
Aku melihat kejadian itu entah mengapa hati ku bergetar ikut merasakan apa yang mereka rasakan saat ini.
" Sejak kapan aku jadi melow begini? " gumam ku.
"Baru saja aku mengucek mata ku, aku sudah pindah lokasi lagi, dimana ini sepertinya ini rumah ibu Siti deh"
Tak selang bebrapa lama, aku mendengar suara pintu di ketuk dari luar, dan benar saja terlihat Ayas dan ibu nya di balik pintu, saat bu Siti membuka pintu.
" Loh mba, Ayas ada apa malam-malam begini? kenapa kalian menangis seperti ini? " tanya bu Siti bingung sembari mempersilahkan mereka masuk.
" bu Siti saya mengantarkan Ayas ke sini karena Ayas bersedia menggantikan anak ibu untuk kerja di Ibukota, bapak nya pun sudah memberikan izin kepada Ayas untuk bekerja bu" ucap ibu
" Owh iya syukurlah kalau begitu saya senang dengar nya, lalu kemana mas Samsul tidak ikut ke sini? "
" Mas Samsul tidak bisa ikut karena dia sedang sakit habis di pukulin oleh anak buah nya juragan, saya dan mas Samsul berfikir bahwa mungkin lebih baik Ayas pergi dari sini agar tidak di jadikan istri oleh juragan" jelas ibu.
" Astagfirullah yang benar saja juragan sampai memukuli mas Samsul, dasar manusia jahat tak punya hati, kalo begitu Ayas di sini saja dulu, besok pagi kita berangkat ke Ibukota" ucap bu Siti.
Sementara itu Ayas hanya bisa terdiam dan menangis tanpa suara, entah apa yang ia fikirkan sekarang.
"Ayas sudah jangan menangis terus nak, tidak apa-apa semua akan baik-bak saja" ucap ibu sambil memeluk anak nya yang sedari tadi nangis saja.
" Ibu, Ayas akan sangat merindukan ibu sama bapak" ucap nya lirih dalam tangis nya.
" Iya nak kami juga akan sangat merindkan mu nak, jaga diri mu baik-baik ya nak" peluk ibu sambil mengusap air mata putrinya itu.
" Iyah ibu" jawab Ayas lirih.
Setelah berbincang cukup lama ibu pamit pulang, seblum pulang ibu memeluk Ayas untuk terkahir kalinya. Air mata pun mengalir kembali di pipi ibu dan anak itu. Pelukan yang begitu hangat dan sangat menenangkan.
****************
__ADS_1
Pagi buta Ayas dan bu Siti sudah mulai berjalan menuju terminal bus di desa itu. Tanpa halangan apa pun Ayas dan bu Siti berhasil pergi dari desa itu.
Sedari berangkat Ayas hanya diam dan terlihat murung, bu Siti yang melihatnya menjadi sungkan untuk mengajak nya berbicara, karena bu Siti tau betul apa yang Ayas rasakan saat ini.
Tak ada pembicaraan yang berarti di antara bu Siti dan Ayas, hingga mereka tiba di terminal Ibukota.
" Ayo Ayas kita naik taksi saja biar cepat sampai" ajak bu Siti.
Tak lama berselang ada taksi yang berjalan mendekat, langsung bu Siti melambaikan tangan menandakan ingin menaiki taksi tersebut.
" Pak tolong antar kami ke alamat ini ya " ucap bu Siti sembari menyodorkan secarik kertas.
Lalu bu Siti dan Ayas langsung masuk ke dalam taksi dan tentu saja aku pun ikut duduk bersama mereka.
" Baik bu" jawab supir singkat.
Taksi pun melaju menyusuri jalan menuju ke alamat tujuan.
" Bu Siti maaf ya Ayas merepotkan ibu" ucap Ayas memulai pembicaraan.
" Kira-kira majikan Ayas baik tidak ya bu?" tanya Ayas.
