Takdir Yang Ku Pilih

Takdir Yang Ku Pilih
Bab 1


__ADS_3

Tahun ini adalah tahun pertama ku masuk ke sekolah ini, sebenarnya hal seperti ini sudah biasa untuk ku. Layaknya berkelana, sudah sangat banyak sekolah yang ku masuki, dan semoga saja ini menjadi sekolah yang terakhir.


Nama ku Natali Derbyra Wijaya. Putri tinggal keluarga Wijaya, keluarga ku sangat di kenal dalam bidang bisnis, bahkan prusahaan orang tua ku masuk ke dalam 3 perusahaan berpengaruh di Indonesia.


Jika di lihat dari luar, foto keluarga kami sangatlah harmonis, tapi itu berbeda dengan kenyataan yang ada.


"Natali sarapannya sudah siap, ayo makan bersama." terdengar suara teriakan dari bawah memanggil nama ku.


Dia nenek ku, lebih tepatnya sudah ku anggap sebagai ibu ku. Bagaimana bisa, ya karna sejak dulu ibu sudah tidak tinggal bersama kami,


"Iya nek, Aku kebawah."


"Hari ini hari pertama mu masuk sekolah kan, jangan sampai membuat masalah." ucap sang nenek mengingatkan.


"Nenek tenang saja." jawab Natali.


"Owh iya, di mana kakek? Dia jadi mengantar ku?" tanya Natali lagi.


"Sepertinya jadi, tunggu saja." jawab sang nenek.


Tidak lama kemudian sang kakek pun turun dari lantai 2, tepatnya mungkin baru keluar dari kamar nya.


"Woah lihat lah cucu ku ini, bukankah kamu terlihat sangat dewasa sekarang." ucap kepala keluarga Wijaya itu dengan raut wajahnya yang seolah-olah sedang sedih.


"Ayolah kek, jangan meledek ku, Aku tau bahwa di mata kakek Aku akan selalu terlihat seperti anak kecil." Ucap Natali yang terlihat kesal dengan kakeknya.


Terdengar suara tawa yang keluar dari mulut kakek dan nenek Natali.


"Sudah cepat sana berangkat, nanti terlambat." ujar sang nenek.


"Tenang saja, kita masih punya banyak waktu, ya kan Natali." ucap kakek kepada cucu semata wayangnya itu. Natali hanya mengangguk mengiyakan ucapan kakeknya.


"Aih kakek dan cucu sama saja." ujar sang nenek yang sudah terbiasa dengan sifat suami dan cucunya itu.


"Baiklah, baiklah, ayo Kek berangkat, nanti kita disiram pakai air cabai." ucap Natali sambil meraih tangan nenek nya ingin bersalaman.


"Dasar anak ini." ucap sang nenek sambil memberi pukulan ringan di pundak Natali yang membuat sang empunya sedikit meringis.


Natali dan sang kakek pun berangkat menuju sekolah baru nya, kebetulan ini tahun ajaran baru.


****

__ADS_1


"Aku masuk dulu ya kek." ucap Natali setelah bersalaman dengan kakek nya.


"Hati-hati." balas kakeknya. Natali hanya tersenyum tipis menimpali ucapan kakeknya itu.


Natali berjalan masuk kedalam sekolah barunya itu, dia melihat denah sekolah, dan kemudian berjalan kearah ruang kelasnya.


Sesampainya di kelas, Natali langsung mengambil tempat duduk di belakang, dia sangat menghindari keramaian. Natali yang sangat ramah di rumah sangat berbanding terbalik dengan Natali saat ini.


Tidak lama bel pun berbunyi, semua murid kelas ini masuk, dan yang terakhir masuk adalah wali kelas ini.


"Baiklah anak-anak, perkenalkan saya ibu Siska yang akan menjadi wali kelas kalian selama 1 tahun ke depan, harap kerja samanya." ucap bu Siska dengan ramah memperkenalkan dirinya.


"Baiklah ibu akan melakukan absen sebagai tanda perkenalan kita ya." lanjut bu Siska.


Selanjutnya bu Siska memanggil nama murid satu persatu. Setelah itu kegiatan perkenalan pun di lanjutkan hingga bel istirahat berbunyi dan bu Siska keluar dari ruang kelas.


