Tahanan Sang Mafia

Tahanan Sang Mafia
CH-8


__ADS_3

Ketukan pintu yang berulang pun suara bising burung-burung diluar sana berhasil menyadarkan Lucia dari tidurnya. Lebih tepatnya ia tak sadarkan diri setelah dihantam dengan begitu brutalnya oleh bajingan bernama Javier. Sempat menduga jika pria itu tak akan tega menyentuhnya, mengingat pria itu sempat membeku setelah mengetahui fakta tentang dirinya , namun ternyata Javier tetaplah seorang bajingan yang haus akan lubang wanita. Alih-alih merasa iba pun kasian dengan dirinya yang tak ternoda, nyatanya Javier semakin berambisi dan berakhir pada kegiatan panas penuh rasa sakit.


Masih terngiang didalam pikirannya, bagaimana pergulatan panas mereka tadi malam. Rasa sakit yang ia rasakan tertanam jelas. Tanpa ampun Javier menghantam kue apemnya dibawah sana hingga terasa bengkak pun melebar. Sudah ia menjerit, memohon ampun agar Javier menghentikan aksinya namun pria itu seolah tuli, terus saja bergerak tanpa memperdulikan apapun. Entah kegiatan itu dilakukan sampai berapa ronde, sungguh Lucia tidak mampu mengingatnya. Yang ia tahu tubuhnya terasa kebas pun remuk bermandikan keringat dari keduanya, basah lengket bercampur menjadi satu. Lantas tak heran jika Lucia sampai tak sadarkan diri tadi malam.


Dan kini dibalik selimut tebal yang membungkus tubuhnya, Lucia menggeliat malas. Walau terasa sulit, ia coba regangkan sendi-sendinya yang kaku. Dipaksa kedua matanya terbuka, meskipun sekedar mengintip keadaan sekitar. Sekelebat cahaya terang yang masuk melalui celah korden, memaksa Lucia untuk kembali terpejam erat.


“Selamat pagi nona Lucia” sapa seseorang ramah dan Lucia mendengarnya dengan sangat jelas.


Kembali ia berusaha mengintip dari balik selimut, nampak olehnya seorang gadis muda tengah berdiri dengan senyum mengembang ramah.


“Maaf karena telah lancang mengganggu tidur anda nona. Hanya saja, tolong ijinkan saja membersihkan ruangan ini sebentar saja agar nona bisa tidur lebih nyaman nantinya” gadis muda itu kembali bersuara, tahu jika Lucia telah terbangun namun enggan untuk menyapanya.


“Eenngghh.. sshhh” Lucia mendesis serak, sesuatu dibawah sana benar-benar terasa ngilu padahal dirinya tidak bergerak secara berlebihan.


“Nona anda baik-baik saja?” Tanya sang maid, benar-benar khawatir dengan Lucia. Sungguhlah ia tak sebodoh itu jika tidak tahu akan bencana yang terjadi tadi malam diruangan ini dan bagaimana keadaan korbannya sekarang. 10 tahun ialah waktu yang cukup untuk mengenal tuannya yang begitu brutal jika berurusan dengan seorang wanita cantik.


Nampak kepala Lucia mengangguk lesu dibalik selimut, sejujurnya sangat ingin berbicara namun sayang tenggorokan terlampau kering. Seolah tahu apa yang tengah dirasakan oleh Lucia, sang maid lantas bergegas mengambil segelas air lalu menawarkan kepadanya.


“Mari nona saya bantu” perlahan namun pasti, ia coba dekati gadis malang, korban dari kekejaman tuannya. Ia singkap perlahan selimut tebal itu hingga menampilkan wajah pucat dengan mata bengkak serta bibir sedikit lecet. Merasa tidak ada penolakan, barulah ia tawarkan kembali segelas air putih kepada Lucia.


“Hhmm.. nona, perkenalkan nama saya Sarah. Mulai hari ini, saya yang bertanggung jawab untuk semua kebutuhan nona di mansion ini” ujar Sarah sembari tetap membantu Lucia untuk melegakan tenggorokannya.


Mata Lucia bergerak, memberanikan diri untuk membalas tatapan Sarah yang tetaplah ramah. Tanpa ia sadari, segelas air yang ditawarkan telah tandas tak bersisa, benar-benar ia sehaus itu bahkan bisa dikatakan mengalami dehidrasi.


“Beritahu saya, apa yang anda inginkan saat ini?” Sarah benar-benar tak ingin memaksa Lucia untuk melakukan apapun tanpa kemauannya sendiri. Cukuplah gadis ini dipaksa semalaman dan sekarang biarkan ia memilih.


“Hy Sarah..” alih-alih memberitahu keinginannya, Lucia baru sempat menyapa dengan senyum tipis.


Sarah mengangguk, tersenyum semakin hangat ke arah Lucia “Boleh aku tahu ini jam berapa?” Tanya Lucia ragu-ragu.