" Kamu engga perlu khawatir Ayas, majikan mu nanti sangat baik orang nya, buktinya anak ibu sudah kerja 5 tahun di situ, dia juga suka di belikan pakaian dan juga makanan" jelas bu Siti.
" Owh iya syukurlah kalau begitu bu Ayas lega mendengar nya" ucap Ayas sambil tersenyum.
Saat Ayas melihat ke arah jendela mobil Ayas terkejut melihat rumah-rumah yang begitu besar dan mewah berjejer rapih di kanan dan kiri jalan.
Aku pun ikut melihat daerah sekitar, terasa familiar tapi aku masih belum yakin dimana ini, aku pun ikut tengak tengok daerah sekitar.
" Oowhh jadi begini penampilan Ibukota tahun 80-an, ini di daerah mana yah? " ucap ku.
__ADS_1
Lalu taksi pun berhenti di sebuah rumah yang cukup besar dengan pilar-pilar yang tak kalah besar nya dan halaman yang begitu sangat luas. Rumah itu berada di tengah-tengah taman. Supir taksi pun turun dari mobil lalu menemui security yang sedang berjaga di gerbang. Tak lama iya pun kembali lagi ke mobil lalu melajukan mobil nya kembali, hingga sampailah di depan rumah itu.
Ayas yang dari tadi terus menatap sekitar keheranan dan berfikir, apa ini istana seperti di buku-buku cerita yang pernah iya baca.
" Bu Siti ini beneran rumah? Ko kaya istana? " tanya Ayas polos.
" Iyah benar ini rumah nya, ibu sudah 3 kali ke sini untuk jemput anak ibu" jelas bu Siti.
" Ayo kita turun"
" Ah iya bu"
Lalu bu Siti dan Ayas menemui kepala pelayan di situ dan menjelaskan maksud nya kedatangan nya ke situ. Ayas dan bu Siti langsung di antarkan ke kamar anak nya bu Siti.
" Ibu gimana kabar nya apa ibu sehat? " tanya anak nya sambil mencium tangan ibu nya.
" Ayas kamu akhirnya mau juga gantiin aku di sini, sebenarnya aku sangat sayang dengan pekerjaan di sini, tapi mau bagaimana lagi, aku akan menikah dan pindah ke Kalimantan ikut suami ku"
" Karena aku pelayan yang sudah lama kerja di sini, aku di perbolehkan mencari pengganti ku sendiri, karena kita sudah temanan lama, jadi aku fikir kamu cocok untuk kerja di sini, orang-orang di sini baik, tuan dan nyonya juga sangat baik, aku harap kamu bisa betah kerja di sini" jelas nya panjang lebar.
" Iyah terima kasih ya sudah memberikan kesempatan ini kepada ku" jawab Ayas sambil tersenyum.
****************
" Heemmm rumah siapa ini yah? coba aku berkeliling, kali aja aku tau dengan melihat foto keluarga ini" ucap ku sambil berjalan menyusuri rumah itu.
Aku pun terhenti di depan foto keluarga yang sangat besar terpajang di ruang tamu.
" Eemmm aku kaya kenal dengan mereka, tapi siapa yah?" selidik ku sambil mengingat-ngingat kembali.
Di foto itu terpajang wajah orang tua dan kedua anak laki-laki nya yang sudah besar, dan di meja hias terdapat foto-foto kecil yang memajang foto anak laki-laki itu dari mulai bayi hingga mereka dewasa.
__ADS_1
" Siapa mereka? wajah nya terlihat tidak asing bagiku, Ko wajahnya seperti ayah mertua dan paman Bisma, meski sekarang mereka sudah pada botak sih, tapi mungkin saat muda nya seperti ini, apa iya yah? Kalo ini ayah mertua dan ini paman bisma, berati orang tua ini kakek dan nenek nya puspa istri ku? Hemm... aku jadi tambah tidak mengerti, apa hubungan nya mereka semua dengan Ayas, dan kenapa aku terus mengikuti Ayas?" tebak ku sambil terus melihat foto itu lekat-lekat.
" Aku harus cari tau !"