Takdir Hati

Takdir Hati
Wasiat


__ADS_3

Helmi duduk termenung memandang foto ayahnya. Ayah yang selama sudah membesarkannya, yang sudah memberikan kasih sayang nya dan sudah berperan sebagai sesosok ibu menggantikan ibunya yang sudah meninggal dari ia berumur 2 tahun. Tak terasa air matanya menetes tanpa ia duga, hatinya sakit apalagi ketika hembusan nafas terakhir ayah nya ia tidak menemani sang ayah tercinta. Waktu itu ia masih dikairo menyelesaikan kuliahnya. Jika waktu dapat ia putar kembali ia ingin menemani sang ayah di akhir hidupnya namun apa daya gelas sudah pecah dan tidak dapat bersatu seperti semula itulah yang hatinya katakan.


"Ayah, Maafkan aku yang tidak bisa menjadi orang yang selalu menemanimu dan selalu ada disampingmu" Agak Terisak


Helmi menangis , entahlah rasa nya hatinya sangat hancur ia tidak malu walaupun ia menangis yang seharus nya laki-laki tidak boleh cengeng namun apa daya ia juga manusia biasa yang memiliki hati selembut sutra bukan sekuat dan sekeras baja. Ditengah-tengah tangisannya ia mendengar suara pintu diketuk. Ia pun bergegas untuk melihat siapa yang datang.


"Assalamu alaikum"


"Waalaikumussalam,Oh kak shandi rupanya. Saya pikir siapa kak"

__ADS_1


"Maaf ya dek Helmi, kakak nganggu ya?"


"Gak kok kak, silah kan masuk. Helmi kan memang sendirian kak. Kan lagi gak ada kegiatan"


Shandi pun mengutarakan niat kedatangannya. Ia ingin membicarakan hal penting kepada helmi perihal wasiat yang ayah helmi amanahkan kepada shandi. Helmi pun terkejut. Ia tidak menyangka ayahnya masih sempat meninggalkan wasiat untuk dirinya. Helmi pun mendengarkan penjelasan dari shandi dengan seksama.


"Tenang dulu dek helmi, Begini memang semasa beliau hidup dan sebelum saya menikah. Ia selalu bercanda kepada saya bahwa dia akan menikahkan mu dengan anak saya. Waktu itu saya tertawa sebab saya kan belum menikah dan kamu hanya berbeda 5 tahun lebih muda dari saya. Jadi saya yakin itu tidak mungkin dan saya fikir ayah mu bercanda . Tapi nyatanya itu malah sungguhan"Papar shandi dengan jelas


"Tapi kan kak, Anak kakak sama aku itu beda banget usianya, dia lebih cocok jadi anak aku kk terus kan masih sekolah. Kasihan dia nantinya"

__ADS_1


"Awalnya kakak pikir juga begitu, tetapi setelah kakak pikirkan lagi usia bukan lah penghalang manusia dalam berjodoh. Kalau sudah jodohnya ya mau bagaimana lagi. Rasul dan istrinya khodijah juga memiliki rentan usia yang sangat jauh namun karena berjodoh mereka akhirya bersatu dalam ikatan suci pernikahan".


"Jadi sekolah fisya gimana kak? Gak mungkin kan ia harus putus sekolah?"


"Begini, Fisya tetap sekolah. Saran kakak pernikahan kalian dilaksanakan secara sembunyi dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali keluarga kita saja. Akan kita umumkan ketika Fisya sudah berusia dua puluh tahun dan saya mohon kepadamu jangan membuat nya hamil dulu karena fisya kan masih dibawah umur walupun saya tahu itu kewajiban seorang istri untuk memberi nafkah batin kepada suaminya"


"Baiklah, Insyaallah saya akan rela dan ikhlas menjalankan wasiat ini dan mematuhi aturan yang kakak buat"


Shandi senang mendengar keputusan dari Helmi, Ia yakin helmi bisa menjadi laki-laki yang baik untuk anak nya juga imam yang pantas. Shandi juga yakin Helmi tidak akan melanggar aturan yang telah ia buat. Sebenarnya hatinya bahagia melihat anak nya fisya mendapatkan laki-laki yang sholeh, tetapi mengingat waktunya tidak tepat diusia fisya yang masih muda untuk melaksanakan pernikahan makanya hatinya berat untuk melepas anak sulungnya itu kepelukan orang lain. Shandi sudah lama mengenal helmi dan ia tahu bahwa helmi adalah anak yang patuh dan berbakti kepada orang tua.

__ADS_1


__ADS_2