
Langit gelap nampak bercahaya sebab malam ini rembulan muncul seutuhnya pun dihiasi kerlip bintang-bintang disekitarnya. Angin bertiup tidaklah terlalu kencang, sepoi-sepoi sejuk menerpa permukaan kulit. Adapun suhunya sedikit lebih dingin dari biasanya, sebab musim dingin sebentar lagi akan segera datang.
Nampak masih ramai jalanan kota Manila pada pukul 8 malam ini, deretan mobil dengan berbagai macam model melaju dengan kecepatan sedang. Sama halnya seperti Javier, terkhusus malam ini ia mengemudikan black monsternya dengan kecepatan rendah. Kendati demikian, tetaplah suara knalpotnya yang bising menusuk gendang telinga.
“Aku harap kau menjadi gadis yang penurut disana! Jangan pernah berbuat apapun sesuka hatimu karena itu akan sangat merepotkan” seru Javier, akhirnya keheningan di antara mereka lenyap sudah.
Lucia yang sedari tadi begitu sibuk menatap ke arah luar jendela, cukup tertarik dengan kalimat peringatan dari Javier. Setelah diam untuk beberapa saat dan tak berani bertanya apapun, kini ia akan mencoba membuka suara.
“Jika kau tahu aku akan merepotkan, kenapa mengajakku?!” Balasnya ketus pun sempat melirik sinis ke arah Javier.
“Tidak ada pilihan lain, pesta ini mewajibkanku untuk mengajak pasangan” mulut serta telinganya memang berfokus pada Lucia namun tidak dengan matanya. Sejak kali pertama masuk ke dalam mobil dan disusul oleh Lucia, sama sekali ia tak melirik ataupun menatap ke arah gadis itu. Seolah sesuatu didepan sana lebih menarik jika dibandingkan gadis disebelahnya.
Lucia berdecih julid “Haih, bukankah kau memiliki seorang kekasih, kenapa tidak mengajaknya saja!”
“Aku tidak pernah dan tidak akan berkomitmen dengan siapapun. Cassandra hanya salah satu dari jalangku, sama seperti mu” santai-santai pria itu menjelaskan kepada Lucia. Sampai detik ini, kedua mata pria itu hanya berfokus dengan laju kendaraannya saja. Dapat Lucia lihat dengan jelas, sudut bibir pria itu tertarik, membentuk senyuman remeh.
“Jika dia sama sepertiku, kenapa kau tidak ajak dia saja” cerewet sekali wanita ini, pikir Javier.
Sepersekian detik Javier terdiam sembari membawa mobilnya untuk menepi. Lucia sedikit bingung, jika tidak salah menebak, mereka belum sampai di tempat tujuan.
“Dengar..” Akhirnya Javier mengalihkan atensinya dari jalanan hitam didepan sana, menatap dalam-dalam wanita yang begitu cerewet sejak tadi.
“Aku sangat tidak suka menjadi topik sebuah berita dari majalah-majalah sialan itu. Kendati Cassandra juga jalangku namun posisinya adalah seorang model. Jika aku datang dengannya, sudah dapat dipastikan setelah itu sebuah gosip mencuat kepermukaan dan berakhir pada wartawan mengejarku sepanjang hari.” Jelas Javier yang nampak didengar dengan begitu seksama oleh Lucia.
“….”
“Mengapa aku lebih memilih untuk mengajakmu pergi ketimbang ******-jalangku yang lain, alasannya sudah pasti karena kau hanya gadis biasa yang tak banyak dikenal orang-orang. Setidaknya kau tidak lebih menonjol dengan wajahmu yang tidak terlalu menarik ini. Tentu wartawan malas mencari tahu karena mereka tak akan menemukan apapun dari gadis miskin sepertimu, paham” imbuh Javier.
Dada Lucia tiba-tiba bergemuruh, apakah pria ini mencoba untuk menghinanya?
