
Fisya sudah pulang kerumah setelah ibunya menjemputnya. Fisya melihat dan langsung memeluk ayah nya. Ia sangat rindu . Shandi pun begitu rindu dengan anaknya ini. Laila yang melihat momen ayah dan anak itu hanya tersenyum haru. Ia langsung menyuruh Suami dan Anaknya untuk makan siang bersama.
Dalam tradisi keluarga mereka sangat menjaga adab apalagi adab ketika makan yang tidak membenarkan siapa pun untuk bercerita dan hanya fokus dengan makanan. Shandi memimpin doa. Setelah itu mereka semua mulai makan makanan yang ada dengan lahap dan rasa syukur. Setelah tiga puluh menit, Mereka sudah selesai makan dan tidak lupa berdoa.
" Nak, ayah ingin bicara sesuatu kepada mu. Ini sangat penting"
" Kenapa yah? sesuatu yang sangat penting seperti apa ya yah? kok fisya jadi deg-deg kan gini. Nanti jantung fisya bisa lompat lo yah dari tempatnya" Sambil tertawa
Shandi dan laila tertawa mendengar jawaban anaknya yang agak ngelantur, Mereka tahu anaknya itu memiliki selera khumor yang cukup tingggi tetapi itu hanya ditujukan kepada orang terdekatnya saja.
Shandi pun mulai menjelaskan secara rinci tentang wasiat perjodohan dari guru shandi. Fisya syok berat dan terduduk dilantai tanpa ia sadari.
"Kok bisa sich yah, Itu gak mungkin . Pasti ayah bercanda sama fisya kan? please yah ini sama sekali gak lucu . Ini garing banget yah." Sambil terus menatatap ayahnya.
" Ini benar nak, ayahmu tidak bercanda dan main-main dengan ucapanya. Ini serius"
"Betul kata ibumu, Ayah tidak sedang bercanda dan bermain-main. Kamu tahu kan ayahmu ini seperti apa?"
"Iya yah, tapi kan fisya masih sekolah. Masa fisya harus putus di tengah jalan dan usia fisya masih terlalu dini untuk menikah terus fisya sama sekali gak kenal dan tau sifat calon fisya seperti apa.
__ADS_1
"Iya nak, Ayah tahu tetapi ayah sudah terlanjur berjanji dan janji itu harus dilaksanakan. Ayah tidak ingin menjadi berdosa karena mengingakari janji. Ayah tadi sudah membicarakan ini kepada calon suami mu bahwa pernikahan ini akan dirahasiakan dan kamu tetap dapat sekolah nak."
Fisya langsung berlari kekamarnya dan menangis sejadi-jadinya. Ia tidak menyangka hidupnya dan takdir hati nya bukan bersama orang yang ia cintai. Ia begitu syok diusianya yang sangat muda dan masa remajanya harus terenggut karena pernikahan. Ia tahu ayahnya tidak mungkin sekejam itu tapi egonya mengatakan sebaliknya.
Laila datang dan menghampiri purtinya yang sedang menangis , Ia yang melihatnya tau akan penderitaan anaknya. Tapi apa daya ia juga tidak mungkin membiarkan suaminya jadi berdosa dengan mengingkari janji. Ia mengelus kepala fisya dan memluk anaknya itu dengan sayang. Ia membiarka fisya menangis supaya perasaan nya lega. Setelah dua puluh menit fisya menangis, ia akhirnya tertidur dipelukan ibunya.
"Tabahkan hatimu ya nak, Ibu tahu ini berat untukmu. Mungkin ini memang takdir yang digariskan allah untuk mu nak. Ibu selalu mendokan yang terbaik untuk mu"
Laila pun keluar dari kamar putrinya. Ia berharap nanti anaknya ketika bangun bisa menerima semuanya.
Fisya tertidur dengan pulas, ia bermimpi berjumpa dengan seorang kakek yang mengenakan baju putih, kakek itu berkata maaf kepada nya dan memberikan sebuket mawar merah kepada nya.
Fisya terkejut dan terbangun dari mimpinya. Ia melihat kerudungnya yang basah karena tangisan nya tadj. Ia melihat jam menunjukakkan pukul dua siang. Ia beristighfar karena belum mengerjakan kewajiban nya sebagai seorang muslimah.
Ia bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat. Setelah selesai sholat ia berdoa dengan khusyu' kepada sang khaliq.
_Diruang tengah
"Bu, fisya sudah lama kok gak turun-turun bu"nada khawatir
__ADS_1
"Ayah, gak usah khawatir, fisya tadi tidur. Ia mungkin lelah yah. Jadi belum bangun"
"Maafkan ayah ya bu, fisya pasti sedih sampai ia begitu lelah dan tertidur. "Sambil menitikkan air mata
"Bukan kok yah, Fisya kan memang lelah habis pulang dari pesantren, Ayah jangan menyalahkan diri kayak gitu dech. Ibu kan jadi sedih"Sambil megusap air mata suami nya
Fisya melihat ayah nya menituk kan air mata, ia tidak tega. Karena dia ayah nya jadi seperti itu. Ia merasa menjadi anak yang durhaka. Ia menghampiri ayah dan ibu nya.
Shandi dan Laila terkejut mendapati fisya sudah ada di depan mereka. Fisya mengatakan ada sesuatu yang mau ia bicarakan. Shandi dan laila terkejut dan was-was apa yang akan anak nya katakan tentang rencana pernikahan itu.
"Yah, bu . Insyaallah fisya akan menerima perjodohan itu. Fisya mau menikah dengan anak dari guru ayah. Insyaallah fisya rela dan ikhlas bu,yah"
"Alhamdulillah nak, terimakasih" ucap mereka dengan kompak dan senyum merekah
Shandi dan laila begitu bahagia mendengar keputusan anak nya dan langsung memeluk fisya. Mereka tahu fisya tidak mungkin membuat mereka kecewa dan bersedih. Hati fisya begitu terharu dan bahagia melihat kedua orang tua nya tersenyum. Walaupun hati nya hancur harus menikah dengan seseorang yang bukan ia cintai dan bahkan tidak mengenal nya sama sekali apalagi perasaan nya harus ia kubur dalam-dalam karena ia sebentar lagi akan menjadi istri dari pria lain bukan pujaan hatinya. Ia akan berusaha menerima dan mencintai suaminya kelak. Karena ia tahu surga istri berada ditangan suami. Fisya tidak mau menjadi istri yang durhaka dan menjadi pendosa.
"Baiklah, ayah besok akan mengundang helmi calon suami fisya untuk membicarakan tentang pernikahan kalian"
Fisya bingung dengan dirinya ketika mendengar nama helmi, seperti nya tidak asing ditelinganya. Tapi ia enggan dan acuh , mungkin itu hanya perasaan nya yang kalut dan karena ia lelah.
__ADS_1
Fisya akan menanti hari esok., Ia tidak memikirkannya lagi. Biarlah hari ini ia beristirahat sejenak.