Takdir Cinta Aleya

Takdir Cinta Aleya
Hari pertama jadi sekretaris II


__ADS_3

Setelah Yaya menyerahkan semua berkas-berkas yang sudah selelai dia kerjakan dan melayani segala keperluan sang presdir untuk makan siang, akhirnya kini Yaya bisa bernafas lega karena sekarang adalah gilirannya untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi minta di isi.


Yaya berjalan ke kantin kantor dan menghampiri ketiga sahabatnya yang sudah lebih dulu berada disana. Yaya mendudukan dirinya di kursi kosong yang ada di sebelah Niki, tanpa permisi lagi Yaya meraih gelas yang berisi orange jus milik Niki yang masih utuh dan langsung meminumnya habis tanpa sisa.


"Kenapa kamu Ya??? kayak orang kesetanan aja sih." Tanya Niki menatap Yaya dengan pandangan aneh.


"Tau nih, dari mana aja sih kamu Ya kok baru nongol." Ucap Dina.


"Abis pacaran dulu ya kamu sama pak presdir tamvan." Goda Sinta.


"Beneran Ya??? wahh.. gercap juga kamu Ya, kita dukung deh iya nggak Sin, Din ..." Ucap Niki bersemangat menatap Sinta dan Dina bergantian.


"Yo'i... " Jawab Sinta dan Dina bersamaan.


"Apaan sih kalian ini siapa yang pacaran coba, lagian siapa yang mau jadi pacar dia, AKU TUH NGGAK SUKA SAMA DIA.. dia tuh nyebelin banget, baru hari pertama kerja aja udah berasa kayak ada di neraka.."Cerocos Yaya penuh kekesalan.


"Emang kamu pernah ngerasain ke neraka Ya???" Tanya Dina pura pura bodoh.


"Ih.. apaan sih kak Dina itu tuh perumpamaan .. perumpamaan tahu nggak kak."


"Memang nya kamu nggak mau punya pacar setampan pak Raffa, udah gitu mapan dan kaya pula." Ucap Sinta.


"malesin banget punya pacar kayak dia, percuma punya wajah tampan tapi kelakuannya sombong banget bikin orang emosi aja. Lebih baik aku cari orang lain aja, kayak cuma dia aja lelaki di dunia ini." Ucap Yaya penuh dengan kekesalan yang tiada habisnya kalo membahas sang presdir.


"Hati-hati loh Ya, bisa jadi pak Raffa itu jodoh kamu Ya, dan kamu nggak bisa nolak Ya kan udah takdir tuhan." Ucap Dina enteng.


"Iya Ya,, kan jodoh nggak ada yang tahu, bisa jadi sekarang kamu benci banget sama dia siapa tahu suatu saat nanti kamu bakalan bucin tuh sama pak Raffa." Ujar Sinta lagi.


"Apaan sih kalian ini, kok suka banget bahas jodoh jodohin aku sama pak Raffa. Nyebelin banget sih, orang mah kalo mau do'a in tuh yang baik-baik kak." Protes Yaya.


"Lah kita kan juga lagi do'ain yang terbaik buat kamu Ya." Jawab Dina.


"Udah. udah.. sana gih kamu pesan makan dulu, nanti keburu habis lagi jam makan siang nya." Ucap Niki


Yaya mengangguk, lalu pergi untuk memesan makanan. Untuk makan siang hari ini Yaya mau makan soto ayam yang pedes, kuah soto yang nikmat dan segar sangat cocok untuk merefress pikirannya yang lagi semerawut akibat sang bos. Setelah mendapatkan menu yang Yaya inginkan, Yaya pun kembali bergabung dengan ketiga sahabatnya. Yaya menaruh nampan yang berisi sepiring kecil nasi, semangkuk soto, satu gelas teh manis dingin dan satu gelas orange jus untuk mengganti orange jus milik Niki yang di minum nya tadi di atas meja, lalu Yaya menyerahkan Orange jus itu kepada Niki.


"Ok.. thanks Yaya sayang." Ucap Niki menerima gelas itu, Yaya mengacungkan jempol nya lalu ia mulai menyantap makanannya.


"Eh Ya,, kamu mau ikut kita nggak nanti setelah pulang kerja." Tanya Sinta.


"Kemana???" Tanya Yaya

__ADS_1


"Ke Gramedia kita mau berburu novel roman yang lagi Viral itu loh." Jawab Dina.


