
Natali terlihat terburu-buru menaiki anak tangga untuk sampai ke lantai dua, sesampainya di lantai dua dia langsung menuju ke kamar neneknya.
"Kek, bagaimana keadaan nenek?" tanya Natali saat sudah berada di ruangan neneknya.
"Dokter bilang kondisinya kembali drop, dan butuh banyak istirahat." jelas sang kakek.
Natali terduduk lemas setelah mendengar ucapan kakeknya, dia sangat menyayangi sang nenek, bahkan sedetik pun dia tidak pernah berpikir bagaimana dia akan bertahan tanpa neneknya.
Melihat cucunya sangat sedih, kakek pun langsung memeluk Natali.
"Hei, tenanglah, nenek akan sembuh, nenek mu adalah orang yang kuat." ucap kakeknya mencoba menenangkan Natali.
Natali yang berada di pelukan sang kakek pun langsung menangis, dia benar-benar takut saat ini.
"Biarkan Natali disini, Natali ingin menemani nenek kek." ujar Natali sambil menangis.
"Iya, kita akan menemani nenek disini." jawab sang kakek. Walaupun terlihat tegar, nampaknya kepala keluarga Wijaya itu juga sangat khawatir dengan keadaan istrinya.
****
"Makan dulu, kakek beli ayam bakar kesukaan mu." ujar sang kakek, namun Natali tetap terdiam sambil menggenggam jari neneknya.
"Nenek mu tidak akan senang jika kamu sedih seperti ini, kamu juga harus kuat agar bisa memberi semangat untuk nenek mu." jelas kakeknya pada Natali.
Natali masih terlihat terdiam sambil memandang wajah neneknya.
"Kenapa nenek sangat cantik." ucap nya.
"Kek, nenek akan sembuh bukan, dia masih akan tersenyum kepada kita bukan kek?" lanjut Natali diiringi dengan air matanya yang mulai mengalir.
"Kek, Natali sangat takut kehilangan nenek, bagaimana jika hal buruk terjadi pada nenek kek, bagaimana jika kita tidak bisa lagi melihat mata nenek yang indah dan berbinar setiap kita memujinya." lanjut Natali lagi.
Sang kakek yang tidak tahan mendengar ucapan Natali pun langsung menghampiri cucunya dan memeluknya lagi.
"Nenek mu akan sembuh, kamu harus percaya itu." ucap kakeknya yang saat ini juga ikut menangis.
Lama mereka menangis di samping tubuh neneknya yang saat ini masih setia menutup mata dan tak sadarkan diri, hingga dokter yang bertanggung jawab atas nenek pun masuk dan memeriksa keadaan neneknya.
__ADS_1
"Leon bagaimana keadaannya?" tanya kakek. Rupanya Leon dokter yang tadi sempat Natali tabrak adalah dokter spesialis jantung.
"Sampai saat ini belum ada perkembangan, jika terus seperti ini di takutkan kita harus segera melakukan transplantasi jantung, jika tidak di takutkan akan berakibat pada nyawa pasien." jelas Leon.
"Lalu harus bagaimana?" tanya kakek lagi.
"Saat ini belum ada jantung yang bisa di donorkan, semoga saja pasien masih bisa bertahan." jawab Leon.
"Jika operasi berapa persen kemungkinan pasien lansia berhasil?" tanya kakek lagi.
"Kek.."
"Jawab sana Leon." ucap sang kakek memotong ucapan Leon.
"Kemungkinan operasi berhasil untuk lansia adalah 1%." jawab Leon dengan raut wajah khawatirnya.
"Dan artinya 99% tidak selamat." sambung kakeknya sambil tersenyum pahit.
Natali yang sedari tadi berada di sana dan juga mendengarkan percakapan antara kakeknya dan sang dokter pun hanya bisa diam.
"Kek, kita harus bagaimana." ucap Natali merengek pada kakeknya.
"Gadis itu." batin Leon, dia memperhatikan wajah Natali yang sangat sedih saat ini.
"Ayo kita iklas kan, mungkin nenek juga sudah lelah dan ingin istirahat, kamu masih punya kakek, kakek akan menjaga mu." ucap kakek Natali.
