Takdir Habibie

Takdir Habibie
Sekelebat Bayangan


__ADS_3

Habibie melajukan mobilnya sambil menghidupkan aplikasi ojek online yang jadi pekerjaannya sekarang.


Sesekali terdengar helaan nafas yang panjang dan berat, menandakan jika perasaannya masih sesak. Dia masih belum bisa merelakan jika calon istrinya sudah pergi jauh meninggalkan dirinya seorang diri.


Ribuan sesal, juga kecewa menggerogoti hatinya, dia menyesalkan karena kejadian itu begitu cepat dan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia kecewa, dengan sikap keras kepala sang calon istri.


Andai, Rima mau mendengarkan larangan ibunya, pasti tidak akan begini. Habibie, masih saja tidak bisa menerima kepergiannya yang begitu meninggalkan luka teramat pedih.


"Kenapa, kenapa harus secepat ini?" gumam Habibie, masih terus menjalankan mobilnya.


Suara notifikasi pemesanan masuk ke akun miliknya, yang dengan segera dia ambil. Bukan bersemangat kerja, tapi Habibie bersemangat karena akan mendapatkan uang untuk dirinya pergi ke club' malam.


"Mari bekerja, setelah itu mari habiskan," teriak Habibie di dalam mobil seperti orang gila.


Habibie langsung melihat titik penjemputan, dan ternyata dekat dengan lokasi dia saat ini.


Tidak butuh waktu lama, Habibie sudah sampai di tempat penjemputan, dan ternyata calon penumpangnya adalah seorang ibu-ibu yang memakai pakaian begitu syar'i.


"Selamat siang, diantar sesuai tujuan kan Bu?" tanya Habibie, bersikap seramah mungkin.


"Iya, Mas." Jawab ibu itu singkat dan dengan menunduk, menjaga pandangan.


Habibie masa bodo dengan hal itu, karena dia juga sebelumnya paham akan hal itu.


Habibie menyetir dengan kecepatan sedang, dia hanya menghormati saja penumpangnya, agar mendapatkan nilai sempurna.


Tiga puluh menit kemudian, Habibie sudah berhenti tepat sesuai dengan yang ada di aplikasi. Dengan segera sang ibu turun dan mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih, Mas. Bayarnya sudah di aplikasi ya," ucap sang ibu dengan suara yang begitu lembut.


"Ya, dan terimakasih kembar," jawab Habibie dengan datar.

__ADS_1


Setelahnya, sang ibu langsung bergegas meninggalkan mobil Habibie. Habibie masih diam di tempat tadi, karena dia sedang mengecek aplikasinya.


Baru saja dia mengangkat pandangannya dari ponsel, ke arah jalan di raya di depannya. Sekelebat wajah yang begitu teduh menyentak hatinya.


"Siapa dia? Kenapa aku tiba-tiba kaget dan gugup." Habibie menyentuh hatinya.


Dia benar-benar merasa heran, padahal dia hanya melihat seseorang itu sekilas saja, karena orang itu langsung menghilang di pertigaan jalan.


Merasa tidak ingin ambil pusing, Habibie langsung melajukan mobilnya lagi, agar segera dapat uang dan segera bisa dia gunakan untuk bersenang-senang.


Hari berganti malam, dan akhirnya di sinilah Habibie berada. Di tempat baru, yang juga baru dia kenal setelah kepergian Rima.


"Woy, Bro, Lo tumben telat?" sambut teman baru Habibie.


"Gue cari duit dulu," jawab Habibie acuh.


"Wuah, kehabisan duit Lo?" ejek teman yang lain dan di susul gelak tawa tiga orang lainnya termasuk Alex.


"Sialan Lo pada. Gak usah banyak ngomong, gue lagi mau senang bukan dengerin ocehan Lo pada!" Habibie, memilih segera memesan minuman haram itu.


"Oke!" jawab bartender itu yang sudah hapal dengan pesanan Habibie.


Teman-teman yang lain mulai turun kebawah untuk menyenangkan diri mereka, tapi tidak dengan Alex, ternyata dia masih anteng di samping Habibie.


"Bro, Lo, gak seharunya menjadi kayak gini, gue tau Lo itu seperti apa!" Alex menepuk pundak Habibie.


"Apa dengan gue baik, dia bakal kembali di sisi gue? Gak kan? Jadi buat apa gue baik!" Habibie terlihat mulai mabuk.


Dia tidak bisa meminum minuman seperti itu, makanya baru dua gelas saja, dia pasti sudah mulai mabuk.


"Gak gitu juga konsepnya bro. Lo masih ada orang tua yang sayang sama Lo, adik yang baik dan manja sama Lo, jadi stop siksa diri Lo sendiri termasuk mereka juga!" Alex berusaha menyadarkan Habibie.

__ADS_1


"Gak usah banyak omong, Lo aja kayak gue!" gumam Habibie.


"Gue kayak gini sejak dulu, sejak gue hidup sendiri, tanpa ada arah tujuan, sedangkan Lo, Lo masih ada keluarga bro, masih ada tempat mu mengadu, bukan kayak gue!" Alex masih terus berusaha.


"Gue tau! Jadi gak usah di kasih tau! Udah nih minum, malam ini gue traktir, gue tadi dapat penumpang rame," ucap Habibie yang mulai merancau.


"Terserah Lo, jangan menyesal jika nanti mereka tidak bisa lagi Lo gapai! Gue prihatin lihat orang tua Lo dan adik Lo!" Alex langsung berlalu pergi, setelah mengatakan itu.


"Hem, dasar orang mabuk, bicaranya ngelantur," gumam Habibie mengatai Alex, padahal dia juga sama.


"Apa dia tau rasanya jadi gue? Gak kan? Jadi dia gampang ngomong gitu!" Habibie semakin tidak jelas.


Dia bahkan sudah mulai cegukan karena sudah menghabiskan empat gelas. Jika sudah lebih dari lima gelas, pasti dia akan langsung terkapar di sana.


"Hai Rima. Wah kamu makin cantik saja. Kenapa natap aku kayak gitu? Kamu mau minum juga?" rancau Habibie dengan mata terpejam.


"Kamu, mau kemana? Mau ninggalin aku lagi?" Habibie semakin tidak terkendali.


"Tunggu, Rima, tunggu aku. Aku ikut!"


Bugh


Habibie akhirnya terjatuh kelantai, saat dia berusaha bangun untuk mengejar Rima dalam batang semu. Dia terus memanggil Rima, hingga membuat Alex merasa begitu iba.


"Cintamu terlalu besar, hingga kamu menjadi hilang kendali begini." Alex segera memapah Habibie ke mobil miliknya.


Sementara mobil milik Habibie, akan di antar oleh karyawan club' tersebut. Selama perjalanan, Habibie terus saja memanggil nama Rima.


"Rima, aku ikut ya, ya."


"Rima, kenapa kamu tega!"

__ADS_1


"Aku hancur, Rim, tanpa kamu!"


"Rima, tunggu!!"


__ADS_2