Namun apa yang dikatakan Javier benar adanya, dia memang gadis biasa yang miskin. Seharusnya ia tak merasa marah bukan?
Tapi, apakah harus Javier menghinanya dengan sedetail itu?
__ADS_1
“Sekali lagi aku tekankan, jangan pernah berbuat sesuatu tanpa ijin dariku” sambung Javier merasa Lucia tak akan menyanggah apapun lagi padanya.
Sedangkan Lucia, gadis itu memilih untuk tak mengucapkan apapun lagi. Semua yang dikatakan oleh Javier cukup menyadarkan, jika derajat mereka memang sangat berbeda jauh.
Mobil yang dikendarai Javier kembali melaju, kali ini sedikit lebih kencang memecah jalanan yang nampak semakin ramai. Sesekali ia melirik ke arah Lucia, nampak gadis itu tak bergeming, menatap sendu ke arah depan.
*
*
Berada di kerumunan manusia dengan aroma kemewahan, sungguh membuat kepala Lucia sedikit pening. Bukan kali pertama ia mendatangi sebuah pesta, namun entah mengapa suasana ditempat ini terlampau mahal bagi seorang gadis biasa seperti dirinya.
Duduk seorang diri ditemani segelas minuman lengkap dengan dessert coklat, mengamati setiap manusia yang berlalu lalang di depannya membuat Lucia hampir mati karena bosan. Kegiatannya selama 30 menit ini, hanya memandangi keseluruh ruangan luas yang dipenuhi ratusan pria dan wanita berdompet tebal pun kaya raya. Lalu mengagumi Kerlap kerlip lampu yang menyala terang, walaupun sedikit mengganggu penglihatannya. Hanya itu yang ia Lucia lakukan, Kendati ia bisa saja berlalu lalang dan menyapa pria-pria tampan disana.
Berkali-kali ia menghela nafas panjang, lantas menenggak habis minuman yang diambilkan oleh Javier sebelum pria itu benar-benar pergi. Jika bukan karena sang adik dan Sarah, tidak akan ia turuti perintah Javier ketika dirinya diminta untuk duduk diam dimeja ini seorang diri.
“Cckk mau meninggalkanku lama begini, dengan teganya dia hanya mengambil segelas minuman dan kue kecil ini. Setidaknya ambilkan 3-5 gelas dan sepiring besar kue agar aku memiliki kegiatan” gerutunya kesal, wajahnya yang cantik tertekuk sempurna.
Lucia menatap tamu yang tak diundang itu, nampak olehnya seorang pria tersenyum ramah sembari memegang segelas minuman dan berdiri dihadapannya.
“Kata Javier, aku tak boleh membiarkan siapapun duduk disini” batin Lucia, tiba-tiba ia teringat dengan pesan dari Javier sebelum meninggalkannya pergi. Lantas dipandangi pria itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah menyelidiki apa maksud dan tujuannya datang kemari.
“Hhmm maaf, seseorang memintaku untuk tidak mengijinkan siapapun duduk disini” tolak Lucia dengan bahasa sesopan mungkin, tak lupa tersenyum agar tidak terkesan jutek.
Alih-alih marah, pria ini malah semakin tersenyum lebar lantas duduk disana tak menghiraukan penolakan Lucia.
“Perkenalkan namaku, Narendra Kendric. Aku rasa Javier tidak akan keberatan jika aku menemanimu sampai dia datang” Lucia memasang raut wajah penuh kewaspadaan. Walaupun pria ini menyebutkan nama Javier, tetap saja ia tak bisa percaya.
“Boleh aku tahu namamu nona?” Sambung Narendra. Dapat ia lihat dengan jelas jika Lucia benar-benar menaruh curiga terhadapnya.
“Aaiihh pria ini sepertinya sama dengan Javier, Bajingan!” Batin Lucia. Memang ia bosan karena duduk seorang diri namun ia tak mengharapkan seorang pria yang tidak jelas, datang menyapanya.
