
“Oh Hey Sarah, apa yang kau lakukan disini?” Tegur seorang pria tengil yang dari suaranya saja sudah membuat Sarah mendengus jengkel.
Kendati merasa sedikit kaget dengan kedatangan manusia yang tak pernah ia harapkan kemunculannya, sebisa mungkin Sarah tak akan bergeming. Tetap ia sibuk dengan kegiatannya menyiapkan beberapa menu makan malam untuk Lucia.
“KELS!!” Pekik Sarah ketika dengan lancang tangan pria itu mengambil makanannya tanpa ijin. Mendelik kesal pun sangat ingin mendaratkan satu pukulan diwajah Kels dengan cukup keras.
“Keparat ini! Rasanya ingin aku cabik-cabik wajah tengilnya” teriaknya dalam hati, benar-benar mengutuk Kels.
Alih-alih takut, Kels lebih tertarik dengan makanan yang ia kunyah tanpa rasa bersalah didalam mulutnya “Wow, ini enak sekali. Katakan dimana kau membelinya” tanya Kels, tak ia hiraukan tatapan tajam Sarah.
“Kels bisakah satu hari saja kau tidak membuatku kesal, Hah?!” Tatapan Sarah belum lepas, tangannya pun gatal ingin mendaratkan pisau yang ia pegang ke dada Kels.
“Hahaha, santai-santai. Dari pada kau sibuk mengataiku dalam hati, lebih baik pergilah temui nona mu di atas sana. Sepertinya dia melakukan kecerobohan lagi” balas Kels, sembari mencicipi sekali lagi makanan yang disiapkan oleh Sarah.
“Nona? Melakukan kecerobohan?” Dalam hitungan detik rasa kesalnya lenyap, digantikan dengan perasaan panik pun takut kala mendengar nama Lucia disebut.
“Kecerobohan? Jangan bilang jika nona…” Sarah tengah menebak-nebak, apa maksud dari ucapan bajingan ini.
“Jadi dimana kau membeli maka-“
“Sial!” Pekik Sarah lantas secepat kilat berlari meninggalkan Kels. Tak akan ia peduli jika makanan itu dimakan habis.
“Oh Hey Sarah! Kau mau kemana?” Teriak Kels, walaupun sejatinya tahu kemana gadis galak itu akan pergi.
“Hah, Sarah yang malang.” Kini berdialog sendiri sembari menikmati makanan yang ditinggalkan oleh Sarah.
•
•
“Sshhh.. lebih cepat Jav.. nngghh..”
Rasanya telinga Lucia akan meledak saat ini juga, tidak kuasa jika terus-terusan mendengar suara-suara maksiat penuh kenikmatan ini.
“Jangan coba-coba menutup telingamu, sshhh!” Satu peringatan kembali terdengar dari bibir basah Javier. Walaupun ia tengah asik bercocok tanam disana, namun jangan kira tak memperhatikan Lucia.
Lucia mengurungkan niatnya, kembali ia bawa tangannya untuk meremas pinggiran sofa, terus berharap agar dirinya dapat menghilang begitu saja dari ruangan ini.
Ruangan yang dilengkapi pendingin udara, nyatanya tak membantu Lucia terlepas dari hawa panas yang menjalar di dalam tubuhnya. Sejak kali pertama masuk, lalu diminta untuk duduk dan menonton adegan bercinta di depan sana, darah di dalam tubuh Lucia benar-benar mendidih serta ingin meledak.
Bukan karena terangsang melihat adegan serta suara erotis kedua makhluk tidak tahu malu didepan sana, melainkan menahan rasa kesal serta malu. Dia benar-benar merasa di fase hilangnya kewarasan diri, orang gila sekalipun tak akan mau menonton adegan bercinta secara langsung di depan matanya.
“Perhatikan baik-baik, jangan pernah alihkan pandanganmu! Kau bisa mempelajarinya untuk malam panas kita selanjutnya” seru Javier sembari menyeringai licik. Benar-benar terlihat seperti seorang bajingan, santai-santai saja ia bergerak dengan wanita di atasnya tanpa merasa malu.
__ADS_1
“Keparat sialan! Bajingan gila ini, kenapa ia tak merasa malu sedikit pun” gerutu Lucia dalam hati. Rasanya semua umpatan kasar telah habis olehnya untuk mengutuk Javier.
“Siapa pun, tolong bawa aku pergi dari ruangan penuh akan dosa ini” pinta Lucia, tak henti berdoa agar ada seseorang datang menyelamatkannya.
