
"wah gila sih aku makin ga ngerti sama situasi ini, makin di pikir makin engga ketemu jawabannya" ucap ku sambil memegang dahi ku.
sambil ku lihat lagi keluarga itu sedang berkumpul di di ruang tamu dan membahas soal tawaran bu siti tadi.
"bapak engga setuju kalau kamu kerja di ibukota nak! " tegas bapak kepada ayas
"iyah betul ayas ibu juga tidak setuju, apalagi kamu masih 18 tahun, pergi ke ibukota sendirian tidak-tidak ibu tidak bisa membayangkan nya nak" ucap ibu lembut
"tapi pak bu, kalo ayas di sini terus kita engga bisa ngelawan juragan, apa bapak sama ibu mau ayas nikah sama juragan dan jadi istri ke 7 nya juragan, ayas engga mau pak bu, ayas mohon kasih izin ayas untuk bantu bapak dan ibu, ayas bisa jaga diri ayas" jelas ayas sambil memegang tangan bapak nya dengan tatapan penuh harap agar bisa di izin kan pergi ke ibukota.
bapak terlihat diam sejenak sambil menatap putri semata wayang nya, tanpa kata iya memegang kepala ayas sambil di elus lembut rambut nya.
"ayas bapak tau niat mu baik untuk bapak sama ibu, tapi bapak sama ibu belum siap jauh dari kamu nak, bagaimana jika bapak dan ibu rindu kamu? ibukota jauh sekali dan butuh biaya yang banyak untuk pergi ke sana sekedar menjenguk mu nak" ucap bapak lembut
"bapak sama ibu tidak usah khawatir kan nanti ayas bisa kirim surat ke sini, atau bapak bisa telfon ayas lewat telfon umum di dekat kantor desa, nanti ayas akan kirimkan nomer rumah majikan ayas dan alamat lengkap nya untuk mengirim surat balasan, pokoknya bapak sama ibu tidak usah khawatir bu siti juga tau dimana rumah majikan ayas besok, kata bu siti majikan nya juga baik buktinya anak nya betah kerja di sana" ucap ayas terus meyakinkan orang tua nya agar di berikan izin.
"ayas mohon pak bu, berikan ayas izin ya" lanjut nya
bapak dan ibu hanya bisa saling menatap satu sama lain.
"baiklah ayas nanti kita akan fikirkan lagi" jawab bapak seraya bangkit dari kursi nya lalu pergi meninggalkan ayas dan ibu di ruang tamu
"ibu bagaimana menurut ibu? " tanya ayas
"entahlah nak semakin di fikirkan ibu semakin tidak bisa membayangkan jauh dari kamu" ucap ibu seraya pergi menyusul bapak
ayas yang sendirian di ruang tamu hanya bisa terdiam sambil menatap gelas yang ada di atas meja.
"bagaimana pun caranya aku harus bisa dapat izin bapak dan ibu, aku harus bergerak agar bisa membantu perekonomian keluarga ini dan yang terpenting aku tidak harus nikah dengan juragan" ucap ayas dengan penuh keyakinan.
...****************...
"Der.... der....der.... der.... " suara pintu di ketok sangat keras hingga kaca jendela di sebalah nya ikut bergetar.
"Samsul !!! samsul !!!!! keluar kau....... samsul!!!!" teriak pria di balik pintu sambil terus menggedor pintu dengan sangat kencang.
sontak bapak langsung lari menuju pintu dan segera membuka nya. bapak terkejut melihat juragan yang ada di balik pintu itu.
__ADS_1
"juragan.... ada apa ini?? "
"alah tidak usah basa basi !! aku kesini mau mengambil uang ku yang kalian ambil tempo hari !! mana serahkan sekarang juga!! "
"maaf juragan kami tidak mengambil uang juragan saya sudah menjelaskan kepada juragan, lagi pula kami mana punya uang sebanyak itu juragan, untuk makan sehari-hari nya saja kami tidak sanggup" ucap bapak sambil menyatukan kedua tangan nya 🙏
"hahahahahaha bagus lah kalo kalian tidak ada uang, berarti anak mu akan jadi istri ku, ingat 2 hari lagi aku akan datang kemari untuk menikah dengan anak mu, kamu tidak usah khawatir biar aku yang tanggung semua nya" ucap juragan puas
"maaf juragan tidak bisa seperti itu, saya tidak setuju" jawab bapak tegas
"apa berani nya orang miskin seperti mu menolak lamaran ku, sombong sekali yah kalian" umpat juragan kesal.
tanpa pakai ba bi bu juragan langsung menguruh 2 anak buah nya untuk menghajar bapak, wajah bapak di tonjok hingga mata nya lebam dan bibir nya sobek hingga mengeluarkan darah, bapak tersungkur jatuh ke tanah, lalu perut nya di tendang dan di injak oleh ke 2 orang itu tanpa ampun.
ayas dan ibu hanya bisa menangis meminta ampun agar mereka berhenti melakukan nya. warga hanya bisa berkerumun dan menonton kejadian itu tanpa ada satu orang pun yang berani mendekat untuk menolong.
