Tak Terkalahkan Di Bawah Langit

Tak Terkalahkan Di Bawah Langit
Mencari Salju


__ADS_3

Haris Tian menemukan bahwa energi langit dan bumi dari labu kuning menurun dengan cepat.


Energi di sini juga bisa habis?


Satu malam berlalu, mereka berdua keluar dari labu, karena labu itu berada di atas pohon, ketika mereka keluar, mereka hampir tersungkur ke tanah dan jatuh.


Ya, kita harus cari tempat yang datar kedepannya.


Haris Tian menggantung labu kuning di pinggangnya, dan melanjutkan pengembaraan di pegunungan bersama Salju.


Atribut keberuntungannya terus berperan, seolah-olah susunan array di sini akan mengejang saat bertemu dengannya, dan akan membentuk sosok virtual monster untuk menyerangnya, tetapi pada akhirnya hanya akan menyumbang potongan demi potongan batu awan merah.


Haris Tian bisa dengan jelas merasakan bahwa kualitas tubuhnya meningkat dengan cepat.


Sebelumnya, karena dia tidak memiliki artefak ruang ajaib, dia tidak membawa ramuan mandi obatnya. Setelah mendapatkan labu kuning, dia menyesalinya. Dia seharusnya lebih berani untuk membawa sesuatu yang memang diperbolehkan dibawa masuk.


Sekarang dia telah memiliki banyak batu awan merah, yang secara alami membuat rasa penyesalan tadi pun hilang.


Dia percaya bahwa setelah dia mencerna semua batu awan merah ini, tubuh fisiknya akan dapat mencapai batas puncak ranah nadi.


Setelah berjalan seharian, mereka gagal bertemu monster yang asli, akibatnya mereka tidak punya apa-apa untuk dimakan, jadi Salju mengajukan diri untuk berburu sendiri.


Haris Tian berpikir sejenak, dan mengangguk setuju.


Pelayan kecilnya ini juga harus secara bertahap mengembangkan kemampuan untuk mandiri, dan tidak bisa selalu bergantung padanya.


Dia membuat api unggun, dan menatap labu di pinggangnya, kedepannya dia bisa membawa semua jenis bumbu, dan dia tidak perlu lagi khawatir makan tanpa rasa.


Eh?


Tidak lama kemudian, di kejauhan, dia melihat seseorang melaju ke arahnya, sangat cepat. Ketika dia baru saja melihatnya, itu hanyalah titik hitam kecil, tetapi dalam sekejap mata, orang ini sudah mendekat.


Seorang pemuda dengan penampilan yang agak tampan, Di Tianliang.


Di Tianliang sudah di berada penghujung kesabarannya.


Dia mencari sepanjang hari, tetapi belum juga menemukan Salju dan pemuda itu. Sebagai upaya terakhir, dia menggunakan optik proyektornya untuk menghubungi dunia luar dan meminta seseorang untuk membantunya menemukan Salju lagi. Meskipun pihak lain masih membantunya, tapi ini adalah untuk terakhir kalinya.


Ketika informasi diterimanya, Di Tianliang terkejut, pihak lain sebenarnya berada di belakang dari jalur pengejarannya.


Dia berbalik dan berlari kembali dengan cepat, hatinya penuh kecemasan. Sudah lebih dari sehari. Mungkinkah orang itu sudah menemukan fungsi dari Labu Ajaib, bahkan jangan-jangan sudah menemukan bahwa labu itu memiliki fungsi yang lebih hebat dari sekedar artefak ruang penyimpanan biasa.


Fiuh, Di Tianliang tiba-tiba berhenti.


Dia melirik Haris Tian, memproyeksikan foto dengan optik proyektornya, dan berkata, "Pernahkah kamu melihat wanita ini sebelumnya?"

__ADS_1


Hei, bukankah ini Salju?


Haris Tian terkejut, mengapa pihak lain mencari Salju. Mungkinkah saat di pendaftaran sebelumnya, orang ini melihat Salju dan langsung menyukainya?


Mustahil, bukan karena Haris Tian meremehkan Salju, tetapi pihak lain adalah cucu kedua Master Besar Di, dan bakat seni bela dirinya tampaknya cukup tinggi. Haris Tian merasa bahwa dengan identitas dan status Di Tianliang, pelayan kecilnya tidak cukup untuk mendapat perhatian Di Tianliang.


Apalagi Salju bukanlah kecantikan yang bisa membuat orang-orang mabuk kepayang.


Lalu mengapa pihak lain mencari Salju?


“Aku sedang bertanya padamu, mengapa kamu kamu hanya diam seperti orang bodoh?” kata Di Tianliang tidak puas.


Meski harus mengikuti tahap seleksi, ia sebenarnya tidak mempedulikan calon murid mana pun, menurutnya, murid-murid yang lolos dari tahapan ini, masih tidak layak menjadi teman sekelasnya di kemudian hari.


Tujuannya ke sini adalah untuk mengambil labu ajaib dan mendapatkan beberapa batu awan merah.


Batu awan merah sangat berharga bagi masyarakat umum, dan sebagai cucu Master Besar Di, itu juga masih berguna, meskipun batu awan merah ini tidak terlalu murni, dan tidak bisa menandingi yang diperoleh oleh Jendral Tong Lewu sama sekali.


