Tak Terkalahkan Di Bawah Langit

Tak Terkalahkan Di Bawah Langit
Zombie


__ADS_3

Haris Tian terus bergerak maju, dia ingin tahu apakah ada tempat lain di luar “rumah jagal” ini.


Setelah berjalan beberapa saat, tiba-tiba dia merasa jantungnya berdebar.


Ini semacam rasa krisis yang kuat, yang membuatnya merasa bahwa jika dia melangkah lebih jauh, dia akan berada dalam bahaya besar, bahkan nyawanya bisa hilang.


Dia begitu yakin dengan intuisi ini sehingga dia dengan tegas memutuskan untuk balik arah.


Wuss, seberkas cahaya menerpa, sangat cepat.


Untungnya, Haris Tian sudah bergerak, cahaya tidak mengenainya, tetapi hampir menyeka tubuhnya. Meski begitu, Haris Tian masih merasakan tekanan, yang membuatnya hampir terhuyung-huyung dan jatuh ke tanah.


Cahaya putih itu sebenarnya adalah tembakan dari jaring laba-laba yang tebal!


Sial, mengapa begitu tebal?


Ukuran laba-laba besar sebelumnya cukup menakjubkan, dan jaring laba-laba yang dimuntahkannya hanya setebal jari, tapi bagaimana dengan yang ini? Hampir bisa dibandingkan dengan ukuran anak sapi.


Ya dewa, apakah sebelumnya itu hanya laba-laba kecil, dan sekarang laba-laba besar yang sesungguhnya muncul?


Haris Tian tidak ragu lagi, dan terus berlari.


Laba-laba sebelumnya tidak lebih lemah darinya, bagaimana jadinya jika berhadapan dengan yang lebih besar?


Haris Tian berlari kencang, tetapi setelah beberapa saat, dia menoleh dan melihat bahwa dalam kegelapan yang tak berujung, ada monster raksasa sebesar bukit kecil tengah mengejarnya.


Tidak salah lagi, monster itu adalah laba-laba super besar, matanya lebih besar dari lentera, dia sedang menatap Haris Tian saat ini, memancarkan cahaya dingin yang membuat kulit Haris Tian meradang.


Keberadaan di Jalan Abadi.


Teriak Haris Tian dalam hatinya, monster ini jelas tidak sesederhana ranah mistik, sedikit nafas dari monster ini bisa membuatnya hampir pingsan, hanya keberadaan di Jalan Abadi yang memiliki kekuatan seperti itu.


Kenapa dia begitu sial?


Haris Tian mengira dia telah mengalahkan seekor laba-laba besar, tetapi tidak disangka bahwa itu hanya junior dari laba-laba tua di tingkat Jalan Abadi.


Sambil menggertakkan gigi, Haris Tian sudah memegang batu langit di tangannya.


Karena bisa dilihat olehnya, laba-laba raksasa itu sudah berjarak hampir sepuluh meter darinya. Jarak sekecil itu tidak ada artinya bagi keberadaan di Jalan Abadi.


Satu, dua, tiga, empat, lima, wuss, Haris Tian melempar batu langit.


Dia tahu bahwa tidak mungkin untuk membunuh atau bahkan melukai monster di tingkat jalan abadi ini, tapi sekarang hidupnya sedang di ujung tombak, jadi mau apa lagi?


Lakukan apa pun yang kita bisa.


Wuss, batu langit melesat, langsung kembali ke berat sesungguhnya 10.000 kati, dan siap menghantam laba-laba raksasa itu.


Menghadapi ancaman seperti itu, laba-laba besar pun harus mengayunkan kakinya yang panjang dan menyodokannya.

__ADS_1


Walau bagaimanapun, ini adalah bahan tingkat abadi bintang dua, yang dapat menimbulkan ancaman bagi makhluk abadi bahkan jika itu hanya dilesatkan oleh praktisi kecil setingkat ranah tulang ekstrem.


Namun, serangan itu paling-paling hanya akan memberi waktu beberapa detik untuk Haris Tian bernafas.


Haris Tian tentu tidak diam saja, dan dia mengeluarkan palunya lagi.


Zizizizi, cahaya kilat dari Palu Badai Gunturnya melesat.


Jika Haris Tian berada di tingkat Jalan Abadi, laba-laba raksasa itu jelas tidak akan berkutik dalam menghadapi serangan senjata sakti bintang satunya ini, tetapi sekarang, laba-laba raksasa itu dapat dengan mudah meredakan serangannya hanya dengan mengeluarkan seutas jaring.


Kepala Haris Tian dipenuhi keringat dingin, perbedaan ranah terlalu besar, tidak peduli metode apa yang dia gunakan, itu akan sia-sia di hadapan kekuatan absolut.


Apa yang harus kulakukan?


Pada saat ini, dua berkas cahaya hijau muncul di depannya.


Haris Tian mengamati, dan cahaya itu sebenarnya berasal dari mata mayat. Mayat itu seakan hidup kembali, yang tak lain adalah manusia monyet yang pernah dia lihat sebelumnya.


Astaga, kamu pura-pura mati?


