
Hari ini fisya bersama helmi bersiap-siap untuk pindah kerumah helmi. Mereka ingin hidup Mandiri. Fisya juga akan kembali kepesantren beberapa hari lagi.
Shandi sudah terlebih dahulu pergi kemedan dua hari yang lalu. Ia akan pulang bulan depan itupun jika tidak ada keperluan sama sekali.
Fisya terlihat sedih harus meninggalkan ibunya bersama adik kecilnya. Fisya mencium adik kecilnya yang begitu imut. Kemudian mencubit hidung adik kedua nya rabiah.
"Atit lo kak. Kakak tega banget sich sama Ara"ucap nya dengan cemberut
"Ih maaf jangan marah dong. Abisnya kakak gemes"sambil tersenyum
Fisya dan helmi sudah sampai dirumah baru mereka. Rumah ini adalah rumah orang tua helmi dahulu yang tinggal seorang diri karena helmi menempuh pendidikan di kairo dan jarang pulang.
Fisya bersiap-siap menyiapkan semua kebutuhan mereka dari mulai menata pakaiannya dilemari dan kemudian memasak. Hari ini ia memasak Ayam semur . Kebetulan dikulkas sangat lengkap. Fisya tersenyum dan segera mengolahnya.
Setelah makanan siap ia menatanya dimeja makan dan segera memanggil helmi yang sekarang sudah menjadi imamnya. Walaupun hatinya belum sepenuhnya ikhlas menerima kenyataan tapi ia akan berusaha.
__ADS_1
"Mas, Mari makan. Mumpung masih hangat"
"Terimakasih ya dek, Maaf sudah membuatmu repot"
"Tidak kok mas, Ini udah kewajiban aku sebagai seorang istri"
Mereka makan dengan membaca doa yang dipimpin oleh Helmi. Ia agak terkejut dengan rasa masakan yang istri kecil nya buat. Ia tidak menyangka ternyata istri kecil nya itu pandai memasak padahal yang dia pikir fisya tidak bisa melakukan kegiatan apapun karena fokus belajar. Ia semakin penasaran dengan sosok istri kecil nya itu.
Fisya begitu gugup karena helmi terus memandangnya. Fisya bertanya-tanya didalam hati apakah ada yang salah dari masakannya? Apakah rasanya mengerikan? Tapi ia rasa itu tidak mungkin karena ia sudah memasak dengan benar seperti biasa. Entahlah fisya tidak ambil pusing. Apalagi ia besok akan kembali kepesantren. Selama ini ia selalu menjadi juru masak dipesantren. Ia dengan senang hati membantu ustadzah menyiapkan makanan.
Setelah selesai makan, fisya membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Iya gak papa, lagian mas juga akan mengajar dipesantren dan mas juga mondok disana"
"Jadi rumah gimana mas?"
__ADS_1
"Rumah nanti mas suruh orang untuk membersihkan tiap hari. Ini hp buat kamu. Kalau kamu mau pulang atau ada sesuatu . Kabari mas ya" sambil menyodorkan hp android
"Iya mas. Terimakasih . Tapi ngomong-ngomong Mas ngajar dipesantren mana? " dengan nada agak malu-malu
"Pesantren sekitar sini sich, Mas kurang tahu soalnya mas kan lama tinggal dikairo jadi gak terlalu paham sama daerah sini"
Fisya pun mengangguk. Benar juga suaminya itu sudah lama tidak berada dikampungnya sendiri.
Fisya sudah berada dikamarnya setelah meminta izin tadi setelah mereka melakukan shalat isya berjamaah. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.00 . Ia menyiapkan keperluan miliknya dan milik suaminya untuk esok hari. Ia sebenarnya tidak tega membuat suaminya sendirian tapi mau bagaimana lagi ia masih harus sekolah. Fisya terkejut melihat suaminya masuk tanpa mengetuk pintu kamar terlebih dahulu.
"Maaf dek, Mas lupa ada adek disini. Mas terbiasa masuk tanpa mengetuk pintu dulu"sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Iya mas, fisya tahu. Lagian ini kan kamar mas. Ya udah fisya udah siapin kebutuhan mas buat besok"sambil tersenyum
"Ya udah Mas mau tidur. Kita tidur bersama ya. Mas gak tahan kalau harus tidur disofa atau lantai. Adek juga gak mungkin kan. Mas janji gak bakal berbuat apapun"dengan penuh harap
__ADS_1
"Iya mas. Gak papa kok lagian kita kan sudah resmi menjadi suami istri"ucapnya malu-malu
Akhirnya mereka tidur bersama. Keduanya terlihat tegang dan malu-malu. Apalagi ini pertama kalinya mereka tidur bersama. Fisya sangat susah menentralkan detak jantung nya begitu juga dengan helmi. Malam semakin larut mereka akhirnya terlelap tanpa sadar mereka tidur sambil berpelukan. Hanya sayup-sayup suara jangkrik menemani malam kala itu.