Tangis Natali pecah saat mendengar ucapan kakeknya, hal yang paling dia takutkan di dunia ini akhirnya terjadi, dia kehilangan salah satu orang yang sangat dia sayangi.
Malam ini menjadi malam yang sangat panjang dengan penuh air mata dan tangisan dari kakek dan cucunya itu, mereka berdua kehilangan sosok yang selama ini mereka jadikan cahaya di hidup mereka.
Malam itu, nenek Natali sekaligus istri dari kakeknya
Sri Sulistiawati Wijaya Binti Atmaja
pergi selamanya dari hidup mereka, bahkan tanpa berpamitan dan mengucapkan kata perpisahan dia menutup matanya untuk selamanya.
****
__ADS_1
Setelah kepergian sang nenek untuk selamanya, Natali hanya mengurung diri di kamarnya, bahkan setelah proses pemakaman Natali sama sekali tidak keluar untuk menyambut tamu yang datang mengucapkan bela sungkawa.
Dia hanya duduk di pinggir kasurnya sambil menatap foto sang nenek dengan tatapan kosong, lalu sedetik kemudian menangis, sambil berbaring Natali memeluk erat foto sang nenek, dia bahkan selalu berdoa semoga hari buruk ini hanya mimpi, dan ketika dia terbangun neneknya akan kembali lagi.
"Nek, aku merindukan mu." ucap Natali sambil memejamkan matanya.
****
Disisi lain, tidak jauh berbeda dengan Natali keadaan Pak Wijaya setelah di tinggalkan istri tercintanya juga tidak kalah buruk dari Natali, bahkan pria berusia 62 tahun itu sering mengigau dan memanggil nama mendiang istrinya.
"Sri, kenapa kamu pergi terlebih dahulu dari ku."
"Bukankah kita berjanji untuk bersama membesarkan Natali sampai akhir, kenapa kamu meninggalkan ku dan Natali."
"Lihatlah, apa kamu senang melihat ku dan Natali seperti ini, kembalilah Sri." ucap kakek Natali di depan foto mendiang istrinya itu sambil menangis.
Bagikan kehilangan cahaya untuk melanjutkan jalan, dunia kakek dan cucu itu seakan berhenti. Kepergian sang nenek membuat luka yang dalam untuk mereka berdua.
****
Sekolah masuk seperti biasanya, dan lagi-lagi Natali absen dari kelas, tidak ada alasan yang jelas kenapa Natali tidak masuk, dan semua teman kelasnya juga tidak tahu, kecuali Bryan, dia tau mengapa Natali tidak masuk, tapi dia hanya diam, karena dia sudah berjanji untuk tidak memberitahu semua orang siapa sebenarnya Natali itu
"Benar-benar tidak ada yang tau kabar Natali?" tanya wali kelas mereka, bukan tanpa alasan wali kelas tersebut bertanya, mengingat sebentar lagi akan ujian semester dan salah satu murid nya tidak ada kejelasan.
"Ada yang tau rumah Natali?" tanya wali kelas itu lagi. Dan lagi nihil, dia tidak menerima jawaban apapun.
Natali benar-benar menjadi sosok yang sangat misterius di kelasnya itu, mulai dari nomor telfon dan rumah, tidak ada salah satu murid pun yang tau kecuali Bryan.
"Chia juga tidak tau?" tanya guru tersebut kepada Chia yang memang terlihat cukup dekat dengan Natali.
"Chia juga tidak tau bu, kami hanya berteman biasa, tidak sedekat itu." jawab Chia.
"Hmm, ya sudah kalau begitu nanti coba ibu cari tau sendiri, dan untuk kalian semua harap lebih giat belajarnya karena sebentar lagi kita akan ujian semester, jangan sampai nilai kalian menurun." jelas wali kelas tersebut.
"Baik bu." jawab semua murid di kelas dengan kompak.
"Baiklah, kelas siang ini sampai disini dulu, sampai bertemu di pertemuan selanjutnya, selamat siang." ucap wali kelas itu kemudian berjalan keluar kelas.
__ADS_1