Takdir Habibie

Takdir Habibie
Masih Sama


__ADS_3

Pagi menjelang, Habibie bangun dengan kepala yang pusing seperti biasanya. Dia duduk diam sebentar, dan menoleh kesamping, di mana ada sang adik tidur di sampingnya.


Seulas senyum terbit di sudut bibirnya, meski hanya berlangsung sekian detik saja. Setelah itu, Habibie langsung berjalan ke kamar mandi, untuk bersiap diri.


Sudah pasti, semua orang tau kemana tujuannya pergi. Kemana lagi jika bukan ke tempat Rima berada. Hari-hari Habibie hanya seputar itu saja.


Ibu dan ayahnya, hanya bisa menghela nafasnya lelah, jujur saja, mereka rindu dengan Habibie yang dulu. Habibie yang ramah, taat, patuh, sopan, dan baik.


Hati seorang ibu mana yang tidak sakit, saat melihat anaknya seperti orang asing. Dingin, galak, suka mabuk, dan bahkan sudah tidak pernah lagi menjalankan tugasnya sebagai seorang muslim.


"Kamu mau kemana lagi, Nak?" tanya bunda, hanya sekedar ingin menyapa anaknya.


"Nemenin Rima." Habibie menjawab sekenanya saja.


"Nak." Bunda begitu lirih dengan pandangan sendu.


"Jangan bilang apapun lagi. Aku pergi Bun," ucap Habibie yang langsung melenggang begitu saja, tanpa menyalami kedua orang tuanya.


"Bun, yang sabar ya. Doakan saja, semoga Habibie segera menemukan penawarnya, agar dia kembali menjadi Habibie kita," ucap Ayah menenangkan sang istri, meski dia sendiri juga merasa sakit melihat perubahan anaknya.


"Iya Yah, aamiin." Bunda mengaminkan.


Habibie mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, padahal lalu cukup padat. Dia merasa, jika sudah sangat terlambat.

__ADS_1


"Hai, maaf aku datang terlambat, apa kamu marah?" tanya Habibie, begitu dia sampai di depan makam Rima.


Jarak rumah dengan pemakaman hanya sekitar tiga puluh menit jika menggunakan mobil, dan Habibie, dia langsung berlari, begitu dia sampai di area pemakaman.


"Maaf ya, jangan marah. Aku tadi bangun kesiangan, kamu tau kenapa? Ya karena aku habis menikmati hidup, tadi malam, rasanya aku terbang dan nyusul kamu," cerita Habibie dengan terkekeh getir.


"Kamu tau? Dengan aku minum seperti itu, aku merasa bisa dekat denganmu, bahkan aku bisa melihatmu. Tapi, kenapa kamu malah diam saja, dan terlihat marah? Apa karena aku sering datang terlambat ya?" tanya Habibie, seolah-olah, Rima akan menjawabnya.


Siapapun yang mendengarnya, akan sangat terdengar pilu. Habibie, seorang laki-laki yang begitu tampan, gagah, dan kuat, kini terlihat lemah dan rapuh tak berdaya, setelah ditinggal pergi calon istrinya.


"Kamu, apa bahagia disana? Kenapa kamu tidak balik juga? Apa aku tidak penting buatmu?" Habibie bertanya terus menerus.


"Kamu memang sepertinya tidak perduli denganku, buktinya kamu tidak nurut sama orang tuamu. Andai saja kamu nurut, pasti saat ini kita sudah bersama-sama, dan bahagia," ucap Habibie, dengan bahu bergetar yang ternyata dia menangis untuk kesekian kalinya.


Habibie ingat cerita calon mertuanya, sebelum kejadian naas itu terjadi. Dalam hati Habibie juga marah kepada Rima yang ceroboh dan keras kepala.


"Apa kamu tidak memikirkan aku? Kenapa kamu pergi begitu saja? Aku punya salah apa sama kamu? Kenapa kamu tega?" Habibie bertanya dengan suara parau.


"Aku begitu mencintaimu, begitu mencemaskan mu saat kamu tidak ada kabar, dan aku selalu meminta mu untuk memberi tahu apapun itu kan? Lalu kenapa kamu nekat? Kenapa, Rim? Kenapa?" Habibie sudah sesegukan.


Rasany, hatinya masih begitu pedih akan kehilangan yang dia alami.


"Kenapa kamu tidak mengajakku sekalian, kenapa malah pergi sendiri? Aku kesepian kalo kamu pergi, balik ya, Rim." Habibie semakin terisak, bahkan sang penjaga kubur, ikutan menangis saat mendengar segala ucapan Habibie.

__ADS_1


"Semoga, kamu segera menemukan obat penawarnya, kamu orang baik, cintamu yang begitu dalam, membuatmu menjadi serapuh dan sehancur ini," batin bapak penjaga kubur itu, sebelum dia berlalu.


Hari yang mulai terik, memaksa Habibie untuk bangun dari tidur sesaatnya. Ya Habibie tertidur, setelah dia menangis di samping Rima.


"Engh..."


"Ternyata sudah siang. Ah, baru juga sebentar di sini," gumam Habibie.


"Tidur di dekatmu, selalu membuatku nyaman," ucap Habibie dengan terkekeh.


Dia mentertawakan sikap yang terbilang aneh, jika ada orang yang melihatnya.


"Ah, aku harus kerja. Uangku sudah habis, jadi harus kerja lagi, buat beli minum lagi, nanti biar aku bisa terbang buat nyusul kamu," pamit Habibie, tapi masih duduk di sana.


"Aku pergi ya, jangan kangen lho, besok aku kesini lagi." Kali ini Habibie benar-benar pergi dari makan Rima.


Dia memang bekerja, tapi sudah tidak menjadi seorang guru lagi. Habibie, kini bekerja sebagai supir taksi online yang menurutnya tidak perlu setiap saat setiap waktu. Saat dia mau ya dia kerja, saat dia malas ya dia libur.


Habibie hanya berfikir, untuk apa dia kerja, jika tujuannya kerja sudah tidak ada lagi di sampingnya.


Otaknya benar-benar sudah kehilangan kewarasannya, dia bahkan tidak lagi memberikan rejeki untuk kedua orang tuanya.


Setiap dapat uang, maka dia akan langsung bawa ke klub dan membeli beberapa botol minuman, setelah itu dia akan pulang dan tidur.

__ADS_1


Hari-harinya, begitu hambar dan datar. Tidak ada lagi senyum ceria, tujuan hidup, dan kebahagiaan, Habibie benar-benar sudah menjelma sebagai sosok yang baru.


"Hidupku terasa hambar dan datar. Kehilanganmu, seperti separuh nyawa ku juga ikut hilang," batin Habibie.


__ADS_2