TABELARD

TABELARD
4. Dia Sebuah Angin


__ADS_3

Bagian Empat: Dia Sebuah Angin


...----...


Argas menempelkan mayat Capung ke wajahku. Aku pasrah saja. Biarin mereka yang menanggung dosa, aku akan menjadi saksi untuk itu. Habisnya mereka kekanakan banget.


Lihat, dengan penuh semangat kedua temannya itu menangkap Capung yang tidak bersalah. Sekarang lagi musim Capung memang. Tapi, apa harus dimusnahkan begitu saja? Aku dengar populasi Capung sekarang kian menipis. Mereka mencabut sayap Capung itu, hingga mereka kemudian mati.


Sungguh kasihan. Aku memandangi mayat Capung yang ada di telapak tangan. Dia sangat lemah. Kemudian garis muncul diantara alisku. Aku berteriak lantang.


"ARGAS PEMBUNUH!" teriakku.


Bukannya takut, Argas malah menjulurkan lidah seolah itu memang kebenarannya. Aku berdecak kesal. Kesal karena aku terlena dan ingin ikut bersama mereka untuk membunuh Capung.


Aku menghampiri Angle dengan membawa sapu. Ternyata, Angle berbeda dengan Argas. Dia memang menangkap Capung, tapi tidak membunuh bahkan menyiksanya. Melainkan dia mengurungnya.


Itu.., termasuk penyiksaan? Tidak kok. Karena setelahnya aku memberi makan para Capung itu.


Aku memanggil Angle, "Angle, gantian. Aku mau nangkap Capungnya."


Angle melirikku sebentar, kemudian mendiamiku hingga aku kesal. "Angle!" rajukku.


"Kamu kan ada sapu," jawabnya.


Ini suara Angle kedengarannya kayak lagi marah. Aku juga bingung sekaligus heran. Setiap aku ikut bermain dengan Argas, pasti Angle langsung mendiamiku. Sebaliknya, jika aku diam saja, maka mereka akan asik bermain berduaan.


Aku tidak suka begitu. Aku cemburu. Kita kan, sahabatan. Kenapa rasanya seperti Angle menjauhiku? Tiba-tiba saja aku ingin menangis.


"Angle," panggilku, "apasih? Cari sendiri."


Tuhkan. Angle menatapku sinis. Mataku berkaca-kaca. "Aku mau pulang."


"Kok Santi pulang sekarang? Belum sore," ujar Argas menghampiriku.


Aku menangis sesegukan. "Mau pulang," kataku berlinang air mata.


Biar saja, pokoknya aku pengen pulang. Hawa sekitar menakutiku. Perasaanku berkata bahwa aku harus segera pergi dari sini.


"Aku ada salah? Kamu kenapa nangis?" Argas bertanya cemas.


Aku menatapnya tajam. Masa dia gak peka? Udah tau aku gak nyaman disini. Sekali lirik, tatapan Angle menusukku hingga ke paru-paru.


"Main aja sini, Argas." Angle menarik Argas melalui ucapan.


Aku menelan ludah, menatap Argas lagi. Memencet tombol berlemak itu, aku lalu menyeka air mata di pipiku. Sakit hati tau aku yang imut ini denger ucapan Angle barusan. Argas kan punyaku juga. Kenapa aku tidak diajak?


"Mau main di rumah Argas," cakapku membuat kerutan muncul di dahi Angle.

__ADS_1


Argas mengambil sapunya, kemudian memberikan kepadaku. "Ayo main bareng," ajaknya seraya tersenyum.


Aku diam. Diam-diam melirik Angle maksudnya. Duh, tatapan Angle menusuk lagi. Gak enak banget diliat begitu. Aku masih kecil, tau. Aku mengangguk mengajak Angle, tapi Angle memutar bola matanya sinis.


Hah? Wah, Angle memang jago akting. Akting marah maksudnya. Tanpa kata, melalui mimik wajah saja sudah membuatku ketar-ketir.


"Main sini." Angle berdiri di sebelahku. Tuhkan, aku ingin pergi saja. Angle seolah berkata sebaliknya. Aku ini ngerti apa maksud mereka. Keras banget hidupku.


