
Habibie mengemudikan mobilnya tidak tentu arah. Semangat hidupnya sudah hilang sejak dia kehilangan separuh hatinya. Jika ada yang mengatakan Habibie berlebihan, maka biarkanlah, karena faktanya dia memang begitu mencintai wanitanya.
Rasa hancur, marah, sakit, benci, dan kehilangan menjadi satu perpaduan yang begitu cantik mengejek dirinya.
Keramahan yang dulu dia sajikan untuk siapapun, kini berganti dengan sikap arogan dan tak tersentuh. Jika dapat di lihat, maka hatinya kini sudah berubah menjadi beku, bersama dengan kebekuan saat wanita yang dia cintai tak bergerak lagi.
Berjalan tertatih, Habibie kembali ketempat ini, tempat dimana dia merasa damai dan tenang, merasa begitu dekat dengan sang kekasih hati.
Duduk dengan kasar, lagi Habibie seka air matanya yang ternyata sudah mengalir entah sejak kapan.
"Hai, Sayang. Lihatlah, aku hancur tanpa kamu. Apa kamu tidak kasihan kepadaku? Kenapa kamu pergi begitu saja, bahkan kamu tidak mengatakan apapun kepadaku, kenapa, kenapa, Sayang?" Habibie menangis tergugu di depan nisan yang bertuliskan Rima Pratiwi.
"Kenapa kamu tidak ajak saja aku? Kenapa? Aku lebih suka ikut denganmu, dari pada kamu tinggal aku sendirian seperti ini," lagi, Habibie terus saja berbicara sendiri.
Dia terus berbicara, seakan di depannya ini ada sosok Rima. Mengusap nisan dengan lembut, Habibie dekatkan wajahnya dan mengecup nisan tersebut.
"Aku harus apa, Sayang. Katakan, aku harus apa? Aku harus bagaimana tanpamu? Aku benar-benar tidak tau, aku hilang arah, aku, aku--" Habibie sudah bisa melanjutkan kata-katanya.
Dia langsung saja merebahkan kepalanya di pusara sang kekasih. Sampai saat ini, rasanya dia belum bisa menerima semuanya.
Kehilangan secara mendadak, benar-benar menjadi pukulan telak untuk hidupnya. Semua impian yang sudah dia susun, hancur tak bersisa.
Gila? Mungkin sebagian orang akan menyebut dirinya seperti itu, karena yang dia lakukan saat ini seperti orang gila.
Habibie, dia tidak perduli dengan itu, yang dia tau, dia hanya merasa nyaman dengan keadaannya yang seperti ini, di sini, dekat dengan kekasihnya.
"Kamu tenang saja, aku disini menemani kamu, biar kamu gak kesepian. Karena aku juga kesepian tanpamu." Habibie mulai menutup matanya.
Begitulah hari-harinya, dia habiskan setengah harinya untuk berada di makam Rima, hingga siang dengan panas yang terik, Habibie baru akan beranjak, bukan karena dia lelah, tapi karena dia ingin mencari keramaian.
Keramaian yang dulu bahkan tidak pernah dia sentuh sama sekali. Kini, hal itu malah menjadi sahabat baiknya.
Minum, sampai mabuk dan bergoyang seperti orang gila, adalah kegiatan yang sangat menyenangkan bagi Habibie. Dia akan di sana, terus seperti itu, sampai dia benar-benar tidak sadar.
"Wah, pangeran kita datang," ucap teman Habibie yang merupakan orang pertama yang mengajak Habibie mengenal tempat ini.
"Wus, penampilan Lo kayak habis kena badai," ejek teman yang lainnya.
"Gue bukan kena badai, karena gue yang jadi badainya." Habibie duduk dengan kasar.
"Santai bro, santai. Lo mau minum apa? Kali ini gue yang traktir." Alex berkata dengan sedikit teriak.
__ADS_1
"Seperti biasanya." Habibie sudah mulai meneguk minuman yang ada di depannya.
Dia tidak perduli itu minuman siapa. Yang dia tau, minuman itu ada maka dia minum. Teman-teman yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya saja.
Tingkah Habibie yang seperti itu, malah membuat mereka senang. Akhirnya, seorang yang dulunya taat seperti Habibie ini, bisa menjadi pencandu minuman karena di tinggal sosok Rima.
"Nih, minum sepuas Lo!" Alex datang dengan pelayanan yang membawa beberapa botol minuman.
Tanpa berkata apapun, Habibie mulai meneguk seperti orang kesetanan. Dia seolah tidak perduli lagi akan lain hal.
"Rima, aku kangen," rancau Habibie yang mulai mabuk.
"Rim, plis pulang ya, kita nikah!" Habibie terus saja merancau.
Teman-teman yang melihatnya sebenarnya juga kasihan, sebegitu frustrasinya seorang Habibie di tinggal oleh Rima.
"Lex, udah mabuk berat ini temen Lo," ujar salah satu dari mereka.
"Iya, biarkan dulu, ntar gue bawa dia pulang," jawab Alex santai.