Haris Tian menghela nafas, dia benar-benar tidak ingin mengambil inisiatif untuk menimbulkan masalah, tetapi siapa suruh pihak lain begitu sombong, dia tidak tahan.


“Hehe, seperti inikah sikapmu saat bertanya pada sesorang?” katanya dengan enteng.


Di Tianliang terkejut, apakah anak ini sedang menasihatinya?


Faktanya, dia sebenarnya bukan orang yang arogan. Sebagai cucu Master Besar Di, didikan etika di keluarganya benar-benar tinggi, tetapi dia berdiri di pijakan yang terlalu tinggi, dan terbiasa menerima sanjungan dari banyak orang. Dari situ, tidak dapat dipungkiri bahwa dia telah mengembangkan beberapa kebiasaan buruk.


Dia menegakkan wajahnya dan berkata, "Maaf, aku sedang terburu-buru."


Haris Tian sedikit terkejut bahwa pihak lain benar-benar akan meminta maaf?


Ternyata situasi ini sekarang masih bisa diselamatkan.


Dia mengangguk dan berkata, "Permintaan maaf diterima, kamu bisa pergi."


“Ya.” Di Tianliang mengangguk dan melangkah maju, tetapi setelah berjalan beberapa langkah, dia tiba-tiba menyadari.


Tidak, bukankah dia mengajukan pertanyaan kepada pihak lain, mengapa dia malah meminta maaf dan pergi?


Menyadari ada sesuatu yang salah, Di Tianliang buru-buru berbalik, pandangannya menyapu, dan melihat labu kuning yang diikatkan di pinggang Haris Tian.


Meskipun dia belum pernah melihat bentuk asli dari labu ajaib, tapi dia sedang mencarinya dengan segenap hati, dan secara naluriah langsung menduga-duga.


"Oh, jadi kamu teman Salju?" Dia mengambil inisiatif terlebih dulu.


Dia tidak yakin, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba.

__ADS_1


Haris Tian bisa menyangkalnya, tapi apa yang harus dia takutkan?


"Salah, bukan teman, dia adalah pelayanku." Dia berkata dengan enteng.


“Jadi kamu yang membunuh ular raksasa di danau!” Di Tianliang menunjuk ke arah Haris Tian.


Haris Tian sedikit mengernyit, apa maksud pihak lain dengan menyebutkan itu?


Apakah ular itu masih ada hubungan keluarga dengan pemuda ini?


“Apa hubungannya denganmu?” Haris Tian bertanya.


Di Tianliang tersenyum, sekarang dia yakin bahwa labu yang diikatkan di pinggang Haris Tian adalah labu ajaib yang dia cari.


Akhirnya ketemu juga.


"Serahkan labu itu." Dia berkata dengan santai.


Haris Tian awalnya berpikir bahwa pihak lain itu aneh, dan benar-benar tertarik pada Salju. Namun, setelah pihak lain menyinggung perihal labu, dia dapat menghubungkan semuanya.


Tujuan orang ini adalah labu kuning, tetapi dia tidak dapat menemukannya di danau, jadi dia hanya bisa bertanya kepada tujuh orang yang terbaring di tepi danau. Karena ketujuh orang itu hanya melihat Salju dan Han Qiuling, jadi Di Tianliang memang punya alasan kuat untuk mencari keberadaan Salju.


Dia tersenyum dan berkata, "Mengapa harus?"


“Karena jika kamu tidak memberikannya kepadaku, aku akan memukulmu sampai kamu memberikannya kepadaku dengan sukarela.” kata Di Tianliang, penuh percaya diri.


Dalam hal kekuatan, dia tidak berpikir ada orang di level yang sama yang bisa menandinginya kecuali saudaranya yang begitu mengerikan, sehingga dia berharap seharusnya orang itu tidak terlahir ke dunia ini.


Haris Tian tertawa terbahak-bahak, bukankah seharusnya ancaman seperti itu datang dari mulutnya sendiri?


"Baiklah, ayo bertarung." Dia mengulurkan tangan dan mengaitkan jari-jarinya.


Di Tianliang tidak langsung bergerak, tetapi hanya berlagak enggan, dan berkata: "Kenapa harus repot-repot? Jika kamu memberiku labu sekarang, aku masih bisa menjadikanmu teman. Jika tidak, bukan saja kamu melewatkan untuk bisa meminta bantuanku di masa depan, kamu juga akan dipukuli."


“Tahukah kamu, jika terus berlagak enggan seperi itu, kamu akan disambar petir? Haris Tian mulai tidak sabar.


"Aku tidak takut pada petir." kata Di Tianliang dengan santai, masih bersikap pasif.


Haris Tian tersenyum dan berkata: "Mengapa kita tidak bertaruh, jika aku kalah, labu ini akan menjadi milikmu."


Di Tianliang mengibaskan lengan bajunya ke belakang: "Aku tidak akan kalah!"


Begitu saja terus sampai lebaran monyet.


Haris Tian menghela nafas panjang, kemampuannya dalam memaksa musuh untuk bertindak lebih dulu, tidak sebagus bocah gila itu, Han Qiuling.

__ADS_1


__ADS_2