi sekali dia menyiapkan semua ini.
Aku menuliskan di kotak pesan,
Terima kasih, Ayah💘
Kalo saja ayah bangunin aku, pasti aku bisa lebih semangat. Aku udah baikan. Cuma gak semudah itu. Hal tersebar yang membebani pikiranku ya cuma masalah perawan.
Soalnya tadi di ruangan Bk aku cuma ngangguk aja. Aku gak denger jelas omongan ibuk Bk. Bodo amat. Syukur sujud banget udah gak ketemu Argas. Untungnya kelas kami berjauhan.
Cuma tadi sempet ngeliat Angle di Kantin. Aku gak belanja ke kantin, kok. Aku masuk cuma nagih uang sama ibuk kantin. Sama diwawancarai dikit, katanya, kenapa gak nitip jajan lagi. Soalnya temen-temen pada nanyain.
Aduh, repot juga kalo udah punya pelanggan. Akunya juga ngerasa bersalah. Wait? "Ada apa?"
Nih Malaikat dari tadi ngomong terus gak jelas. "Bisa gak sih, gak gangguin pacar orang?!" cerocos Angle marah.
"Ngh?" Gak salah? "jangan main pulang dulu! Jawab! Lo godain cowo gue?" Angle mendorong bahu letoyku.
Aku pengen jawab, tapi rasanya sia-sia. Tubuhku terasa sangat ringan. Aku gak kuat lagi buat ngeladenin Angle sekarang. Aku butuh asupan nutrisi buat lanjut hidup.
Sekarang Angle malah ngerebut kue pemberian ayah, dan membuang ke tengah jalan. "Jangan bikin masalah," kataku, lalu segera berjalan sempoyongan untuk mengambil kue yang terjatuh itu.
Tadi aku cuma sempet makan ayam. Kan udah diceritain, aku takut juga berubah jadi kue. Cuma karena udah yakin kalo ini pemberian ayah, pastinya ada doa kasih sayang tersalurkan di kue ini.
Sayangnya, dilempar sama manusia gak ada otak. Isinya cemburu dan iri aja pikirannya dia. Bodohnya aku. Sisa kebodohan ini, aku yang dapet bagian.
Tiiitttt! Brakk!!
__ADS_1
Aku tertabrak, ges. Setengah sadar aku genggam kue pemberian ayah. Hah, sial sekali.
Aku udah nyerah sama hidup ini. Membosankan.
--
"Sayang."
Malaikat jatuh hati sama aku kali, ya? Masa aku ngerasa ada yang cium pipi aku lagi. Mana ngasi peluk nyaman sama kayak malam itu lagi.
Aduh! "Pergi!" Kali ini aku gak mau berhadapan sama keanehan di muka bumi. Selain pernah jadi mozarella, aku udah gak kuat buat jadi sehat lagi.
Sial sekali. Dunia macam apa ini? Oh, ternyata mimpi. Aku belum sadar, ges. Tcih! Gak sekalian apa mati? Isi acara koma segala lagi.
Bikin mati aja ribet. Aku menyilangkan kedua kaki. Aku lihat sekarang, ayah lagi jenguk aku tanpa meneteskan air mata setetes pun.
Mau dibilang jahat juga, pada dasarnya orang aku yang berharap kegedean. Ayah cuma berdiri sambil bawa buket bunga—bunga apa, ya itu? Aku gak ngerti dan gak tau macam-macam bunga.
Apa jangan-jangan...., Ayah sudah siap menyambut kematianku?Â
GAK! Aku pengen hidup! Aku pengen dipeluk ayah.
"Santi anak ayah." AYAH! INI SANTI! Aku denger, Ayah! Ayo keluarkan isi hati ayah! Santi pengen dibawa ayah! Kita harus bahagia!
"Ayah...," Loh kok ayah nyabut pipa dihidungku?! Apa-apaan ini?!
"Maaf.., Ayah rasa kamu membebani Ayah. Tenanglah bersama Ibumu. Kamu selalu penasaran dengan Ibumu, bukan? Maka Ayah memberikan kesempatan itu." WAIT?!
Ayah? Ayah gak becanda, kan? Gak gitu konsepnya, ayah! Aku masih pengen hidup sama ayah!!
"Ayah punya anak lagi. Dan itu rasa sudah menambah beban lagi. Maaf sayang..., "
AYAH GILAA!!
----
Wkwkwk! Aneh banget chapter ini😠Aku nulis apa yang lewat dikepala aja.
Niatnya gak gini kok. Awalnya bikin dia hidup sama ayahnya, kok jadi ngene😔
Dahlah. Apa nanti dia akan ke alam fiksi dan bertransmigrasi? Tidak akan, yaa 💘🥰
__ADS_1