Tahanan Sang Mafia

Tahanan Sang Mafia
CH-7


__ADS_3

Detik demi detik berlalu dengan begitu mendebarkannya, ruang yang ditempati pun terasa semakin menghimpit sesak. Suara derap kaki yang mendekat terdengar seperti irama buruk, sangat mengerikan hingga membuatnya merinding ngeri. Sedikit gemetar kedua tangannya dingin padahal suhu tubuhnya memanas. Sorot matanya tajam bercampur takut, menatap pintu besar yang nampaknya siap terbuka lebar.


“Matilah aku” gumam Lucia dalam hati begitu sosok yang tidak ia inginkan kehadirannya, kini berdiri di ambang pintu. Nampak jelas olehnya Javier berdiri mematung dengan tatapan yang sulit di artikan.


Hening, tak ada kalimat sapaan dari keduanya. Entah itu Javier maupun Lucia, kedua manusia itu sama-sama tak mengeluarkan sepatah kalimat pun.


“Ajalku semakin dekat, mommyyyyy!” Teriak Lucia dalam hati begitu Javier melangkah ke arahnya. Kaki Lucia gatal, sangat ingin berlari menjauh. Terlebih saat dengan sexynya Javier melepas jas biru navy yang dikenakan, lalu melemparkannya ke sembarang arah. Otot kekarnya hendak menyembul dari balik kemeja putih yang membungkus sempurna tubuhnya.


Kendati diselimuti rasa takut kepada Javier, untuk sepersekian detik gadis itu terpesona. Terkagum-kagum dengan wajah tampan serta rahang tegas Javier. Belum lagi wangi maskulinnya, menguar hingga menusuk ke dalam Indra penciuman Lucia. Memabukkan hingga membuat Lucia tak sadar diri dibuatnya.


Kembali pada jiwanya yang takut, terpejam kuat kedua matan Lucia, ketika sosok tinggi tegap Javier benar-benar berdiri di hadapannya. Tanpa basa basi juga, Javier menunduk seolah hendak melahap habis wajah Lucia yang sudah merah padam bak kepiting rebus. Ruangan ini dibuat gelap karena tubuh Javier benar-benar menghalangi cahaya lampu yang menyorot ke arah Lucia.


“Ada apa dengan pakaianmu?” Kalimat ini berdengung ditelinga Lucia. Nada bicaranya begitu sexy pun berat, seperti pria dewasa pada umumnya. Darah Lucia terasa mendidih, ketika udara hangat menerpa permukaan telinganya.


“Apakah kau sangat ingin berada di bawahku?” Javier kembali berbisik sexy, sengaja ia meniup daun telinga gadis ini.


Masih dengan mata tertutup, sekuat tenaga untuk tidak bereaksi berlebihan ketika Javier terus menerus menggodanya“Bu-bukankah kau yang memberiku kain sialan ini?” Celetuk Lucia berani, mengapa harus dia yang dituduh menggoda.


Javier menarik kembali wajahnya dari telinga Lucia, namun matanya tidaklah berpaling. Ditarik kursi yang berada tak jauh darinya, duduk tepat dihadapan Lucia dan membawa wajahnya begitu dekat, hanya berjarak beberapa senti saja.


“Ini pasti ulah Kels” gumam Javier dalam hati. Anak buahnya yang satu itu memang selalu berbuat diluar ekspetasinya.


“Hhmm, aku yang memintanya?” balas Javier, tangannya terangkat, menyelipkan anak rambut Lucia kebelakang telinga. Lucia semakin gugup, jarinya meremas kuat pinggiran ranjang hingga menyisakan warna merah diujungnya.


“Aku tidak pernah memintanya” ujar Javier dengan jari-jari yang mulai bergerilya di wajah mulus Lucia, membuat empunya semakin gelisah saja. Pipi, mata, hidung, bahkan bibir merah muda Lucia diabsen bergantian. Pria itu mulai candu.


Dada Lucia bergemuruh, berdetak tak karuan karena sentuhan Javier di beberapa titik wajahnya “Cepat lakukan!” Celetuknya tiba-tiba, dibarengi dengan kedua matanya yang terbuka sempurna. Bertemulah kedua netra mereka serta saling memandang untuk waktu yang lama. Sama-sama terpesona dengan wajah satu sama lain.

__ADS_1


“Apa? Kau ingin aku melakukan apa?” Tanya Javier, sengaja mempermainkan Lucia.


“Apa yang sudah kita sepakati tadi pagi” jawab Lucia cepat.


Javier tersenyum “kenapa terburu-buru?”


“Bajingan ini” gerutu Lucia kesal dalam hati. Rasanya ingin ia hajar saja wajah Javier dengan satu bogem mentah.