"tolong hentikan juragan kasihan bapak saya, saya mohon juragan" ucap ayas di iringi isak tangis nya berlutut sembari memegang tangan juragan.
juragan langsung menyuruh anak buah nya beehenti.
"nah begitu dong dari tadi memohon dan pegang lah tangan ku ayas... aku sungguh tidak sabar ingin menjadikan mu istri dan menikmati setiap malam bersama mu" ucap juragan sambil memegang tangan ayas.
"cih kita lihat saja sampai kapan kau bisa berbicara lantang di hadapan ku" hina juragan.
"tunggulah ayas sebentar lagi kamu akan jadi milikku sepenuh nya ahaahahah, aku pergi dulu jagalah tubuh mu yang indah ini sampai kita menikah nanti" ucap juragan sambil melihat tubuh ayas.
"ayo kita pergi " ajak juragan kepada anak buah nya.
ayas sontak langsung berlari ke arah bapak, di ikuti ibu, mereka menangis sejadi-jadi nya melihat keadaan bapak.
dengan tangan gemetaran ayas mencoba mengusap darah yang mengalir di pelipis dan mulut bapak.
"bapak... 😭 bapak...😭 " hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut ayas melihat keadaan bapak nya itu.
" aahhhhkkkkk sial*n tuh aki-aki gendut bere**sek " teriak ku mengumpat karena saking kesal nya tidak bisa membantu apa pun dan hanya menonton saja.
...****************...
__ADS_1
sesudah membaringkan bapak di kasur, ayas langsung mengambilkan minum untuk bapak.
"ini pak minum dulu" sembari memberikan segelas air dengan tangan nya yang masih gemetaran
"terima kasih nak" ucap bapak mengambil gelas itu lalu perlahan meminum nya.
"sudah nak jangan menangis terus bapak sudah tidak apa-apa" ucap bapak berusaha menenangkan ayas dan ibu.
ayas hanya bisa duduk di tepi tikar yang lusuh tempat ayah nya berbaring, karena hanya tikar lusuh yang menutupi tanah itulah tempat tidur di rumah itu.
"nak mungkin lebih baik kamu ke ibukota saja" ucap bapak
ayas langsung tersentak kaget mendengar ucapan bapak nya.
"biar malam ini ibu mu antarkan kamu ke rumah ibu siti, agar besok pagi kamu bisa langsung berangkat ke ibukota, agar tidak di ketahui oleh juragan" lanjut bapak
" tapi pak bagaimana dengan bapak dan ibu di sini, juragan pasti akan sangat marah" ucap ayas sedih
"tak usah kau fikirkan nak, biar itu jadi urusa bapak dan ibu, yang terpenting kamu pergi dulu, bapak tidak rela jika kamu harus menikah dengan juragan" jelas bapak
dengan hati sedih dan bimbang ayas hanya bisa mengikuti perintah bapak nya. tak pakai berfikir lama ayas dan ibu langsung memasukan baju-baju ayas ke dalam tas tenteng lusuh yang sudah bolong-bolong itu.
"bapak maafin ayas ya pak, bapak sehat sehat di sini jaga diri bapak baik-baik ayas sayang banget sama bapak. nanti jika sudah sampai ibukota ayas akan segera kirimkan surat, ayas minta doa nya terus ya pak" ucap ayas sambil menangis di pelukan bapak nya.
"iya anak ku bapak dan ibu tidak pernah putus mendo'akan kebaikan untuk hidup mu nak, dengar bapak baik-baik dan ingat apapun yang terjadi dalam hidup kita, itu adalah hal terbaik yang Allah berikan, lapangkan rasa syukur mu ya nak, Allah akan selalu melindungi mu" ucap bapak
"kau tau nak kenapa bapak memberi mu nama Umi Ayasya ,bapak harap kelak kamu akan menjadi ibu yang sempurna untuk anak mu, jadi sebelum kamu menjadi seorang ibu kamu harus kuat dulu dalam menjalani kehidupan mu, rasa syukur dan sabar mu harus besar agar bisa menjadi ibu yang sempurna untuk anak mu kelak" ucap bapak sambil mengusap air mata putri kesayangan nya itu.
"sekarang kamu berangkat bersama ibu yah, ingat bapak dan ibu selalu sayang sama kamu nak" lanjut bapak sembari mengecup hangat kening putri nya itu.
"ayas akan ingat perkataan bapak, ayas pergi dulu ya pak jaga diri bapak baik-baik" ucap ayas sambil memeluk tubuh bapak nya, entah mengapa pelukan itu begitu hangat hingga ayas enggan melepaskan nya.
"ayo nak kita tidak punya banyak waktu" ajak ibu
"ayas pergi dulu ya pak assalamualaikum " ucap ayas sambil menciun tangan bapak nya.
"iya sayang hati-hati di jalan yah, jangan lupa kirimkan surat jika sudah sampai" ucap bapak
__ADS_1
"bapak akan selalu merindukan mu nak" lanjut nya sambil melambaikan tangan kepada ayas.