"Iya Ya,, hayu kamu ikut Ya." Ajak Niki.


"Hmmm... kayak nya nggak bisa deh kak soalnya hari ini aku bakalan lembur kerjanya masih banyak kerjaan yang belum aku selesaikan." Ucap Yaya sambil menikmati makan siangnya.


"Oh.. gitu ya udah deh kita pergi bertiga aja." Ucap Sinta.


"Nggak asik nih, kalo nggak ada kamu Ya." keluh Dina.


"Mau gimana lagi kak, kerjaan lebih penting hehhee... kalo nggak nanti bisa kena pecat aku." Ucap Yaya.


Baru saja Yaya menikmati makanannya hanya beberapa suap bahkan masih tersisa cukup banyak, HP nya bergetar menandakan sebuh pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal tapi Yaya mengabaikannya ia pikir pesan itu tidak penting namun beberapa detik kemudian sebuah panggilan telepon masuk di HP nya.


Nomor tak di kenal is Calling.....


Mau tidak mau Yaya pun mengangkat panggilan itu karena terus saja berbunyi meski berkali-kali sudah ia tolak panggilan itu.


"Ha... " Bari saja Yaya akan menyapa seseorang di seberang sana, tapi sudah lebih dulu di potong oleh orang tersebut.


"Kenapa kamu menolak panggilanku, keruanganku sekarang juga!!!!!" Tut.. Tut.. sambungan terputus karena dimatikan sepihak oleh si penelepon. Yaya menjauhkan HP nya dari telinganya, lalu memandang HP nya dengan kesal.


Sementara ketiga sahabatnya memandangnya dengan tatapan heran, apa Yaya kerasukan jin kali ya jadi dia mengoceh dan mengomel sendiri. Wah.. kalo memang benar itu terjadi mereka harus segera membawa Yaya ke pak Ustadz untuk meruqiyah nya.


"Kak maaf ya, aku harus segera pergi, dan ini aku nitip tolong bayarin makanan ku ya." Ucap Yaya mengeluarkan uang seratus ribuan kepada Niki.


"Nggak di habisin dulu Ya makanan nya, masih banyak loh itu makan siang mu." Ucap Dina.


"Nggak sempet kak, ya udah ya aku duluan.. Bye."


Yaya pergi meninggalkan ketiga temannya yang sedang memandangi punggungnya heran, tidak biasanya gadis itu bertingkah aneh seperti itu. Yang mereka kenal Yaya orang nya nakal karena mulutnya yang ceplas ceplos dan kadang perkataannya sedikit pedas, tapi dia jarang mengumpat seseorang tapi hari ini mereka sudah mendengar gadis yang sudah seperti adiknya itu lebih dari satu kali mengumpati sang presdir.


≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈


"Iya pak, ada apa bapak memanggil saya." Ucap Yaya menyembunyikan rasa kesalnya.


"Saya sudah selesai makan siang, cepat kamu bereskan meja itu." Ucap Raffa dengan nada memerintah sambil menunjuk meja yang terdapat gelas dan piring kotor.


Yaya menghembuskan nafasnya pelan, "Baik pak." Ucap Yaya menampilkan senyum terpaksa nya. Yaya pergi membereskan semua gelas dan piring kotor bekas Raffa makan siang tadi, namun masih ada satu box makanan yang masih utuh.


"Pak, ini makanannya masih mau dimakan atau mau di taruh di kulkas." Yaya menunjuk box makanan berwarna biru itu.

__ADS_1


"Biarkan, taruh di situ aja. Oh, iya setelah kamu menyimpan piring dan gelas kotor itu di pantry kamu kembali keruangan saya." Ucap Raffa yang tidak mengalihkan pandangannya dari handphone nya.


"Baik pak... " Yaya memutar bola matanya malas menatap atasannya itu dan mencebikan bibirnya kesal. Lalu pergi meninggalkan ruangan sang presdir menuju ke pantry sambil menggerutu dalam hatinya mengumpat bos sombongnya.


"Huhh.. Kesel.. kesel... bukannya nyuruh OB buat beresin malah nyuruh aku, jam makan siang ku terganggu gara-gara tuh bos tukang perintah, nih parut masih keroncongan.. masih laper!!.. dia mah enak udah makan siang. Nasib... Nasib.. punya bos macam dia, jangan sampe deh nanti punya suami macam dia juga bisa mati muda aku.. huhh kesel.. "


Tanpa di sadari Yaya ternyata Raffa diam diam memperhatikannya, dan sudut bibir nya terangkat menampilkan senyuman. Sungguh gadis itu sangat berbeda dan sangat menggemaskan menurut Rafa.