“Bukankah Lebih cepat lebih baik! Jika kau ingin berbasa basi, lebih baik aku pergi” seru Lucia, sontak berdiri dan melangkah hendak menjauhi Javier.


Javier sedikit terkejut, namun secepat mungkin ia tangkap pergelangan tangan Lucia, sedikit ditarik dan menyeretnya hingga jatuh ke atas ranjang.


“Shit!!” Pekik Lucia kaget begitu tubuhnya mendarat di atas ranjang, beruntung benda ini sangat empuk.


“Seperti permintaanmu, akan ku hantam kau sampai pagi! Bersiaplah” bisik Javier sexy. Tidak ada lagi eskpresi serta tatapan teduh tadi, yang ada hanya tatapan penuh nafsu membara.


Awalnya ia hanya ingin mempermainkan Lucia, namun sepertinya gadis ini memang menginginkannya. Dan sebagai pria dewasa, Javier tentu tidak akan menolak.


Lucia menelan ludah kasar, kala Javier benar-benar telah bertelanjang dada. Darahnya mendidih, seolah ada sesuatu yang ingin meledak sekarang juga. Tubuhnya gemetar pun matanya kembali tertutup rapat begitu benda kenyal milik Javier menempel pada bibirnya, mengecap lalu ********** rakus. Sebagai pelampiasan atas rasa gugupnya, Lucia meremas sprei kuat-kuat begitu bibirnya di cicipi lembut.


Awalnya terasa kaku, namun entah sejak kapan Lucia mulai terbiasa dan mengikuti ritme berciuman ala Javier. Gila, ini benar-benar gila hingga membuat kesadaran Lucia hampir hilang.


“Eng-hhmm..” suara lenguhan kecil terdengar dari bibir Lucia. Tubuhnya menegang pun bergetar hebat ketika dengan lancangnya tangan Javier mulai mengambil peran.


“Suaramu bagus dan bibirmu manis” bisik Javier ketika ciuman mereka terlepas. Terukir senyum licik kala mendapati wanitanya tengah berusaha melawan hasratnya sendiri.


Bibir tipis Javier melengkuk sempurna, kembali bergerak untuk mencicipi bagian paling menggoda yang dimiliki oleh Lucia.

__ADS_1


“Hhmm-“ cepat-cepat Lucia bungkam mulutnya kala dengan lancangnya bibir Javier menari di atas permukaan kulit lehernya yang mulus. Dikecup lalu dijilat bak ice cream, sungguh kepala Lucia ingin meledak.


“Jangan ditahan, keluarkan saja” bisik Javier, tangannya tengah bekerja untuk melepaskan kain yang menempel pada tubuh Lucia.


Dengan satu gerakan, kain itu robek dan membuat Lucia melotot kaget. Bukan hanya karena kain itu sudah tak menutupi tubuhnya, namun pada apa yang dilakukan oleh Javier.


“Eenngghh” tak dapat Lucia cegah lagi, lenguhan itu lolos begitu saja kala dua gunungnya kini menjadi sasaran.


Awalnya jari-jari lentik itu menari, berputar dan berakhir pada meremas kuat. Seolah tak diberi waktu untuk bernafas dengan baik, Lucia kembali dibuat menegang saat benda panas berair milik Javier mendarat di atas sana.


“Sshh- jav..” panggil Lucia lirih tak sadar, membuat empunya tersenyum penuh arti.


“Yes..” jawab Javier. Semakin menjadi saja, kini kembali ia bermain. Tak akan ia biarkan Lucia sadar ataupun bernafas dengan baik.


“F-*ck” pekik Lucia, dadanya membusung tinggi ketika bagian bawahnya mulai dijamah oleh tangan Javier.


Lucia menggeleng ribut, dibekap kuat mulutnya agar tak lancang berucap lagi. Kesadarannya hampir dibuat habis oleh Javier dengan segala tingkahnya yang begitu cepat. Belum lama berada di atas kedua gunungnya, kini sudah merosot kebawah.


Tanpa bisa dicegah, tubuhnya tentu bergetar hebat dengan cairan bening yang merosot di atas pipinya yang mulus.


Dibawah sana, Javier nampak tersenyum melihat wanitanya bergerak gelisah kala tangan serta bibirnya bermain lincah. Tujuan terakhirnya hanya kepada kue apem yang sudah basah dan siap untuk disantap.


“Hiks..” tangis Lucia lolos


Didetik berikutnya, Javier dibuat terdiam. Seluruh kegiatannya terhenti pun tubuhnya menegang lemah. Bukan karena tangis Lucia, namun akan satu fakta yang baru ia ketahui. Sebuah fakta yang ia dapat ketika hendak memainkan jarinya didalam sana.


“You’re a virgin?”

__ADS_1


Bersambung....


*Maaf berantakan, agak kurang pandai saya**🫣*


__ADS_2