TOK!! TOK!! TOK!!
Hey, doanya didengar!
Secepat kilat Lucia memandang ke arah pintu, ada sesuatu dari dalam dirinya merasa begitu beruntung. Oksigen yang sebelumnya terasa sangat minim, kini telah kembali penuh. Dapat Lucia rasakan desiran angin segar menerpa seluruh permukaaan tubuhnya, begitu lega hingga ia dapat menghirup udara dengan bebas.
“Sshh.. ja-, Hhmm ya terus, lebih cepat bby! Diam disana! Jangan coba-coba untuk membuka pintu-, Fuck” Javier kembali berucap dengan suara yang bercampur ******* penuh kenikmatan. Memberi perintah kepada Lucia sekaligus wanita yang berada di atasnya.
“Bi-,biarkan saja dia pergi Jav..! Kita bisa-,Sshh menikmati waktu lebih lama-,aakhhh!” Kini wanita yang tengah bekerja keras untuk membantu pelepasan Javier, mulai mengutarakan pendapatnya.
“Lalukan tugasmu dan jangan ikut campur dengan urusanku!” Balas Javier dengan tegas.
Sontak gadis yang bernama Cassandra Valey, terdiam dan kembali fokus pada tugasnya untuk memuaskan pria yang begitu ia cintai. Sempat ia lirik dengan tatapan tajam gadis yang duduk didepan sana. Sudah ia tandai wanita itu karena telah berani menganggu kegiatannya dengan Javier.
“Sshh Jav-, pelan-,aakkhh terlalu dalam. Nngghh,-“
Entah sejak kapan mereka telah merubah posisi, jika tidak salah dalam menebak, keduanya telah bersiap untuk mencapai titik kenikmatan masing-masing. Tentu itu membuat Lucia semakin muak, suara dari keduanya terasa menusuk gendang telinganya.
***
Diluar sana, Sarah tengah berusaha untuk menolong Lucia yang terjebak didalam sana. Tahu bahkan sangat tahu apa yang tengah terjadi dan bagaimana ia mengkhawatirkan keadaan Lucia. Sungguh menyesal karena ia tak mengantarkan Lucia kembali ke kamarnya, memastikan jika gadis itu tak melakukan kecerobohan. Jadilah sekarang ia harus siap menanggung resikonya.
CEKLEK!!
Pintu akhirnya terbuka, walaupun Sarah merasa khawatir, tetap ia jaga kesopanannya untuk mundur beberapa langkah, membiarkan pintu itu terbuka sepenuhnya.
“Kak Sa-,Sarah..” seorang gadis memanggilnya lirih, segera ia angkat kepalanya dan membawa gadis itu keluar.
“Nona! Kau baik-baik saja?! Apa yang terjadi?! Bagaimana anda bisa masuk ke dalam?!” Tanya Sarah bertubi-tubi, mendekap nonanya itu erat.
Lucia kini menangis “Maafkan kecerobohanku kak Sarah” gumamnya di pelukan Sarah sembari terisak.
“Tidak apa nona, saya yang harus meminta maaf karena lalai” balas Sarah, coba ia tenangkan gadis didalam pelukannya.
Keduanya yang tengah sibuk saling menenangkan, dibuat terkejut dengan kedatangan sepasang sejoli dari dalam sana.
“Terima kasih untuk hari ini Jav. Sampai jumpa di lain kesempatan” seru Cassandra yang hendak pergi dari tempat itu. Masih sempat ia memberi sebuah kecupan di bibir Javier, tanpa perasaan malu kepada dua manusi dihadapannya.
Sarah tidaklah terkejut sedikit pun karena ini pemandangan yang sudah biasa ia lihat selama bekerja dimansion Javier.
__ADS_1
“Hhmm pergilah!” Usir Javier yang disanggupi saat itu juga oleh Cassandra.
Suasana hening seketika, Sarah kini menundukkan kepala kala berhadapan dengan tuannya. Lucia masih tetap ia peluk dengan erat, membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya.
“Bantu dia bersiap, aku akan mengajaknya pergi malam ini” titah Javier kepada Sarah lantas pergi begitu saja tanpa memberinya sebuah teguran atas kelalaiannya. Ini sangat aneh bagi Sarah sekaligus merasa ngeri akan sesuatu yang akan terjadi setelah ini. Sebab bagi seorang Javier, seseorang yang melakukan kesalahan wajib diberi hukuman.
