
"Tidak! Ini tidak mungkin!" teriak Habibie dengan air mata yang mengalir deras.
"Bagun, Rima! Aku bilang, bangun! Apa kamu lupa besok kita akan menikah?" Habibie mengguncang tubuh kaku Rima.
"Ikhlaskan, Nak. Rima sudah tenang di sana." Ibu membujuk Habibie yang terlihat begitu terpukul.
"Gak! Kenapa takdir begitu kejam, Bu? kenapa Dia mengambil Rimaku secepat ini Bu, kenapa?" Habibie semakin tergugu dan dia langsung luruh ke lantai.
"Rima, bangun! Aku mohon bangun!"
Ibu berjalan dengan cepat menuju kamar Habibie, karena dia mendengar teriakkan anaknya.
"Habib bangun, Nak." Ibu menepuk pipi Habibie agar anaknya bangun.
"Ya Bu," jawab Habibie, dengan mata terpejam.
Dia menyeka keringatnya, mimpi yang sama, masih begitu jelas dia lihat. Kehilangan orang terkasih membuatnya hilang arah.
Habibie, laki-laki yang dulunya ramah, pintar dan juga seorang guru agama, kini berubah sangat jauh.
Habibie yang sekarang lebih suka main, mabuk-mabukan dan bahkan dia tidak lagi bekerja sebagai guru. Jangankan sebagai guru, kewajibannya sebagai seorang muslim saja sudah dia tinggalkan sejak dia kehilangan Rima.
"Habib, ayo lekas sholat di tunggu ayahmu," ajak Ibu, yang merasa anaknya belum juga mau beranjak dari kasur.
Habibie duduk dengan mata terpejam, dia sungguh tidak berniat untuk melakukan perintah ibunya.
"Segeralah mandi, Ayah sudah menunggu," perintah sang ibu.
"Malas, ngantuk!" Habibie malah merebahkan dirinya lagi.
"Astaghfirullah, Nak. Ingat sholat itu kewajiban kita, kenapa kamu tinggalkan?" Ibu begitu sedih melihat anaknya yang sekarang menjadi urakan.
"Apa dengan sholat Rimaku, akan kembali?" tanya Habibie dengan mata terpejam.
"Ya Allah, Nak. Kenapa jadi seperti itu!" Ibu membentak Habibie dengan rasa kecewanya.
"Kenapa? Memangnya aku kenapa?" tanya Habibie lagi. "Toh Rimaku tetap tidak kembali kan, jadi untuk apa! Dia saja tega, lalu, kenapa aku tidak!" Habibie kini terlihat sangat marah.
Dia benar-benar menyalahkan takdir yang ada. Harapan indah sudah dia susun bersama Rima, harus hancur dalam hitungan hari.
Ibu yang melihat kemarahan bercampur kesedihan hanya bisa menangis dan meratapi nasib anaknya.
__ADS_1
"Ada apa Bu?" tanya ayah yang baru muncul dan mendengar teriakkan Habibie.
"Habib yah," ujar ibu dengan bibir bergetar.
"Dia sudah besar, biarkan dia memilih jalannya, kita sebagai orang tua sudah berulang kali menasehatinya dan menegurnya, tapi dia tetap seperti itu. Jadi biarkan saja," ucap ayah yang kini menuntun sang istri keluar kamar anaknya.
Hati ayah mana yang tidak akan sedih, saat melihat anaknya yang selama ini dia banggakan menjadi urakan seperti ini.
Setiap pulang kerumah selalu dalam keadaan mabuk dan bahkan tak jarang masih terus memaki takdir dirinya.
"Ya Allah, kembalikan anak kami seperti dulu lagi. Lembut kan hatinya, dan berikan dia keihklasan atas takdir-Mu," batin ayah dengan doa dan pengharapan yang selalu sama.
"Ya sudah, ayo kita sholat, Bu. Doakan agar anak laki-laki kita kembali ke jalan-Nya." Ayah mengajak sang istri untuk berikhtiar lewat doa.
"Iya yah," jawab ibu dengan sesegukan.
Alina yang sejak tadi melihat semuanya, hanya bisa meneteskan air mata. Dia juga sedih melihat kakak laki-lakinya menjadi seperti itu.
Kakak yang dulu selalu berbicara lembut dan penuh kasih sayang, kini berubah begitu dingin dan galak.
"Ya Allah. Engkau yang maha membolak-balikkan hati, tolong kembalikan hati bang Habib seperti dulu kala, sembuhkan luka di hatinya, dan tuntunlah dia lagi kembali kejalan-Mu, Ya Robb." Alina terus memanjatkan doa untuk sang kakak.