“Javier memberitahu agar tidak berbicara dengan sembarang orang. Jika anda penasaran, silakan tanyakan langsung padanya” menarik, Narendra suka dengan gadis galak seperti ini.
__ADS_1
Tak gentar, Narendra dengan santainya duduk disana bahkan memangku satu kakinya, walaupun sudah ditolak serta dipelototi oleh Lucia.
“Bajingan ini pasti memiliki perangai yang sama dengan Javier. Lihatlah wajahnya yang mesum ini, menjijikkan” gumam Lucia dalam hati. Tidak akan salah ia menebak, karena dari raut wajahnya saja sudah memperlihatkan karakter serta sifatnya. Memanglah ia tampan, namun Lucia sungguh tak tertarik.
“Begini, aku dan Javier berteman baik. Aku bisa menjamin dia tak akan marah jika kau menyebutkan namamu” masih berusaha Narendra membujuk Lucia.
“Aku tidak perduli” jawab Lucia acuh
“Kita lihat, seberapa kuat kau tahan dengan pesonaku ini” batin Narendra.
Masihlah tidak bergeming sedikit pun, Lucia memilih untuk mengalihkan pandangan ke lain arah, mengabaikan Narendra yang masih saja duduk disebelahnya.
Namun di detik berikutnya, Lucia dibuat menegang dengan tindakan serta kalimat yang dibisikkan Narendra.
“Aku tahu kau salah satu ****** Javier. Sebaiknya tinggalkan dia dan ikut denganku, karena aku jauh lebih baik darinya” bisik Narendra yang mampu mengundang gemuruh di hati Lucia. Bahkan darah ditubuh gadis itu terasa mendidih pun meledak saat ini juga.
Namun suasana itu tak berlangsung lama, detik ini juga Narendralah yang dibuat membeku dengan tindakan Lucia. Perih pun panas terasa pipi sebelah kanannya kala mendapat satu tamparan keras nyaring dari Lucia. Bukan hanya pria itu yang terkejut, tamu yang hadir pun sama terkejutnya dengan tindakan yang diambil oleh Lucia.
“Sungguh sikapmu begitu rendah tuan! Tak sepantasnya bajingan sepertimu berada ditempat terhormat seperti ini” geram Lucia dengan dada kembang kempis.. Amarahnya benar-benar berada di puncak, kala dengan tidak sopannya Narendra mendaratkan tangannya di paha Lucia. Terlebih, tak akan ia terima penghinaan itu dari pria yang bahkan tidak ia kenal sebelumnya.
Narendra tertawa rendah, lantas ia angkat kepalanya yang sempat tertunduk tadi pun berdiri lalu menatap Lucia dengan jengah.
“Kau! ****** rendahan sepertimu dengan berani menyentuh wajahku yang tampan ini!” Kendati diselimuti emosi, Narendra masih bisa menatap Lucia dengan remeh.
Lucia tak gentar, sungguh ia balas tatapan Narendra dengan begitu tajamnya “Kau memang pantas mendapatkan itu tuan! Terlebih mulut kotormu, seharusnya ku robek juga! Wanita yang kau sebut ****** rendahan ini, bahkan masih memiliki moral serta sopan santun jika dibandingkan dengan pria mesum sepertimu” balas Lucia berani. Sungguh ia tak takut sedikit pun.
Narendra berdecih “Beraninya kau mengatai pria mesum! KAU ****** SIA-“ Kalimat Narendra terjeda begitu juga dengan gerakan tangannya yang terhenti di atas angin, sebab seseorang menahan pergerakannya.
“Kau seorang pewaris tunggal tak seharusnya berbuat hal memalukan seperti ini, tuan Narendra” ujar seorang pria yang berani menghentikan aksi Narendra.
“Lepaskan tanganku!” Titah Narendra dengan tatapan tajam.
Bersambung....
__ADS_1