
Yaya pergi keluar kantor membeli sarapan untuk sang presdir , dan untungnya di dekat Qiyas Company ada restoran siap saji yang menyediakan menu untuk sarapan dan kebetulan restoran itu milik kakak kelas Yaya waktu SMA dulu jadi Yaya tidak perlu jauh-jauh dan bersusah payah membelinya.
Setelah mendapatkan menu sarapan untuk sang presdir, Yaya segera kembali ke kantor dan terlebih dahulu ke pantry untuk membuat kopi hitam dengan sedikit gula kesukaan Raffa. Yaya tahu semua itu karena memang di buku agenda berwarna hitam itu sangat lengkap berisi hal-hal apa yang disukai dan yang tidak di sukai Pak Raffa dan point point penting selama jadi sekretarisnya. Untung nya kemarin Yaya sudah membaca semua isi buku agenda itu, walaupun dengan malas-malasan. Sebelum masuk ke dalam ruangan Raffa, Yaya mengetuk pintu terdahulu. Setelah mendengar jawaban dari sang empunya Yaya membuka pintu dan masuk ke dalam.
Yaya berjalan ke arah meja tamu yang ada di ruangan itu dan menaruh menu sarapan dan kopi atasannya di atas meja.
" Pak ini saya taruh sarapannya disini yaa, silahkan pak sarapan dulu selagi hangat."
"OK, kamu kerjakan beberapa berkas ini dan harus selesai dalam waktu 2 jam." Raffa menunjuk beberapa tumpukan berkas yang ada di mejanya.
Ingin Yaya berteriak, tapi Yaya tidak seberani dan segila itu apalagi dirinya hari ini sudah membuat kesalahan dan Yaya tidak mau menambah masalah lagi meski dalam hatinya menggerutu dan memaki sang atasan. "Gila apa ya!! itu si om-om arogan. Berkas sebanyak ini harus selesai 2 jam, hello Pak!!! itu nggak satu dua tiga empat berkas tapi itu delapan belas berkas pak, delapan belas!!! ini tangan saya, tangan manusia biasa bukan mesin.. huuuhhh." Gerutu Yaya di dalam hati.
Melihat Yaya tidak ada pergerakan untuk mengambil berkas dimejanya, Raffa yang tadi sibuk dengan laptop miliknya beralih menatap Sekretaris barunya tajam.
"Kenapa hanya diam saja disitu? cepat kamu ambil berkasnya lalu cepat keluar dari ruangannya saya, muka masam mu itu merusak pemandangan pagi hari saya saja." Ucap Raffa.
Yaya mendengus pelan melirik atasannya dengan malas, Yaya berjalan mendekati meja Raffa mengambil semua berkas itu lalu keluar dari ruangan Raffa tanpa berkata sepatah kata pun. Sedangkan Raffa hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Yaya sekretaris tidak ada akhlak. Namun seketika Raffa tersenyum simpul, Yaya dia sangat berbeda dari semua wanita yang sering di temuinya. Disaat mereka berlomba-lomba untuk mendekati dan mencari perhatiannya, tapi tidak dengan Yaya gadis itu malah dengan terang-terangan menunjukan rasa ketidaksukaanya kepada Raffa. Raffa berjalan kearah soffa lalu mendudukan dirinya disana, ia menatap sarapan paginya
.
.
.
Baru saja rasanya Yaya belum lama duduk diruangannya mengerjakan beberapa berkas dari Raffa, suara interkom berbunyi.
"Aleya, keruangan saya sekarang." Tut sambungan pun terputus.
Yaya menghela nafasnya kasar, " Ada apalagi sih!! nggak bisa ya liat orang duduk manis, masih ada aja nyuruh ini itu.huuhhft... Astaghfirullah Ya, nggak boleh mengeluh ini kan memang tugas kamu sebagai sekretaris, semangatt!!" Setelah menyemangati dirinya sendiri Yaya pergi ke ruangan atasannya. Seperti biasa sebelum masuk Yaya mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk.."
__ADS_1
Yaya membuka pintu dan masuk kedalam menghampiri atasannya.
"Ada apa pak?? bapak memanggil saya??" Tanya Yaya sesopan mungkin sambil tersenyum, walaupun sebenarnya terpaksa Yaya lakukan.
"Cepat bereskan bekas sarapanku tadi, karena sangat merusak pemandangan dan kamu pergi ke mini market yang ada di dekat kantor, beli beberapa buah dan minuman untuk mengisi kulkas di ruanganku yang kosong dan pakai ini untuk membayarnya." Perintah Raffa sambil memberikan sebuah kartu ATM kepada Yaya dan memberi tahukan sandinya kepada gadis itu.
"Baik pak.. " Yaya menerima kartu ATM itu, lalu segera mengemasi piring dan gelas bekas sarapan Raffa tadi setelah itu Yaya keluar dari ruangan Raffa dengan perasaan dongkol.
Cih.. apa apaan dia, seenaknya aja memberiku perintah dasar bos nyebelin. Belum selesai pekerjaan yang Satu, eh kasih perintah yang lain. Kapan selesainya coba tugasku menyelesaikan berkas berkas itu! mana harus selesai dau jam lagi. Ah bodo amat deh,, pusing kalo di pikirin.Gerutu Yaya dalam hati.
