
Mentari telah lenyap di ufuk barat, menjadi penanda bahwa sang malam bersiap menduduki takhtanya. Langit menghitam, pekat tanpa dihiasi kerlap kerlap bintang serta sinar rembulan yang redup padam. Sunyi, sebab binatang malam enggan keluar dari sarangnya. Hanya riuh suara angin, meniup kencang sandaran dermaga pun menjadi penanda jika badai akan datang.
Kendati demikian, barisan pria dengan setelan serba hitam tetap berdiri tegak di atas sana, membentuk benteng kuat untuk tuannya yang duduk santai pada kursi. Tak gentar sedikit pun walaupun tubuhnya hampir terbang tersapu angin. Fokus mereka hanya pada musuh yang berkamuflase sebagai rekanan. Tidak akan lengah sedikitpun, meski badai sudah didepan mata.
“Dia sudah tiba tuan” lapor salah satu dari mereka, kepada tuannya yang tengah asik menyesap sebatang rokok penuh akan zat nikotin tinggi.
Dihisap kuat benda itu, setelahnya membuang asap putih tebal ke udara yang lantas lenyap tertiup angin. Sudut bibirnya tertarik, membentuk smrik penuh akan rencana licik, tertuju kepada sosok yang tengah melangkah ke arahnya.
“Apakah dia membawa serta anak-anaknya, Miguel?” Santai ia berucap kepada Miguel yang setia berdiri dibelakangnya, padahal bahaya bisa saja sudah di depan mata.
Pria yang juga berdiri tenang sejak tadi, kini melangkah maju, berada semakin dekat dengan tuannya ”Hanya dua telur dengan 4-10 manik didalamnya, tuan” lapornya.
Javier, pria itu lantas berdiri begitu jaraknya dengan sang klien semakin terkikis “Biarkan telurnya menetas, Miguel! Bermainlah dulu bersama manik-manik lemah tak berguna itu” perintah terakhirnya, sebelum memutuskan untuk membuang benda yang terselip nyaman diantara jarinya, lalu tersenyum ramah kepada sang klien.
Sedangkan Miguel, pria itu hanya mengangguk samar. Mimik wajahnya tetaplah datar, tak bisa mengikuti jejak tuannya yang begitu cepat berganti topeng. Sepasang bola hitam dibalik kacamata tebal, bergerak lincah seolah tak ingin melewatkan sesuatu sekecil apapun.
“Selamat malam Mr.Yamato” sapa Javier ramah, berjalan gontai menyambut seorang pria yang jauh-jauh datang dari negeri sakura demi berbisnis dengannya.
Pria dengan kulit putih bersih serta mata sipit itu sontak ikut tersenyum senang ketika kliennya menyambut dengan ramah.
“Selamat malam tuan Luz, senang bertemu dengan anda” balas Yamato, menjulurkan tangannya hendak bersalaman.
Javier tak bergeming, sikapnya memanglah ramah namun jangan harap untuk mendapat perlakuan istimewa darinya.”Malam ini cukup dingin, jari-jariku sedikit kaku” bohongnya.
Yamato tersenyum kikuk, kesal dalam hati sebab Javier menolak untuk berjabat tangan. Meskipun merasa terhina, tetap tidak ia tunjukan ekspresi marah itu, sebab ia sudah memiliki rencana sendiri. Jangan sampai gagal karena tak mampu mengendalikan emosi.
“Benda yang anda minta akan dimasukkan ketika lembaran itu diserahkan padaku” jelas Javier, matanya menunjuk pada koper berukuran sedang yang ditenteng santai oleh Yamato.
__ADS_1
100 unit senjata api yang diproduksi secara ilegal oleh Javier sudah siap dibelakang sana. Yang artinya, transaksi gelap akan segera dilaksanakan karena inilah tujuan mereka bertemu disini.
Dermaga yang terletak di ujung kota Milan, menjadi tempat favorite untuk Javier menjalankan bisnis hitamnya. Setiap 1 minggu sekali, manusia penghuni dunia gelap seperti dirinya akan bertemu lalu saling memberi keuntungan satu sama lain. Namun itu tak selamanya berjalan damai, sebab sering kali mereka ingin berbuat curang dan berakhir pada pertumpahan darah. Seperti yang akan terjadi malam ini, sebab secara diam-diam Yamato telah menyiapkan rencana busuk.
“Bisakah aku memeriksa kembali barang belanjaanku?” Yamato tengah berusaha mengulur waktu dan Javier tahu akan hal itu.
Javier terkekeh merdu sembari merunduk “Ketahuilah jika malam ini adalah waktuku untuk bersenang-senang bersama wanitaku, Mr.Yamato.” Lantas mengangkat kepala, tak lupa menatap tajam lawan bicaranya.
Yamato tertawa pelan “Sebaiknya jangan terburu-buru tuan. Aku yakin wanita anda tak akan keberatan menunggu.”
Javier mengangkat kedua alisnya “Hah, dia mungkin tidak keberatan, tapi akulah yang tidak sabar. Anak buahku sudah memasukkan barang belanjaanmu dan sekarang berikan aku benda didalam kopermu” pinta Javier to the point. Rasanya mulai muak jika terus bersandiwara seperti ini.