"Jangan nangis lagi. Hey." Aku melotot waktu Argas tiba-tiba menyeka air mataku. Weh, Argas gembrot! Nyadar, kamu itu masih kecil!


Bukan karena cinta monyet, tapi ini jantungku berdetak. Ayah bilang ini tanda kasih sayang. Argas menapku lama. Duh, kan bikin aku ketawa.


"AHAHAHA....," Maaf, aku keblalasan ketawa. Habisnya wajah Argas kayak anak yang belum dijajanin sebulan. Ngakak banget pokoknya liatnya.


Sementara itu, ada mata yang sejak tadi menatapku garang. Yah, siapa lagi kalau bukan si Angle—si Pencemburu. Aku mengedipkan mata, sengaja memancing Angle.


"Kamu gak diajak." Aku melotot. Dih, gak tau apa kalau Argas klepek-klepek sama aku? Kamu tuh yang gak diajak. Bocah pede.


Aku memilih pulang untuk minum air. Dahaga juga nih tenggorokan. "Ayah!" pekikku senang.


Sebentar. Seharusnya Ayah bekerja di jam ini. Apa pulang lebih awal? Ayah selalu pulang malam ketika makan malam tiba. Aku lihat juga kakinya tidak sebesar kaki ayah. Siapa dia? Berani-beraninya duduk di kursi kesayangan Ayah.


Aku maju ingin melihat wajah itu. Eh, kulihat ternyata memang Ayah disana. "Ayah!" Ayahku budek, ya?


Oh, mungkin dia lagi bekerja. Aku menggaruk dagu mengamati punggung Ayah yang terlihat lebih besar. Bodo amat. Pokoknya nanti makan ayam.


"Ayah, aku mau main lagi!" Diijinin atau gak, pokoknya selama Ayah fokus bekerja, dia pasti akan memaklumi. Aku kan anaknya yang paling imut. Satu-satunya anak cantik yang dimiliki Ayah.


Aku mengambil mainan yang kubeli kemarin jaga-jaga bikin Angle cemburu lagi. Haha, lihat aja Angle pasti akan merebut mainanku.


"Satu, dua, empat, sembulan." Aku asik berhitung sambil menggoyangkan pantatku. Sengaja supaya Angle tertarik dengan mainanku.


Eh ternyata salah. Kayaknya Angle udah puas kalau ada Argas. Aku berkacak pinggang melihatnya. Ish, tak suka sekali lihat pemandangan romansa mereka berdua!


Cinta monyet aja bangga! Lihat aja, suatu hari nanti akan aku ambil Argas gembrot itu! Aku berdecih merasa kesal. Aku memandang mainan ular tangga yang tidak asik dimataku. Gak seru banget ternyata main sendiri.


Andai aja ada temen satu lagi, pasti gak ada yang terbuang. Huh, padahal sejujurnya kalau bercermin aku lebih cantik daripada Angle. Gak tau kenapa mungkin mata Argas buram karena terlalu gembrot.


Aku memutar benda kotak yang aku tak tau namanya. Sambil menumpu dagu, aku melihat interaksi kedua temanku malas. Ish! Aku jadi pengen cantik.


Di sekolah gak ada tuh yang terpesona sama kecantikanku. Mereka itu munafik semua. Padahal aku paling cantik di kelas. Tapi bahkan pagi-pagi aja mereka udah teriak-teriak gak jelas.


"Piket, Gemuk!" Gitu dong cara ngomongnya.


Body sempi banget. Gak nangis kok aku. Kan sudah kubilang kalau aku imut. Tapi tetep aja aku dijadiin babu sama mereka. Huh, suatu hari nanti pasti aku akan menyewa pembantu untuk kelasku. Enak aja nyuruh anak cantik sepertiku. 


Aku duduk bersama nenek Argas. Mending aku menguras uang nenek kalau begini. Sesekali aku lirik dompet nenek yang tebal itu. Hehe, nenek Argas kan baik.