Alex memang mengajak Habibie mengenal tempat ini, tapi dia juga tidak tega jika harus membiarkan Habibie di tempat seperti ini sampai pagi.
"Rima, aku merindukanmu, pulanglah lagi," gumam Habibie dengan air mata yang mengalir.
Deg
Sejenak, semua teman-temannya yang ada di ruangan itu terpaku. Mereka begitu kaget, saat melihat Habibie sampai meneteskan air mata. Baru kali ini, mereka melihat Habibie mabuk sampai menangis seperti itu.
Sepertinya, kerinduan yang mendalam sedang di rasakan Habibie. Mereka merasa tidak tega, akhirnya Alex memilih mengantarkan Habibie pulang.
"Gue emang gak baik, tapi gue juga gak tega lihat Lo jadi kayak gini. Mana Habibie yang gue kenal dulu, Lo itu yang selalu ceramahi gue agar tobat, tapi lihatlah, sekarang malah Lo ikutan kayak gue," gumam Alex dengan getir.
Alex adalah orang yang naik pada dasarnya. Dia seperti itu karena kecewa dengan orang tuanya. Melihat Habibie yang seperti dirinya, malah membuat dadanya nyeri.
Alex mengetuk pintu rumah Habibie di hari yang hampir tengah malam itu. Perlahan pintu terbuka, dan orang yang membuka pintu adalah adik dari Habibie.
Alex yang melihatnya diam terpaku, sejenak dia lupa akan tujuannya datang kerumah ini.
"Maaf, Kak, ada apa?" tanya wanita cantik yang Alex tau dia adalah adik dari Habibie.
"Oh itu, gue nganterin Habibie," jawab Alex gugup.
__ADS_1
"Abang? Mana dia kak?" tanya Alina lagi.
"Masih di mobil. Dia mabuk seperti biasa." Alex menjawab dengan tidak enak.
"Abang," ujar Alina dengan bibir bergetar. Dia segera memanggil ayahnya untuk membawa Habibie masuk.
"Ayah, bangun. Abang pulang, Yah. Dia ada di depan." Alina mengetuk pintu kamar orang tuanya.
"Apa Abang mu mabuk lagi?" tanya ayah, yang sudah mulai hapal kelakuan anaknya.
Alina hanya diam menunduk, dia sungguh tidak tega, melihat ayah dan bundanya sedih.
Ayah keluar dari kamar dan di susul bunda. Ayah segera membawa Habibie masuk, dan di bantu Alex tentunya.
"Terimakasih, sudah mengantarkan dia pulang." Ayah berbicara meski dia kesal dan tidak suka dengan Alex.
"Sama-sama, permisi." Alex langsung saja keluar rumah.
"Kamu kenapa begini, Nak. Bunda sedih melihatmu seperti ini, bunda sakit, Nak." Bunda menangis dengan sesegukan.
Ayah yang melihatnya hanya bisa mengepalkan tangannya, dia ingin sekali marah, tapi apalah daya, jika Habibie saat ini sudah terlelap dengan damai, meski sesekali dia masih terus memanggil nama Rima.
"Bang, Alin, rindu Abang yang dulu," ucap Alin, dengan mengelap badan Habibie dan mengganti pakaiannya.
"Ayah, sama bunda tidur saja, Alin yang akan di sini sama Abang, kasihan ayah, pasti lelah," ucap Alin, memandang sendu kedua orang tuanya.
"Tapi nak," tolak bunda yang mendapatkan gelengan kepala dari Alin.
"Bunda ajak ayah istirahat, Alin yang jaga Abang. Kasihan, Ayah, pasti lelah dan ngantuk setelah kerja keras, Bun." Alina, hanya tidak ingin orang tuanya sakit.
"Baiklah, kalo gitu bunda sama ayah ke kamar ya, nanti kalo ada apa-apa, kamu panggil bunda saja." Bunda akhirnya mengikuti ucapannya anaknya, dia juga kasihan sama suaminya.
"Iya, Bun." Alina langsung duduk di sisi ranjang sang kakak.
Dia memandang dengan sendu. Rasanya, dia begitu merindukan sosok Abang nya yang dulu. Abang yang begitu hangat, sayang dengan dirinya, dan selalu melindungi dirinya dan keluarga.
"Bang, jika kamu dengar aku, aku mohon kembalilah, Bang. Kami kehilangan, Abang." Alina mencium kening sang kakak, dan akhirnya ikut tidur di sampingnya.
Sedangkan, tanpa mereka tau, sejak tadi Habibie tidak tidur. Dia hanya memejamkan matanya. Dia juga hancur sebenarnya saat mendengar semua ucapan keluarganya, tapi hatinya terlalu beku, untuk menjadi hangat kembali.
"Lihatlah Rima, kamu sudah buat akundan keluargaku hancur berantakan. Kamu dan takdir sama-sama kejam!" batin Habibie dengan mata terpejam dan air mata yang menetes.
__ADS_1