****


Saat jam istirahat Natali hanya menghabiskan waktu nya di ruang kelas, selain karna dia tidak suka keramaian dia juga tidak lapar, jadi dia tidak ke kantin.


"Hei, kamu anak beasiswa itu kan." ucap salah satu murid yang sepertinya berasal dari keluarga kaya.


"I..ii..iyaa." jawab siswi itu sambil terbata-bata.


"Sudah Sandra, kasihan, lihat wajah memelasnya itu." ucap teman dari siswi yang bernama Sandra itu. Tapi itu bukanlah suatu kalimat pembelaan, melainkan hinaan. Kemudian mereka semua tertawa puas.


Natali hanya diam tanpa merespon, hal seperti itu sudah biasa dia lihat di sekolahnya dulu, bahkan ini belum apa-apa menurutnya.


"Akh." teriak siswi itu karena mendapat tamparan di wajahnya, dan sontak membuat seisi kelas melihatnya.


"Berani-beraninya tangan kotor mu itu memegang baju." Ucap Sandra yang sepertinya sangat marah karena di sentuh.


Saat Sandra hendak menampar siswi itu lagi, Tiba-tiba ada tangan yang menghalanginya.


Natali, sepertinya dia sudah sangat muak hingga mengambil tindakan.


"Hentikan." ucapnya dengan nada dingin, tangannya masih memegang tangan Sandra yang tadi hendak menampar siswi yang sedang ia bully itu.


"Lepaskan tangan ku, jangan ikut campur." Ucap Sandra sambil teriak, mungkin dia sangat kesal karena Natali menghalangi tangannya.


Natali tidak bergeming, bahkan dia tidak terlihat takut sedikit pun.

__ADS_1


"Yak, kamu tidak tahu siapa aku, lihat saja jika kamu tidak melepaskan tangan ku, aku bersumpah aku tidak akan melepaskan mu sampai kamu keluar dari sekolah ini."


"Sampah." ucap Natali pelan.


"Apa kamu bilang? Berani-beraninya kami berbicara begitu pada ku!" Bentak Sandra.


"Lakukan ucapan mu, dan aku akan membalas mu berkali-kali lipat." ucap Natali dengan tegas tanpa rasa takut, lalu dia menghempaskan tangan Sandra dengan cukup kuat, sehingga membuat gadis itu terjatuh.


"Aww,.." teriak Sandra kesakitan.


Natali berbalik badan menghadapi siswi yang tadi sempat di bully.


"Berdiri sendiri, jangan berharap orang akan membantu mu." ucapnya yang kemudian langsung kembali ke tempat duduknya.


"Menyebalkan." ucap Natali sambil menundukan wajahnya ke meja dengan tangan di lipat.


Ini baru saja hari pertama, dan dia sudah merasa tidak nyaman di tempat ini.


Terlalu lama menahan kesal, tanpa tersadar Natali tertidur, tapi disaat dia hampir pulas, suara teriakan siswi-siswi memenuhi ruang kelasnya.


"Aish." ucapnya yang kemudian mengangkat kepalanya, dan benar saja, sangat banyak siswi di kelasnya Mengerumuni seorang murid yang sepertinya cukup populer.


Siswa itu berjalan ke kursi kosong yang ada di samping Natali.


"Sepertinya ini tidak akan mudah." ucap Natali dalam hati.


Haru pertama sekolah yang dia pikir akan tenang tanpa gangguan, ternyata semua di luar espektasi, sepertinya dia harus cukup bersabar sampai lulus nanti.


****


"Hei, tunggu.." ucap seorang siswi mengejar Natali, Natali yang merasa terpanggil menoleh kebelakang.


"Owh, Hai, terimakasih untuk yang tadi." ucapnya pada Natali.


"Aku tidak membantu mu, jadi tidak perlu berterimakasih." balas Natali.


"Euh apapun itu terimakasih." ucapnya lagi. Natali tidak memperdulikannya, dia terus berjalan sampai keluar gerbang sekolah.


"Ayo bertemannn... Terimakasih, Hati-hati di jalan." begitulah yang Natali dengan dari siswi itu.


"Siapa yang mau menjadi temannya." ucap Natali.

__ADS_1


Di depan gerbang sang kakek telah menunggunya. Rupanya sebelum pulang Natali sudah mengirim pesan kepada kakek untuk menjemputnya.


__ADS_2