__ADS_1


"Nek, mau main sama Santi?" Loh, dikacangin. Gini amat hidupku.


"Jangan main dadu itu." Nenek Argas berkata lagi, "nanti tidur sama nenek disini."


Aku menganga tidak mengerti. Belum sempat aku bertanya lagi, nenek Argas udah ngambil tongkat keramatnya, lalu pergi begitu saja. Emang Ayah kenapa? Ayah ada di rumah kan?


Biasanya sih aku tidur disini bersama nenek Argas. Atau gak aku tidur sama Argas karena rumah kosong. Tapi ini Ayah sudah pulang. Ah, malas juga, aku juga bisa merawat nenek kalau begitu, daripada harus tidur di lantai kalau bersama Argas gembrot.


Bosan juga lama-lama. Aku memilih main ular tangga, bodo amat sama perkataan Nenek Argas. Kan aku beli pakai uang sendiri. Eh, uang Nenek. Tapi tetep aja kemakan rasa bosan.


Aku mainkan benda kotak yang Nenek Argas bilang ini namanya dadu. Ahay, mirip Jadu yang penampilannya ganteng di tipi itu.


"Woah!" Aku mendapat tangga! Aku naikkan ke tangga itu. Hehe, aku gak bodoh banget kalau main mainan seunik ini. Aku garuk lagi pantatku, lalu mencari angka terbanyak di dadu.


Eh, ternyata ada yang mencul waktu aku menggaruk pantat. Gila! Ada yang muncul dari kotak mainan ular tangga! Ada anak kecil! Aku terjungkal kaget.


Mengusap wajah, emang sepertinya aku gak mimpi. "Loh, kamu yang di toko itu!" Woah, gilak! Bocah yang muntah gara-gara ngeliat aku itu ternyata muncul dihadapanku.


Tampan banget, gilak! Wajahnya merah banget. "Kenapa kamu ada disini?" Aku kepo cui. Aku kan sudah bilang, badanku aja yang kecil, tapi pikiranku udah dewasa. Masa iya ada anak kecil dari pantatku? Emang bakteri bisa gede seperti ini kalau digaruk?


Tapi kok aku dikacangin lagi. "Jelasin, hei!" Aku gak suka kalau begini. Mana dia nunduk lagi.


Waduh, dia muter dadu punyaku! Apa-apaan dia tidak minta ijin terlebih dahulu! "Woi bocah!" protesku tak terima.


Perlahan, aku amati dia menatapku seperti anjing. Anjing penurut kepada majikannya maksudnya.


Waduh, jago juga nih bocah main. Aku mengembangkan senyum senang. Gapapa deh, mungkin dia emang gak bisa ngomong. Yang penting aku punya temen bermain!


"Wle! Aku jalan duluan!" Aku meledek bocah itu habis-habisan. Mumpung dia diem aja, aku kalahin aja nih bocah. Nangis aja enggak, apalagi muntah. Syukurlah.


Kalau orang tuanya tau, aku bisa jelasin ke mereka.


Tapi permainanku terhenti, walau belum menentukan pemenang. Bocah tampan yang aku maksud tadi, yang menghabiskan waktu main ulat tangga bersamaku barusan menghilang begitu saja.


Dia menyatu dengan angin! Omaygat, aku terjungkal lagi!


"Santi." Aku terjungkal kembali ketika mendengar panggilan itu. Ternyata Argas gembrot! "Ayah kamu nelpon."


Aku segera bangkit melihat wajah Argas yang lebih berbeda. Agak sangar gimana gitu. Ah bodo amat! Aku melupakan kejadian tadi dan langsung menghampiri Nenek Argas karena rindu dengan Ayah!


Ayah baru ingat sama Putrinya saat malam saja!


"Sayang, malam ini Ayah tidak pulang, ya."


Begitulah kalimat yang Ayah lontarkan sebelum aku menangis dimandikan oleh Nenek Argas. Gak pelan-pelan nyabunnya!


...----...

__ADS_1


Haloo! Kembali lagi🤗💝


Bagaimana chapter ini?


__ADS_2