Takdir Habibie

Takdir Habibie
Tempat Baru


__ADS_3

Entah pikiran dari mana, Habibie kini malah tidak pulang, dia saat ini sudah menyewa sebuah rumah, atau lebih tepatnya ngontrak di rumah yang ternyata tidak jauh dari club' yang biasa dia datangi.


Keputusan yang akhirnya membuat hati orang tuanya dan juga adiknya begitu sakit. Hukuman apalagi yang harus mereka terima, dengan kepergian Rima.


"Kenapa kamu lakukan itu, Nak? Apa salah kami?" tanya sang bunda dengan terisak pilu.


"Abang, kenapa kamu jadi kejam begini? Kenapa kamu hukum kamu yang tidak tau apa-apa, kenapa, Bang? Jawab!" Alina bahkan sampai berteriak, meluapkan segala kesedihan yang dia dan orang tuanya rasakan.


Habibie, dia masih diam saja. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, yang pasti, apa yang dia lakukan sudah sangat melukai hati kedua orang tuanya.


"Jika kamu merasa tidak membutuhkan kami lagi, maka pergilah. Silahkan cari jalanmu sendiri yang menurut mu itu benar dan bisa membuat mu bahagia. Jangan perdulikan kami lagi, karena faktanya kami sudah tidak kamu anggap lagi," ucap ayahnya Habibie dengan suara bergetar.


Untuk apa memaksakan kehendak, jika sang anak bahkan sudah tidak menganggapnya ada sebagai orang tua.


"Ayah,"


"Yah,"


Bunda dan Alina berucap secara bersamaan, mereka kaget, saat mendengar ucapan dari sang suami dan ayahnya.


Habibie tertegun saat mendengar ucapan ayahnya. Dia merasa ada yang hilang entah apa itu, rasanya begitu menyesakkan dada.


Habibie mengangkat kepalanya yang semula tertunduk, dia merasa bingung saat ini, seperti ada di persimpangan jalan.

__ADS_1


Bayangan kepergian Rima, dan juga rasa kecewa dengan keadaan, malah membuatnya hilang arah, dan kini, dia semakin kehilangan arah dan tujuan.


Meski berat, akhirnya Habibie tetap kekeh untuk keluar, memilih jalan hidupnya yang baru, meski dia sadar, dia sudah melukai hati kedua orang tuanya, dan juga adiknya.


"Maaf," ucap Habibie sebelum dia benar-benar keluar dari rumah orang tuanya membawa tas ransel yang berisi bajunya.


"Bibir!!!" teriak ibu histeris.


"Abang!!" Alina juga ikut berteriak dengan keras.


Dua wanita beda usia itu luruh ke lantai, keduanya hancur dan sedih kehilangan Habibie, tak terkecuali sosok laki-laki paruh baya yang terlihat kuat, tapi siapa sangka, jika dia paling terpukul.


Anak semata wayangnya, kini sudah berubah drastis hanya karena kehilangan, entah apa yang bisa dia lakukan setelah ini, yang jelas sang ayah begitu kecewa,marah dan kehilangan secara bersamaan.


"Ayah, Bibie, Yah," isakan ibu semakin menyayat hati.


"Bunda, Ayah, kenapa jadi begini. Abang akan kemana," Alina, terus saja tergugu dan bahkan rasanya kepalanya terasa begitu pusing.


"Sudah, ayo bangun. Kita doakan agar Habibie segera menemukan penawarnya. Percayakan semuanya kepada sang pencipta, karena Dia lah sang maha membolak-balikkan hati setiap manusia." Ayah membantu sang istri dan anaknya bangun.


Dia harus, tetap tegar dan kuat demi istri dan anaknya, meski dia sendiri rapuh serapuhnya.


Bagaimanapun, dia adalah kepala keluarga, dan jika dia ikut lemah, bagaimana dengan istri dan anaknya.

__ADS_1


"Habibie akan kemana, Yah?" tanya sang bunda.


"Ayah juga tidak tau, Bun. Tapi percayalah, dia selalu dalam lindungan Allah SWT, doakan dia terus, karena doa seorang ibu akan lebih cepat sampai kepada sang pencipta." Ayah merangkul istri dan anaknya.


"Yah," panggil Alina pelan, masih terdengar sesegukan di sana.


"Ya, Nak, ada apa?" jawab dan tanya ayah.


"Kenapa kita tidak coba kenalkan Abang sama anaknya ustadz Abdullah, saja." Alina memberi usul.


"Tidak semudah itu, Nak. Abang mu sedang dalam keadaan hilang arah, dia sedang berusaha ikhlas dengan mencari jalan dan caranya sendiri, percayalah akan ada saatnya dia menemukan kembali cahaya hidupnya," ucap sang ayah berusaha memberikan penjelasan.


"Biarkan semuanya berjalan dengan takdir Allah, karena sesungguhnya, tak akan pernah ada takdir yang tidak sesuai dengan ketetapan Allah," lanjut sang ayah.


"Jika, Allah sudah berkehendak mempertemukan mereka, dan menjadikan anaknya ustadz Abdullah sebagai penawar, maka sejauh apapun Abang mu berlari, maka dia akan berputar pada jalan yang sama, jadi ayo kita bantu doa, agar Abang segera menemukan penawarnya." Ayah mengulas senyum dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.


Jika di tanya, apakah dia tidak sedih, maka jawabannya bohong jika dia tidak sedih, dia adalah sosok paling sedih tapi harus paling kuat secara bersamaan.


Ketiga orang itu akhirnya berpelukan, meluapkan rasa sedih di hati masing-masing. Mulai hari ini, mereka bertiga harus saling menguatkan satu sama lainnya, karena jika satu lemah, maka akan berpengaruh pada yang lainnya juga.


"Ya Allah yang maha Agung. Hamba percayakan anak hamba kepada Engkau, karena sesungguhnya sebaik-baiknya perlindungan, adalah perlindungan dari- Mu," batin ayah Hilman- ayah dari Habibie.


"Ketetapan yang sudah Engkau berikan adalah hal mutlak bagi kami untuk menerimanya. Hamba hanya meminta sebagai seorang ibu, tolong kembalikan hati anak hamba, Habibie seperti dulu lagi, kirimkan penawaran untuknya, agar kembali kejalan-Mu," batin bunda Fatimah - bunda dari Habibie.

__ADS_1


"Ya Allah, hamba titipkan Bang Habibie kepada Engkau, lindungi dia di manapun dia berada, aamiin." Alina berdoa dalam hati.


__ADS_2