TABELARD

TABELARD
5. Makanan Untuk Teman


__ADS_3

Bagian Lima: Makanan Untuk Teman


...---...


Setiap detik aku amati. Jarum jam terasa berjalan sangat lambat. Sudah waktunya aku menantikan hari ini. Yaitu saat tengah malam tiba. Hari ini aku sudah bertambah dewasa dan tentunya bertambah pintar. Namun, tidak bertambah baik.


Buktinya sekarang aku mencuri korek api kesayangan Argas untuk menyalakan lilin ulang tahun. Jantungku sudah berdetak kencang saat Ayah mengirimkan pesan kepadaku. Santi yang lucu ini sudah berumur delapan tahun!


Masih dengan bajuku yang lusuh—yang belum kucuci selama tiga hari, aku meniup lilin sambil mengucapkan doa. Hanya meniup lilin, tanpa memotong kue. Karena tidak ada kue disetiap ulang tahunku. Dan hal sekecil ini sudah membuatku berdebar senang.


Ada sensasi lain ketika merayakan ulang tahun ditengah malam seperti ini. Orang-orang rumah Argas sudah tidur, apalagi Argas. Ya, sampai saat ini aku masih suka menginap di rumah Argas. Habisnya rumahku sepi. Ayah bekerja setiap hari dan jarang pulang.


Mendengar token listrik berbunyi, sudah membuat tubuhku menegang. Ah, ayah pasti dapat jatah istirahat sedikit. Aku menoleh menatap wajah tidur Argas yang sama sekali tidak terganggu dengan tepukan yang kubuat. Hadeh, emang dasarnya kebo ya, kebo.


"Jelek! Bangun!" Aku membangunkan Argas, "diem!" Argas terganggu dengan suaraku.


Aku memajukan bibir, "Hari ini aku berulang tahun! Beri aku tidur diatas satu kali saja sebagai tanda spesialnya diriku! Ayo Argas, aku udah lebih dewasa!"


Pekikanku membuat mata Argas yang besar terbuka. Badannya yang besar itu sedikit menyingkir, dan menatap bantalku yang tergeletak dilantai. "Besar-besaran juga aku. Syukuri," balas Argas berkata.


Idiu. Aku memilin baju Argas. Sangat berharap Argas memberikan rasa kasihan kepadaku. Malam ini cuaca sangat dingin. Lantai yang aku tiduri juga tidak dialasi karpet atau semacamnya. Aku hanya bermaksud jika hari ini diriku kelas dua ini bisa tidur di kasur sekali saja.


Huh, maksudnya tuh, supaya Argas lebih mengerti bagaimana keadaanku. Argas kan, badannya gede. Jadi pastinya tidak akan kedinginan jika tidur dibawah sekalipun. Tapi dengarlah lontaran Argas, membuatku menyesal meminta dengan wajah berkaca-kaca seperti ini.


Huh! "Kalau gak mau, pulang tidur di rumah sendiri." Sakit hati tau! Suasana hatiku langsung berubah buruk.


Aku memilih berjongkok mengamati lelehan lilin yang telah padam. Pasti susah sekali untuk menopang diri sendiri dengan hasil keringat sendiri. Bukannya tunggu dijemput, malah jalan sendiri.


"Anak Ayah besok pagi harus udah dandan cantik. Ayah siapin kejutan buat Santi."


Sederhana, tapi mampu membuat aku kepikiran sepanjang malam. Percayakah kalian, bahwa malam itu Santi tidak tidur sedikitpun?


----

__ADS_1


Hari ini aku berdosa lagi. Aku mengira bahwa Ayah akan mengingkari janji kemarin malam. Rupanya itu tidak benar. Sekarang, puluhan anak berjejer di rumahku untuk ikut serta merayakan ulang tahunku.


Aku senang sekali! Demi apapun kali ini aku akan menjadikan Argas dan Angle sebagai pasangan terbaik di pestaku. Mereka berdua tampak serasi bernyanyi bersama diatas panggung, mengadakan lomba bernyanyi secara meriah. Aku sudah semangat sejak tadi.


Badanku ini terasa bugar. Walau tidak tidur semalaman, tapi cuaca yang cerah dengan keberadaan Ayah disampingku sudah menjadi kesempurnaan sederhana. Sejak tadi aku sudah mengangkat tangan, berharap Angle akan menunjukku. Eh, ternyata kacang lupa kulit.


Ini kan, ulang tahunku. Ini pesta kelahiranku. Jadi tidak ada larangan bagi tuan putri untuk ikut serta dalam kontes lomba bernyanyi anak-anak ini, kan? Aku juga mau diberi coklat! Coklat yang meleleh dilidahku ini sebagai tanda Ayah menyayangiku.


Aduh, Ayah bisa aja peka dengan keadaan. Aku memeluk leher ayah erat, dan mengecup pipinya. "SAYANG AYAH!" Aku berteriak keras mendeklarasikan bahwa inilah pahlawanku!


