Takdir Habibie

Takdir Habibie
Kesunyian


__ADS_3

Habibie termenung dalam diam, rumah kontrakan yang saat ini dia tempati cukup luas jika hanya di isi dirinya saja.


Sebenarnya dia ingin ngekos saja, tapi lagi dan lagi nasib seolah sedang mengejek dirinya, tidak ada kos-kosan yang kosong, dan akhirnya berakhirlah dia di sini.


Menghela nafas panjang, Habibie mulai merapikan bajunya ke dalam lemari plastik yang sudah tersedia. Dia bahkan masih membawa foto Rima dan dirinya yang mereka lakukan dua Minggu sebelum hari H.


"Lihatlah, aku begitu mengenaskan bukan? Seandainya kamu tidak pergi, ke pasti kita sudah bahagia sekarang, kita bisa menempati rumah baru kita," ucap Habibie dengan pandangan yang sendu.


Dia usap foto Rima yang terbingkai indah dalam figura di depannya. Habibie bisa melihat senyum Rima yang begitu manis menyejukkan hatinya.


"Andai, kamu bisa sedikit mengurangi sifat keras kepalamu, pasti tidak akan terjadi, kenapa Rim, kenapa kamu tega meninggalkan aku sendiri dalam kesunyian ini," ucap Habibie parau, dia memang laki-laki, tapi saat dia dihadapkan dengan Rima, maka dia akan berubah menjadi cengeng seperti ini.


Habibie bergegas mengusap air matanya, saat dia mendengar ketukan pintu di kontrakannya.


"Ada apa?" tanya Habibie dengan datar, saat dia tau siapa yang datang.


"Lo beneran tinggal di sini sekarang?" tanya orang itu yang tak lain adalah Alex.


"Yang Lo lihat?" tanya Habibie balik.


"Ck, kenapa harus sampai seperti ini sih Bie, kamu gak kasihan sama orang tuamu?" Alex berdecak sebal, dia memang suka mabuk-mabukan, suka keluyuran, tapi itu semua karena dia sudah tidak punya siapa-siapa dan merasa kesepian, sedangkan Habibie, masih ada orang tua.


"Lo harusnya tidak begini, lihatlah orang tua Lo pasti tersiksa, Lo boleh sedih tapi gak berlarut juga!" Alex memberikan nasehat.


"Udah ngomong nya?" tanya Habibie dengan datar dan malas.

__ADS_1


"Lo gak perlu ceramahin gue, gue tau apa yang gue butuhkan. Kalo Lo kesini cuma mau ngomong yang gak penting, mending Lo balik gih!" Habibie yang sudah jengah, memilih mengusir Alex.


"Gue hanya prihatin bro, Lo tau, gue peduli sama Lo, meskipun gue juga bukan orang baik," ucap Alex yang malah menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi di ruang tau itu.


"Gue gak butuh di kasihani!" Habibie mulai emosi.


"Gue gak kasihan sama Lo, tapi gue peduli!" Alex ikut terbawa emosi.


"Lo mending pulang." Habibie mengusir Alex sekali lagi.


"Oke-oke sorry, gue gak ada maksud. Tadi gue kesini mau mastiin aja, Lo jadi pindah tidak," ucap Alex pada akhirnya mencoba mencairkan suasana yang sudah tegang.


Tanpa Habibie tau, jika Alex saat ini di beri kepercayaan oleh orang tua Habibie untuk menjaga Habibie.


Mereka tau, Alex pada dasarnya adalah orang baik, hanya saja pergaulan yang salah, sudah membawanya menjadi pribadi yang seperti saat ini.


"Lo mau ikut gak ke warung depan, gue mau beli makan siang di sana, rasanya lumayan enak dan harganya lumayan murah," ajak Alex yang memberikan informasi karena Habibie orang baru.


"Apa Lo biasa makan di sana, kenapa bisa tau?" tanya Habibie yang memang merasa lapar.


"Ya, karena cuma di sana yang harganya masih bisa gue jangkau sebagai anak kos dan tukang ojek," jawab Alex yang kini mulai santai.


"Gue mau bersih-bersih sebentar, gerah, abis beresin rumah ini," ucap Habibie yang langsung masuk ke dalam kamar dan bersiap untuk mandi.


Beruntung kontrakan ini memiliki kamar mandi yang ada di kamar, meski hanya ada satu kamar, ruang tamu, dan dapur, tapi setidaknya masih terasa sangat nyaman.

__ADS_1


Tiga puluh menit berlalu, Habibie sudah keluar dari kamar dengan penampilan yang fresh dan segar. Sekilas, jika orang yang tidak tau, mereka akan menganggap Habibie adalah manusia sempurna, sudah tampan, badan oke, naik mobil juga.


Tapi, saat mereka tau bagaimana kisahnya dan kehidupannya saat ini, maka Alex yakin sebagian besar akan memandang dengan iba dan mungkin akan ada yang mengejeknya.


Mereka berjalan bersama menyebrangi jalan raya, memang tidak terlalu jauh dari rumah kontrakannya, hanya perlu menyebrang jalan saja, maka mereka sudah sampai di warung yang sederhana tapi pengunjungnya lumayan banyak.


Habibie dan Alex langsung mencari tempat duduk yang masih ada, mereka hanya memesan nasi rames, sepotong ayam, dan teh hangat.


"Bagaimana?" tanya Alex saat dia sudah melihat Habibie menyelesaikan makannya.


"Ya, Lo bener, rasanya pas di lidah." Habibie hanya menjawab seadanya.


"Warung ini buka dari jam tuju pagi sampai dan tiga sore," ucap Alex memberi tahu.


"Hem, thanks infonya," ucap Habibie.


Mereka langsung kembali ke rumah masing-masing, begitu selesai dengan acara makan siangnya.


Alex kembali ke kamar kos yang letaknya tidak jauh dari rumah kontrakan Habibie.


Begitu masuk ke dalam, lagi dan lagi, Habibie hanya bisa merasakan kesunyian yang membelenggu jiwanya.


"Sunyi lagi, aku harus apa Rima?" Habibie berjalan dengan sendu.


"Bisakah kamu sudahi rasa sakit ini, bisakah kamu bawa aku sekalian? Aku merindukanmu," ucap Habibie lagi.

__ADS_1


"Apa kamu tidak merindukan aku? Apa kamu tidak kesepian?" Habibie terus merancau.


"Rima, aku rindu."


__ADS_2