Sarah melirik pada jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya “Pukul 11 siang nona.”


Kontan mata Lucia melotot kaget namun tak sampe terpikik “Pantas saja perutku terasa perih” gumamnya dalam hati.


“Maaf nona karena saya tidak membangunkan anda lebih awal. Saya takut mengganggu tidur anda pagi tadi.” Imbuh Sara.


Lucia mengangguk “Tidak apa, terima kasih karena kau sudah membangunkanku.”


Sarah sedikit bernafas lega, ia kira Lucia akan marah”Sekarang beritahu saya, hal apa yang ingin anda lalukan terlebih dahulu? ” tanya sarah begitu perhatian. Ia benar-benar memperlakukan Lucia sebaik yang ia bisa.


“Saya sudah menyiapkan air hangat untuk anda berendam sebentar. Pada lemari anda sudah saya letakkan beberapa stel baju dan anda bebas memilihnya. Dan setelah itu, saya akan kembali untuk membawakan anda makan siang.” Urai Sarah kala melihat nonanya masih menimbang-nimbang.


“Baiklah, aku mengerti. Terima kasih Sarah” ucap Lucia, nampaknya berendam sebentar akan membuat tubuhnya sedikit merasa segar.


Sarah mengangguk lagi “Apakah ada hal lain lagi yang anda butuhkan nona?”


Lucia nampak berpikir dan terkesan ragu-ragu “Hhmm.. apakah ada obat pereda nyeri?” Cicitnya

__ADS_1


“Ada nona, saya sudah menyiapkannya dan dapat anda minum setelah makan siang nanti” jawab Sarah.


Lucia sedikit terkejut dengan jawaban Sarah “Su-sudah menyiapkannya? Bagaimana bisa?” Celetuknya.


Sarah lantas tersenyum mengembang “Tuan Luz sendiri yang memintanya pagi tadi, nona”


Sontak wajah Lucia merah padam, jika Javier meminta kepada Sarah untuk menyiapkan obat untuknya, itu berarti gadis muda ini tahu apa yang sudah terjadi tadi malam.


“Silakan membersihkan diri nona, saya akan membereskan kamar ini selagi anda berada didalam” ucap Sarah lagi, membuyarkan lamunan Lucia.


“Ah baik, terima kasih Sarah” balas Lucia malu-malu. Lantas ia bergegas untuk berdiri, masih dengan selimut menggulung seluruh bagian tubuhnya yang tidak dilapisi kain apapun.


“Mau saya bantu nona?” Sarah menawarkan diri namun ditolak dengan gelengan kepala oleh Lucia. Bagaimana bisa gadis ini dibilang lebih tua darinya, melihat dari tingkahnya yang malu-malu dan wajahnya yang merah bak kepiting rebus, membuat Sarah begitu gemas.


Lucia melangkah dengan sangat berhati-hati, alasannya sudah pasti karena bagian bawahnya terasa ngilu pun perih. Bisa saja dibawah sana lecet atau bahkan robek, karena jika diingat-ingat ular Javier cukup besar.


“Hhmm Sarah..” langkah Lucia terhenti dan kini kembali menolehkan kepalanya kebelakang.


“Iya nona, anda memerlukan sesuatu?”


“Maaf jika tidak sopan, boleh aku tahu usiamu?”


Sarah mengangguk “Usia saya 28 tahun nona”


Lucia sedikit terkesiap, ternyata gadis ini lebih tua darinya. Ia tertipu dengan wajah Sarah yang nampak lebih muda dari usianya sekarang “Hhmm kalau begitu, bolehkah aku memanggilmu kakak saja. Akan sangat tidak sopan jika memanggil nama, seseorang yang lebih tua dari kita”


“Apapun yang membuat anda nyaman, lakukanlah nona” balas Sarah yang dibalas dengan senyuman lebar oleh Lucia.


Tubuh Lucia terasa pulih kembali setelah membersihkan diri dan mengisi perutnya dengan beberapa menu makan siang yang rasanya begitu lezat. Moodnya juga sedikit membaik, terlebih karena tak melihat wajah Javier serta malam ini ia sudah terbebas dari tempat ini.


Namun sayang suasana hatinya yang bagus itu tak bertahan lama, sebab bajingan itu sudah muncul dihadapannya bahkan dengan tidak tahu malunya mengajak Lucia untuk makan malam.


“Bagaimana keadaanmu?” Celetuk Javier di sela-sela kegiatannya mengunyah makanan.


Kepala Lucia terangkat, menatap singkat pada Javier “Menurutmu?” Balik bertanya sembari tetap menikmati makanannya.


Sudut bibir Javier tertarik, terkekeh rendah “Aku lihat kau jauh lebih baik jika dibandingkan malam tadi. Makanlah yang banyak agar ketika kita bercinta lagi, kau tidak pingsan”


Tersedak pun hampir Lucia mengeluarkan makanan yang ia kunyah kala mendengar kalimat frontal keluar dari mulut Javier.


