Tahanan Sang Mafia

Tahanan Sang Mafia
CH-9


__ADS_3

Pagi ini, Lucia begitu bersemangat untuk menyambut hari yang cerah setelah melewati satu malam yang melelahkan. Perasaan sedih bercampur penyesalan mendalam, seolah sirna begitu dirinya diijinkan untuk bertemu dengan sang adik. Bahkan terkhusus hari ini, ia terbangun lebih awal demi menyiapkan diri untuk pergi ke rumah sakit.


“Nona masuklah, saya akan menunggu disini” seru Sarah, membuyarkan lamunan Lucia. Agak sedikit aneh melihat nonanya hanya berdiri di depan pintu dengan tatapan kosong, seolah takut untuk masuk ke dalam sana, padahal diperjalanan ia nampak sangat exited.


Lucia menoleh pun mengangguk “Kakak tidak ikut? Kenapa?”


“Saya tidak mau menggganggu moment anda. Setidaknya jika anda ingin menangis, tak perlu malu kepada siapapun” balas Sarah, sempat-sempatnya ia melemparkan candaan kepada Lucia.


Bibir Lucia mengerucut kesal karena Sarah sangat senang sekali menggodanya. Setelah kejadian kemarin, mereka berdua sudah sepakat untuk menjadi teman. Tentu Lucia sangat senang, setidaknya di mansion yang dipenuhi dengan manusia berwajah datar, masih ada Sarah si cantik yang ramah.


“Cckk, siapa bilang aku akan menangis” sanggahnya tak terima.


Sarah hanya bisa tertawa pelan menanggapi ketidaksetujuan Lucia, padahal sangat jelas mata gadis ini tengah memerah. Fakta yang begitu cepat ia dapatkan ialah, seorang Lucia tidak segalak yang dikira. Walaupun di awal pertemuan mereka, Sarah disuguhkan dengan wajah jutek dan galak dari Lucia, namun ternyata nonanya ini begitu lucu serta menggemaskan.


“Baiklah-baiklah, anda tidak menangis.” Sarah mengalah, dipersilakan nonanya untuk masuk dengan membantu membukakan pintu ruangan itu. Dibalas juga oleh Lucia dengan senyuman hangat, yang hanya akan ia tujukan kepada orang-orang tertentu, dan Sarah adalah salah satu orang beruntung itu.


Lucia masuk ke dalam sana dengan perasaan rindu mendalam terhadap sang adik. Belum genap beberapa langkah, nyatanya buliran bening sudah luruh tanpa bisa di cegah. Walaupun ia tahu jika sang adik telah dioperasi, namun entah mengapa hatinya masih sedih. Adiknya tetap terbaring lemas dengan berbagai alat yang selama ini bertugas untuk menjaga Ellio tetap terlihat seperti manusia hidup.


“Dokter Rey..” sapanya dengan mulut bergetar menahan tangis yang siap pecah kapan saja. Kembali ia ajak kakinya melangkah maju.


Reynald menoleh lantas tersenyum kala mendapati Lucia tengah mendekat ke arahnya ”Lucia, kau disini?”


“Bagaimana keadaan Ellio dok?” Tanya Lucia begitu to the point.


“Operasinya berjalan lancar dan sekarang kita hanya perlu menunggu Ellio sadar. Tidak ada yang dikhawatirkan, semua akan baik-baik saja” Reynald menepuk pelan pundak Lucia, menyalurkan ketenangan melalui sorot matanya yang teduh.


Lucia mengangguk paham lantas menjatuhkan pandangannya pada sang adik, mengunci fokusnya untuk beberapa detik sebelum memutuskan untuk kembali pada Reynald.


“Terima kasih sudah bekerja keras untuk adikku dokter Rey” Lucia memberi senyuman terbaiknya, seperti yang selalu ia lakukan setiap kali bertemu dengan pria ini. Seorang dokter muda yang ia temui 10 tahun lalu. Seolah menolak untuk berpatokan pada umurnya yang sudah kepala 3, Reynald tetaplah tampan dan semakin sexy, itulah yang selalu Lucia pikirkan setiap kali bertemu.

__ADS_1


“Aku tidak akan bisa berbuat apa-apa, tanpa kerja keras darimu Lucia. Terima kasih sudah menjadi gadis yang kuat, aku sungguh bangga dapat mengenalmu selama 10 tahun terakhir.” Tangan Reynald terangkat, menyentuh lembut pipi Lucia guna menghapus sisa air mata.


“Jantungku!” Pekik Lucia dalam hati. Lantas cepat-cepat ia mundur, sedikit memberi jarak antara dirinya dan Reynal, demi keamanan jantungnya yang entah kenapa berpacu cepat.


“Ah iya, bagaimana kau bisa membujuk pimpinan rumah sakit untuk mendapat keringanan biaya operasi Ellio? Kau tahu, ini sangat luar biasa Lucia. Banyak dari rekan-rekanku yang tidak yakin akan hal itu sebelumnya” Reynald mengalihkan pembicaraan, peka dengan reaksi Lucia yang terkejut dengan apa yang ia lakukan.


Kali ini bukan kaget, melainkan panik serta bingung harus menjawab seperti apa pertanyaan dari Reynald. Sangat memalukan jika ia mengatakan telah menjual diri untuk biaya rumah sakit sang adik.


“Hhmm itu-, aku mengatakan akan membayar biayanya dengan cara menyicil dan ia setuju, dengan syarat bunganya yang sedikit lebih besar. Aku juga diminta bekerja menjadi pelayan dirumahnya” bohong Lucia, mengatakan semua itu dengan ekspresi panik.