Keluarga begitu terpukul dengan perubahan sikap yang di alami oleh Habibie, dan hanya bisa mendoakan agar Habibie menjadi Habibie yang dulu lagi.
"Aku kangen kamu, Rima. Kenapa kamu pergi dengan cepat? Kenapa begini Rim." Habibie menangis untuk yang kesekian kalinya.
Ini sudah dua bulan berlalu, akan tetapi, Habibie belum mampu mengikhlaskan kepergian Rima.
Rasanya, begitu sakit dan hancur, saat orang yang kita cintai pergi dengan mendadak dan tanpa pesan apapun.
Habibie selalu menyalahkan takdir, karena bagi Habibie, takdir begitu kejam kepadanya.
"Kenapa Tuhan? Kenapa Kau ambil Rima dengan kejam! Kenapa!" teriak Habibie di dalam kamar.
Ayah membuka pintu kamar Habibie dengan kasar. Ayah begitu marah dan kecewa, sehingga di menit selanjutnya, agenda itu terjadi.
Plak
Satu tamparan mendarat tepat di pipi sebelah kiri Habibie tepat saat sang ayah berada di depannya.
Ayah menatap nanar tangannya, dia sebenarnya tidak ingin melakukan hal itu, tapi saat dia mendengar anak yang dia banggakan masih hanyut dalam kesedihan dan selalu menyalahkan takdir, ayah sangat marah.
__ADS_1
Dia langsung membuka pintu kamar Habibie dengan kasar dan langsung menamparnya.
"Ayah," ucap ibu dengan bergetar, begitu juga Alina.
Mereka baru pertama kali melihat sang ayah marah hingga seperti ini.
Habibie yang mendapatkan tamparan hanya bisa mematung, dia tidak menyangka ayah yang selalu bersikap lembut dan sabar bisa melakukan hal itu.
"Maaf, maaf," gumam Ayah sambil berjalan mundur dan pergi meninggalkan kamar Habibie.
"Abang," ucap Alin dengan air mata yang sudah mengucur deras.
Dia tidak menyangka, keluarganya yang selalu harmonis, bisa menjadi sekacau ini.
Ibu yang tidak kuasa, akhirnya memilih menyusul sang suami untuk menenangkan diri sendiri dan juga suaminya.
Dua orang paruh baya itu menangis sesenggukan dan saling berpelukan. Beban di hati mereka terasa semakin berat, saat melihat salah satu anak mereka menjadi tidak terkendali lagi.
"Ayah harus apa, Bu?" Ayah terus bertanya kepada sang istri.
"Ayah merasa gagal, Bu. Ayah sungguh tidak berguna," tangis ayah pecah dalam dekapan sang istri yang juga dalam keadaan yang sama.
Saling berpelukan, untuk saling menguatkan. Kehidupan mereka saat ini, seperti sedang berada di titik terendah.
Dulu, ujian seberat apapun selalu bisa mereka lalui. Tapi saat ini, ujian ini terasa paling berat dan paling sulit.
Kehilangan Rima merupakan ujian yang bukan hanya untuk Habibie, akan tetapi juga untuk seluruh keluarganya.
"Ayah, Ibu." Alina memanggil dengan sesegukan.
"Kemarilah, Nak." Ayah merentangkan tangannya.
Mereka lupa, ada Alina yang juga pasti ikut sedih dengan keadaan ini.
"Maafkan Ayah, atas apa yang kamu lihat tadi, Ayah hanya-"
Ayah sudah tidak bisa menyelesaikan ucapannya, dia kembali menangis dan kali ini, dia memeluk dia wanita yang begitu dia cintai dan kasihi.
"Selalu doakan abang mu ya, Lin, agar dia kembali menjadi Abang yang dulu kita kenal," pinta Ibu masih berusaha mengendalikan tangisnya.
"Iya Bu, aku selalu mendoakan Abang di setiap sujudku," jawab Alina yang masih dalam dekapan sang ayah.
__ADS_1
Habibie yang berdiri di balik tembok kamar milik orang tuanya, mendengar semuanya. Tapi entah kenapa hatinya masih belum tergerak untuk meminta maaf dan menjadi Habibie yang dulu.
"Habibie yang dulu, ikut pergi bersama Rima, jadi tolong jangan memintaku untuk menjadi Habibie yang dulu lagi," gumam Habibie, sebelum dia pergi meninggalkan rumah orang tuanya dan entah pergi kemana.