Haris Tian mau tidak mau mengeluh, situasi apa ini? Ada laba-laba raksasa tingkat Jalan Abadi yang sedang mengejarnya, dan ada juga mayat manusia monyet muncul di depannya, seakan-akan mayat itu sudah lupa bahwa ia telah mati bertahun-tahun yang lalu, tapi masih berjalan ke arahnya.


Apa-apaan!


Sudah mati beratus-ratus tahun yang lalu, tapi darahnya mayat itu masih menggelegak. Keanehan ini saja menunjukkan bahwa orang ini pasti sangat kuat di masa hidupnya. Bahkan jika sudah jadi mayat sekarang, dia mungkin bisa di anggap sebagai zombie yang sangat kuat sekarang.


Apakah zombie itu benar-benar ada?


Hah?


Haris Tian benar-benar terkejut, karena dia sangat akrab dengan keterampilan tinju manusia monyet itu.


Tinju Monyet!


Boom, manusia monyet dan laba-laba besar saling berhadapan, keduanya sama-sama goyah dan jatuh ke belakang, kekuatan mereka benar-benar berimbang.


Haris Tian memantapkan hatinya bahwa manusia monyet ini seharusnya datang untuk membantunya.


Hanya saja... kenapa manusia monyet ini membantunya?


Bukankah dia sudah mati?


Pikiran Haris Tian dijejali banyak pertanyaan, dia sangat bingung.


Manusia monyet itu bertarung sengit dengan laba-laba raksasa, dan terus menggunakan Tinju Monyet, tetapi Haris Tian memperhatikan bahwa manusia monyet ini hanya memiliki tiga rangkaian gerakan bolak-balik, dan memiliki celah di tengah-tengahnya.


Tapi manusia monyet berada di tingkat Jalan Abadi, dan dalam pertarungan ini, setidaknya dia masih mendominasi. Meskipun tidak ada wujud monster monyet yang mengiringi serangannya, tapi ada semacam kekuatan agung, yang seolah-olah bisa membelah dunia.


Ternyata Tinju Monyet bisa begitu dahsyatnya.

__ADS_1


Haris Tian terkejut, terlebih lagi, manusia monyet ini jelas tidak mengerti arti sebenarnya dari Tinju Monyet, tapi masih bisa menunjukkan kekuatan seperti itu, seberapa mengerikankah Tinju Monyet yang sebenarnya?


Di bawah serangan kuat manusia monyet itu, laba-laba besar itu akhirnya mundur.


Mungkin laba-laba itu tahu bahwa tidak ada yang perlu diributkan dengan orang mati, bahkan jika mereka berdua sama-sama binasa, apa untungnya, toh lawannya juga memang sudah mati.


Begitu musuh pergi, manusia monyet itu langsung menjadi linglung dan berputar-putar di tempat.


Haris Tian awalnya ingin pergi, tetapi dia tiba-tiba teringat bahwa masih ada batu langit yang tertinggal di depannya. Setelah memikirkannya, dia memutuskan untuk mengambilnya kembali.


Laba-laba raksasa seharusnya sudah jauh melarikan diri, dan kemungkinan untuk membidiknya kembali sangat rendah.


Yang paling penting adalah batu langit, dia harus mengambilnya.


Dia bergerak maju, tetapi setelah beberapa langkah, keringat dingin keluar dari punggungnya.


Di belakangnya, manusia monyet yang tadinya berputar-putar dengan linglung, mengikutinya diam-diam.


Sekali lagi ini adalah mayat, betapa horornya ada mayat yang mengikuti tepat di belakang kita?


Jika manusia monyet itu tidak menyerang laba-laba raksasanya untuk membantunya tadi, Haris Tian pasti akan kabur sekarang.


Dia berhenti, dan manusia monyet itu juga berhenti.


Haris Tian menoleh dengan hati-hati, tubuh manusia monyet itu tidak busuk, tetapi ada lubang besar di dadanya. Jelas orang ini mati karena “serangan jantung”.


Sekarang, cahaya hijau menari-nari seperti api di mata manusia monyet itu, yang semakin membuatnya tampak aneh.


Ya, orang mati bangkit dan berjoget di belakangnya, ini saja sudah suatu keanehan.


Haris Tian berbalik dan terus berjalan, dan manusia monyet itu juga mengikuti dengan terhuyung-huyung, seolah-olah sedang jatuh cinta padanya.


Tubuh Haris Tian bukan tubuh roh bawaan, tapi tubuh apa?


Bisanya hanya menimbulkan masalah, menarik kebencian, dan sekarang menarik hantu?


Namun, dengan cara ini, dia akan bisa pergi ke puncak gunung dengan tenang, tanpa harus khawatir laba-laba raksasa tiba-tiba keluar.


Dia mencari dengan seksama, meskipun di sini sangat gelap, tetapi bagaimanapun juga dia bisa melihat benda-benda dalam jarak sepuluh meter, ditambah lagi dia tidak terburu-buru, jadi tidak akan sulit untuk menemukan batu langit itu.


Setelah sepuluh menit, dia menyelesaikan tugasnya.


Apakah akan terus maju?


Haris Tian memikirkannya.


———————————————————


Jangan lupa baca novel baru author yang tak kalah serunya.

__ADS_1



__ADS_2