Walaupun dalam hatinya kesal dan dongkol Yaya tetap menjalankan perintah bos nya, setelah menaruh piring dan gelas kotor di pantry kantor gadis itu langsung bergegas keluar kantor. Linda dan Mia yang melihat Yaya berkeliaran di loby kantor di saat jam kerja mereka pun memanggil Yaya.
"Yaya.... "
Merasa namanya di panggil Yaya pun menoleh kearah sumber suara, melihat kedua resepsionis itu melambaikan tangan kepadanya Yaya pun berjalan menghampiri mereka.
"Tumben Ya, berkeliaran di saat masih jam kantor mau kemana loe???" Tanya Mia.
"Iya nggak biasa-biasanya Ya." Timpal Linda.
"Ohh.. gitu, emang loe mau kemana sih??"
"Itu Yaya mau ke mini market depan, biasa persediaan stok cemilan si pak bos habis jadi ya aku suruh beli." Jelas Yaya.
"Ohh.. wah kebetulan nih, mbak nitip jus sirsak kemasan dong Ya 5 bungkus." Ujar Linda.
"Banyak bener dah loe beli itu jus, nggak salah tuh."
"Nggak, kamu kan tahu kalo aku suka banyak ngemil jadi biar badanku nggak melar ya aku nyemilin minum jus dong" Ucap Linda sambil menyerahkan uang lima puluh ribuan kepada Yaya.
"Oke mbak, oh Iya mbak Mia mau nitip sekalian ngga???"Tanya Yaya menatap ke arah Mia.
"Ngga deh Ya, gue masih ada stok makanan di laci meja gue." Mia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya udah kalo gitu Yaya pergi ke depan dulu ya, Bye." Yaya pergi meninggalkan mereka.
"Iyaa Ya."
30 menit berlalu Yaya pun sudah selesai berbelanja, setelah Yaya memberikan titipan jus kemasan kepada Linda Yaya pun langsung pergi menuju ke ruangan atasannya. Seperti biasa sebelum masuk Yaya mengetuk pintu terlebih dahulu sebagai etika kesopanan, setelah mendengar instruksi dari dalam Yaya pun masuk ke dalam ruangan Raffa.
"Sudah selesai belanjanya???" Tanya Raffa dengan pandangan yang masih fokus pada laptopnya.
"Sudah pak..."
"Kamu cuci dulu buah-buahan nya sampai bersih, setelah itu masukan dan rapihkan kedalam kulkas bersama minuman yang kamu beli tadi." Perintah Raffa.
"Baik pak... " Yaya membalikan badannya, Yaya berjalan kearah wastafel yang ada di samping toilet pribadi di ruangan itu, dengan mulutnya yang terus berkomat kamit mengeluarkan kekesalannya Yaya mencuci beberapa buah yang sudah di belinya tadi.
Cihh.. Dasar om-om nyebelin tukang perintah seenak jidat nya aja. Nyebelin.. ngeselin.. bikin emosi mulu kerjaannya.. huhh.. kesel.. kesel.. Aku sih nggak bakal ngedumel kalo dia itu mau nyuruh, bisa ngga sih di awali dengan kata tolong.. tolong.. apa susahnya sih. Ya.. walaupun dia itu bos besar ya nggak bisa seenaknya gitu aja.. dasar orang kaya sombong.. Oceh Yaya dalam hati.
Setelah selesai mencuci semua buah itu dengan bersih, Yaya terlebih dahulu mengeringkan buah itu dengan tisu kemudian memasukan dan merapihkan beberapa minuman dan buah-buahan tadi kedalam kulkas. Setelah semuanya sudah beres, Yaya pamit keluar kepada Raffa.
"Sudah selesai pak, kalau begitu saya permisi dulu."
"Baiklah, silahkan."
Baru saja Yaya memegang handle pintu, terdengar suara Raffa mengintruksinya.
"Tunggu..."
"Iya pak.. " Yaya membalikan badannya kembali.
"Apakah semua berkas tadi sudah selesai kamu kerjakan???"Tanya Raffa menatap Yaya.
Yaya menggelengkan kepalanya, "Belum Pak.."
"Cepat selesaikan semuanya sebelum jam makan siang, karena setelah makan siang nanti akan ada banyak pekerjaan baru menantimu." Ucap Raffa melirik ke arah sebelah kiri meja nya yang terdapat beberapa berkas yang menunggu nya.
__ADS_1
Yaya mengikuti arah pandang Raffa, seketika kedua bola mata Yaya membulat. Ah.. menjadi sungguh Yaya sudah seperti kerja rodi saja, rasa nya detik ini juga Yaya ingin kembali ke posisi nya semula sebagai staf biasa. Walaupun sibuk dan banyak pekerjaan tapi tidak sebanyak sekarang pekerjaannya, Semangat Ya!!! dimana-mana kerja itu tidak ada yang enak pasti ada susahnya juga.
"Baik pak.. saya mengerti." Ucap Yaya lalu pergi keluar meninggalkan ruangan Raffa.