“Ya, anda memang tidak sabaran tuan. Terima kasih untuk senjata-senjata berkualitas itu dan untuk bayarannya..” Yamato menggantung kalimatnya, lalu tersenyum penuh kelicikan.
“Maaf, aku tidak berniat untuk itu” Didetik berikutnya, Yamato mengangkat sebuah pistol serta mengarahkannya tepat di dahi Javier, bertepatan dengan kedatangan anak buahnya yang menyelinap keluar dari dua kapal selam. Sama halnya seperti Tuannya, semua anak buah Javier telah diancam dengan senjata api. Masing-masing dari kepala mereka telah siap diledakkan kapan saja.
Alih-alih takut, Javier nampak tak bergeming. Pria itu malah tertawa rendah sembari memberi tatapan remeh kepada pria dihadapannya. Ia memilih diam seribu bahasa, mimik wajahnya pun sulit ditebak bahkan sempat mengundang rasa kesal Yamato.
“Tarik mundur anak buahmu sebelum Akkhh..” kembali kalimat Yamato menggantung dan kali ini benar-benar tak akan bisa disambung. Sebab empunya sudah ambruk ke atas tanah dengan kepala berlubang.
“Terlalu banyak bicara dan itu membuatmu lengah, bajingan” ujar Javier, ditiup ujung pistol yang ia gunakan untuk melubangi kepala musuhnya. Gerakan tangannya terlampau cepat, hingga tak disadari oleh Yamato ketika Javier memuntahkan timah panasnya, merubuhkan Yamato dalam hitungan detik. Begitu juga dengan anak buah Yamato yang berakhir sama dengan tuannya.
“Miguel! Buat seolah-olah kapal mereka mengalami kecelakaan. Aku malas berurusan dengan Yakuza” titahnya sembari melangkah santai hendak meninggalkan Dermaga. Tidak lupa, kembali ia keluarkan sebatang rokok lalu menyesapnya kuat.
“Katakan pada jalangku untuk bersiap!” Sambungnya, sebelum masuk ke dalam mobil hitam metalicnya. Melaju kencang meninggalkan tempat itu, menuju tempat peristirahatan paling nyaman setelah kegiatan melelahkan ini.
•
__ADS_1
•
Ditempat lain, nampak seorang gadis mundar mandir dengan gelisahnya. Suasana yang tenang pun nyaman yang diciptakan oleh para pelayan di penjara emas ini, nyatanya tak berhasil menghilangkan perasaan gugupnya. Kain tipis berwarna merah muda yang membalut tubuhnya adalah alasan dibalik gelisahnya seorang Lucia. Bagaimana tidak, kain ini tidak berfungsi dengan sebagaimana mestinya. Alih-alih permukaan kulitnya terbungkus dengan aman, ini malah mengekspos lekuk tubuhnya sexy.
“Cckk, apakah semua ****** akan merasakan gugup seperti ini?” Dialognya dengan dirinya sendiri. Terhitung sudah puluhan kali berdiri didepan cermin sembari memutar tubuhnya.
“Bagaimana bisa mereka memberi hanya sehelai benang tipis seperti ini?! Memangnya bajingan itu tak mampu membeli baju yang bagus untukku” teruslah ia menggerutu kesal, tak henti memaki serta mengatai Javier sejak kali pertama dibawa ketempat ini.
Tepat setelah menetapi janjinya kepada Lucia, Javier lantas membawa gadis itu ke dalam mansionnya. Memperkenalkan kepada seluruh penghuni bangunan besar nan megah itu, jika mulai saat ini Lucia adalah salah satu anggota dari mereka. Hanya saja, kedudukan dan tugas Lucia berbeda.
Sempat gadis itu menawar untuk menjadi pelayan saja, tapi Javier dengan tegas menolak serta mengingatkan Lucia mengenai berkas yang dia tanda tangani. Dan ya, mau tidak mau ia harus terima sebab keputusan sudah ditentukan saat dengan rendahnya Lucia memohon kepada pria itu.
“Permisi nona” seseorang masuk dan berhasil membuyarkan lamunan Lucia.
“Ah iya, ada apa?” Tanya Lucia panik.
“Tuan Luz sudah tiba dan meminta anda bersiap-siap. Sekitar 10 menit lagi, tuan akan datang kemari” jelas salah satu pelayan muda.
“Hhuuaa kenapa dia sudah datang” teriak Lucia dalam hati, padahal tadi sudah ia sumpahi agar pria itu mengalami kesusahan.
“Ba-baiklah” balas Lucia tergagap, semakin gugup saja dirinya.
Pintu kembali tertutup ketika sang pelayan pergi meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Lucia yang tengah berjuang melawan perasaan aneh didalam dirinya.
“Rasanya aku seperti ingin dieksekusi mati sekarang.” Gumamnya pelan, beralih ia menuju ranjang dan duduk gelisah disana.
“Tidak mommy, aku mau di unboxing” teriaknya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...