Setelah melakukan tugasnya, kini Yaya sudah kembali memasuki ruangan sang presdir. Yaya berjalan mendekati meja Raffa, melihat sang sekretaris sudah berada di depannya dengan menunduk hormat lelaki itu pun segera menginstruksi perintah selanjutnya kepada gadis cantik berhijab itu.


"Kamu ambil dan kupaskan satu buah apel dan satu buah pir untuk saya, saya mau makan itu sekarang."


Sontak Yaya langsung melotot dan mengangkat kepalanya menatap Raffa dengan pandangan tidak sukanya secara terang-terangan.


"Wah.. bener bener ngelunjak nih orang. Nih si bos sombong mau apa sih?? ngerjain aku apa gimana?? coba jelaskan ?? aku tuh masih laper pak.. laper!!!!. masa harus layanin bapak terus sih. Dasar bos tidak berprikemanusiaan!!!! benci banget sama dia pokoknya." Jerit batin Yaya.


"Kenapa hanya diam dan bengong saja, capat sana lakukan pekerjaanmu!!!"


Yaya menghela nafasnya kasar, "Pak, bapak kan punya kedua tangan yang masih bisa berfungsi dengan baik, kenapa hal sekecil ini juga harus saya yang lakuin sih. Saya itu sekretaris bapak, bukan istri bapak yang punya kewajiban untuk mengurus segala keperluan pribadi bapak." Kali ini emosi Yaya sudah berada di puncak kesabarannya, bodo amat kalau sehabis ini dirinya di pecat karena sudah berani membentak atasannya. Itu lebih baik dari pada Yaya tekanan batin karena menjadi sekretaris presdir yang arogan dan tukang perintah.


"Saya tidak merima penolakan Aleya, cepat sana kamu kerjakan apa yang saya perintahkan tadi." Tegas Raffa.


Yaya semakin kesal dengan Raffa si bos tukang perintah, sangat menyebalkan dan menjengkelkan, Yaya menginjak lantai yang di pijak nya dengan keras lalu pergi mengambil buah apel dan buah pir di dalam kulkas, tidak lupa juga mengambil pisau buah, piring dan sebuah garpu kemudian di bawanya ke arah wastafel.


Yaya mengupas kulit buah sambil melampiaskan kekesalannya, dengan sumpah serapah yang terus Yaya lontarkan di dalam hatinya.


Setelah selesai di cuci dan di potong dengan ukuran sedang Yaya berjalan menuju meja Raffa dan menaruh piring berisi buah itu di sisi meja samping kanan Raffa.


"Ini pak, selamat menikmati." Ucap Yaya lalu berbalik hendak keluar dari ruangan Raffa.


"Mau kemana???" Tanya Raffa.


"Saya mau kembali ke ruangan saya pak, dan tentu nya untuk mengerjakan beberapa berkas yang belum selesai." Jelas Yaya menyindir atasannya.


Raffa bangkit dari kursi kebesarannya dan pergi mengambil box makanan itu lalu menghampiri Yaya. " Saya tahu kamu belum makan siang, ini makanlah dulu karena saya tidak mau di cap sebagai bos yang bersikap jahat kepada karyawannya." Memberikan box makanan itu kepada Yaya yang masih berdiri disampingnya, Dan dengan ragu Yaya mengambil box makanan itu.


"Terima kasih Pak." Ucap Yaya dengan terpaksa mengatakannya.


"Jika kamu tidak mau makan disini, bawalah makanan itu keruanganmu dan ambillah minuman juga buah yang kamu suka dikulkas."


Yaya menatap Raffa dengan pandangan aneh, bos nya ini sudah seperti bunglon saja tiba-tiba bersikap sangat menyebalkan, lalu tiba-tiba sikapnya itu berubah menjadi sangat baik dan perhatian Ya walaupun terselip nada perintah di dalam kalimatnya. Dengan perasaan ragu Yaya pun mengambil satu botol teh kemasan dan satu buah jeruk orange di kulkas lalu segera pergi keluar menuju ruang kerjanya. Sementara itu senyuman yang terlukis indah itu tidak pernah lepas menghiasi wajah tampan Raffa, dan semua itu tentu saja Yaya tidak mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2