Ayah memangku sambil menyanyikan lagu yang sangat merdu didengar oleh telingaku. Tangan ayah sudah memberi tempo yang benar untuk lirik lagi yang dia nyanyikan.


"Maafkan Ayah, sayangku.


Maafkan Ibu, sayangku.


Berilah dunia kebahagiaan, sayangku.


Cintai dunia, oh, sayangku."


Dan Ayah mengabulkannya. Ayah mengecup keningku lama dan menjawab, "Tentu sayang."


Huacih! Aku menggosok hidung saat Ayah membantuku mengeluarkan sesuatu yang asin dan licin ditangan. "Sesak, Yah," aduku kepada ayah.


Sungguh, inilah karma yang aku dapatkan. Akibat bergadang semalaman, tubuhku menjadi kurang sehat. Aku pilek. Dan Ayah berusaha mengeluarkan bakteri itu menggunakan mulutnya. Ayah menyedot sesuatu yang menjijikan itu agar keluar dan membuatku lega.


"Nah sekarang, udah mendingan?" tanya Ayah lembut.


"Sudah, Ayah." Aku menutup mata saat Ayah mengecup kedua mataku dengan kasih sayang. Rasanya seribu kupu-kupu berhamburan diperutku.


Aku sangat-sangat bahagia! Aku dan Argas beradu kehebatan dimeja makan. Sebelum acara potong gue berlangsung, aku memprotes Argas agar tidak menghabiskan semua makanan di pesta. Tapi sungguh, badak, ya badak. Argas malah memasukkan sebagian porsi makanan kedalam perutnya.


Iuh! Dasar perut karet! Jadilah aku ikut makan dengan rakus. "Argas jangan dihabisin!" Aku berkata seperti itu, walau diriku saja ikut makan dengan lahap.

__ADS_1


Tanganku dipegang oleh sesuatu yang sangat lembut, kemudian aku menangkap manik yang telah berani memegang tangan sakralku. Weh, aku ini habis pake body lotion pencerah kulit, tau! Siapa dia?!


Dia bermata teduh, matanya berwarna kuning seperti butiran layaknya musim semi. Perempuan cantik itu seumuran denganku dan sangatlah cantik melebihi tuan putri hari ini.


Wait?! Dengan mulut penuh, aku berseru, "Kakak Dosen!" Dia adalah orang Jenius yang aku maksud sejak kecil!


Astaga, ternyata dia berkembang sepertiku dan jauh lebih cantik! Waktu seperti berjalan melambat, dan hanya terdengar seruanku yang gembira akan kehadiran tamu tak diundang namun sangat memanjakan mata.


"Selamat ulang tahun, Santi." Saat mendengar suara lembut itu, tubuhku seperti tertelan oleh sesuatu. Tapi aku tidak masalah, karena cahaya terang menjagaku.


Aku bertepuk tangan meriah menerima hadiah dari anak kecil yang seumuran denganku itu. "Terima kasih!" cakapku tanpa belajar langsung mengerti apa yang anak gadis itu katakan.


Anak gadis itu menyingkirkan anak rambut yang menghalangi matanya, lalu menunjuk kue disebelahku. "Aku mau cicip, boleh?" tanyanya dengan suara begitu lembut.


Sontak aku mengangguk antusias. "Ya, silahkan!" Aku langsung merasa kenyang ketika dia menjilat krim kue lumer itu.


"Anakku? Teman-teman belum kebagian makanannya, lho." Ayah mengejutkan aku sekali. Aku menatap dengan wajah garang. Lalu? Apa masalahnya? Ini kan ulang tahunku. Aku juga baru memakan kue sebagian piring.


"Santi." Eh? Apa ini? Kenapa kue yang dimeja jadi habis begini? Aku menatap horor Argas, bersiap untuk menyerang. Tetapi, melihat posisi Argas yang menghilang, aku kelabakan.


Dimana bocah badak itu?! Aku mengedarkan mata dan menangkap Argas yang tengah asik memainkan lagu. Aku membelalakkan mata tak percaya. Aku? Siapa yang menghabiskan makanan ini?


Dan tanpa aku sadari, sejak tadi. Ralat, sejak malam tadi ada sepasang mata yang bernetra kuning mirip seperti gadis cantik itu, mengawasi pergerakannya. Dia berkelamin laki-laki dan sangat tampan. Didepan gerbang, dia melihat bagaimana pancaran mataku menikmati pesta ulang tahun ini.


Dia seperti mengamati—seperti ingin bergabung denganku dan anak-anak lain yang sebaya dengannya. Ditangannya juga ada sekotak hadiah besar yang sampai saat aku meninggal tidak kuketahui isi kotak besar itu.


----


Haloo!! Bagaimana chapter ini??


Masih kurang dengan masa kecil Santi?


Chapter depan Santi udah gede😻

__ADS_1


Siap menjadikan cerita ini ke daftar favorit?♥️♥️


Siapin aja, aku seneng banget😋💙


__ADS_2