Reynald mengangguk “Syukurlah kau sudah mendapat jalan keluarnya. Maaf karena aku benar-benar tak bisa membantumu”


“Jangan berbicara seperti itu dok, operasi ini tidak akan terjadi tanpa bantuanmu. Kau sudah bersama kami selama sepuluh tahun lamanya, jadi tidak ada alasan untukmu merasa tidak membantuku” potong Lucia yang membuat Reynald tak kuasa untuk tidak tersenyum lebar sekarang.


Sekitar 30 menit lamanya, mereka menghambiskan waktu didalam sana. Mengobrol dan membicarakan apa yang harus dilakukan setelah Ellio sembuh nanti. Bahkan terselip rencana, akan ada piknik bersama jika keadaan benar-benar sudah membaik.




“Kak Sarah, aku benar-benar minta maaf telah membuatmu menunggu lama” ini adalah kali kelima ia mengucapkan kalimat yang sama. Menatap sendu dengan perasaan amat bersalah kepada Sarah.


“Tidak apa nona, saya sangat mengerti dengan apa yang nona rasakan. Terlebih ini menyangkut seseorang yang kita cintai” Sarah pun sudah menjelaskan kepada Lucia jika dirinya tidak marah, benar-benar tidak marah.


“Tapi aku membuat kakak kehilangan jam makan siang” cicitnya hampir-hampir menangis.


“Saya sudah membeli beberapa makanan nona ketika anda berada di dalam. Saya tahu jika anda akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk berada di dalam sana. Bahkan saya juga membelikan beberapa untuk anda, lihat” Sarah menunjukkan pada satu paperbag, tentu didalamnya ada makanan yang ia pesan juga untuk Lucia.


Lucia semakin terharu, tanpa sadar kembali menitikkan air mata. Bagaimana bisa ada manusia sepengertian dan begitu perhatian, seperti Sarah.

__ADS_1


“Sstt nona jangan menangis lagi, kita akan segera sampai. Jangan sampai tuan Miguel mengira telah terjadi sesuatu dengan anda. Dia cerewet tahu..” cegah Sarah diiringi suara tawa pelan, kala mobil yang ia kemudikan telah memasuki area mansion.


Lucia mengangguk patuh, sejujurnya ia tak ingin menangis, namun entah mengapa akhir-akhir menjadi begitu sensitif.


Mobil telah terparkir di area mansion, turunlah kedua gadis itu dan berjalan beriringan untuk masuk ke dalam. Sempat Sarah lirik mobil hitam milik tuannya di lobby mansion, itu artinya sang pemilik rumah sudah tiba. Namun ada sesuatu yang membuatnya sedikit berdecak malas, mendapati mobil lain juga terparkir disana.


“Nona, setelah ini anda pergilah kekamar. Jangan hiraukan apapun yang anda dengar nanti dan jangan coba-coba untuk penasaran, Ok. Silakan anda membersihkan diri dan saya akan ke dapur untuk memanaskan makanan ini.” pinta Sarah, ia takut jika Lucia tanpa sengaja mengganggu kegiatan tuannya.


Lucia yang sejujurnya tidak mengerti, hanya bisa mengangguk patuh. Ini terdengar seperti sebuah perintah dan tentu Lucia harus mengikutinya. Mereka berdua akhirnya berpisah setelah sampai pada tangga yang akan mengantar Lucia ke kamarnya.


Seperti sebuah bencana bagi Lucia, kini ia dihadapkan pada kebingungan untuk menentukan pintu kamarnya sendiri. Tiga hari berada di tempat ini tak lantas membuat Lucia hafal dengan semua hal, terlampau singkat pikirnya.


“Cckk kenapa aku baru sadar jika ada dua kamar” gerutunya, masih berdiri diantara dua pintu. Tidak heran mengapa ia tak tahu letak strategis kamarnya sendiri, sebab setiap kali keluar masuk kamar ia selalu ditemani Sarah. Cerobohnya lagi, ia tak pernah perduli dengan sekitarnya.


“Baiklah, pilih salah satu dan selesai” gumam Lucia, secara acak ia memilih salah satu pintu itu tanpa memikirkan akibatnya.


Dan ya, kesialan atas tingkah cerobohnya itu membuahkan hasil. Matanya melotot hampir-hampir keluar begitu juga telinganya yang langsung berdengung, serta membeku seluruh tubuh dan darahnya saat itu juga. Bukan hanya Lucia yang terkejut, tapi dua orang penghuni asli ruangan itupun sama kagetnya.


“Oh hei, ada tamu rupanya” celetuk seorang pria yang tengah berbaring penuh keringat dengan seorang wanita berada di atasnya.


Gugup pun tak tahu harus berbuat apa, ini kali pertama Lucia melihat adegan bercinta sepasang sejoli dengan mata kepalanya sendiri. Malu, tak seharusnya ia merasakan hal ini mengingat dua orang disana lah yang tengah bertelanjang dengan intim yang masih menyatu. Namun entah mengapa ia yang merasa bertelanjang dan ditonton oleh dua pasangan itu.


“Ah-,ma-af, aku salah masuk..” hendak berbalik lalu menghilang dari penglihatan mereka, buru-buru Lucia meraih gagang pintu.


“Jika kau berani keluar, maka aku pastikan semua alat yang menempel pada tubuh adikmu, terlepas sekarang juga” ancam pria itu yang tak lain adalah Javier.


Tangannya yang sudah bersiap menekan knop, lantas lesu dengan perasaan yang semakin memburuk.


Javier menyeringai tipis, ini seperti sebuah kebetulan baginya. Terlintas ide yang sangat berilian dari dalam kepala.

__ADS_1


“Persiapkan dirimu dan bergabunglah dengan kami” titahnya kepada Lucia.


Bersambung...


__ADS_2