“Ba-baik tuan” jawabnya singkat.
“Nona, tuan sudah pergi” seru Sarah, mencoba untuk melerai pelukannya dengan Lucia.
“Apakah tuan melakukan sesuatu pada anda didalam?” Lucia menggeleng pelan, karena memang ia tak disentuh oleh bajingan itu.
Sarah menghela nafas lega, ia yakin Lucia tidaklah berbohong jika melihat kondisinya sekarang “Syukurlah, sekarang ayo kita kembali ke kamar anda”
Baru beberapa langkah mereka beranjak dari tempat itu, tiba-tiba seseorang datang. Tanpa aba-aba menyambar Sarah, menyerang lehernya dan membenturkan tubuh kurus itu ke dinding. Ini begitu cepat, bahkan Lucia tak sempat berkedip.
“Aakkhhh-, tu-an..” Suara Sarah tercekat, kala tangan kekar seorang pria tengah mencekal lehernya kuat-kuat.
“KAK SARAH!!” Lucia kembali terpekik kaget ketika wajah cantik sarah di hadiahkan sebuah tamparan keras. Kondisi leher sarah masihlah di cekal dan kini di tampar hingga sudut bibirnya berdarah.
“HEY!! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan Kak sarah!!” Bentak Lucia, mencoba untuk mendekati keduanya demi menyelamatkan sarah yang hampir kehabisan nafasnya.
“Diam ditempat anda atau leher pelayan ini ku patahkan!” Titah Miguel tegas, sorot matanya dingin tajam, memberi sebuah peringatan kepada Lucia. Sontak gadis itu membeku, aura dominan Miguel benar-benar membuatnya sesak.
Ini lah yang dimaksud oleh Sarah, mungkin Javier melepaskannya namun tidak dengan Miguel. Hukuman dari Javier akan lebih mudah baginya untuk diterima jika dibandingkan dengan hukuman dari Miguel. Pria berwajah datar ini tak akan segan menyiksa si pembuat onar tanpa memandang gender serta tak berlandaskan rasa kasian.
“Ini adalah peringatan terakhir untukmu, Sarah! Sekali lagi kau berbuat lalai dan membuat kesalahan, ku pastikan tak akan ada udara yang masuk ke dalam paru-parumu!” Ujar Miguel, ditatap dengan begitu tajamnya wanita yang hampir menutup matanya karena mulai kehabisan oksigen. Setelahnya ia jatuhkan dengan kasar ke dasar lantai dingin dan pergi tanpa rasa kasian.
“Kak Sarah” Lucia berlari menghampiri Sarah yang tengah bersusah payah menghirup udara sebanyak-banyaknya. Terbatuk tak henti sembari memegangi dadanya.
“Kakak baik-baik saja?!..” Lucia benar-benar panik, sesekali mengguncang tubuh Sarah yang masih bersimpuh dengan bertumpukan pada kedua lututnya.
“Aku baik-baik saja nona..” jawabnya dengan kondisi yang masih terbatuk-batuk.
“Tapi bibirmu terluka kak! Kenapa dia begitu kejam?!” Pekik Lucia, sontak kesal dengan sekretaris Javier.
“Tidak apa nona, sudah sepantasnya saya mendapat hukuman atas kelalaian hari ini” balas Sarah dengan sorot mata sayu, tetap ia usahakan untuk tersenyum demi menghilangkan kepanikan di hati Lucia.
Apa yang ia katakan tidaklah bohong, ini memang hukuman yang akan ia terima setiap kali melakukan kesalahan. Namun kali ini cukup mengejutkan dan sedikit lebih keras jika dibandingkan dengan yang sebelumnya.
“Maafkan aku, ini semua karena kecerobohanku” Lucia kembali menangis bahkan dalam penyesalan.
“Sstt, jangan menyalahkan diri anda nona. Lebih baik kita kembali ke kamar anda. Tuan mengatakan akan mengajak anda pergi malam ini dan saya akan membantu anda untuk bersiap” ajak Sarah
__ADS_1
Lucia tak bertanya ataupun melakukan penolakan. Melihat dari kondisi Sarah saat ini, sudah dipastikan akan ada hukuman lagi jika ia menolak permintaan Javier. Tidak apa jika hukuman itu diterima olehnya, bukan kepada orang lain. Akan lebih baik jika ia menurut saja demi keselamatan Sarah.
Bersambung....