“Aku kira kau adalah wanita kuat, ternyata cukup lemah” imbuh Javier


“Diam! Apa kau mencoba untuk membunuhku, Hah!” Pekik Lucia kesal dan hanya ditanggapi dengan tawa mengejek oleh Javier.


“Mulut bajingan ini benar-benar tidak tahu malu sama seperti sifatnya” gerutu Lucia dalam hati.


Sesaat tidak ada obrolan diantara keduanya, hingga kembali Javier berucap setelah makanannya habis

__ADS_1


“Adikmu sudah mendapat penanganan dan operasinya sukses. Kau bisa mengunjunginya dua hari lagi, begitu pesan dari dokter” nampak mata Lucia berbinar mendengar hal itu. Seketika rasa kesalnya menguap begitu mendengar kabar dari sang adik.


“Hah syukurlah” gumamnya pelan


“Itu berarti kita impas dan aku akan segera pergi dari sini” balas Lucia begitu bersemangat. Sudah ia kubur dalam kejadian malam tadi untuk kabar baik tentang sang adik.


Dahi Javier mengkerut “Pergi? Siapa yang mengijinkanmu pergi?”


“Tentu saja atas keinginanku! Bukankah urusan kita sudah selesai?”


“….”


“Apa yang aku inginkan telah kau sanggupi dan sebagai imbalannya aku mengikuti apa yang kau mau! Bukankah itu sudah impas?!” Urai Lucia singkat, mengundang helaan nafas berat dari Javier.


Tak lantas ia menjawab kalimat yang dilontarkan oleh Lucia. Tangannya yang sedari tadi hanya diam di atas meja, kini nampak sibuk memainkan ponsel.


“Hey! Jawab aku! Bukankah kita sudah impas?” Tuntut Lucia lagi, melihat lawan bicaranya enggan untuk menanggapi pertanyaannya.


Entah dari mana datangnya seorang pria dengan kacamata ini, tiba-tiba saja sudah berdiri disamping tuannya.


“Berikan padanya!” Titahnya kepada Miguel lalu secepat kilat menilik pada manik Lucia yang nampak kebingungan.


“Kau bacalah baik-baik berkas yang sudah kau tanda tangani dengan keadaan sadar sepenuhnya serta tanpa paksaan dari siapapun waktu itu” kini memberi perintah juga kepada Lucia dengan tegas pun dingin. Mimik pria itu berubah 180 derajat, tidak seperti biasanya.


Ragu-ragu Lucia mengambil berkas dihadapannya lalu bergantian ke arah Javier. Apakah ada sesuatu yang ia lewatkan saat itu?


“Tidak! Kau pasti sudah menggantinya kan?!” Ucap Lucia tiba-tiba, begitu selesai membaca seluruh isi dari berkas tersebut. Ia harus menjadi budak Javier sampai adiknya benar-benar keluar dari rumah sakit milik Javier, bukankah ini terdengar gila?


Javier menyandarkan tubuhnya pada kursi, melayangkan tatapan serius ke arah Lucia, tatapan tidak suka dengan tuduhan yang dilontarkan padanya.


“Ketahuilah nona, aku adalah manusia yang pantang untuk mengingkari ucapanku sendiri! Terpenuhinya keinginanku tidaklah didasari oleh kecurangan! Menipu gadis lemah sepertimu tidak menguntungkanku!” Ditekankan setiap kata yang terucap dari mulutnya, seolah membawa Lucia pada titik terendah.


“Jangan coba-coba menuduhku tanpa bukti. Disini kaulah yang begitu ceroboh, sudah ku beri waktu untuk memahami keseluruhan isi perjanjian itu namun sifatmu terlampau buru-buru!” Imbuh Javier.


Lucia meremat kuat pinggiran bajunya, menahan gemuruh didalam hati. Ia begitu kesal namun tak mampu berbuat apa-apa. Mengutuk dirinya atas kecerobohan yang membuatnya jatuh ke dalam lubang dalam.


“Selangkah saja kau berani pergi dari mansion ini tanpa ijin dariku! Maka bersiaplah untuk kehilangan satu-satunya harta berharga yang kau punya!”


Javier lantas pergi dari tempat itu setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, meninggalkan Lucia yang hanya mampu terus menyalahkan diri sendiri tanpa bisa berbuat apapun.


Bersambung....


Coba dong komen guys untuk karyaku yang ini. Biar aku lebih semangat nulisnya, pilih salah satu:


1.Kurang Menarik


2.Biasa aja

__ADS_1


3.Menarik


*Atau kalau ada kritikan lainnya, bisa ditulis pada komentar ya. Aku terbuka untuk setiap masukan dari kalian**❤️*


__ADS_2